Lima Puluh Juta untuk Harga Diri?
"Lima puluh juta sebulan. Syaratnya cuma satu: bersedia melayani 'kebutuhan' majikan kapan saja dan tutup mulut. Gila, ini loker kerja atau pesugihan jalur ranjang?!"
Arya Kusuma melotot horor menatap layar ponsel retak milik sahabatnya, Udin. Ia sedang duduk lemas di lorong RSUD kabupaten yang pengap dan bau karbol. Panasnya udara siang itu yang membakar kulit sawo matangnya, rasanya kalah panas dengan isi kepalanya sekarang.
Di tangan kirinya, Arya memegang erat selembar kertas tagihan dan rincian biaya operasi ibunya. Deretan angka nol di kertas itu terasa seperti vonis mati buat pemuda desa yang kesehariannya cuma bergelut dengan cangkul dan lumpur.
"Ya elah, Ya. Mau kerja apaan kek yang penting halal... eh, ya seenggaknya dapet duit gede!" sahut Udin nyengir kuda, tanpa dosa menepuk bahu lebar Arya. "Lima puluh juta, Cok! Lu nyangkul di sawah Pak Kades dari subuh sampai maghrib, sampai otot lu segede kuli panggul gini juga sebulan paling mentok dapet sejuta. Itu juga kalau panennya nggak dimakan wereng!"
Arya mengusap wajahnya kasar, meraup rambut cepaknya dengan frustrasi. "Tapi ya masa gua disuruh jadi suami siri kontrak, Din? Tulisan 'melayani kebutuhan' ini ambigu banget, anjir. Kebutuhan apaan? Nyapu ngepel rumahnya? Kalau kebutuhan... itu, gimana? Harga diri gua di mana, Din? Dosa gua numpuk nanti!"
Udin malah mendecak kesal, merebut kembali ponselnya. "Heh, Bambang. Lu liat tuh kertas tagihan di tangan lu. Operasi emak lu butuh puluhan juta. Kalau telat, nyawa taruhannya. Lu mau dapet duit dari mana besok? Nungguin padi berbuah emas? Mau pinjol?"
Kata-kata Udin memang pedas, tapi menohok langsung ke ulu hati. Arya terdiam. Tubuh raksasanya seolah tak bertulang saat bersandar di dinding lorong rumah sakit yang dingin.
"Lagian lu liat badan lu." Udin menunjuk d**a bidang Arya yang nyeplak jelas di balik kaus oblong putihnya yang sudah kusam dan lecek. "Badan lu tuh aset, Ya! Sayang banget dibiarin kejemur matahari doang. Kapan lagi otot kawat tulang besi lu ini berguna buat narik simpati tante-tante kesepian di Jakarta? Anggap aja lu lagi cosplay jadi pahlawan bertopeng!"
"Gua jual ginjal aja apa ya?" gumam Arya putus asa, sama sekali tidak menggubris lelucon Udin. "Gua ini cowok baik-baik, Din. Rajin sholat jamaah di masjid. Masa iya gua ngejual diri jadi peliharaan orang kota?"
"Halah, harga diri nggak bisa nebus resep dokter di apotek, Ya! Udah, lu daftar aja. Belum tentu juga lu keterima. Yang daftar pasti banyak modelan artis ibukota. Anggap aja buang sial."
Perdebatan mereka terhenti saat pintu ruang rawat inap kelas tiga di depan mereka berderit terbuka. Seorang perawat keluar membawa nampan medis. Arya langsung bangkit, mengangguk sopan pada perawat itu, lalu melangkah gontai masuk ke dalam ruangan.
Ruangan itu disesaki oleh enam ranjang pasien yang hanya disekat tirai kain kusam. Di ranjang paling ujung dekat jendela, Ibu Suminah terbaring lemah. Selang infus menancap di punggung tangannya yang keriput, dan selang oksigen bertengger di hidungnya. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, sangat kontras dengan pemandangan ibunya yang biasa cerewet menyuruh Arya makan.
Arya menarik kursi plastik kecil di samping ranjang, duduk, lalu menggenggam tangan ibunya yang terasa sangat dingin. Hatinya seperti diiris sembilu.
Suminah perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Melihat putra tunggalnya duduk dengan bahu menurun, ia tersenyum tipis.
"Le..." panggil Suminah lemah, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan. "Kowe ra usah mikirno biaya. Ibu ikhlas. Yen pancen wis wayahe, Ibu lilo..."
Arya buru-buru menggeleng tegas, menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat. "Ibuk ngomong apa sih. Arya pasti cari jalan buat nutupin biayanya. Ibuk nggak usah mikir yang aneh-aneh. Ibuk fokus sehat aja."
Suminah menatap wajah putranya lekat-lekat. Tangan keriputnya perlahan terangkat, mengusap rahang tegas Arya yang dipenuhi peluh.
"Awakmu ketok kesel banget, Le. Wis maem durung?"
Mendengar pertanyaan itu, Arya memaksakan sebuah senyuman. Bahkan dalam keadaan sakit parah pun, ibunya masih memikirkan perutnya. "Iya nih, Bu, badan Arya rasanya pegal-pegal semua habis angkat gabah tadi pagi. Cuma kecapekan aja kok. Tapi Arya kuat, Ibu tenang aja. Arya belum laper."
Suminah membalas senyuman itu dengan lemah. Matanya perlahan kembali terpejam, seolah menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya.
Baru saja Arya berniat mengambilkan air minum di atas nakas, tiba-tiba suasana berubah menjadi mimpi buruk.
Tiiiiit! Tiiiiiit!
Mesin monitor detak jantung di samping ranjang Suminah tiba-tiba berbunyi nyaring dan bertempo sangat cepat.
Dalam hitungan detik, tubuh Suminah mendadak kejang hebat. Matanya terbelalak ke atas, napasnya tersengal-sengal mencari oksigen, dan tangannya mencengkeram seprai dengan kencang.
"Ibu! IBUK!" Arya berteriak histeris, kepanikan seketika meledak di dadanya. "Dokter! Suster! Tolong! Ibu saya, Dok!"
Teriakan Arya mengundang keributan di ruangan itu. Dua orang perawat dan seorang dokter jaga berlarian masuk. Mereka langsung mengerumuni ranjang Suminah, melakukan tindakan darurat.
"Mas, tolong tunggu di luar dulu ya! Kami harus menangani pasien segera!" seru salah satu perawat sambil mendorong tubuh besar Arya menjauh dari ranjang.
"Tapi Bu... Ibu saya kenapa, Sus?! Ibu!"
"Tolong kerja samanya, Mas. Tunggu di luar!"
Tirai ditarik kasar. Pintu ruangan ditutup rapat tepat di depan wajah Arya.
Pemuda itu mematung di lorong rumah sakit. Lututnya mendadak kehilangan fungsi. Tubuh raksasanya merosot begitu saja hingga terduduk di lantai keramik yang dingin. Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Air mata yang sedari tadi ia tahan mati-matian akhirnya jebol juga, membasahi pipi tirusnya yang kotor oleh debu sawah.
Udin yang sedari tadi menunggu di luar langsung ikut berjongkok di sebelahnya. Sahabatnya itu menepuk-nepuk bahu Arya, sama sekali tak berani mengeluarkan lelucon apa pun melihat Arya sekacau ini.
Arya menatap kosong ke lantai rumah sakit. Pikirannya berkecamuk hebat.
Harga diri? Dosa? Nilai agama? Semuanya tiba-tiba terasa begitu abu-abu dan tidak ada artinya saat ia dihadapkan pada kenyataan bahwa di balik pintu itu, ia bisa kehilangan satu-satunya wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Ibunya butuh operasi secepatnya. Dan ia tidak punya waktu untuk berlagak menjadi pria idealis.
Arya mengusap air matanya dengan punggung lengan. Matanya menatap Udin dengan sorot yang tajam dan dipenuhi keputusasaan yang gelap.
"Din," panggil Arya, suaranya serak dan bergetar. "Mana HP lu."
Udin mengerjap kaget, buru-buru merogoh sakunya dan memberikan ponsel berlayar retak itu. Laman web pendaftaran online berlatar hitam emas itu ternyata masih terbuka di layar.
Dengan jari besar yang gemetar, Arya mulai mengetikkan datanya di kolom yang tersedia.
Nama: Arya Kusuma.
Umur: 24 Tahun.
Pekerjaan: Petani.
Sampai di kolom paling bawah, sebuah instruksi tertulis dengan huruf kapital tebal: UPLOAD FOTO SELURUH BADAN TERKINI (WAJIB).
Arya menelan ludah. Ia tidak punya foto bagus. Ia langsung membuka galeri di HP Udin, mencari foto dirinya yang pernah di foto Udin. Ia men-scroll cepat dan jarinya terhenti pada satu foto.
Foto yang diambil Udin minggu lalu, saat Arya baru selesai mencangkul petak sawah Pak Kades di bawah terik matahari siang bolong.
Di foto itu, Arya sama sekali tidak memakai baju atasan. Kulit sawo matangnya mengkilap sempurna dibanjiri keringat. Otot dadanya yang tebal, perut six-pack-nya yang kotor oleh cipratan lumpur, dan bahu lebarnya terpampang nyata tanpa filter kamera apa pun. Di foto itu ia sedang menyampirkan cangkul di bahunya, menatap ke arah kamera dengan wajah kelelahan namun memancarkan aura jantan yang sangat kasar dan liar.
Masa bodo. Arya sudah tidak peduli lagi kalau penampilannya di foto itu mirip kuli bangunan. Persetan dengan semuanya.
Sambil memejamkan mata rapat-rapat, Arya merapal doa sapu jagat di dalam hati. Ia menekan tombol Upload pada foto tersebut. Menunggu beberapa detik hingga gambar terunggah sempurna.
Lalu, dengan sisa-sisa kewarasan yang sudah di ambang batas... ia menekan tombol Kirim.
Terkirim.
Arya menjatuhkan ponsel itu ke pangkuannya. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin, memejamkan mata menembus kebisingan di sekitarnya.
Maafin Arya, Ya Allah... batinnya merintih dalam keheningan.
Bersambung...