4

1027 Words
"Bulik." Fabian kemudian menghentikan ucapannya, tidak ada lagi wanita lembut itu di sampingnya. "Pak Fabian, lagi ngapain?" Tetapi, berganti dengan replikanya yang jauh lebih muda, seorang yang manis, senyum yang membuat Fabian tidak bosan-bosan memandanginya. "Kau sudah pulang sekolah, Rora?" Fabian meneliti gadis itu. Rapi dan bersih, setidaknya dia masih terawat setelah kepergian ibunya. Aurora mengangguk, dia masih memakai seragam sekolahnya saat melihat sosok Fabian sedang berdiri di beranda rumah memandangi taman keluarga yang hijau membentang. Aurora mengetahui kebiasaan Fabian itu, dia selalu memiliki waktu untuk menyendiri. Tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. "Pak Fabian sedang memikirkan bagaimana cara menguasai dunia?" Dia tertawa geli. Fabian seketika ikut tertawa, "Apa seorang manusia bisa menguasai dunia?" "Tergantung." Aurora berdiri di sebelahnya, menahan kedua tangan di pergola. "Boleh Rora berada di sini?" Fabian diam saja, senyum tipisnya mengisyaratkan tidak mengapa. "Kalau menurutku, misalkan aku hidup bahagia dengan orang yang aku sayangi, aku merasa sudah menguasai dunia." "Kalau semua orang berpikir sepertimu, pastilah tidak ada pertikaian di dunia ini." Fabian menghirup aroma segar menguar dari tubuh sang pelajar, rambutnya beterbangan, seorang gadis kecil yang manis. Di matanya, Aurora masihlah seperti itu. "Jadi menurut Pak Fabian, seperti apa orang yang menguasai dunia?" "Orang yang bisa membeli apapun di dunia ini, bahkan harga diri manusia." Aurora bergumam ... kalimat fabian terasa datar tetapi dalam, "Benar juga, kata orang semua hal bisa dibeli dengan uang kecuali harga diri." "Kau masih terlalu kecil untuk mengerti maksud dari kalimat itu, Rora." "Apa Pak Fabian iri sama orang lain?" Sikap ingin tahu orang lain pada dirinya selalu membuat Fabian kesal, tetapi saat ditanyakan oleh Aurora terasa berbeda. Kalimatnya renyah dan manis, seperti eskrim coklat yang meleleh di mulut. Sekarang, Fabian sudah sangat jarang makan eskrim. "Kenapa bertanya begitu?" Ucapan Aurora kadang membuat Fabian kaget, dia tidak takut padanya. Ah ya, Aurora bilang dia tidak takut, hanya segan. "Memangnya, kau tidak memiliki orang yang membuatmu iri, Rora?" Fabian balik bertanya. Aurora menatap ke depan, "Penyakit iri adalah penyakit yang mengerikan, Rora berusaha untuk nggak iri dengan orang lain." Fabian terkekeh, "Ibumu yang bilang?" Aurora menggeleng, "Rora sendiri yang berpikir begitu, kata ibu, Rora kadang aneh karena punya kata-kata yang berbeda." Fabian bergumam. Aurora bertanya lagi, "Menurut Pak Fabian, Rora aneh?" "Semua orang aneh dengan caranya masing-masing, Rora." Aurora mengangguk-angguk. Fabian berbalik mengusap rambutnya, duduk di kursi. "Kemarilah." Dia menggerakkan jemarinya, Aurora berlari, ikut berbalik dengan riang. Di sebelahnya gadis kecil itu tampak mulai berani berdekatan, tidak seperti di awal dulu. "Aurora tidak suka dengan kata-kataku?" Fabian mengetuk jemari di pegangan kursi. "Yang mana?" "Soal iri dengan orang lain." "Rora nggak suka Pak Fabian menjadi jahat." Fabian memejamkan mata, merenung membiarkan kesunyian merasuk. Aroma Aurora makin terasa segar menerpa hidungnya. Aroma apa ini? Rasanya seperti berada di padang rumput. Aurora membuatnya mengenang masa-masa yang indah, saat dia belum mengetahui bagaimana kejinya dunia. Saat dia masih kanak-kanak dulu. "Kau sudah makan?" Fabian membuka matanya, melihat hidung dan bibir Aurora yang mungil, Aurora menggeleng. Aurora bahkan belum mengganti pakaian. "Pak Fabian, boleh Rora kembali ke kamar?" "Memangnya siapa yang menahanmu di sini?" "Takutnya kalau Rora pergi, Pak Fabian nggak ada teman bicara." Fabian tertawa kecil kemudian mendengus, Memangnya kau pikir pembahasan apa di antara kita berdua yang membuatku merasa tidak kesepian? Fabian berujar dalam hatinya. Aurora bangkit dari kursinya. Dia mengucapkan kalimat berpamitan dengan sopan, kemudian masuk ke rumah. Tas ranselnya bergoyang seirama dengan rambutnya. Gadis yang sedemikian lincah, tidak ada yang akan percaya kalau sekarang dia sebatang kara. *** "Bagaimana dia di sekolahnya?" Fabian bertanya pada pengacara sekaligus orang kepercayaannya, Idris. Fabian memiliki ruang kerja sendiri di rumah mereka. Bersebelahan dengan kamar tidurnya, ada connecting room juga. "Dia anak yang berprestasi, nilai-nilainya selalu masuk ranking tiga besar. Aktif dalam kegiatan olahraga, dia juga ikut pertandingan tingkat pelajar. Aurora, anak yang menyenangkan semua guru dan teman menyukainya." Fabian terkekeh, ada juga yang seperti itu? Bukannya Fabian tidak tahu bagaimana kesulitan Bulik Nova dan anaknya sebelum bertemu dengan Fabian. Namun, beliau tidak pernah mengeluh dengan segala keterbatasan. Bahkan mereka hidup dengan bahagia. Dulu Fabian tidak percaya kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Apalagi sejak di bangku sekolah, dia kerap memiliki musuh dalam selimut, juga teman palsu. Padahal dia berasal dari keluarga yang terpandang, bisa dikatakan tidak kurang suatu apapun dalam kehidupannya. Tapi, saat melihat keluarga Bulik, dia menjadi yakin kalau kalimat itu benar adanya. "Fabian, apa kau punya maksud lain terhadap Aurora?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Idris membuatnya mengerutkan kening. Idris adalah orang yang cerdas, dia juga paling mengenal Fabian. "Apa maksudmu?" "Aku nggak mengerti, kau menyimpan Aurora di.sisimu. Apa yang kau inginkan Fabian? Menjadikannya sebagai kekasihmu?" Fabian bangkit dari kursinya, "Kau gila, Idris! Dia masih kecil." Fabian seketika murka. Idris bergeming, dia masih terlihat diam. "Fabian, kau juga masih muda. Aurora akan berubah menjadi dewasa dan aku yakin akan banyak orang yang cemburu padanya. Bisa dipastikan di masa depan, Aurora akan memiliki paras yang sangat memesona. Dia juga remaja yang cerdas dan pintar." Fabian menelan ludahnya, dia bukan seorang serigala pemangsa. Dia tidak akan memanfaatkan anak di bawah umur. Fabian bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. "Aku tidak tertarik pada anak di bawah umur, Idris. Aku juga bukan seorang Pedofil." Idris menghitung dengan jarinya, "Empat tahun lagi, dia bukanlah seorang anak di bawah umur. Aurora akan jadi wanita yang pantas untuk kau cintai, Fabian. Bukankah ini jauh lebih baik? Kau mempersiapkan calon pasanganmu di masa depan. Ketimbang mendapatkan wanita yang tidak sesuai." Tangan Fabian mengepal. Apakah itu yang dipikirkan orang-orang tentangnya? Seorang pria yang memiliki kelainan seksual? Sialan! Jangan katakan kalau ibunya juga mengira seperti itu, karena itu, beliau begitu memperhatikan Aurora saat melihat gadis itu kemarin. "Hentikan, Idris! Nanti, jangan pernah kau ucapkan kalimat semacam itu lagi. Kau paham?" Rahang Fabian berdenyut, bukan itu maksudnya. Soal Aurora, dia hanya .... hanya menawarkan perlindungan pada seorang gadis kecil yang sendirian. Juga karena ibunya, Bulik Nova, adalah orang yang dekat dengannya. Fabian jarang membiarkan orang berdekatan dengannya. Idris hanya diam, setelahnya dia berkata. "Sebentar lagi Aurora akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang menengah atas. Apakah kau ingin menjadi walinya dalam mengurus administrasi, Fabian?" Fabian menggeleng, "Pilih salah satu pelayan yang sudah berusia empat puluh tahun untuk menjadi walinya." Idris mengangguk. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD