Hanya di keluarga Eisen seorang pelayan kecil mendapat kamar, walaupun kamarnya juga kecil, tidak apa-apa Aurora tersenyum. Ia memandangi lampu yang mulai temaram di atas kepalanya. Besok pagi, besok ... dia mulai bersekolah, teman-temannya pastilah merindukan dia. Nanti, Aurora tidak akan menangis. Dia tahu ibunya selalu melihatnya di atas sana.
Angin berhembus di luar, suasana terasa mengerikan bagi seorang anak remaja yang baru saja ditinggalkan sendirian di dunia ini. Kamar berukuran 2 x 3 meter tempat dia bernaung, ketika dia bergerak dipannya bahkan berderik. Hanya ada nakas dan lemari kecil di kamarnya itu.
Tapi ibu selalu mengajari dia untuk bersyukur, setidaknya Aurora masih memiliki tempat untuk tidur dan berteduh. Melindungi tubuhnya yang ringkih dari deru angin malam yang mencekam.
***
Ketika Aurora pulang dari sekolah, dia melihat kesibukan di rumah keluarga Eisen. Dia bertanya pada Pak Toni, apa yang sedang berlaku di sana.
Pak Toni berkata kalau Nyonya Eisen sangat hobi berpesta, malam ini dia mengadakan pesta dan mengundang orang dari kelas atas untuk memamerkan kalau dia telah membeli perkebunan cokelat.
Pak Toni berkata agar Aurora bersiap-siap kalau dia ingin membantu untuk persiapan pesta nanti malam. Aurora pergi ke kamarnya, meletakkan sepatu sekolah yang berwarna hitam di sudut kamar. Aurora selalu rapi dan teratur. Sebenarnya dia mengantuk karena tadi malam angin menderu begitu kencang dan dia tidak bisa tidur dengan baik. Di sekolah tadi, teman-temannya juga mengerumuninya dan ikut berbelasungkawa. Begitu pula guru-guru. Rasanya Aurora ingin memejamkan mata, kalau bisa satu jam saja. Itu lebih baik.
Aurora melepaskan seragam sekolahnya menggantungkan di belakang pintu. Dari dulu, dia sering makan sendirian. Karena di siang hari, ibunya masih bekerja bersama Fabian. Tetapi, Aurora tidak pernah merasa kesepian karena ibunya selalu mengirimi pesan. Mengingatkan saat makan, tidur siang juga belajar. Sekarang ...
Ketika hampir seluruh hidupmu, mengalami sebuah rutinitas yang sama, tiba-tiba semuanya berubah. Rasanya hanya ada kegelapan yang menyelimuti.
Aurora berjalan cepat, di rumah keluarga Eisen yang luas, dia bahkan harus berlari kalau tidak ingin menghabiskan waktu untuk memutari rumah itu saja.
Aurora bergabung dengan keramaian, tampak kesibukan di dapur, tercium aroma yang membuat perutnya lapar. Saat dia menuju ruang tamu, rangkaian bunga-bunga disusun di sudut-sudut, lampu kristal yang mewah menggantung. Aurora menengadah. Nyonya Eisen menyukai pesta, tetapi orang seperti Aurora bisa jadi menyukai pesta juga. Tetapi, tidak mampu.
"Pak Toni, apa yang bisa Rora lakukan?" Dia bertanya pada pria tua itu. Akhir-akhir ini, beberapa pelayan wanita muda sering melihatnya dengan wajah aneh. Sehingga membuat orang merasa tidak nyaman dengan mereka, satu-satunya orang yang bisa dia tanyain adalah Pak Toni. Sang kepala pelayan. Sudah beberapa hari, dia juga tidak bertemu dengan Fabian, pikirnya ketika dia ikut dengan Fabian dia bisa bercerita dan bersama-sama dengan pria itu setiap saat. Ternyata dia salah.
Aurora ingin mendengarkan cerita pria itu tentang ibunya saat bekerja, begitu pula dia akan menghibur Fabian yang sedang sedih. Aurora tahu kalau Fabian sedih, ibunya sering berkata, sekalipun rumah itu ramai. Fabian merasa kesepian. Yang lain mengerjakan kegiatan masing-masing. Orang-orang di rumah itu beda dengan Aurora dan ibunya. Aurora dan ibunya bahkan kadang tidur bersama di malam hari, berpelukan dan bercerita tentang kegiatan mereka seharian.
Tapi tidak mungkin Pak Fabian tidur dengan ibunya. Kan, udah segede itu? Aurora terkikik geli.
"Aurora ngapain?" Pak Toni memanggilnya. "Kamu sana keluar saja, memberi makan ikan."
"Kenapa?" Rora memandang dengan wajah lesu. "Gimana kalau Rora merangkai bunga itu." Dia menunjuk.
"Kamu nggak akan bisa, dan aku nggak ingin Fabian memarahiku karena menyuruhmu bekerja."
"Tapi, memberi makan ikan juga pekerjaan."
"Tidak."
"Jadi?"
"Bermain, anggap saja kamu tengah bermain dengan ikan. Mereka kelaparan, kamu kasihan dan memberi mereka makan."
Aurora berdecak, Pak Toni memperlakukannya seperti seorang anak kecil saja. Dengan setengah hati Aurora berjalan menuju pintu samping. Kemudian dia berbalik lagi, pintu keluar menuju kolam ikan lebih cepat dari pintu belakang. Aurora sekarang takut, kalau dia menjadi tua karena berputar-putar di rumah Eisen.
**
Saat menuju kolam ikan, Aurora melihat Idris. Dia tahu itu adalah orang kepercayaan Fabian. Idris selalu memakai jas berwarna hitam dengan dasi dan kemeja putih yang bersih dan rapi. Rambutnya disisir klimis. Seolah-olah dia tidak kepanasan. Aurora mengintip, tampaknya Idris menuju ke kamar Fabian.
Aurora ingin mengobrol dengan Fabian, tetapi ternyata sulit. Aurora lalu melanjutkan berjalan menuju kolam ikan.
Aurora memberi makan ikan dan ikan itu memakan dengan lahap.
"Enak sekali menjadi ikan-ikan ini, pekerjaan mereka setiap hari hanya makan dan berenang." Aurora bermonolog.
"Mana yang lebih beruntung, ikan di dalam kolam atau ikan yang berenang bebas di laut lepas?" Suara yang tenang dan dalam terdengar dari belakangnya. Aurora menoleh. Dia sangat bergembira melihat sosok itu. Aurora tidak mendengar suara langkah datang.
" Pak Fabian, mau kasih makan ikan juga?"
Fabian mengangkat alisnya sebelah. Aurora duduk berjongkok di sana dengan menggunakan celana pendek dan kaos berwarna biru langit.
"Nggak."
"Jadi Pak Fabian ngapain?"
"Memperhatikanmu sedang bicara dengan ikan. Aku pikir, aku dapat mengikuti kursus bahasa ikan."
Aurora tertawa renyah, menengadahkan kepalanya, melihat Fabian yang begitu tinggi di bawah langit yang biru. Aurora berlindung dari cahaya matahari, berlindung di bayangannya.
"Tadi aku mau membantu pesta, tapi kata Pak Toni lebih baik aku bermain dengan ikan. Apa Pak Toni mengira aku seekor putri duyung?" Aurora menghela nafas kencang.
"Usiamu baru empat belas tahun, tapi kau menghela nafas seolah-olah usiamu sudah tiga kali lipatnya."
"Kalau menurutku, ikan yang berada di kolam lebih beruntung ketimbang ikan yang ada di laut lepas."
"Lenapa bilang begitu?"
"Ikan di laut lepas, ditangkap oleh nelayan. Kemudian dijual, dimasak oleh orang yang tidak dikenal. Dimakan oleh orang yang mungkin berbeda dari orang yang menangkap dan memasaknya. Betapa menyedihkan hidupnya, berpindah dari satu orang ke orang yang lain. Sedangkan ikan di dalam kolam, diberi makan oleh olehku, kemudian dimasak oleh koki di rumah Pak Fabian, ada kemungkinan dia akan dimakan oleh Pak Fabian. Dengan kata lain, dia membalas budi karena telah diberi makan setiap hari."
Fabian tersenyum, pemikiran Aurora sangat sederhana. Tapi pernyataannya kadang lucu.
***
Apa yang akan dilakukan oleh seorang remaja berusia 14 tahun, saat diadakan pesta di rumah majikannya? Aurora bahkan tidak mengetahui harus mengenakan pakaian atau kostum apa saat ini. Dia juga tidak tahu, apakah dia hanya akan datang melihat-lihat atau membantu yang lain menghidangkan minuman atau menyusun kue-kue di meja.
Aurora bahkan kebingungan, apakah dia akan tetap di dalam kamar atau pergi keluar. Seandainya dia keluar dan mengenakan pakaian pelayan, Pak Toni akan dimarahi oleh Fabian. Sedang kalau dia tetap di dalam kamar, apa dia tidak perlu membantu tuan rumah dalam menggelar suatu acara?
Mendadak pintu kamar Aurora diketuk, dia membuka pintu. Melihat salah seorang pelayan wanita berusia sekitar 40-an berdiri di sana.
"Apa kamu mengenalku?" Dia bertanya.
Aurora memang mengenali wajahnya yang merupakan salah satu pelayan di rumah keluarga Eisen. Namun, dia tidak mengetahui nama wanita itu.
"Aku Tika, mulai sekarang kau harus memanggilku Bibi Tika. Aku akan menjadi walimu."
Wali? Aurora berbisik dalam hatinya. Kenapa wanita ini menjadi walinya? Dia saja tidak mengenal wanita ini sebelumnya.
"Aku nggak tinggal di dalam kediaman keluarga Eisen, ini pakaianmu untuk nanti malam. Bersiaplah dan harus ikut membantu melayani para tamu."
Seperti ini, kan, Aurora merasa lebih lega. Setidaknya, dia bisa mengikuti 1-2 arahan tanpa harus merasa kebimbangan.
Aurora melihat bungkusan yang diberikan oleh Tika, itu adalah dress pelayan berwarna hitam dengan renda di lehernya. Berukuran sesuai ukuran Aurora. Waktu hampir menunjukkan pukul 7 malam, Aurora mengetahui kalau acara malam itu adalah pukul 8. Dia mengenakan dress yang diberikan oleh Tika. Masih sedikit longgar di tubuhnya yang kurus. Tetapi, sekarang Aurora merasa lebih lega, dia bisa menentukan sikap. Aurora keluar dan bergabung dengan barisan para pelayan yang akan membantu pesta di kediaman keluarga Eisen.
Beberapa pelayan wanita membicarakannya.
"Nggak tahu apa yang dilakukan oleh Pak Fabian. Kenapa harus membawa anak kecil itu ke sini? Belum lagi, katanya Tika harus menjadi walinya. Sangat lucu dan menyusahkan sekali." Salah satu pelayan berkata.
"Nyonya Eisen juga sangat marah kepada Pak Fabian, dia menduga Pak Fabian punya niat terhadap anak itu." Yang lain menimpali.
Punya niat?
Aurora diam saja dan berpura-pura tidak mendengarkan. Pak Toni datang dan menegur para pelayan yang sedang bergosip. Dia memberikan tugas kepada mereka, saat melihat Aurora keningnya berkerut sedikit. Dia memutuskan menyuruh Aurora menjaga meja kue. Aurora mengangguk senang.
Para pelayan menuju posnya masing-masing arah menuju meja. Di sana dia memperhatikan para tamu berdatangan.
***
"Apa Fabian punya kecenderungan seksual yang berbeda?"
Itu adalah sepupunya yang bicara. Tangan Fabian mengepal, kalau yang mengatakan itu bukan seorang wanita, mungkin kepalanya telah hancur ke dinding. Membawa Aurora ke dalam keluarga Eisen, telah membuat isu di dalam keluarganya. Fabian memiliki seorang pelayan pribadi, baru berusia 14 tahun.
Orang-orang gila ini cepat sekali mendapat informasi, dia mengeluh. Fabian memasuki acara pesta yang digelar oleh ibunya karena dia telah dihadiahi perkebunan cokelat oleh ayahnya. Sekalipun tidak membeli perkebunan cokelat, ibunya akan menghambur-hamburkan uang untuk berpesta sekalipun tanpa alasan.
Dia dipaksa untuk datang, karena dia akan dijodohkan dengan seorang wanita rekanan bisnis ayahnya. Kabarnya wanita itu lulusan master dari Universitas Harvard, dan merupakan anak seorang pengusaha ternama.
Bagi seorang pria dewasa seperti Fabian, sepertinya tidak ada salahnya untuk mengenal 1 atau 2 orang wanita di usianya yang sekarang ini. Toh, pada akhirnya, dia juga akan mencari salah satu untuk menjadi istrinya.
Fabian mengambil minuman dari nampan yang dibawa oleh salah satu pelayanan, dia mengawasi tamu yang datang ke pesta itu. Melihat sosok mungil sedang mengatur meja. Aurora mengenakan seragam pelayan.
"Dia menggemaskan, bukan?"
Fabian menyesap wine-nya, menoleh ke belakang. "Kau, Idris." Fabian melihat sosok Aurora yang berjalan seakan meloncat-loncat. "Seorang anak berusia empat belas, tentu saja menggemaskan."
"Fabian, apa kau berencana menyetujui permintaan ibumu untuk berkencan dengan salah seorang anak rekan bisnisnya?"
Fabian menggoyangkan gelas, melihat para tamu yang berlalu lalang. Tak jarang, menyapa dia yang sedang berdiri di sana.
"Atau, kau ingin berkencan sebagai kamuflase agar tidak lagi dituduh saat membawa Aurora di sampingmu?"
"Aku nggak perlu melaporkan semua hal padamu, Idris."
"Kau benar."
Mata Fabian terfokus pada Aurora. Gadis itu melirik ke kanan kiri, kemudian memakan kue. Fabian terkikik geli. Dia tetaplah seorang anak-anak. Aurora terlalu sibuk untuk mengetahui kalau Fabian memperhatikannya. Kegiatan yang dilakukan Aurora lebih menarik ketimbang pesta ini. Dia menyesap wine-nya lagi.
Kening Fabian berkerut, terdengar suara terpekik. Kemudian, dia melihat Aurora tersungkur jatuh menabrak meja kue dan kue-kue itu terjatuh.
****