Empat tahun yang lalu,
Fabian merasakan gemetar saat mendengar kabar kalau Bulik Nova terbaring kritis di rumah sakit. Dia melajukan mobil sport-nya dengan cepat ke rumah sakit, tempat beliau dirawat.
Bulik telah mengasuh Fabian sejak dia masih di bangku sekolah menengah pertama. Seperti halnya anak-anak kaya lain, Fabian selalu jauh dari kasih sayang orang tua. Hanya pada pengasuhnya dia menjadi dekat. Bahkan, bulik adalah tempat berbagi cerita dan keluh kesah setiap hari.
Di hadapan orang tuanya, dia adalah anak yang pandai, hebat dan tangguh. Tetapi tidak ada yang tahu kalau dia menangis bahkan saat terjatuh dari tangga saat masih kecil dulu. Hanya pengasuhnya.
"Bulik." Fabian memanggil cemas, saat dia tiba di rumah sakit. Ditatapnya nanar, tubuh wanita tua yang biasanya selalu rajin tertawa dan tersenyum padanya. Gurat kecantikannya tak luntur walau termakan usia, dulu ... Fabian selalu berharap kalau dia adalah anak bulik, sekalipun mereka akan hidup sederhana. Kasih sayang wanita itu begitu besar, membuat hatinya hangat.
"Mas Fabian." Seorang dokter memasuki ruang VIP ICCU.
"Dok, bagaimana kondisi beliau?" Fabian telah mengusahakan pengasuhnya mendapat perawatan terbaik, karena Fabian telah menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan lebih.
Dokter berkata prihatin, "Kami telah mengusahakan yang terbaik. Namun, kita harus siap untuk keadaan yang terburuk."
Fabian merasa lemas mendengar ucapan dari dokter. Siap untuk yang terburuk? Itu---tidak mungkin. Fabian merasakan nafasnya terengah.
Jantungnya seketika menciut kembali, saat melihat sosok berseragam putih biru masuk dan mulai menangis sesenggukan. Putri semata wayang buliknya, mereka telah bertemu beberapa kali sebelum ini, karena bulik pernah mengajaknya ke rumah Fabian.
"Pak Fabian." Dia mengangkat wajah, air mata mengalir di pipi yang halus. "Apa ibuku akan sembuh?"
Fabian tidak sanggup berkata apapun, kalau dia mengatakan kalau bulik akan sembuh, dia takut hanya akan mengingkari janji.
"Doakan saja agar ibumu sembuh." Itu adalah kalimat terbaik yang dapat Fabian ucapkan.
Air mata gadis itu semakin berlinang, dia meratapi ibunya yang bahkan tidak membuka matanya lagi. Selang beberapa saat, garis lurus terpampang di monitor, Fabian menahan tubuhnya pada besi di sisi dinding. Kemudian jerit histeris terdengar nyaris memecahkan gendang telinganya.
***
Fabian melewati lagi rumah Bulik Nova, sudah tiga hari selalu ramai pelayat.
Anak gadis yang menyedihkan, dia sekarang tinggal seorang diri. Begitu Fabian kerap mendengar suara para pelayat.
Bulik memang orang yang sangat ramah dan ringan tangan, membuat pelayat tak putus-putus mendatangi rumah kecil tersebut. Fabian merasa tidak berdaya. Dia sudah rindu bercerita pada wanita itu, tempat Fabian bisa mengadukan apapun sejak dulu. Bulik akan mendengarkannya dengan sabar, sesekali memberi petuah tentang kehidupan.
Fabian memasuki rumah bulik, seketika tamu menatapnya lagi. Kehadiran Fabian setiap hari memang cukup menjadi perhatian, dia sendiri tidak mengerti kenapa.
Matanya kemudian menangkap sosok putri bulik, dia masih dirundung kepedihan. Bukankah itu wajar?
Fabian saja, masih begini sedih. Apalagi dia? Keluarga satu-satunya. Orang yang berbagi darah yang sama dengan bulik. Fabian tidak dapat membayangkan betapa hancur hati gadis itu. Sekarang dia sebatang kara.
Saat orang di sekelilingnya mulai sepi, Fabian mendekat. Dia menengadahkan kepalanya, wajah yang teramat rapuh. Matanya sembab, hidungnya memerah. Bibirnya terbuka sedikit.
"Pak Fabian." Dia memandang penuh harap.
"Udah makan?" Fabian bertanya pelan.
Dia menunduk lagi, Fabian tahu jawabannya, sudah tiga hari ini dia terlihat hanya makan dan minum sedikit, itupun karena dipaksa. Fabian berjalan ke belakang rumah, mengawasi dengan seksama. Rumah mungil yang dibeli bulik Nova dengan mencicil, sebenarnya gaji sebagai pengasuhnya cukup besar. Tapi bulik selalu berkata kalau dia menabung untuk putrinya, agar nanti putrinya bisa menikmati hidup dan apa yang menjadi keinginannya tanpa harus takut kekurangan uang.
Sekarang Fabian akan mengawasi alur keuangan sang gadis, agar tidak ada orang yang mengambil kesempatan. Dia tidak ingin bulik menjadi cemas setelah tidak ada lagi di dunia.
Rumah kecil dan sangat tidak aman untuk seorang anak remaja. Pagar pembatas tidak memiliki perlindungan.
Berbahaya sangat berbahaya, Fabian mendesah.
Pintu belakang rumah juga tidak memiliki teralis. Bagaimana bisa selama ini dua orang wanita tinggal di tempat begini? Tanpa penjagaan.
Fabian mendengar langkah kecil di belakangnya.
"Pak Fabian." Dia berkata lirih.
Fabian tersenyum tipis.
"Bapak mau minum?" Dia bertanya lagi.
"Jangan pikirkan aku." Fabian menjawab.
Gadis itu menarik kursi di meja dapur, duduk menelungkupkan kepala di atas meja itu. Fabian memejamkan mata menyaksikan pemandangan itu. Potongan demi potongan kesedihan seolah melayang keluar dari tubuhnya.
"Sekarang aku sendirian." Dia mulai menangis lagi, membuat hati Fabian mencelos. Apa yang harus dia lakukan?
Mau ikut aku? Fabian ingin bertanya demikian. Tapi, atas dasar apa? Untuk apa? Apa dia mau?
Dia menengadahkan kepalanya lagi, menatap nanap pada Fabian.
"Pak Fabian, tolong bawa aku. Menjadi pelayan atau pesuruh. Tolong bawa aku, aku akan lakukan apapun." Gadis itu memohon.
***
Aurora Thalissa, nama gadis kecil itu. Dia cantik seperti namanya.
Fabian kemudian memboyongnya ke rumah keluarga besarnya. Bahkan wajah ibunya sangat kaget melihat dia membawa anak di bawah umur bersamanya saat itu. Fabian melengos, kenapa ibunya malah sedang berada di rumah? Biasanya beliau selalu bepergian. Fabian tidak ingin diinterogasi macam-macam, terlebih lagi dia tidak ingin ada yang mengetahui kalau Aurora adalah anak dari Bulik Nova, pengasuhnya sejak kecil.
"Fabian, siapa dia?" Ibunya bertanya kebingungan.
Fabian tidak mengatakan kalau dia adalah anak dari Bulik Nova, karena alasan tertentu.
"Dia sekarang pelayan pribadiku." Fabian menjawab cepat. Pernyataannya, semakin membuat sang ibu kaget. Pertama, Fabian tidak pernah memiliki pelayan pribadi. Kedua, gadis itu masih begitu muda.
Fabian menyuruh Aurora melapor pada Pak Tino, kepala pelayan, untuk menunjukkan kamarnya.
"Pak Fabian." Aurora berbisik lirih. Dia melirik takut pada Fabian. Fabian kemudian memberi kode agar dia meninggalkan ruang utama keluarganya.
"Fabian, kita nggak mempekerjakan anak di bawah umur. Apa yang kau lakukan?" Nyonya Eisen bertanya lagi.
"Ma, aku capek. Aku akan ke kamarku. Serahkan urusan ini padaku, mama tidak perlu ikut campur seperti biasanya. Lagipula, menambah satu- dua orang pelayan nggak akan membuat kita bangkrut."
Nyonya Eisen menahan nafasnya, akhirnya membiarkan Fabian melakukan yang dia mau. Sekalipun mereka memiliki perusahaan sendiri, Fabian lebih suka bermain saham. Dia sangat lihai membaca pasar, bahkan pemasukannya perbulan sudah hitungan milyar.
Fabian menuju kamarnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket, dia ingin berendam sambil berpikir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Membawa Aurora ke rumahnya memang sedikit berlebihan. Tapi, Fabian tidak tega membiarkan perempuan mungil itu sendiri di rumah itu. Tidak aman dan, dia tidak bisa membiarkan putri dari orang yang dia sayang terlantar. Bulik Nova adalah orang yang menjaganya agar menjadi sosok yang sekarang.
***