RÉUNIONS DE SAISON
---
Seoul, Maret 2027
“Suga-sshi, lagu terbarumu sangat indah. Aku yakin apapun yang kau buat akan selalu indah karena kau Min Genius.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari salah satu pembawa acara saat kami melakukan interview untuk kesekian kalinya sebagai bentuk promosi album terbaru kami.
‘indah?’
Aku sungguh ingin tertawa sekeras-kerasnya mendengar pujian tersebut. Tahukah kalian betapa bencinya aku dengan pujian tersebut? Selama tiga belas tahun aku berkarir, setelah seluruh perjuanganku bersama keenam member lainnya, bersama-sama merangkak dari dasar untuk mencapai puncak, apresiasi yang kudapatkan hanya berupa pujian ‘apapun yang kau buat akan selalu indah karena kau Min Genius.’
Mereka semua tak melihat darah dan airmata yang kami keluarkan demi sebuah karya yang tak lebih dari empat menit. Aku tahu diluar sana banyak sekali yang berkomentar, ‘enak ya jadi member grup terkenal, kau hanya perlu tampil beberapa menit dan sudah menghasilkan jutaan won.’ Tanpa mereka tahu di balik waktu empat menit tersebut ada proses yang memakan waktu bertahun-tahun.
Hampa
Itulah yang kini tengah kurasakan. Hm, sebenarnya hal ini telah kurasakan sejak enam tahun yang lalu. Lebih tepatnya tak lama setelah aku mengeluarkan mix tape keduaku D-2. Aku tahu respon yang kudapat cukup positif pada kala itu, namun bukan itu yang kuinginkan.
Kritik dan saran.
Dua hal itulah yang aku butuhkan. Aku membutuhkan seseorang yang bisa mengkritikku dan memberikan masukan. Bukan hanya mengkritik tapi tak bisa memberikan feedback apapun padaku. Hal itu pula yang mendasariku memasukkan potongan rekaman suara tokoh itu. Namun apa yang aku dapatkan? Hujatan dan tekanan.
Sejak saat itu sebenarnya aku tak lagi memiliki gairah untuk menciptakan sesuatu dengan sempurna namun tetap saja label sebagai seorang Min Genius Suga dari BTS membuat semua orang seakan menutup mata dan telinga mereka akan ketidaksempurnaan karyaku. Jujur saja ditelingaku segala pujian itu terdengar palsu karena mereka bahkan tak menyadari kecacatannya, termasuk perusahaan dan memberku sendiri.
Miris bukan?
Selama enam tahun terakhir ini aku merasa berjalan di gurun badai seorang diri tanpa ada satupun yang membantuku dan menemaniku berjalan melawan badai seorang diri. Entah aku sendiri pun kini tak tahu lagi harus kearah mana aku berjalan. Aku tidak seperti Hoseok, Namjoon, dan Jungkook yang memiliki kekasih dengan minat yang sama sehingga mereka bisa saling bertukar ide atau seperti Jin hyeong, Taehyung dan Jimin yang memiliki kekasih mampu menjadi support system mereka.
Sendirian.
Ya aku sendirian tanpa ada satupun yang mampu membantuku. Keluargaku? Mereka bahkan tidak mengetahui sekeras apa dunia yang kini kupijak. BTS? Mereka bukanlah bocah remaja delapan belas tahun lagi, kami semua telah menjadi pria dewasa dan tentu saja prioritas utama mereka bukanlah hal remeh macam ini lagi. Fans? Ayolah, aku sadar betapa mereka begitu menyayangi kami seperti kami menyayangi mereka, tapi ARMY pun punya kehidupan mereka yang tak bisa kuganggu. Bukankah sebagai idola mereka ini justru menjadi tugasku membahagiakan mereka? Tak membuat mereka mencemaskanku.
-
“Yoongi-ya, Namjoon-ah, Hoseok-ah perkenalkan dia Kim Jangmi anggota baru kita yang sebelumnya bekerja sebagai produser di Republic Record. Untuk kemampuannya kita tak perlu meragukannya lagi. Ia akan menggantikan Adora yang memutuskan resign. Untuk album kalian selanjutnya ia akan turun tangan.”
Bang PD-nim memperkenalkan kami pada sosok baru yang hadir di ruang rapat kami. Entah mengapa wajahnya terlihat tak asing dimataku. Apa aku pernah bertemu dengannya ya?
“PD-nim, kau tak perlu memperkenalkanku dengannya. Mana mungkin aku sebagai kakak iparnya tak mengenali wajah adik iparku sendiri.”
“aku juga, mana mungkin aku tak mengenali adik sepupuku sendiri.”
Ucapan dari Hoseok dan Namjoon menyadarkanku akan hal itu. Pantas saja aku merasa tak asing dengannya, meskipun wajahnya tidak begitu mirip dengan Sungmi bentuk alis, mata, dan hidungnya berbeda sedikit dari Sungmi. Tapi secara keseluruhan ia memiliki aura yang mirip dengan Sungmi.
“Kim Jangmi imnida. Untuk nama penaku di US biasa di panggil Zetta, namun karena aku ingin memulainya dari awal lagi aku memutuskan menggantinya menjadi Mai. Salam kenal semuanya. Mohon bantuan untuk kedepannya.”
“selamat datang di Bighit, Jangmi-sshi” aku tersenyum kemudian kuulurkan tanganku untuk berjabatan dengannya, menyambutkan kedalam bagian dari Bighit.
“terima kasih.” Ia tersenyum dan menyambut uluran tanganku.
-ting-
Tiba-tiba saja sebuah suara seperti lonceng terdengar.
End Yoongi PoV
-
Jangmi PoV
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di Big Hit setelah memutuskan resign dari Republic Record. Akhirnya setelah belasan tahun tak kembali ke negara tempat ayah ibu dilahirkan kini aku kembali. Bukan sebagai Zetta tetapi sebagai Kim Jangmi.
Aku keluar dari rumahku yang berada di kawasan Hannam dan memutuskan menaikis bus dari rumahku. Sebenarnya aku bisa saja naik mobil namun aku sadar jika seorang produser baru menaiki mobil ke kantor tentu akan menarik perhatian. Terlebih mobilku, ah sudah lah lagipula rumahku dan kantor baruku masih berada di distrik yang sama sehingga tak terlalu terasa jauh.
Sepanjang perjalanan aku mendengarkan demo salah satu lagu yang baru saja rampung aku kerjakan melalui headsetku. Meskipun masih berupa instrument melodi dan baru sempat kurecord bersama liriknya semalam dan langsung kukirim ke PD-nim aku sudah cukup puas karena biar bagaimana pun aku membuatnya dengan hati.
Hari ini aku ingin mendiskusikannya dengan Bang PD-nim mengenai kepada siapa lagu ini kelak akan diberikan mengingat anak asuh Big Hit kini cukup banyak. Unspoken Dusk merupakan judul yang kuberikan pada lagu ini. Senja yang tak tersampaikan. Sebuah lagu hip-hop ballad yang kuciptakan untuk mereka yang ingin mengungkapkan kerinduan pada sosok yang tak lagi bisa kau temui.
Crows crow a name in the darkness-
He walks the streets of the hollow land.
Untainted by fate's hourglass,
the maiden of the stars and plains
Striding through the dark night-
He is the King of the heavenly darkness,
wishing upon the winds to sing-
and bring to life his sunless.
Aku tanpa sengaja melantunkan beberapa lirik yang tiba-tiba saja muncul di otakku saat sedang di depan mesin kopi bighit. Kenapa dalam bahasa inggris? Well, besar di negara dengan bahasa pertama english tentu saja membuatku lebih terbiasa dalam english daripada Korean meskipun di dalam lingkup keluarga kami masih menggunakan Korean language untuk berkomunikasi.
“Good Morning Jangmi-sshi.”
“ah, selamat pagi juga Suga-sshi.”
“lagu tadi ciptaanmu sendiri kan?”
“ah ya, Unspoken Dusk. Aku baru saja mengirim demonya pada Bang PD-nim”
“suaramu indah, kenapa memilih menjadi songwriter padahal menurutku jika kau menjadi penyanyi pasti akan sukses.”
Aku tersenyum mendengar pujiannya akan suaraku saat kami bersama-sama di lift menuju lantai ruang studio kami yang memang kebetulan berada di lantai yang sama karena aku kini menempati studio milik Adora-seonbae dulu. Aku memang suka bernyanyi tapi aku punya alasan sendiri.
“Karena aku ingin bebas. Aku ingin bebas mencintai musik tanpa harus memikirkan orang lain. Kurasa aku tak akan sanggup menjadi idol karena aku tak mau di atur atau berpura-pura bahagia di depan kamera. Bukan berarti aku mengkategorikan semua idol berpura-pura, hanya saja aku sangat tahu ada kalanya dunia entertaiment melakukan branding yang tidak sesuai dengan kita. Misal si A sebenarnya merasa karyanya tidak sempurna, namun karena branding dari dunia entertaiment ia merupakan sosok sempurna maka meskipun karyanya cacat orang tak akan menghiraukannya dan tak memberi feedback apapun. Pada akhirnya si A akan hancur. Karena itu aku lebih memilih berada di belakang layar sehingga aku bebas mencintai musik tanpa terkekang oleh branding, tuntutan, maupun kepalsuan. Aku pun bisa mendapatkan feedback dari singers maupun producers lainnya. Aku juga bisa mendengar review dari orang di luar sana tanpa mereka melakukan branding karyaku. Karena itu aku memilih menjadi song-writer.”
“apakah itu yang membuatmu mengganti namamu?”
Mendengar pertanyaan menebaknya aku pun mengangguk. Memang benar alasan terbesarku merubah namaku dari Zetta menjadi Mai adalah karena aku tak ingin orang tahu bahwa aku mantan producer di Republic Record untuk menghindari branding. Aku tak ingin orang memandang sama karyaku di Republic Record dengan karyaku di Big Hit kelak karena tentu saja pada setiap karyaku aku akan melakukan perubahan, entah itu peningkatan ataupun penurunan.
“Yeah, itu pula yang menjadi alasanku resign. Orang-orang disana mulai melakukan branding padaku, menganggap karyaku selalu sempurna padahal ada kalanya aku merasa ada kekurangan dalam karyaku tapi mereka tak benar-benar mengerti itu dan hanya berucap karyamu indah seperti biasanya, jujur aku membencinya.”
Ya, aku sangat membencinya.
End Jangmi PoV
-
Yoongi PoV
Mendengar apa yang di katakan gadis itu membuatku tanpa sadar mengangguk setuju. Aku benar-benar paham apa yang ia katakan karena itulah yang kini tengah kurasakan. Terkungkung dalam image dan branding yang diciptakan dunia entertaiment dalam karya-karyaku.
“Kau benar. Terkadang terjebak dalam kondisi seperti itu sungguh tidak mengenakan.” Ujarku.
Tak lama kemudian lift yang kami tumpangi akhirnya berhenti di lantai empat belas tempat studio kami berada. Kami pun berjalan beriringan menuju studio kami masing-masing yang memang bersebelahan.
“Sudah sampai. Aku masuk ke dalam duluan ya Suga-sshi. Ah iya, jika kau butuh saran dan masukan pintu studioku akan selalu terbuka. Semoga harimu menyenangkan.”
“Panggil Yoongi saja, mulai sekarang kita kan teman.”
“arraseo, Yoongi-ya. See you later.”
-
Saat ini aku tengah berada di ruang meeting bersama member lainnya juga tim produksi untuk Comeback Bangtan beberapa bulan lagi. Kami memang kini tengah melakukan comeback namun seperti biasa Bang PD-nim selalu menginginkan kami untuk selangkah di depan.
“Bagaimana Jangmi-sshi? Apakah kau memiliki beberapa saran lagu untuk comeback kali ini?” kami semua memandang ke arah produser terbaru dan termuda kami tersebut.
“Mm, sebenarnya aku memiliki beberapa demo yang sudah ku kirimkan pada Bang PD-nim. Sekarang keputusan ada di Bang PD-nim.”
“Aku sudah mendengarnya dan jujur aku kebingungan untuk memilih diantara Unspoken Dusk dan When the Night Dies. Bagaimana jika kita dengar bersama saja jadi kalian yang memutuskan.” Mendengar saran dari Bang PD-nim kami bertujuh mengangguk setuju dan gadis itu pun memutarkan demo lagunya.
“lagu pertama ini berjudul When the Night Dies”
The eventide brings with it the coldest hours
the daylight the night devours,
cold and wan the light does grow,
the sun goes to its roost leaving in her place the moon and stars aglow,
in her silvery bower,
the moon rules the night it is her hour,
when the dawn comes to the silver realm,
the night is no longer at the helm,
the night burns away,
into the golden light of day.
