09

1651 Words
Lady mengurung dirinya di dalam kamar. Pintu tertutup rapat, namun amarahnya tidak mereda sedikit pun. Tangannya bergetar. Napasnya tidak stabil. Bukan karena takut—melainkan hina. Ia duduk di tepi ranjang, menundukkan kepala, seakan mencoba menekan emosi yang terus mendidih di dadanya. Bleeding Girl berdiri tak jauh darinya. Ia tidak langsung berbicara. Ia tahu, saat seperti ini, kata-kata yang salah bisa menjadi luka baru. “Sudahlah, Lady,” ucapnya akhirnya dengan suara pelan. “Kita harus sadar posisi kita. Dia bukan anak sembarangan. Dia wakil ketua. Itu perintah langsung Rey.” Lady mengepalkan tangannya. “Tapi Jane… dia berlagak sok hebat di hadapanku,” balasnya geram. “Seolah-olah dia assassin yang sudah melewati neraka bertahun-tahun. Padahal dia masih bocah.” Nada suaranya bergetar—antara marah dan terluka. “Aku sudah melalui perang, kehilangan, eksperimen… tapi dia memperlakukanku seperti bawahan rendahan.” Bleeding Girl menunduk. Ia tidak membantah. Karena sebagian dari dirinya… mengerti. --- Di ruang makan, ketegangan belum reda. Black Mist berdiri berhadapan dengan Alex. Nada suaranya dingin, tapi jelas menahan amarah. “Kenapa kau begitu kasar pada Lady?” katanya. “Hanya karena kau wakil, bukan berarti kau bisa bertingkah seperti pemimpin sejati.” Alex tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih perlahan—dingin, kosong, menekan. Black Mist merasakan tengkuknya merinding. Cih… Ia menelan ludah. “Aku ingin mengalahkannya,” gumamnya dalam hati. “Tapi sorot matanya… seakan dia raja di tempat ini.” Mata merah pekat itu… Mengingatkannya pada satu hal yang tidak ingin ia ingat. Kelompok iblis di perang dunia. Siapa sebenarnya anak ini…? Black Mist melangkah maju—berniat menyerang. Namun belum sempat bergerak jauh, Rey sudah berada di depannya. Satu tangan Rey menahan bahunya. Tekanannya tidak kuat—namun niat membunuhnya jelas. “Apa yang kau lakukan?” suara Rey rendah. “Kau masih ingin menyerangnya?” Tatapan Rey membuat Black Mist mundur refleks. Insting bertahan hidupnya berteriak. Bajingan… Anak ini bukan cuma kuat. Bekingannya juga mengerikan. --- Alex melangkah maju. “Kenapa kalian diam?” suaranya datar, tapi tajam. “Apakah kalian selemah itu?” Ia menoleh ke Rey. “Rey. Kenapa bawahanmu seperti ini? Mereka bahkan tidak terlihat seperti assassin.” Rey menghela napas. “Aku yang salah. Aku terlalu mengendorkan latihan mereka.” Alex mengangguk sekali. Lalu berkata singkat, tanpa emosi: “Dark Spotter. Aktifkan semua jebakan di kaki bukit.” “Siap, Wakil.” --- Para anggota Number yang sudah kelelahan terkejut. Sejak pagi mereka dipaksa naik-turun bukit. Tanpa makan. Tanpa minum. Kaki gemetar. Pandangan kabur. Apa-apaan ini… Dia memperlakukan kita seolah b***k. “Kita harus melawan,” bisik seseorang. Namun Number 01 menggeleng. “Diam,” katanya. “Kalian tahu reputasinya?” “Dia baru lima belas tahun,” lanjutnya lirih, “tapi dia membantai kartel terkuat sendirian.” Yang lain terdiam. “Aku pernah satu misi dengannya,” lanjut 01. “Misi yang Rey sendiri bilang mustahil.” Ia menelan ludah. “Pasukan kartel menyerbu kami. Tinggal lima orang. Dia berdiri di depan, menahan semuanya.” “Setiap peluru mengenai sasaran,” lanjutnya. “Tanpa ragu. Tanpa meleset.” “Kami meninggalkannya di hutan. Mengira dia mati.” Suasana makin sunyi. “Tapi dia membunuh mereka semua,” ucap 01 pelan. “Rey langsung menemui presiden setelah itu.” --- BRAAAKKK. Sebuah batu besar menggelinding dari atas bukit. “LARI!” Mereka berpencar. Beberapa mencoba mengalihkan arah batu ke pohon—berhasil. Namun itu bukan satu-satunya. Batu demi batu jatuh hingga menjelang malam. Tubuh mereka remuk. Mental terkikis. --- Semua anggota Number akhirnya dikumpulkan di ruang tamu. Alex berdiri di atas tangga. Tatapannya menyapu mereka satu per satu. “Selamat,” katanya dingin. “Pemanasan selesai.” Semua terkejut. “Karena misi sebenarnya… baru dimulai sekarang.” Tak ada yang berani membantah. “Kunci dari misi ini satu,” lanjut Alex. “Kepercayaan.” --- Mereka diarahkan ke ruang bawah tanah. Sel tahanan. Mayat membusuk. Bau kematian. “Masuk,” perintah Alex. “Ingat kata kuncinya.” Di dalam hanya ada satu kotak—penuh gembok. “Jangan sentuh sebelum aku perintahkan.” --- Satu hari berlalu. Dua hari tanpa makan dan minum. “Apakah dia ingin membunuh kita…?” seseorang berbisik. 01 akhirnya berbicara. “Dia menguji kita,” katanya. “Kepercayaan pada teman sendiri.” “Makanan yang dia kirim… bukan untuk dimakan.” “Dia ingin melihat apakah kita saling percaya—atau saling mengkhianati.” Semua terdiam. Dan untuk pertama kalinya… mereka memilih untuk percaya. setelah Alex melihat kepercayaan yang Mereka bangun sendiri bersama temen dan anggota mereka Alex pun tersenyum kemudian mengucapkan di mikrofon latihan kalian sudah selesai latihan terakhir kalian adalah membukakan kotak yang ada di tengah kemudian membukanya paham. semua anggota number yang mendengar nya kemudian berteriak gembira kemudian 01 mencoba untuk mengarah kan mereka untuk fokus membukakan gembok yang berada di kotak itu. semuanya bekerja sama untuk membuka gembok itu sampai kotak itu terbuka. begitu kagetnya mereka setelah di buka terdapat sebuah tombol yang berada di dalam kotak itu 01 kemudian memencet tombol itu tiba- tiba dari atas memunculkan sebuah air yang begitu banyak menghujani Mereka. mereka pun berteriak akhirnya Kita bisa minum air sebanyak ini hohohoho Alex pun menghampiri mereka kemudian mengatakan kalian keluar lah dari situ kita akan keruangan tamu untuk mengobrol sesuatu. kalian mendapatkan libur sehari sampai besok. besok pagi Kita akan latihan lagi. setelah kalian bubar dari sini mandi kemudian ganti baju kalian paham . kemudian makan lah makanan yang ku sediakan untuk kalian di meja makan. setelah Meraka melihat makanan yang di sajikan di ruang makan begitu banyak nya makanan yang di buat oleh Alex dan lady. Alex dan lady juga sedang menikmati makanan yang di buat mereka di balkon lantai dua. lady maafkan perilaku yang telah ku buat kemarin. lady yang melihat Alex seakan melihat seseorang yang berbeda dimana tatapan intimidasi nya Dan mata' merah Nya sudah tidak lagi muncul. sepertinya dia sudah menjadi Alex yang kukenal. keesokan harinya Alex menyuruh bawahan nya untuk ber baris di depan rumah. semua nya ini adalah latihan kedua kalian waktu kalian sampai siang jika kalian bisa menusuk diriku atau menembak d**a ku kalian bisa menyelesaikan misi nya tapi jika dari kalian tidak bisa menyelesaikan nya kalian pantas menerima hukuman dari ku paham. di mulai dari sekarang. Alex pun tiba- tiba berlari ke arah hutan. semua anggota berlari mengejar nya kemudian di tahan oleh 01 semuanya tunggu Kita tidak boleh berpencar untuk menusuk orang ini karena kita sebagai assassin tidak boleh berduel 1 lawan 1 yang bukan bisa kita menangkan kecuali dia adalah seorang bocah tengil sialaan mungkin Kita bisa menang tapi lawan Kita adalah termasuk assassin terhebat sedunia. jadi terus berkelompok paham. semuanya pun menyebar kearah hutan walaupun mereka menyebar mereka masih tetap menyatu dalam jangkauan. tiba- tiba satu dari mereka berteriak aaaaa. dia ada di sini. sial Dia menghilang satu- persatu anggota number di tumbangkan tapi 01 berkata sialaan Kita telah masuk ke dalam rencananya kita harus keluar dari sini. semuanya berlarian mencoba untuk menghindari serangan dari Alex. apa- apaan dia sangat cepat dia tadi di sebelah ku sambil tersenyum ucap anggota lain yang di teror oleh Alex. sisa berapa anggota Kita hanya sisa 10 anggota dari 15 anggota sial Kita kehilangan Lima orang lainnya. tiba- tiba Alex berjalan menghampiri mereka semuanya kaget karena Alex berjalan hanya tangan kosong saja dia tidak membawa senjata rupanya. ayo kita Serang tunggu dulu Dia kuat aku bisa merasakan nya dia bisa mengalahkan Kita hanya dengan berapa menit saja. tidak Kita harus mencobanya jika kita tidak coba kita tidak akan tahu jawabannya. semua anggota number menyerang bersamaan ada yang membantu Meraka dari belakang dengan pistol ada yang langsung maju. Alex yang berkata dasar bodoh kalian tidak akan bisa mengalahkan ku sekaligus. Alex pun langsung di sambut oleh tendangan yang mengarah kearah ke palanya tapi berhasil di hindari kemudian anggota lain mencoba untuk menutup serangan dari Alex tapi mereka kaget karena Alex yang tiba- tiba melompat lalu memutar kan badan nya kemudian menendang Meraka sekaligus sampai membuat mereka terlempar jauh . para penembak mencoba melihat situasi untuk menembak Alex Tapi berhasil di hentikan oleh Alex yang melempar kan sebuah batu kearah mereka. Alex yang mencoba untuk menyerang di hentikan oleh para anggota lainnya kemudian dengan serangan tinju upper cut yang mengarah ke arah dagu Alex tapi berhasil di hindari Alex yang yang menghindari kemudian membalas serangan nya dengan kaki yang di arahkan ke arah perut yang membuat nya kesakitan. tapi kegilaan Alex tak berhenti di situ saja Mereka mencoba untuk menahan serangan yang di lancarkan oleh. berkali- kali mereka mundur karena di berikan serangan oleh Alex Meraka yang mencoba untuk lebih kuat lagi tapi sayang stamina Alex adalah termasuk monster dia tidak merasakan yang namanya kecapean Tapi dia malah tertawa puas karena serangan yang di berikan oleh kami. Mereka yang mencoba menjual' beli serangan dengan Alex sampai kelelahan. kalian ayolah sedikit saja kita menari ini akan seru setelah Alex mengatakan seperti itu tiba- tiba terdengar suara tembakan yang mengarah ke arah Alex tapi Alex berhasil menghindar dari tembakan itu. Alex yang melihat orang yang mencoba untuk menembak nya kemudian mengatakan sepertinya aku mempunyai target yang menarik. Alex yang tiba- tiba berlari kencang ke arah seorang penembak di hentikan oleh berapa anggota dan mengatakan. Lawan mu ada di sini paham. lagi lagi Alex di serang menggunakan pisau oleh berapa anggota tapi bukan nya melukai Alex pistol itu malah di rebut oleh Alex sampai membuat anggota lainnya tak bisa berdiri lagi. tersisa 3 orang lagi yaitu Sang penembak aku akan mengejar kalian Alex yang tiba- tiba berlari sangat kencang lalu melompat kearah Meraka sambil melempar kan sebuah batu yang tepat kearah senjata mereka. semua anggota terdiam membisu akan kegilaan yang di lakukan oleh Alex. Alex yang berhasil mengalahkan anggota number dengan mudah sampai batas waktu yang di tentukan. membuat yang lainnya mendapatkan hukuman yaitu berdiri di depan rumah sampai matahari terbenam. semuanya mulai menyalahkan masing masing sampai mereka capek kemudian mereka terdiam membisu karena kecapean
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD