Alex menikmati rokoknya, ditemani secangkir kopi yang mulai mendingin. Malam terasa sunyi, seolah dunia berhenti sejenak memberi ruang untuk pikiran-pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Itu 01.
“Kapten,” ucapnya pelan, lalu berhenti di samping balkon.
“Entah kenapa… aku teringat sesuatu.”
Alex tidak menoleh. “Bicara.”
01 menatap langit malam.
“Dulu, aku pernah melihat seorang anak remaja. Dia datang menghampiriku saat aku sedang menatap bintang. Dia memperkenalkan dirinya dengan canggung, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Anak yang suka membuat masalah… tapi anehnya, terasa dekat.”
01 tersenyum kecil.
“Aku tak pernah menyangka bisa bertemu lagi dengannya di sini.”
Alex menghembuskan asap rokok perlahan.
“Aku juga tak menyangka,” katanya datar.
01 melanjutkan, suaranya jujur.
“Orang yang dulu kukira hanya remaja bermasalah… sekarang jadi assassin terhebat. Bahkan menjadi ketua. Pencapaianmu, Alex… itu di luar dugaan siapa pun.”
Alex menyesap kopinya.
“Aku juga tak pernah membayangkan akan hidup di dunia ini.”
01 tertawa pelan.
“Kalau begitu, aku cukup beruntung. Lebih baik jadi bawahanmu… daripada jadi salah satu targetmu, bukan?”
Alex menoleh sedikit.
“Aku tahu siapa yang kau maksud.”
01 mengangguk.
“Siapa yang tak mengenalnya? Dia orang yang membuatmu seperti sekarang, kan?”
“Kalau saja dia tidak arogan… misi penangkapan kartel itu pasti selesai lebih cepat. Tapi justru dia yang membuat semuanya kacau.”
Alex terdiam sejenak, lalu berkata singkat,
“Serigala.”
01 menoleh heran.
“Kenapa kau menyebutku serigala?”
Alex akhirnya menatapnya.
“Serigala itu buas. Tapi dia setia pada kelompoknya.”
“Aku melihatmu melompat dari helikopter demi menyelamatkan rekanmu. Seperti anggota Number.”
01 terkekeh.
“Kalau begitu, sebut aku semut saja. Serigala terlalu kuat. Semut lebih realistis.”
Alex menggeleng pelan.
“Kalau kau tidak melompat hari itu… aku tidak akan sempat mengambil kotak P3K di pusat markas.”
“Perhatian kartel teralihkan padamu. Itu yang membuatku bisa membunuh mereka dengan mudah.”
01 memotong cepat.
“Tapi tetap saja, aku lebih beruntung berada di pihakmu.”
“Daripada jadi pengecut yang lari sambil berteriak ketakutan seperti Rezaaaa.”
Nada suaranya berubah kesal.
“Arogan, berisik… dan bahkan menjerit kesakitan saat ditolong.”
Alex memotong dingin.
“Dia hanya bisa membunuh orang yang dianggapnya tidak penting.”
Ia menatap gelas kopinya.
“Dan aku tahu… masih ada target lain.”
01 langsung menoleh.
“Siapa lagi, Kapten?”
“Ada empat,” jawab Alex pelan.
“Tiga di antaranya, lima tahun ke depan akan cukup terkenal. Mudah ditemukan. Mudah dibunuh.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang satu lagi…”
“Lima tahun ke depan, dia akan jadi pengecut sialan. Sulit ditemukan.”
Alex melirik 01.
“Kau tahu siapa.”
01 tersenyum miring.
“Aku tahu.”
“Orang yang lari ke helikopter… meninggalkan seorang anak remaja yang sedang melindunginya.”
Ia mengucapkan namanya dengan nada meremehkan.
“Reeeezzaaa.”
---
Keesokan harinya.
Seorang wanita berusia dua puluh satu tahun berdiri di dalam bagasi sebuah pesawat pribadi. Tingginya sekitar 175 cm. Hoodie menutupi kepalanya, ditambah topi yang ditarik rendah.
Ia sedang menelepon.
Di seberang sana, suara penuh wibawa terdengar santai.
“Hai, wanita cantik. Aku punya misi khusus untukmu.”
“Kau adalah tangan kananku yang ketiga.”
Nada suara itu berubah dingin.
“Mainan laba-labaku dikalahkan oleh bocah lima belas tahun.”
“Dia bahkan membakar kediamanku di Amerika.”
Sang madam tertawa pelan.
“Sebelum kau datang ke sini… bunuh dia di pesawat itu. Paham, boneka manisku?”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Baik, Sang Madam.”
“Aku akan menjalankan semua tugas yang kau berikan… wahai Madam yang mulia.”
Madam terdengar puas.
“Lakukan yang terbaik, anak kecil wanitaku.”
Panggilan terputus.
Wanita itu berbisik dingin,
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai Sang Madam.”
Pisau bergerak cepat.
Seorang pramugari cantik roboh di dekat pintu bagasi—mati tanpa sempat berteriak. Wanita itu membersihkan tangannya, lalu menemukan kartu nama di saku korban.
“Iris…”
Ia tertawa.
“Hahahaha… gue kira Kiris. Ternyata Iris.”
“Sejak kapan gue ketawa joke bapak-emak?”
“Padahal umur gue masih 21… masih mon*ok pula.”
“Dasar sialan.”
Mayat Iris dimasukkan ke dalam koper.
Beberapa menit kemudian, wanita itu mengenakan topeng wajah. Sedikit riasan. Sedikit penyesuaian sikap.
Kini, di cermin, berdiri seorang pramugari cantik.
“Oke,” gumamnya pelan.
“Sekarang… namaku Iris.”
Ia tersenyum kecil.
“Dari tatapan matanya… dia takut, tapi ingin melawan.”
“Menarik.”
Mesin pesawat mulai menderu pelan.
Getaran halus merambat dari lantai ke kursi, seperti detak jantung raksasa yang perlahan terbangun. Lampu kabin meredup, menyisakan cahaya lembut yang membuat wajah manusia terlihat lebih jujur—atau justru lebih palsu.
“Iris” berjalan menyusuri lorong kabin dengan langkah teratur. Setiap geraknya rapi, profesional, tanpa celah. Dari luar, ia tampak seperti pramugari sempurna.
Namun di balik topeng wajah itu, pikirannya tajam seperti pisau.
Dia tahu sekarang.
Alex sudah mencurigainya.
Tidak apa-apa.
Justru lebih menyenangkan jika mangsa sadar bahwa pemburu ada di dekatnya.
Ia berhenti sejenak di dekat pintu darurat, memastikan tak ada yang memperhatikan. Lalu matanya bergerak—mengamati posisi anggota Number satu per satu. Cara mereka duduk, sudut pandang mereka, jarak antar kursi.
Terorganisir.
Disiplin.
Bukan pengawal biasa.
Madam tidak berlebihan rupanya.
Iris kembali berjalan, kali ini ke arah kokpit. Tangannya menyentuh gagang pintu, lalu ia mengetuk pelan.
“Semua aman?” tanyanya lembut.
Pilot mengangguk. “Aman. Tinggal tunggu izin lepas landas.”
Iris tersenyum. “Baik. Terima kasih.”
Pintu tertutup.
Saat ia berbalik—
Tatapan Alex sudah menunggunya.
Ia tidak bergerak dari kursinya, tidak berbicara, hanya menatap. Tatapan itu tenang, dalam, seperti seseorang yang sedang membedah pikiran orang lain tanpa alat.
Iris mendekat, kali ini lebih lambat.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya.
Alex mengangkat cangkir kopi di tangannya. Asap tipis masih mengepul.
“Kau minum kopi?” tanyanya tiba-tiba.
Iris berkedip sekali. “Terkadang.”
“Kau tidak gemetar,” lanjut Alex. “Padahal ini penerbangan malam. Biasanya pramugari baru sedikit gugup.”
Iris tersenyum kecil. “Saya tidak takut terbang.”
Alex menyesap kopinya.
“Aku juga tidak takut mati.”
Untuk sesaat, udara di antara mereka terasa berat.
Iris memiringkan kepala. “Banyak orang berkata begitu.”
“Tidak banyak yang jujur,” balas Alex.
Ia meletakkan cangkirnya. “Kau tahu… orang yang benar-benar profesional selalu punya satu kesalahan.”
“Oh?” Iris mencondongkan badan sedikit. “Kesalahan apa itu?”
“Mereka terlalu percaya diri,” jawab Alex. “Dan lupa bahwa kadang… target juga sedang menilai mereka.”
Iris tertawa pelan. Tawa yang ringan, hampir ceria.
“Kalau begitu,” katanya, “kita berdua sama saja, bukan?”
Alex tersenyum tipis.
“Bedanya,” katanya pelan, “aku tidak memakai topeng.”
Iris menahan diri agar tidak bereaksi.
Sial…
tajam sekali.
Lampu tanda sabuk pengaman menyala. Suara pilot terdengar di pengeras suara, mengumumkan lepas landas.
Pesawat mulai melaju.
Iris berdiri tegak kembali, profesional seperti sebelumnya.
“Selamat menikmati penerbangan,” katanya.
Saat ia melangkah pergi, suara Alex terdengar rendah.
“Iris.”
Ia berhenti, menoleh.
“Kita akan bicara lagi,” kata Alex. “Pastikan kau masih hidup saat itu.”
Iris tersenyum—kali ini, tanpa kepura-puraan.
“Aku berharap begitu, Kapten.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Alex dengan pikirannya sendiri.
Di udara, di dalam ruang tertutup itu,
tidak ada hukum,
tidak ada perlindungan.
Hanya dua pembunuh yang sama-sama menunggu momen terbaik.
Dan ketika pesawat ini mendarat…
salah satu dari mereka tidak akan turun sebagai manusia.