Bab 01.
“Berapa usiamu sekarang, Nima? Kamu baru 25 tahun, tapi, sudah bingung mau menikah?” Pria itu menatap kesal perempuan yang berdiri di depannya.
“Untuk apa pernikahan? Hanya masalah seks, kita bisa melakukannya kapanpun. Kamu mau sekarang? Ayo,” lanjut pria tersebut.
Yenima hanya terdiam, menatap kecewa Adit yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun. Dan menjadi tunangannya selama satu tahun terakhir. Dua tangan yang terjatuh di sisi tubuh sudah mengepal.
“Kamu tahu, dari awal keluargaku tidak menyukaimu. Seharusnya yang kamu pikirkan adalah bagaimana mengambil hati mereka, bukan malah mendesakku menikahimu.”
“Sudah berulang kali kukatakan, keluar dari pekerjaanmu sekarang. Asisten pribadi? Setelah itu apa? Kamu tidak punya jenjang karir. Tidak mungkin asisten pribadi bisa jadi bos. Sekarang belum terlambat untuk mendaftar di bank, di telkom, pertamina, atau tempat lain yang bisa mengangkat nilaimu di mata keluargaku.”
“Aku tidak bisa menikahimu sebelum kamu berhasil meluluhkan hati keluargaku. Terserah, kalau kamu memang mau buru-buru menikah, terima saja perjodohan itu.”
Yenima meremas kepalan telapak tangannya. Wanita itu menatap marah sang kekasih. Napasnya tampak memburu, terlihat dari gerak cepat dadanya. Kulit wajahnya perlahan mulai berubah memerah.
“Lagipula, orang tuaku juga mencarikan perempuan yang setara dengan keluarga kami.”
Siang itu, parkiran tempat kerja Adit menjadi saksi hancurnya hati seorang wanita muda. Yenima Atira. Wanita itu menatap Adit dengan sorot mata terluka. Marah, kecewa, bercampur menjadi satu.
Yenima menarik lepas cincin tiga gram yang melingkari jari manis tangan kiri nya, lalu melempar benda tersebut ke wajah Adit. Membuat Adit menggeram menahan amarah.
“Dasar pecundang,” marah Nima sebelum berbalik lalu berjalan meninggalkan Adit.
“Memangnya kamu siapa? Pergi saja sana! Nikah sama pilihan orang tuamu, dan nikmati pernikahanmu. Kamu tidak mungkin bisa memiliki suami yang lebih dariku!”
Yenima yang sudah duduk di atas motornya, memakai cepat helm lalu menjalankan kendaraan roda dua itu. “Arrrgghhh … lo b******k, Dit!” Nima menumpahkan kekesalannya.
****
“Tunggu sebentar. Dia pasti datang.”
“Apa yang Mami harapkan dari perempuan yang tidak bisa on time? Jam berapa sekarang? Dia sudah terlambat 15 menit, dan Mami masih mau menunggu? Dia itu tidak punya respect sama Mami.”
“Pasti ada sesuatu. Mami kenal baik dia, Rei. Dia pasti datang sebentar lagi.”
“Aku akan pergi. Aku tidak punya waktu untuk menunggu. Dia tidak menghargai Mami.”
"Sebentar, Reivan." Wanita yang sudah tidak lagi muda itu mencegah sang putra yang sudah hendak berdiri.
‘Tok! Tok! Tok!’
Perempuan paruh baya dengan rambut ikal sebahu itu langsung tersenyum. “Apa Mami bilang? Dia pasti datang. Dia tidak akan pernah mengecewakan Mami.”
“Masuk!”
Reivan, pria berusia 28 tahun itu memutar kepala ke arah pintu yang tak lama kemudian terbuka. Pria itu tak mengalihkan tatapan mata sambil menekan katupan rahangnya.
“Masuk, Nima.” Mami Reivan berdiri lalu menarik langkah keluar dari balik meja. Menunggu sosok perempuan muda yang baru saja menutup pintu lalu melangkah ke arahnya.
“Maaf, Bu. Saya terlambat.” Yenima menerima pelukan wanita mama Reivan.
“Kamu tidak menghargai waktu orang.”
Mendengar suara khas seorang pria, Nima menoleh lalu menurunkan pandangan mata seraya berkata, “Saya minta maaf.”
“Tidak apa-apa, ayo duduk.” Mutia, Mami Reivan tersenyum menenangkan Nima.
Yenima mengangguk kecil kemudian melanjutkan ayunan kaki bersama dengan Mutia. Mutia kembali ke tempat dudunya, sementara Nima menarik punggung kursi di seberang tempat duduk Mutia, perempuan yang tidak lain adalah bos di tempatnya bekerja.
“Rei, kenalkan ... ini yang namanya Nima. Yenima Atira. Asisten Mami.” Mutia menatap sang putra yang duduk di sebelahnya. Beberapa saat kemudian, wanita itu beralih pada perempuan di depannya. “Nima ini lah, yang mendiang kakekmu inginkan menjadi menantu Mami..” Wanita itu tersenyum, sementara Nima menurunkan pandangan mata sambil menarik napas panjang.
“Besok kita ke rumah Nima, ketemu sama orang tua Nima.”
“Mih, dia belum tentu mau. Aku yakin dia sudah punya pacar. Iya, kan … Nima?”
Nima mengangkat kepala. “Hah? Oh ….” Wanita itu mengerjap, lalu melirik bosnya.
“Bagaimana, Nima? Kalian bisa saling bantu nantinya. Kedua kakek kalian sudah tahu kalian berdua akan cocok. Sebagai orang tua, Mami hanya mau menghormati janji yang sudah orang tua Mami buat puluhan tahun yang lalu.”
Nima menelan saliva susah payah. Bola mata wanita itu bergerak ke arah Reivan. Melihat ekspresi wajah Reivan, Nima menahan ringisan.
“Saya … um, asal mas Reivan tidak keberatan, saya tidak keberatan.”
****
Reivan tidak habis pikir kenapa Yenima langsung menyetujui permintaan maminya. Dia sudah berusaha membujuk, tapi wanita itu tidak bergeming. Makan siang itu terasa seperti neraka bagi Reivan, hingga ia buru-buru mengakhirinya.
“Aku tetap tidak mau, Mi. Aku sudah punya kekasih. Aku akan menikahinya setelah dia lulus.”
“Kamu sudah membaca sendiri wasiat kakekmu. Nima bisa membantumu menjalankan usaha kami. Papamu sakit, kamu harus segera menggantikannya. Kalau kamu tidak mau menikahi Nima dan memiliki anak, semua usaha keras papi mu akan jatuh di tangan sepupu-sepupu mu.”
“Kakek sudah meninggal. Anggap saja kita tidak pernah mengetahui tentang wasiat itu.”
“Rei.” Wanita itu menoleh, menatap sang putra yang sedang mengendalikan benda bundar di depannya. “Kita bicara lagi nanti setelah sampai di rumah.”
“Pokoknya aku tidak akan menikah dengan Nima.”
“Meskipun itu berarti kamu akan kehilangan warisan?”
“A-a-apa?”
“Mami dan papi sudah sepakat. Kami akan mengikuti wasiat kakekmu.”
“Menikah dengan Nima dan berikan kami cucu. Itu syarat agar kamu mendapatkan warisan kami. Termasuk perusahaan.”
“A-apa??!”
Reivan yang begitu terkejut, menekan pedal rem secara mendadak. Membuat mobil yang dikemudian berhenti tiba-tiba.
‘Tin! Tin! Tiiiin!’