From dusks till dawns
The sunrise and the sun dies
Everyday is smiles and frowns
Time flies, Life dies and phoenix rise
WHEN THE NIGHT DIES
I'll wake-up and then embrace my labour suits
Lace-up my touring boots
And walk-up my paths on the soily sunny miles
WHEN THE NIGHT DIES
I'll walk my dreams in due times
I'll make haste whilest the sun shines
And drink life from the pool niles
WHEN THE NIGHT DIES
I'll sing hosana hosana to the deity
I'll recite my psalm-ons, for i am awake
Because maybe sometimes a life flies
To a place of no return, across the lake.
Mendengar demo lagu pertama yang dinyanyikan olehnya sendiri jujur membuatku cukup ngeri. Bukan dalam artian buruk tetapi justru sebaliknya, tiap-tiap kata dalam liriknya memiliki makna yang dalam hingga rasanya sangat sayang jika lirik itu harus diubah ke dalam bahasa Korea. Melodi, instrument, dan liriknya benar-benar nyaris sempurna.
“Jangmi-sshi, berapa usiamu? Kau sejak kapan menulis lagu?” Jungkook adalah yang pertama kali buka suara setelah sekian lama kami hening tak bersuara.
“Jungkook-ah,” melihat reaksi Hoseok atas pertanyaan Jungkook aku merasa ada sesuatu yang sensitif untuk dibahas yang menjadi alasan dari Jangmi menulis lagu.
“Hoseok oppa tak apa, menjawab pertanyaanmu Jungkook -sshi aku lebih muda dua bulan darimu dan aku mulai suka menulis lagu sejak kuliah. Lagu yang akan kuputar selanjutnya adalah laguku yang baru bisa kuselesaikan setelah berbulan-bulan.” Aku tercengang mendengar penjelasannya, bagaimana mungkin dengan skillnya ini ia membutuhkan waktu selama itu untuk menyelesaikannya?
“jujur ketika mendengar lagu ini aku merasakan perasaan yang campur aduk. Aku menyukainya. Tiap-tiap katanya benar-benar bermakna dalam dan pas dengan melodinya, Walaupun belum sempurna tapi aku yakin lagu ini benar-benar bisa membawa pendengarnya untuk bermimpi. Aku rasa lagu ini akan sangat cocok untuk suara Jin Hyeong dan Jungkook.” Aku mengeluarkan pendapatku.
“aku sangat setuju jika lagu ini masuk dalam album kita, perasaan ini, aku ingin menyampaikannya pada ARMY.” Jungkook kembali buka suara.
“Bagaimana jika kita dengarkan lagu berikutnya baru kita voting?” seperti biasa Namjoon menjadi penengah. Kami pun sepakat untuk mendengarkan lagu kedua.
The windows and the stars illumined, one by one,
The rivers of dark smoke pour upward lazily,
And the moon rise and turn them silver. I shall see
The springs, the summers, and the autumns slowly pass;
And when old Winter puts his blank face to the glass,
I shall close all my shutters, pull the curtains tight,
And build me stately palaces by candlelight.
Crows crow a name in the darkness-
He walks the streets of the hollow land.
Untainted by fate's hourglass,
the maiden of the stars and plains
Striding through the dark night-
He is the King of the heavenly darkness,
wishing upon the winds to sing-
and bring to life his sunless.
One day I got to ride
a long way alone of a dusty golden valley
towards a horizon
broader than other horizons
it was the eternal dusk
days and days, years and years
still, it is goldenly glimmering dusk
Maybe it is my blood awaited love
tamed with the time pictured the dusk in tan
every blink of light, catching up my eyes
added little more to my enigmatic love
how it could be, the dusk to be immortal
I asked musing on
why it is now strangely sudden?
I came from dawn and being riding days and nights
only the dusk there it has been
cosmos in wait, us to be unknown
the laws of Gods and calls of heaven
The Dawn is falling only for The Dusk
Life is going by time
Leave me alone in unspoken dusk.
Aku merasakan rasa sesak yang amat dalam ketika mendengar suaranya menyanyikan lagu ini. Entah mengapa aku seakan bisa merasakan rasa sakit menahan rindu. Seakan-akan akulah yang berada disana.
Aku melihat wajahnya yang kini menunduk. Entah mengapa aku merasa lagu ini memiliki arti lebih untuknya. Wajah itu terlihat menahan perih. Suaranya terdengar begitu sakit seakan-akan ia yang mengalaminya.
Perih dan sakit.
-tes-
“Yoongi hyeong? Jungkook-ah? Jimin-ah? Taehyung-ah? Kalian menangis?” aku baru tersadar jika diriku menangis saat Namjoon menegurku. Aku buru-buru menghapus setetes airmata yang tanpa kusadari keluar dari sudut mataku.
“Aku ingin lagu ini ada di album kita.” Taehyung membuka suara.
“Aku juga” Jimin dan Jungkook juga ikut memberi suara.
“aku memberi suara pada Lagu pertama” Ucap Namjoon.
“Aku juga pada lagu pertama” kali ini giliran Jin Hyeong yang memilih.
“Aku sangat menyukai lagu ini Jjangie, aku rasa ia pun akan menyukainya tapi lagu ini terlalu menyesakkan jadi pilihanku adalah lagu pertama.” Setelah Hoseok kini semua mata tertuju kepadaku sebagai pemberi suara terakhir.
“Aku memilih keduanya. Kedua lagu ini memiliki karakter yang bertolak belakang namun sama-sama memberikan impact yang kuat. Satu mampu membangkitkan semangat kita bermimpi, dan yang satu lagi mampu menyadarkan kita akan realita kehidupan tak selamanya indah, menyesakkan seperti kata Hoseok. Rasanya tidak adil jika harus memilih salah satu ketika dua-duanya sama-sama mengagumkan. Selain itu bukankah ini bisa kita buat project member? Sekilas aku merasa jenis suara Jimin dan Taehyung akan cocok untuk lagu kedua.” Ungkapku. Aku tahu aku terkesan plin-plan namun aku memang merasa keduanya pantas berada di album kami.
“Sebenarnya apa yang dikatakan Yoongi adalah apa yang juga kupikirkan. Melihat bagaimana suara kalian terpecah membuatku yakin untuk memasukkan keduanya. Baiklah, untuk project lagu pertama akan menjadi project Jin, Jungkook, Hoseok, dan Namjoon sementara Jimin, Taehyung, dan Yoongi akan berada di project lagu kedua. Ada yang keberatan?”
End Yoongi PoV
-
Author PoV
Jangmi memasuki sebuah restoran setelah pulang dari tempat kerjanya. Matanya berjalan menyusuri tiap sudut restoran tersebut hingga ia menemukan yang dicarinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju meja tempat orang-orang yang ingin ia temui berkumpul.
“maaf aku terlambat. Rapat kali ini berlangsung cukup lama.”
“aigoo, Kim bujang-nim kita sudah datang.”
“Ya! Geumanhae Kim Ahra atau aku akan mengadukan pada si Jeon bahwa kau pulang tanpa bilang padanya.” Ancaman itu tentu tak membuat seorang Kim Ahra takut. Ia sudah terlalu mengenal gadis di depannya ini dan ia tahu Jangmi bukanlah orang yang suka menyebarkan rahasia karena dirinya sendiri memiliki terlalu banyak rahasia.
“bagaimana rapat kalian? Kau terlibat project kali ini kan?” pertanyaan dari sang kakak yang tengah menggendong putri kecil berusia sepuluh bulannya tersebut di jawab anggukan oleh Jangmi.
“baguslah. Aku yakin project kalian kali ini akan sukses juga karena kau dan mereka itu sejenis. Belum puas jika belum sempurna sampai terkadang melupakan sekitarnya.”
"kau sedang membicarakan Yookyeong appa kan eonnie?”
“Ya, si manusia perfectionis bernama Jung Hoseok yang menyebalkan itu.” Gerutuan wanita bernama Kim Sungmi yang sudah di peristri Hoseok sejak musim semi dua ribu dua puluh empat itu membuat semua yang ada di meja itu tertawa.
“setidaknya Hoseok masih pulang ke rumah. Tidak seperti Kim Seokjin yang pulang dua atau tiga hari sekali karena Gwacheon terlalu jauh katanya.”
Kali ini giliran Jung Misoo yang tengah hamil sembilan bulan itu mengeluhkan pria yang telah menikahinya sembilan bulan yang lalu karena memang sejak ia hamil Seokjin justru bertambah sibuk. Bahkan saat ini pun ia seorang Kim Seokjin masih sibuk dengan jadwalnya sementara hari perkiraan lahir putra mereka tinggal menghitung hari.
“Hei, suamimu itu memang sengaja mengambil semua solo jobs sekarang sehingga nanti ia bisa mengambil cuti saat kau melahirkan Daehyung. Namjoon juga melakukan hal yang sama agar dapat cuti bulan madu yang belum kami dapatkan hingga saat ini karena si tuan muda itu terlalu fokus pada lagu-lagunya dan bahkan sering kali lupa keluar dari studionya”
Seperti sang suami, Park Rohee atau sebenarnya bernama Kirishima Rohee menjadi sosok yang paling bijak dalam menyikapi setiap hal di antara ketujuh perempuan yang terikat hubungan aneh satu sama lain ini meskipun tetap saja diakhiri dengan keluhan tentang suami yang telah menikahinya sejak musim panas tahun lalu yang selalu overworking.
“Seokjin oppa kan masih sering menghubungimu setiap beberapa jam sekali dan Namjoon oppa setidaknya melakukan hal yang bermanfaat karena lagu-lagunya menghasilkan uang. Sementara Kim Taehyung? Saat berada di rumah pun ia sibuk dengan gamenya. Aku berharap Ahreum tidak mengikuti sifat Appanya yang satu itu, aku lebih berharap dia menjadi gadis anggun seperti Ah In.”
Ahrin yang tengah menyuapi Ahreum dengan makan siangnya ikut mengeluhkan kebiasaan jelek suami yang baru dinikahinya sebulan yang lalu tersebut setelah saling mengenal selama tiga bulan dan bertunangan selama satu bulan sebelum akhirnya menikah. Sementara Kim Ahreum Bayi cantik berusia enam bulan itu tampaknya mengerti sang ibu tengah membicarakan ayahnya justru tertawa seakan menyetujui perkataan Ahrin.
“Jeon Jungkook juga. Ia bahkan hanya menghubungiku saat sudah malam.” Kali ini giliran si kembaran Ahrin, Kim Ahra yang mengeluhkan magnae Bangtan yang notabene berstatus suaminya sejak musim panas tiga tahun lalu. Ia memang baru saja pulang dari perjalanan bisnis panjangnya ke Amerika karena itu ia harus LDR dengan sang suami selama hampir dua Minggu.
“mereka berdua memang tidak peka, tapi justru lebih baik mereka sibuk dengan game daripada sibuk dengan wanita lain. Kau tahu, mereka berdua bahkan tak menyadari bahwa aku sepupu kalian padahal kami pernah bertemu. Itu membuktikan mereka tak jelalatan hahahaha” celetuk Jangmi
“sementara Park Jimin sibuk dengan Kang Seulgi sahabatnya itu sampai lupa dengan kekasihnya.”
Jangmi yang mendengar keluhan Sia dan kelima perempuan di depannya ini hanya bisa menggeleng tak mengerti lagi akan hubungan aneh Cha Si Ah dan Park Jimin, mereka pacaran tapi sampai sekarang belum ada kepastian apapun dari Jimin akan bagaimana hubungan mereka kedepannya. Yang ada si Park Jimin justru sibuk mendukung sahabat nya Kang Seulgi dan sering kali mengabaikan Si Ah jika sudah berhubungan dengan gadis dan berakhir Sia yang selalu memendam rasa sakit hatinya seorang diri. Ia bingung namun ia tidak bisa ikut campur terlalu dalam di hubungan sahabatnya tersebut karena memang diantara mereka hanya ia yang tak memiliki kekasih padahal usianya sudah tiga puluh satu tahun.
“Aku yakin jika saat ini mereka sedang makan, maka mereka berenam akan tersedak.”
-Di lain tempat-
“Uhuk-uhuk”
Secara ajaib seperti yang dikatakan Jangmi keenam pria yang menjadi bahan perbincangan tersebut kini tengah tersedak makan malam mereka di ruang latihan. Yoongi yang menjadi satu-satunya yang tidak tersedak menatap keenamnya dengan heran.
“aku yakin jika saat ini para perempuan yang kalian cintai itu sedang berkumpul membicarakan kalian.”
-
TBC