014

821 Words
Alex memasuki sebuah mobil sedan hitam bersama sopirnya, koper hitam berada di tangannya. Di dalam koper itu tersimpan jas tuxedo dan topeng—serta persiapan lain yang tidak ditujukan untuk acara biasa. Di belakangnya, anggota Number memasuki beberapa sedan hitam lainnya. Total ada empat mobil. Hanya mobil Alex yang diisi dua orang: dirinya dan sopir. Alex kembali menyalakan rokoknya. Asap tipis keluar perlahan dari bibirnya saat ia menikmati pemandangan jalanan Amerika yang ramai. Turis asing berlalu-lalang, tertawa, mengambil foto—tak satu pun menyadari bahwa kematian sedang melintas di antara mereka. Beberapa jam kemudian, rombongan itu tiba di sebuah bandara besar. Semua turun dari mobil, namun Alex langsung berbicara tanpa basa-basi. “Pesawat pribadi kita ada di sebelah sana. Langsung masuk saja. Kita rapat di dalam. Paham?” Tanpa menunggu jawaban, Alex berjalan lebih dulu. Begitu memasuki pesawat pribadi, ia disambut dua pilot dan lima pramugari yang berbaris rapi secara horizontal menghadap ke arahnya. Alex membalas sambutan itu dengan senyum ramah, melangkah masuk seperti tamu terhormat. Namun begitu kakinya menapak lebih dalam ke kabin— Pandangan Alex berubah. Mode iblis aktif. Hawa dingin langsung terasa menusuk. Tidak wajar. Seolah ada mata yang mengawasinya dari balik dinding. “Di sini dingin…” gumamnya pelan. “Sepertinya ada seseorang yang sedang mengawasiku.” Di sisi lain kabin, Iris menyadari sesuatu. Ia langsung menghentikan pengamatannya. Lawan kali ini bukan anak remaja 15 tahun seperti biasanya. Tekanan dari pria itu berbeda. Alex. Nama itu terlintas di pikirannya. Akan kuingat namamu… sebelum aku melupakannya selamanya dan membunuhmu. Beberapa saat kemudian, Alex menyadari tekanan itu menghilang. Ia mematikan mode iblisnya dan kembali seperti biasa. Dengan santai, ia duduk di kursi yang telah disiapkan oleh para pramugari. Ia meletakkan koper di atas meja. “Hah…” Alex menghela napas. “Berat juga. Isinya jas tuxedo dan topengku. Tapi di bawahnya ada dua jenis peluru yang sudah kusiapkan… dan granat yang kurakit cepat tadi malam.” Saat melihat anggota Number mulai masuk satu per satu, Alex langsung berteriak. “Hei! Kenapa jalannya lama sekali?” “Kalian mau ikut latihan neraka lagi, hah?!” Mendengar itu, seluruh anggota Number langsung bergegas masuk dan duduk rapi. Tak satu pun ingin mengulang apa yang Alex sebut sebagai latihan. Alex kembali bersuara, lebih tegas. “Untuk misi kali ini, rencana tetap sama.” “Kecuali satu hal—01 ikut denganku untuk maju.” “Pengintai tetap di pesawat.” “Penembak, cari jarak aman. Jangan ceroboh. Paham?” “Siap, Kapten.” Sementara itu, Iris yang masih memantau situasi mulai bergerak ke arah toilet yang sudah jarang digunakan. Ia mengeluarkan alat komunikasi, berniat menghubungi sang Madam. Namun tiba-tiba— BRAK! Pintu kamar mandi didobrak dari luar. “Apa yang kau lakukan?!” Iris berbalik. Seorang pramugari berdiri di sana dengan wajah tegang. “Berisik. Jangan pura-pura,” kata pramugari itu. “Kau bukan Iris yang asli. Kau pembunuh Iris yang asli, bukan?” Iris menyipitkan mata. “Apa maksudmu? Ini aku, Iris. Kenapa kau tidak mempercayaiku?” “Aku sudah menduganya,” jawab pramugari itu. “Setiap kali aku memanggil Iris, dia tidak pernah mau dipanggil dengan nama itu. Nama aslinya dirahasiakan.” “Dan kau membawa alat komunikasi di pesawat ini.” Iris tersenyum miring. “Wah… penyamaranku terbongkar juga.” “Padahal aku ingin bersenang-senang sedikit.” “Tapi karena kau mengacaukannya, aku harus mengantarmu bertemu Iris yang asli… di alam sana.” “Cuih!” balas pramugari itu. “Aku tidak akan mudah kalah oleh w***********g sepertimu!” “Wah wah wah,” Iris terkekeh. “Sepertinya aku juga harus menutup mulut busukmu.” Iris langsung menusuk dengan pisau lipat, namun serangan itu tertahan oleh pintu yang digunakan pramugari sebagai tameng. Pramugari itu membalas dengan menghantamkan pintu berkali-kali, keras dan brutal. Iris mundur sesaat, lalu tersenyum. Dua kapak kecil muncul di tangannya—senjata yang sudah ia sembunyikan di kamar mandi. Ruang pesawat yang sempit menjadi keuntungan baginya. Satu ayunan cepat— Tebas. Tangan kanan pramugari itu terputus dengan mudah. Iris tertawa gembira, lalu tanpa ragu memotong lehernya hingga tewas. Tidak berhenti di situ, ia menghancurkan mulut dan kepalanya sampai benar-benar lebur. Iris menyeret tubuh itu kembali ke kamar mandi dan membersihkan darah yang berserakan di lantai dengan tenang. Saat semuanya hampir rapi, pintu terbuka lagi. Seorang pramugari lain masuk dengan wajah cemas. “Di mana Siska?” tanyanya. “Aku sedang mencarinya. Kau melihatnya, Iris?” Iris menoleh dengan mata berbinar. “Ohhh… jadi namanya Siska.” “Wanita yang memanggilku jalang itu, ya?” “Kau mencarinya?” “Iya,” jawab pramugari itu gugup. “Oh… dia sudah kubunuh,” kata Iris santai. “Memangnya kenapa?” Wajah pramugari itu membeku. “A-apa kau berbohong…?” Sebelum teriakan keluar— SRAK! Satu kapak melayang dan menancap tepat di wajahnya. Tubuh itu jatuh tanpa suara. Iris menghela napas ringan, menatap dua mayat di lantai. “Wah wah…” “Sepertinya aku menambahkan pekerjaanku lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD