3

1006 Words
Fabian terbangun kaget saat melihat sosok mungil menggulung tirai jendela di kamarnya. Dia menyipitkan mata. "Uh." Fabian mengeluh. "P-Pak Fabian." Gadis kecil itu berbalik, dia kemudian mengambil bantal dan menghalangi wajah Fabian dari cahaya yang masuk. "M-maaf, Bapak jadi kesilauan." Kesilauan? Pertanyaan apa itu? Apa kata itu bahkan ada? "Rora, apa kau lakukan?" Fabian mengernyitkan kening. "Aku menyingkap tirainya, tapi berat, jadi agak lama." Dia menjawab. Fabian kemudian duduk, diperhatikan Aurora dengan pakaian harian biasa. Dia tidak memakai pakaian pelayan, mungkin tidak ada yang muat dan harus dipesan dulu. Aurora memakai piyama yang senada bewarna lembut, lengan pendek dan celana panjang. Rambutnya sebahu, dengan potongan lurus. Dia berkulit kuning langsat. Matanya bulat dengan alis tebal, juga bibir tipis dan hidung mancung. Baru kali ini Fabian menatap wajahnya dengan seksama. Tunggu, kenapa dia? "Kau ... nggak ke sekolah?" Aurora tampak mematung, dia berkata, "Rora izin seminggu." Sekarang dia menyebut nama untuk memanggil dirinya. Belum seminggu ibunya meninggal dan anaknya sudah bekerja. Lagipula, dia tidak berpikir kalau Fabian mengajaknya untuk menjadikan dia seorang pelayan, bukan? Fabian mengusap rambut dan menopang tangan di lutut dengan kaki yang tertekuk, selimutnya tersibak. Aurora melongok, kemudian mengalihkan pandangannya dengan wajah tersipu. Dia sedang bertelanjang d**a, kebiasaan Fabian saat tidur. Walau AC dihidupkan, dia lebih suka bergelung dalam selimut tebal. Setiap pagi selalu ada pelayan yang membangunkannya dan membuka tirai jendela, juga memeriksa apakan Fabian membawa makanan dan minuman ke kamar. Membersihkan semua. Tapi kali ini ... Seorang anak remaja yang muncul. Siapa yang menyuruhnya ke sini? "Kembali ke kamarmu dan istirahat." Fabian memerintah, "Katakan pada Pak Tino untuk mengirim yang lain." Mata Aurora berkaca, "Apa Rora buat kesalahan?" Astaga, kenapa dia seketika menjadi rapuh begitu? "Bukan, karena anak seusiamu harusnya tidak bekerja." Fabian menjelaskan "Tapi ... tapi ... nanti Rora bisa dipecat." Dia sungguh-sungguh mengira akan menjadi pelayan di rumah ini? Fabian menghela nafas. "Dan diusir." "Nggak akan ada orang yang berani melakukan itu." Fabian menegaskan. Dia langsung ketakutan, Fabian menghela nafas, dia masih sedih karena ditinggal ibunya. Dulu Fabian selalu heran melihat Bulik dan Aurora, padahal bisa dikatakan hidup mereka tidak terlalu nyaman. Tapi bisa tertawa seakan tanpa beban. "Apa benar begitu?" tanya Aurora lirih. "Katakan padaku kalau ada yang mengganggumu. Atau memaksamu bekerja." Aurora akhirnya mengangguk dan berbalik, meninggalkan kamar Fabian. Fabian mendesah, beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Fabian adalah anak bungsu dari empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki, dua di antaranya telah menikah. Satu tinggal di Belanda, satu di Bali dan di rumah hanya ada dia dan abangnya. Pria itu juga jarang pulang ke rumah, karena telah membeli griya tawang. Fabian telah berencana pindah dari rumah orang tuanya akhir-akhir ini. Tapi dia tidak suka apartemen, dia lebih menyukai rumah biasa, memiliki halaman depan dan belakang untuk bersantai menikmati pemandangan. Namun, Fabian belum merealisasikannya karena bosan hidup sendirian. Seperti kesendirian adalah teman baginya. Dia mengecek bursa saham dan menjual beberapa lot miliknya yang memiliki kenaikan tinggi. Kemudian dia mengenakan kaus dan celana katun untuk bersantai di rumah. Mencari makanan di pagi hari untuk mengganjal perut. Lagi-lagi Fabian dibuat kaget dengan kesibukan sang gadis mungil di rumahnya, dia sedang membereskan perabotan dengan kemoceng. Tampak serius dan berhati-hati, bergerak lincah dari sana kemari. "Pak Toni." Fabian memanggil. "Ya, Pak?" Pak Toni menghampirinya. Dengan matanya Fabian menunjuk Aurora. "Aurora?" Pak Toni memastikan siapa yang dimaksud oleh Fabian. "Kenapa dia disuruh bekerja?" Fabian berdecak. Pak Toni juga sedikit bingung dengan pernyataan Fabian. "Aurora sendiri yang mau bekerja, Pak. Katanya dia bosan tidak ada kegiatan. Lagipula dia bilang, dia dibawa ke sini sebagai pelayan." "Kita nggak mempekerjakan anak di bawah umur." Fabian mengingatkan. Pak Toni tampak kaget, "Jadi? Saya kurang paham." "Biarkan dia bermain dan bersantai, jangan suruh bekerja." Fabian berkata, "Sekarang aku mau sarapan." "Baik, Pak." Pak Toni menjawab. *** Aurora membuka mulutnya sedikit, kemudian menutupnya lagi. Dia memasukkan potongan kue yang terasa enak di mulutnya. "Makan yang banyak." Terdengar suaranya berat dan dalam. Tapi menenangkan. Aurora sangat gugup. Kenapa Pak Fabian malah mengajaknya sarapan bersama di meja makan? Di saat seharusnya dia membersihkan atau merapikan rumah. Membuat Aurora sangat gugup. Fabian melihat ke arahnya lagi, kemudian melihat ponsel. "Pak Fabian." Aurora memanggil pria di hadapannya, saat ibunya masih ada, dia beberapa kali bertemu. Ibunya selalu berkata kalau Fabian, sejak kecil anak yang baik dan perhatian. Tetapi, karena Aurora tidak pernah bicara dengan pria itu. Dia merasa segan saat mereka berhadapan seperti ini. "Suka sarapannya?" Aurora mengangguk, dia tidak mungkin mengatakan tidak di saat dia mendapatkan rumah untuk bernaung. Tidak sendirian. Dia takut. Belakangan saat berdua bersama ibunya, ada orang-orang berpakaian hitam yang datang ke rumah dan bertengkar dengan ibunya. Aurora ingin menceritakan itu pada Fabian, tapi sekarang waktunya belum tepat. Aurora menghela nafas. "Jangan lakukan itu." Fabian menegurnya. Eh? Melakukan apa? batin Aurora bingung. Aurora menengadahkan pandangannya takut-takut. "Menghela nafas, seorang anak gadis nggak baik begitu." Fabian minum dari gelasnya, jakunnya terlihat naik dan turun membuat Aurora semakin gugup dan tegang. Dia belum pernah berdekatan dengan pria dewasa sebelumnya, sekalipun dia memiliki banyak teman pria. Pak Fabian terlihat berbeda, sangat berbeda. "Kau takut padaku?" Fabian bertanya. Jantung Aurora semakin berdebar dengan kecepatan tinggi. Aurora menggeleng, dia tidak takut. Hanya canggung. Teramat canggung. "Rora nggak takut, cuma segan." Dia menjawab lirih. Cerita-cerita ibunya membuat kekaguman Aurora pada pria di hadapannya. Fabian, pria yang bebas, dia tidak bisa diatur keluarganya. Tetapi, sangat sopan memperlakukan orang yang baik padanya. Dibanding bekerja di perusahaan ayahnya, dia melakukan investasi ke berbagai lini. Dia pintar dan cemerlang menganalisa sesuatu. Pekerjaan sang ibu jadi mudah dan menyenangkan karena Fabian, beliau mengatakan Fabian akan menceritakan hari-harinya dengan bersemangat. "Karena aku sangat tua?" Fabian bertanya. Aurora terbelalak. "P-pak Fabian nggak tua." Dia berkata lagi, kali ini lebih lirih. Ada remahan roti jatuh di atas meja, Aurora cepat-cepat membersihkannya. "Tua, dibandingkan kau, Aurora." Fabian menghela nafas. "Buatlah dirimu nyaman di sini. Setelah merasa kuat, kembalilah bersekolah." Aurora mengangguk. "Pak Fabian, Rora tuangkan lagi airnya." Dia mengambil teko di hadapan Fabian. Menuangkan ke gelas Fabian yang mulai kosong. Pria itu melirik, kemudian mengangguk. Melayani beberapa kebutuhan sehari-hari pria itu, tidak apa-apa bukan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD