08

967 Words
Alex dan Rey keluar tanpa tergesa. Wajah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk dua orang yang baru saja “menginterogasi” seseorang hingga akhir hidupnya. Rey menghembuskan napas panjang. Tekanan yang selama ini menumpuk seakan menguap begitu saja. “Lucu,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku selalu lupa betapa efektifnya metode lama.” Alex tidak menanggapi. Ia hanya membersihkan tangannya dengan kain, seolah baru selesai melakukan pekerjaan rutin. --- Mereka naik ke lantai atas. Ruang makan masih sepi. Hanya seorang wanita yang berdiri di dapur—celemek terikat rapi, pisau dapur bergerak stabil di tangannya. “Istriku ingin memasak?” tanya Rey. “Kalau begitu, izinkan aku membantu.” Wanita itu meliriknya sekilas, lalu tersenyum miring. “Jarang sekali kau berbicara seperti suami yang perhatian,” katanya. “Biasanya kau pulang, tidur, dan menghilang lagi. Sementara aku di sini—memasak untuk para pembunuh yang selalu lapar.” Rey terkekeh kecil. “Hari ini pengecualian.” Alex menerima perintah tanpa komentar. Membersihkan sayuran. Memotong daging. Gerakannya presisi—terlalu presisi untuk pekerjaan dapur biasa. “Tanganmu jangan terluka,” kata wanita itu singkat. “Tidak akan,” jawab Alex. Tiga puluh menit kemudian, makanan tersaji. Rey membuka pintu ruang makan dan berteriak tanpa peringatan: “KALIAN MAU MAKAN ATAU MATI?” Satu tembakan dilepaskan ke udara. Dalam hitungan detik, semua kursi terisi. Tak ada yang berani berbicara. Tak ada yang berani meninggalkan sisa makanan. Ancaman Rey tidak perlu diulang. --- Malam tiba. Alex dan Rey duduk berhadapan. Pembicaraan mereka bergeser ke organisasi. “Kau sekarang wakil ketua,” kata Rey. “Posisi itu bukan sekadar titel. Kau butuh pasukan.” “Aku pendatang,” jawab Alex. “Mereka lebih tua. Lebih lama di sini.” “Dan tetap akan tunduk,” Rey menyela. “Jika kau membuat mereka mengakuinya.” Alex terdiam sejenak. Lalu mengangguk. --- Pukul lima pagi. Anggota Number dibangunkan tanpa ampun. “Latihan,” perintah Alex singkat. Keluhan terdengar. Bisikan meremehkan. Alex mendengarnya semua. “Kalau kalian merasa lebih hebat dariku,” katanya pelan, “buktikan.” Latihan dimulai. Tanpa makan. Tanpa minum. Naik turun bukit. Berulang. Tanpa keluhan yang diizinkan. Ketika seseorang mencoba mengeluh, tatapan Alex berubah. Bukan marah. Bukan emosi. Kosong. Rey yang mengamati dari kejauhan menyadarinya. Kepribadian itu muncul lagi… Jam demi jam berlalu. Tubuh-tubuh mulai gemetar. Nafas memburu. Tak satu pun berani berhenti. Bagi mereka, Alex bukan lagi manusia. Ia adalah sesuatu yang lebih dingin dari ketakutan. Pukul dua belas siang. Alex berdiri jauh, mengawasi. Mommy Lady memanggilnya dari meja makan. “Alex, makananmu akan dingin.” Tatapannya beralih—tajam, menekan. “Diam,” katanya singkat. “Aku sedang bekerja.” Dan tak satu pun dari mereka meragukan: bagi Alex, ini bukan latihan. Ini adalah seleksi. Mommy Lady berhenti melangkah. Tangannya gemetar—bukan karena takut, melainkan karena tersinggung. “Berani sekali,” katanya pelan, suaranya menusuk, “anak yang baru beberapa hari menginjakkan kaki di sini… menolak makananku.” Dalam satu gerakan, ia meloncat ke depan. Pisau makan berkilat—arahnya lurus ke tenggorokan Alex. Namun serangan itu berhenti. Garpu. Alex menahan bilah pisau itu dengan satu garpu saja. Logam beradu, bergetar. Ia menyelipkan pisau Mommy Lady di antara gigi garpu, lalu mendekatkan wajahnya. “Jangan ganggu,” katanya datar. “Dan jaga mulutmu, jalang sialan. Apa kau lupa siapa atasanmu?” Ia memutar pergelangan tangannya. Mommy Lady terpental ke belakang. Belum sempat menyentuh lantai, ia sudah bangkit lagi— amarah murni di matanya. Namun langkah berikutnya dihentikan. Rey berdiri di antara mereka. Serangan Mommy Lady diblok. Rey membalas—cepat, presisi, cukup untuk menjatuhkannya tanpa melukai fatal. Ia jatuh. Bleeding Girl segera menghampiri, membantu menopang tubuhnya. “Cukup, Lady,” katanya pelan. “Kita dengarkan dulu penjelasan Ketua.” Rey menatap Mommy Lady tanpa emosi. “Aku punya wewenang atas kalian semua,” katanya. “Sama seperti dia.” Ia menunjuk Alex. “Dia wakilku. Dan mulai hari ini—atasanmu.” Hening. Mommy Lady menggertakkan gigi, lalu berbalik pergi. Namun dalam kepalanya, kenangan lama terbuka paksa. --- Ia berusia enam tahun. Dunia masih hangat. Keluarga masih utuh. Lalu Perang Dunia Ketiga datang. Satu per satu, mereka menghilang— tanpa jasad, tanpa makam. Ia dikirim ke panti asuhan. Tak lama kemudian, neraka datang lagi. Seorang pria masuk. Biarawati-biarawati dibantai di depan mata mereka. Ia ingin berteriak— namun seorang anak laki-laki menarik tangannya. Rey. Ia selalu ada. Selalu berdiri di depannya. Dalam satu momen singkat, ia bahkan berpikir: dia kuat… dia menawan. Lalu pria itu menang. Mereka diberi obat tidur. Ketika terbangun, matahari membakar kulit mereka. Hutan tak berujung. Ratusan anak dari seluruh panti asuhan di Amerika dikumpulkan. Sebuah kotak besar menyala. Visual seorang pria bertopeng muncul. “Kalian adalah kunci perdamaian dunia,” katanya. “Kunci untuk mengakhiri Perang Dunia Ketiga.” Tutorial bertahan hidup diputar— daging mentah, racun, bertahan di alam liar. Rey menghancurkan layar itu. “Apakah kalian bodoh?” teriaknya. “Api? Gas? Kita di tengah hutan!” Senyap. Lalu suara itu kembali. “Hewan di sini alami. Namun sebulan sekali, kami kirim makhluk modifikasi.” “Waktu kalian: sembilan tahun.” --- Sembilan tahun neraka. Hari terakhir— tersisa lima anak. Mereka mencoba melawan. Namun musuh mereka tidak mati. Luka sembuh. Tulang pulih. Mustahil. Mereka tertidur. Bangun di inkubator. Selang menancap di tubuh. Tak bisa merasakan diri sendiri. Namun mereka tidak mati. Mereka diubah. Fisik meningkat. Kebal racun. Penyembuhan abnormal. Dan tato di punggung— tanda kepemilikan. Misi terakhir mereka: membersihkan sisa-sisa Perang Dunia Ketiga. Namun saat tiba… perang itu sudah berakhir. Bukan oleh negara. Melainkan oleh satu kelompok. Demon of Destruction. Mata merah. Tanpa identitas. Muncul di setiap perang besar—lalu menghilang. Bahkan mereka, para assassin, tak pernah menemukan jejaknya. Akhirnya, mereka diberi perintah baru: Melindungi umat manusia dari kepunahan. Maka mereka dibentuk ulang. Sebagai… asosiasi pembunuh Amerika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD