Serangan demi serangan dilancarkan oleh dua saudara itu tanpa henti.
Jes dan Eros bergerak bergantian, menutup setiap celah, memaksa Alex terus bertahan sambil menutup titik-titik butanya. Cambuk rantai dan dua kampak itu seperti jebakan hidup—satu menarik perhatian, yang lain mencoba menghabisi.
Di balik mereka, sang Madam tertawa puas.
Tawanya bergema di ruangan besar itu, penuh kepuasan.
“Menyerahlah, pecundang sialan,” katanya dingin.
“Lukamu sudah cukup dalam. Semakin lama kau bergerak, semakin menyakitkan rasanya.”
Alex menggeram pelan.
Ia mundur selangkah untuk mengambil jarak—
namun Jes lebih cepat.
Cambuk rantai melesat, memaksa Alex menghindar. Alex mencoba menyerang titik buta Jes, tapi Eros langsung menghadang, memblokir serangan itu dengan kampaknya.
Serangan balasan datang bertubi-tubi.
Eros menekan dari depan.
Jes mengunci dari samping.
Alex dipukul dari dua arah.
Bajingan…
Di dalam benaknya, Alex menyadari satu hal pahit.
Aku terus diserang seperti ini…
Kalau berlanjut, aku benar-benar mati di sini.
Alex menerjang.
Namun justru saat itu kedua saudara itu tersenyum.
Eros mengayunkan kedua kampaknya sekaligus.
Satu menghantam punggung Alex.
Satu lagi menyayat dadanya.
Darah menyembur.
Alex terhuyung mundur—dan di situlah Jes mengunci cambuk rantainya ke tubuh Alex, menarik sekuat tenaga.
Tubuh Alex terlempar jauh.
BRAK!
Ia menghantam dinding keras. Tubuhnya jatuh, tak bergerak.
Napasnya berat.
Dunia berputar.
Apa-apaan ini…
Dua orang saja aku belum bisa mengalahkan mereka…
Dadanya terasa seperti robek sepenuhnya. Luka-luka baru menyatu dengan luka lama. Kepalanya berdarah.
Sang Madam berdiri, melangkah mendekat dengan wajah puas.
“Lihatlah,” katanya sambil tersenyum kejam.
“Anjing sialan yang terlalu percaya diri.”
Ia menunduk, lalu menarik topeng Alex.
“Wajah manis yang penuh darah… bagaimana kalau kau jadi anakku saja, Alex?”
Suara kain robek terdengar—
SSSROOT!
Pisau Alex menancap ke leher sang Madam.
“Berani sekali kau menyebutku anjing,” kata Alex pelan, suaranya rendah dan dingin.
Sang Madam terhuyung mundur, matanya membelalak.
“Apa—apa-apaan ini?! Tadi kau tidak berdaya!”
Ia menatap mata Alex… lalu tubuhnya gemetar.
“Mata merah…?! Tidak mungkin… keluarga itu sudah lama menghilang! Siapa sebenarnya kau?!”
Alex bangkit perlahan.
“Berani sekali seorang rendahan menyentuhku.”
Eros mengamuk.
Ia menyerang Alex dengan amarah penuh—
namun serangannya ditahan Alex hanya dengan satu tangan.
Jes dan Eros membeku.
Sang Madam berteriak, panik.
“Jangan bunuh dia! Jangan sekarang!”
Jes menoleh. “Kenapa, Mama?!”
Wajah sang Madam berubah serakah.
“Kalian tidak tahu apa-apa… keluarga Demon of Destruction adalah keluarga yang menghentikan perang dunia. Tubuh mereka jauh melampaui manusia biasa.”
Ia tersenyum gila.
“Ciri mereka… mata merah itu. Kita ambil matanya. Untuk koleksiku.”
Alex mendengus.
Ia melempar granat asap ke lantai.
Ledakan ringan—
asap tebal menyelimuti ruangan.
“Aku lupa satu hal,” gumam Alex.
“Aku ini assassin… bukan prajurit lagi.”
Dari balik asap, serangan datang bertubi-tubi.
Eros berteriak setiap kali mencoba bergerak—
pisau Alex selalu lebih dulu menyambut.
Tusukan.
Sayatan.
Pukulan cepat.
Eros terhuyung, sekarat.
“Jes—!!”
Jes menyerang dengan cambuk penuh tenaga ke arah asap.
Kesalahan fatal.
Cambuk itu justru menghantam tubuh Eros, melemparkannya keras ke lantai.
Asap mulai menipis.
DOARR!
Peluru menembus kepala Eros.
Jes menjerit marah dan menyerang—
namun Alex lebih cepat.
DOARR!
Satu tembakan ke jantung.
Jes terjatuh tanpa suara.
Alex berjalan perlahan ke arah sang Madam.
Wajah sang Madam berubah panik.
Ia mengeluarkan sebuah pil hitam, menelannya dengan tergesa.
Tubuhnya mulai berubah.
Otot menegang.
Tulang berbunyi.
Aura yang keluar… tidak lagi manusia.
Alex berhenti melangkah.
“Jadi…” katanya pelan.
“Ini bentuk terakhirmu.”
Alex melangkah perlahan ke arah sang Madam.
Wajah wanita itu dipenuhi kepanikan. Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah pil hitam dari saku tersembunyi. Tanpa ragu, pil itu langsung ia telan.
Beberapa detik kemudian, tubuh sang Madam mulai berubah.
Otot-ototnya menegang secara tidak wajar. Tulang-tulangnya berbunyi, seolah dipaksa menyesuaikan bentuk baru. Urat-urat hitam muncul di leher dan lengannya, sementara napasnya menjadi berat dan kasar.
Aura yang keluar dari tubuhnya berubah drastis.
Bukan lagi aura manusia.
Alex menghentikan langkahnya, menatap tanpa ekspresi.
Sang Madam mengangkat kepalanya perlahan. Matanya melebar, sorotnya dipenuhi kegilaan dan ambisi. Tubuhnya kini terlihat jauh lebih besar dan menakutkan dari sebelumnya.
“Jadi…” ucap Alex dengan suara rendah.
“Ini bentuk terakhirmu.”
Dadanya kembali terasa perih. Racun masih bekerja, menggerogoti tubuhnya dari dalam. Namun Alex tetap berdiri tegak, menahan rasa sakit itu dengan paksaan.
Sang Madam tersenyum aneh, suaranya berubah berat.
“Kau seharusnya mati tadi, Alex… tapi sekarang, aku yang akan menghabisimu.”
Alex mengencangkan genggaman pada pistol dan pisaunya.
Di hadapannya berdiri sosok yang telah kehilangan kemanusiaannya sepenuhnya.
Di dalam dirinya sendiri, Alex sadar—pertarungan ini akan menentukan segalanya.