Sang Madam yang tidak terima karena kedua anaknya telah dibunuh menelan pil rahasia itu. Tubuhnya langsung bereaksi, berubah menjadi sosok monster yang mengerikan.
Alex menyadari perubahan tersebut. Tanpa ragu, ia langsung menembakkan peluru berulang kali ke arah sang Madam. Namun perubahan itu terjadi terlalu cepat. Tubuh sang Madam sudah tidak lagi bereaksi seperti manusia.
Dua tangan tambahan muncul dari punggung sang Madam. Dengan tangan-tangan itu, ia mengambil senjata Jes—cambuk rantai—dan juga dua kampak milik Eros.
Sang Madam menyerang terlebih dahulu menggunakan cambuk rantai. Alex berhasil mundur dan menghindarinya. Namun sang Madam tidak memberi celah, langsung menerjang menggunakan dua kampak Eros. Serangan itu mengenai Alex—namun sengaja ia terima.
Alex membalas dengan menendang tubuh sang Madam hingga terpental jauh. Ia kemudian merebut cambuk dan kampak dari sang Madam. Tubuh sang Madam menghantam tembok. Alex langsung menyerangnya dengan cambuk rantai, disusul serangan bertubi-tubi menggunakan dua kampak, membuat sang Madam tidak dapat bergerak.
Alex kemudian mengeluarkan sebuah granat rakitan dari dalam kopernya.
“Wahai nenek jalang sialaan,” ucap Alex dingin,
“apa kau tidak pernah diajarkan etika? Kalau begitu, aku akan mengajarkan etika yang akan mempertemukanmu dengan anak-anakmu. Paham.”
Ledakan granat buatan Alex mengguncang bangunan mewah itu. Ledakan yang sangat dahsyat menghancurkan sebagian besar struktur bangunan.
Anggota Number yang berada di luar melihat ledakan tersebut dan segera memerintahkan pasukan di sekitar wilayah itu untuk mencari kapten mereka. 01 berlari secepat mungkin dan menemukan Alex dalam kondisi pingsan. Ia terkejut melihat tubuh sang Madam yang telah mati dengan kondisi setengah hancur.
01 segera memerintahkan seluruh anggota untuk mundur.
“Kita prioritaskan keselamatan kapten. Cepat, bawa yang lain pergi. Polisi akan segera datang.”
01 langsung menggendong Alex dan berlari menuju rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, 01 segera meminta bantuan medis. Dokter langsung membawa Alex ke ruang operasi dan meminta semua orang menjauh.
“Dokter, tolong selamatkan kapten kami,” ucap 01 dengan suara tegang.
Dokter menjawab singkat, “Berdoalah. Kami akan melakukan yang terbaik.”
Saat operasi dimulai, dokter terkejut melihat kondisi tubuh pasien. Tiga luka besar di bagian depan, empat luka di bagian belakang. Di punggungnya terdapat tato simbol salib dengan tengkorak di atasnya.
Operasi berlangsung lama. Dokter menjahit luka-luka yang sangat dalam, berusaha menahan pendarahan hebat.
Dua jam berlalu.
01 dan para anggota Number menunggu di luar ruang operasi. Sebagian berdoa, sebagian hanya diam—tidak semua dari mereka memiliki keyakinan.
Akhirnya, dokter keluar.
“Operasi berhasil,” ucapnya. “Terima kasih karena telah berdoa.”
01 langsung bertanya apakah mereka boleh masuk. Dokter mengizinkan hanya satu orang.
01 menatap anggota lainnya. Dalam hati ia tahu, tanpa kapten, dialah yang harus menggantikan posisi sementara. Dengan tekad, ia memutuskan masuk.
Setelah mengenakan pakaian medis, 01 masuk ke ruang perawatan bersama dokter. Alex terbaring di ranjang, masih tidak sadarkan diri.
Melihat kondisi kaptennya membaik, 01 merasa lega. Tubuhnya gemetar, nyaris menangis. Meski Alex adalah kapten, baginya ia hanyalah anak berusia lima belas tahun—adik yang harus dilindungi.
Dokter berkata, “Pasien kemungkinan akan sadar beberapa hari lagi.”
Namun tiba-tiba, Alex membuka matanya.
“Apakah anggota ku selemah ini,” ucapnya lirih,
“sampai menangis melihat kaptennya terbaring sakit, hah?”
Dokter dan 01 terkejut. Alex bangkit sedikit dari ranjang.
“Tidak mungkin…” gumam dokter. “Dia baru saja diberi bius dosis tinggi…”
Alex menatap dokter dengan mata terbuka penuh kesadaran.
“Kenapa?” katanya dingin.
“Kurang kuatkah obat tidurmu, wahai ‘dokter’?”
Sang dokter yang terkejut dengan ucapan Alex mencoba menenangkan diri, lalu menjawab bahwa sangat mengejutkan ada seseorang yang bisa bangun secepat itu setelah operasi besar.
Namun ucapan sang dokter diabaikan oleh Alex karena ia sedang berbicara dengan 01. Sang dokter yang merasa tidak dihargai tiba-tiba marah dan mencoba memukul Alex.
Namun dengan mudah, Alex menangkap pukulan itu.
01 terkejut melihat dokter tiba-tiba menyerang ketuanya.
“Ada apa, Dok?” tanya Alex datar.
“Aku tadi sedang menjelaskan alasan kenapa aku bisa membuka mata secepat ini, tapi kau malah mengabaikanku dan sibuk mengobrol dengan temanmu.”
Alex dan 01 tertawa kecil melihat tingkah sang dokter yang marah karena tidak didengarkan.
“Kenapa, memangnya ada yang lucu?” tanya sang dokter kesal.
Alex langsung memotong ucapannya.
“Sudahlah. Sebagai dokter, bukankah kau seharusnya tidak membuat keributan di ruang pasien?”
Dokter itu langsung terdiam mematung.
Sementara 01 masih berusaha menahan tawa—seorang dokter dinasihati oleh pasiennya sendiri.
Sang dokter menatap 01 dengan tatapan menghina.
Tatapan itu membuat 01 teringat pada tatapan mommy lady yang sama-sama menyeramkan.
Alex kemudian berkata pada 01,
“Aku akan keluar dari rumah sakit ini besok pagi.”
Dokter dan 01 langsung terkejut.
“Apakah kau sudah gila?” bantah sang dokter.
“Luka-lukamu masih sangat parah dan belum kering. Bagaimana mungkin besok pagi kau sudah ingin pulang?”
Alex menjawab tenang,
“Bukankah kau sudah tahu jawabannya… sejak kau melihat tato di punggungku?”
01 terkejut mendengar ucapan itu.
Alex menambahkan,
“Aku memang dibius obat tidur. Tapi sebenarnya aku masih sadar saat operasi. Dan kau sendiri yang bilang—tato di punggungku bukan tato sembarangan. Kau pernah melihat simbol itu di suatu tempat, bukan?”
Dokter mencoba menghindari pertanyaan itu.
“Aku hanya kaget… remaja sepertimu mana mungkin memiliki tato sebesar itu.”
Alex mengabaikannya.
“01, ambil kartu kreditku di saku bajuku.”
01 mengambilnya dan bertanya,
“Apa yang harus aku lakukan, Kapten?”
“Bayar semua fasilitas di ruangan ini,” jawab Alex.
“Tidak ada yang gratis. Paham?”
Dokter mencoba menyela,
“Lebih baik pakai diskon saja supaya tidak terlalu mahal—”
Alex menatap dokter itu dengan mata penuh intimidasi.
“Apakah aku terlihat seperti orang miskin di matamu?”
Dokter langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Alex berbaring kembali di ranjang sambil berpikir dalam hati:
Kenapa luka ini sembuh terlalu cepat… padahal cukup dalam. Sepertinya aku benar-benar mulai menjadi monster.
01 kembali dan berkata,
“Sudah dibayar, Kapten. Oh iya—ada pesan dari anggota bergelar lain.”
“Apa pesannya?” tanya Alex.
“Mereka meminta kita tetap di Eropa sampai waktu yang ditentukan,” jawab 01.
“Sepertinya kita liburan dulu di sini, Kapten.”
Sang dokter segera pergi dari ruangan karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Namun sebelum keluar, Alex memanggilnya.
Dokter menoleh.
“Apa lagi yang kau inginkan?”
Alex mengangkat jari telunjuknya ke bibir—isyarat agar dokter itu menutup mulut soal kejadian hari ini.
Dokter itu mengerti. Ia tersenyum kecil.
Baru kali ini aku bertemu remaja senakal ini… bahkan setelah operasi besar.
Alex lalu berkata pada 01,
“Bangunkan aku besok pagi. Anggota Number boleh mencari hotel untuk menginap.”
01 langsung tersenyum lebar.
“Akhirnya liburan juga… di kota London.”
Ia segera memberi tahu seluruh anggota Number bahwa mereka bebas mencari penginapan untuk beristirahat semalam.
Semua terkejut.
Hampir tak ada yang percaya.
Namun 01 tidak peduli. Ia langsung keluar dari rumah sakit.
Anggota Number lainnya segera mengikuti—tak mau ketinggalan kesempatan menginap di hotel mewah London.
01 memilih sebuah hotel mewah tepat di seberang rumah sakit.
Para anggota Number terdiam.
Bangunannya besar.
Mewah.
Dan jelas… bukan tempat murah.