017

1131 Words
Alex berteriak tertahan saat ia memaksa menutup lukanya. Selotip ia tarik keras, menempel langsung di atas daging yang masih basah oleh darah. “Sial…!” Rasa perih menjalar sampai ke tulang. Dadanya seperti ditusuk dari dalam, napasnya tersendat, namun ia tidak berhenti bergerak. Luka ini menghambatku. Dan aku membencinya. Tiba-tiba— Seseorang berlari ke arahnya sambil mengayunkan tongkat baseball. Jaraknya sudah terlalu dekat. DOARR! Kepala orang itu pecah sebelum sempat menyentuh Alex. Alex mengangkat pandangan. Jauh di kejauhan, regu penembak sudah berada di posisi mereka. Ia mengangkat tangan, memberi kode tubuh singkat. Satu isyarat. Dan jalan langsung terbuka. Alex maju sambil menahan sakit, erangannya lolos dari sela giginya. Ia berteriak ke arah pasukan Number. “MAJU! JANGAN BERHENTI!” Pasukan Number yang baru masuk langsung bergerak cepat, membersihkan jalur di depan ketua mereka. “01!” teriak Alex. “Sekarang!” 01 langsung berlari tanpa ragu, menerobos tembakan, lalu berdiri di sisi Alex. Mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua. 01 bergerak setengah langkah di depan, membuka jalan, memastikan Alex bisa terus maju tanpa memperparah lukanya. Rumah ini besar— namun hanya dua lantai. “Markasnya… di depan sana,” gumam Alex. Namun sebelum ia bisa berlari lebih jauh— DOARR! DOARR! Tembakan menghantam ke arah mereka. Di depan, sebuah pintu besar berlapis emas terbuka perlahan. Tiga sosok muncul. Dan salah satunya— pramugari yang sebelumnya melawan Alex. Suara wanita tua terdengar, nyaring dan penuh ejekan. “Sepertinya kalian sudah datang, ya… aku sudah menunggu lama, loh.” “Bagaimana kalau kita minum teh dulu?” “Atau… aku saja yang meminum darah kalian?” Alex mendecih, darah menetes dari dadanya. “Cuih… dasar nenek psikopat sialan.” “Lihat bawahanmu. Lihat apa yang mereka lakukan pada dadaku.” Madam itu tertawa kecil, melengking. “Xixixixi… jadi kau sudah terkena racunnya, ya.” “Aku memang menyuruh bawahanku menyerangmu.” “Kerugian yang kau buat terlalu besar. Nyawamu seharusnya sudah jadi milikku.” Alex menyipitkan mata. “Kau terlalu banyak bicara.” --- Beberapa waktu sebelumnya… Setelah Iris melompat dari pesawat, sang Madam berdiri dengan tenang. “Tidak kusangka bawahanku yang cantik bisa mengacaukan pesawat mereka.” “Suruh dia langsung ke sini.” Iris tiba di markas dan langsung masuk ke ruangan utama. “Tidak kusangka kau sudah pulang, wanita kecilku,” ujar Madam lembut. “Aku pulang, Mama,” jawab Iris—Eros—sambil memeluknya. “Tenang saja… aku membuat luka cukup dalam di dadanya. Racunnya kuat.” Madam mengelus rambutnya. “Jangan meremehkannya.” “Dia anggota The Life Taker.” “Mereka tidak pernah gagal.” --- Kembali ke sekarang. Alex melangkah maju, menatap Madam tanpa rasa hormat sedikit pun. “Hey, nenek bodoh,” katanya dingin. “Kau siap mati di tanganku atau belum?” Madam tersenyum miring. “Hebat juga kau bisa menembus pertahanan terbaik kami.” Alex tertawa pendek, penuh penghinaan. “Pertahanan terbaik?” “Aku menyebutnya kumpulan keroco tak berguna.” Madam membalas dengan tatapan penuh kebencian. “Anjing pemerintah sepertimu berani bicara seperti itu di hadapanku—” DOARR! Alex menembak. Peluru itu menghantam telinga Madam, bukan kepalanya. Teriakan nyaring memenuhi ruangan. “Aaaaaarghhh!” Alex menurunkan pistolnya sedikit. “Hey, nenek sialan.” “Sampai kapan aku harus dengar ocehanmu?” “Aku sudah bosan.” Madam menjerit marah. “Anak-anakku! Bunuh dia!” Alex melepaskan pisau dari pistolnya, mengatur ulang pegangan senjata. Dalam sekejap, ia menerjang. Serangan pertama langsung mengarah ke Eros. Eros menahan pisau Alex dengan kampak kirinya, lalu mengayunkan kampak kanan ke arah kepala Alex. Namun— DOARR! Peluru menghantam tangan kanan Eros. Ia menjerit kesakitan. Jes langsung bergerak. Cambuk rantainya melesat, menyambar udara menuju titik buta Alex. Alex meloncat mundur, menjaga jarak. Di kepalanya, Alex menganalisis cepat. Yang pertama—Jes. Cambuk rantai. Jangkauan luas. Mematikan. Yang kedua—Eros. Dua kampak. Brutal. Dan yang ketiga… Ares. Alex mengatupkan giginya. Untung saja kau sudah mati. Kalau tidak… neraka ini akan jauh lebih merepotkan. Dadanya kembali berdenyut. Racun terus bekerja. Namun Alex tetap berdiri. Belum sekarang. Belum mati. Alex mengatur napasnya. Satu tarikan terasa seperti pisau berkarat yang menggores paru-parunya dari dalam. Racun itu bekerja perlahan—tidak membunuh cepat, tapi melemahkan, membuat setiap keputusan terasa satu detik lebih lambat. Namun Alex tetap tersenyum. “Dua lawan satu…” gumamnya. “Masih terlalu mudah.” Jes bergerak lebih dulu. Cambuk rantainya melesat cepat, menghantam lantai tempat Alex berdiri sebelumnya. Dentingan logam memantul di ruangan besar itu. Alex berguling ke samping—sedikit terlambat. Ujung rantai menggores bahunya, darah langsung memercik. Racun bereaksi. Penglihatannya bergetar sesaat. Dinding terasa menjauh. Suara tembakan terdengar seperti dari bawah air. Sial… sudah mulai. Eros tidak memberi waktu. Dengan tangan kiri yang masih kuat, ia mengayunkan kampaknya ke arah leher Alex. Alex menangkis menggunakan pistol yang sudah dimodifikasi, pisau di depan senjata itu menggesek baja kampak—percikan api menyala. Alex menembak jarak dekat. DOARR! Peluru menembus bahu Eros, namun tidak cukup menghentikannya. Eros justru mendorong maju, memaksa Alex mundur beberapa langkah. Jes memanfaatkan celah itu. Cambuk rantai melingkar ke kaki Alex. “Sekarang!” teriak Jes. Rantai menarik keras. Alex terjatuh dengan satu lutut menghantam lantai. Dadanya kembali terasa meledak dari dalam. Darah merembes dari balik selotip. Penglihatannya berkedip— sejenak ia melihat Ares berdiri di depan pintu, tersenyum mengejek. Bukan sekarang… Alex menggeram, menarik pisau cadangan dari pinggangnya dan menancapkannya ke rantai, memotong sambungan besinya dengan satu hentakan brutal. Jes terkejut. Alex langsung bangkit, menembak lantai di depan Eros. DOARR! Debu dan serpihan marmer memaksa Eros refleks menutup wajah. Satu celah. Alex menerjang, menusuk paha Eros, lalu memutar pisau itu sebelum menariknya keluar. Darah muncrat. Eros berteriak marah, bukan kesakitan. Jes kembali menyerang dari samping. Cambuk menghantam punggung Alex—keras. Alex terhuyung ke depan. Napasnya tercekik. Racun membuat otot-ototnya terasa berat, seperti bergerak di air kental. Gerakanku melambat… Dua detik lagi aku bisa mati kalau salah langkah. Madam tertawa dari belakang. “Xixixixi… racunnya mulai bekerja, ya?” Alex meludah darah ke lantai. “Masih… belum cukup… untuk menjatuhkanku.” Ia mengangkat pistolnya, tapi tangannya sedikit gemetar. Jes melihat itu. Ia tersenyum. Alex menembak. DOARR! DOARR! Satu peluru meleset— yang kedua menembus betis Jes, memaksanya berlutut. Alex langsung maju, namun dunia kembali berputar. Kepalanya berdenging. Suara tembakan pasukan Number terdengar jauh… terlalu jauh. Racun kini bukan hanya melukai tubuhnya— tapi juga mengganggu timing, membuat setiap gerakan terasa seperti perjudian. Alex berdiri di tengah ruangan, darah menetes dari d**a, punggung, dan paha. Namun matanya tetap menyala. “Dengar baik-baik,” katanya pelan, hampir berbisik. “Kalau aku mati hari ini…” Ia mengangkat pisau yang berlumur darah. “Kalian akan ikut ke neraka bersamaku.” Jes mencoba bangkit. Eros menggenggam kampaknya dengan tangan tersisa. Pertarungan belum selesai. Dan racun itu… akhirnya menemukan lawan yang menolak mati tepat waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD