04 ; salah paham

1855 Words
—Happy Reading— "Regas, Lepas! " Leana menghentakkan tangannya dari genggaman Regas setelah mereka sampai di parkiran. "Kamu apa apaan sih pake ngomong kayak gitu ke Genan!! " Omel Leana sambil menatap Regas dengan tatapan kesal bercampur marah. Regas balik menatap Leana lalu tersenyum kikuk. "Maaf na, itu satu satunya cara supaya lo ga direndahin terus sama Genan" Ucap Regas. "Na, gue mohon sama lo, berhenti ngejar cowok brengsek kayak Genan, dia sama sekali gak pantes buat cewek kayak lo Na", Sambungnya. Leana menghembuskan nafasnya perlahan. "Aku udah terlanjur sayang banget sama Genan Gas, aku ga bisa berhenti buat ngejar dia, Yahh, walau Genan selalu ngasarin aku, itu sama sekali bukan penghalang buat aku dapetin dia" Ucap Leana. Regas menghela nafas gusar. "Sampe kapan Na? " Tanyanya, matanya menatap Leana dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Sampai takdir nyuruh aku buat berhenti, Sampai aku tau kalo aku sama Genan memang bukan jodoh dan nggak bakal bisa bersatu. " Ucap Leana sembari tersenyum kecil. "Gue minta maaf udah bikin Genan salah paham, gue bener bener ga bermaksud bikin perjuangan yang selama ini lo lakuin buat dapetin Genan sia sia kayak gini," Ucap Regas kalau menyatukan kedua telapak tangannya, matanya menatap mata Leana dalam. Leana tersenyum kecut, "Jangan minta maaf ke aku, minta maaf langsung ke Genan,aku tau kamu tadi cuma refleks bilang gitu biar Genan ga ngata ngatain aku lagi, makasih Gas, " Regas tersenyum, "Gue bakal minta maaf langsung ke Genan Na, tadi gue emang refleks ngomong gitu, sekali lagi maaf ya", Ucapnya setengah berbohong. Leana mengangguk, "ayo pulang", ucapnya lalu berjalan menuju mobil Regas yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Regas menatap punggung kecil Leana yang tengah berjalan menjauh menuju mobilnya. " Kalo perkataan gue tadi ga cuma buat belain lo dari Genan, apa lo bakal percaya Na? " ✧・゚: *✧・゚:* Genan merebahkan dirinya di atas kasur, setelah mengantarkan Haura ke rumahnya, Genan memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan dirinya. Matanya menatap langit langit kamarnya, pikirannya melayang mengingat kejadian di foodcourt yang terjadi beberapa waktu lalu. " Leana udah jadi milik gue, dan lo gak punya hak buat ngata ngatain dia kayak barusan, karna gue yang nyatain rasa duluan, bukan Leana. " Perkataan Regas terngiang-ngiang di kepalanya, entah kenapa, dirinya tak suka saat Regas mengucapkan kalimat tersebut. Bukankah ini yang ia harapkan sejak dulu? Tapi, ah entahlah, untuk apa ia memikirkan gadis norak itu? Membuang waktu saja. Genan menutup kedua matanya, mencoba untuk tertidur, mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang terasa letih. Tiba-tiba, sebuah suara melengking masuk ke indra pendengaranya. "BANGG GENANNNNN!!!!!!!! SEBLAKNYA MANA ANJER!!!!!!! ", Della mendobrak pintu kamar Genan, dan masuk tanpa seizin pemiliknya. Genan tersentak. Shit , ia lupa titipan dari adiknya. " Mana Seblak Gue!!!!! ", Della menyodorkan telapak tangannya dan menatap horor ke arah Genan. Genan meringis, " Lupa" "Kapan kapan gue beliin", sambungnya. Della melotot tak terima. " Anjing lo!!!, kemaren gue suruh Beli Sempolan juga lupa!!! Sekarang diulangi lagii!!!! Lo udah tua ya bang, pikunan Banget Otak lo setannn!!!! " Omel Della sambil mengehentak hen takkan kakinya ke lantai, bibirnya mengerucut sebal. Genan nyengir, "besok besok gue beliin, dah sono pergi, gue mau tidur, hus hus", Genan mendorong badan Della keluar dari kamarnya, Della memberontak, Namun, tetap saja ia terdorong hingga keluar kamar Genan " Besok besok terus mulut lo, kapan nyatanya anjir! " "Bacot! " Brakk.. Genan menutup pintunya kasar dan kembali berjalan menuju kasurnya. Della merutuki nasibnya mempunyai Abang seperti Genan, ia berjalan gontai menuju kamarnya dengan mulut yang masih komat kamit mengucapkan sumpah serapah untuk sang kakak. "Awas aja lo Genan, Gue penggal kepala lo, baru tau rasa" ✧・゚: *✧・゚:* Leana menatap ponselnya dengan tatapan nanar. Sudah 3 jam lebih ia mengirimkan pesan permohonan maafnya kepada Genan, namun cowok itu tak kunjung membukanya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. "Genan kayaknya marah banget deh sama aku" Leana kemudian tampak berfikir, "tapi kok, Genan bisa marah sama aku?apa jangan jangan Genan udah mulai sama aku ya?terus dia cemburu gitu ceritanya-Ah enggak enggak,", Leana menepuk kepalanya berulang kali, berusaha menghapus pikiran ngawur dari otaknya. Leana bangkit dari duduknya, meletakkan ponselnya ke atas nakas dan berjalan menuju arah balkon kamarnya. Matanya menengadah ke langit malam, ribuan bintang bersinar terang malam ini, berbanding balik dengan suasana hatinya yang tengah dirundungi rasa bersalah terhadap Genan. "Kapan ya Genan bisa buka hati buat aku, aku juga pengen kayak Haura, nggak perlu repot repot berjuang sendirian kayak aku, udah langsung dapetin Genan gitu aja, " Leana bermonolog, matanya masih menatap hamparan langit di atasnya. "Semangat Leana, Ga boleh nyerah gitu aja, mungkin Genan lagi nguji seberapa kuat tekad kamu buat dapetin dia." Sambungnya menyemangati dirinya sendiri. Leana menghembuskan nafas pelan, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Tanganya kembali meraih ponsel di atas nakas, dan mulai merebahkan tubuhnya ke kasur. Leana membuka roomchat di ponselnya, matanya yang semula sendu berubah menjadi berbinar kala melihat notifikasi yang muncul di beranda roomchat nya. Sebuah senyuman terbentuk di kedua sudut bibirnya. "Setidaknya Genan udah mau baca chat aku, walaupun ga dibales" Ucapnya dalam hati. Senyuman di bibir Leana tiba tiba memudar, baru saja ia ingin mengirimkan pesan untuk Genan, cowok itu justru memblokirnya, sekarang ia tak yakin kalau Genan membaca pesan yang ia kirimkan beberapa waktu yang lalu. Leana menghembuskan nafas. "Genan marah banget ya sama aku? " ✧・゚: *✧・゚:* Genan kembali membuka matanya kala dirinya tidak bisa tertidur dengan tenang. Ia pun memutuskan untuk meraih ponsel di sampingnya dan melihat banyaknya notifikasi yang muncul di roomchat line nya. Matanya tertuju pada nama yang berada di posisi paling atas roomchatnya yang terus terusan mengiriminya pesan beruntun. Leanaqueen : Genan maafin akuuuu Tadi Regas cuma main main, benerannn✌ Aku cuma suka sama kamuuuu Genannn Regas tadi bilang kalo dia cuma gamau kamu ngata ngatain aku kayak tadi Jangan dimasukin ke hati yaa.... Genannnn Nannnnnnn Kamu marah banget ya sama aku Maaf Baca chat aku Genannnnnn Plissssss Nannnnnn Nannnnnnnn Genandraaaaaaaaaa Genan tak berminat untuk membaca chat dari gadis itu, ia menekan tombol blokir dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Melihat notifikasi dari cewek itu justru membuat mood Genan semakin memburuk. Genan membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur, kembali mencoba memejamkan mata,dan memasuki alam bawah sadarnya. ✧・゚: *✧・゚:* Leana tengah sibuk berkutat di depan cermin, Setelah memakai seragam lengkap, ia sedikit memoleskan make up tipis pada wajahnya agar tidak terlihat pucat dan kering. Ia hanya mengenakan sedikit taburan bedak bayi pada permukaan kulitnya, dan sedikit polesan lip balm berwarna natural agar bibirnya tidak kering. Suara ketukan pintu terdengar, Leon masuk ke dalam kamar adiknya. "Na, udah ditunggu mamah sama papah di bawah, cepetan dandannya, " Leana mengangguk, lalu merapikan isi tasnya yang masih berserakan di meja belajar. "Oh iya, mamah sama papah mau ngomong penting juga sama lo, cepetan turun. " Sambung Leon lalu berbalik badan hendak meninggalkan kamar Leana. Leana mengeryit, "ngomong apa bang? " "turun aja." Jawab leon sambil terus melangkahkan kakinya. Leana mengedikkan bahu, dan kembali menata ulang buku bukunya. "Nah siap." Ia menenteng tas nya dan berjalan menuju ruang makan. "Morning mah, pah, bang eon!!, " Sapa Leana hangat. "Morning", Ucap ketinganya hampir bersamaan. Leana mendudukan diri di samping Leon dan mulai menyantap sepotong sandwich di atas piring yang sudah disediakan untuknya. " Anak papah udah besar, makin cantik aja" Puji Dae, ayahnya, membuat Leana sedikit tersipu. "Papah bisa aja, Oh iya, Papah kapan pulangnya, kok Nana ga liat? " "Semalem, kamu udah tidur, jadi mamah ga bangunin kamu", Jawab Viona yang masih sibuk menyiapkan kopi untuk Dae, suaminya. Leana mengangguk paham sambil terus mengunyah sandwich di tanganya "Katanya mamah mau ngomong penting sama Nana", Ucap Leana di sela sela mengunyah sandwich nya. Viona menepuk jidat, " Ah iya, mamah hampir aja lupa" "Mamah bakal ikut nemenin papah ke luar kota, karena ada bisnis mendadak yang bakal papah selesain di sana. Nggak lama kok cuma 2 minggu, nanti kamu tinggal di rumah sama bang Leon ya,, " Sambungnya menjelaskan. Leana mengangguk paham, kemudian wajahnya berubah sedikit murung. "Tapi kan bang Leon kadang suka enggak pulang mahhh.., berarti Nana di rumah sendirian gitu?" Leana merengek. "Lo kan udah besar Na, masa di rumah sendirian takut?, kalo tugas udah selesai semua, gue pasti langsung balik kok, paling juga gue ga pulang ke Rumah 3 kali seminggu." Sahut Leon yang membuat Leana memelototkan matanya. "Gila, 3 kali seminggu? Sekalian aja sana gausah pulang! " "Yaudah, gue ga usah pulang", Jawab Leon enteng. Leana memukul bahu Leon yang membuat cowok itu seketika tertawa. " Hishhhh, awas aja kalo abang ga pulang pulang, Ntarr Nana gorok leher abang!!!!! " Dae dan Viona Tersenyum sembari menggeleng geleng kan kepalanya melihat tingkah keduanya. "Cepetan abisin sarapannya, Nana, papah yang nganter ke sekolah hari ini." Leana mengangguk semangat dan mulai melahap habis semua sandwich di atas piringnya. ✧・゚: *✧・゚:* Jam menunjukan pukul 07.30. Leana bergerak gusar saat belum melihat lelaki yang ia cari cari sedari tadi. "Mey, liat Genan nggak? ", tanya Leana kepada Meyra. Pasalnya sejak tadi pagi cowok itu belum memunculkan batang hidungnya sama sekali. "Enggak tuh", jawab Meyra seadanya, lalu kembali fokus ke ponsel di genggamannya. Leana menghela nafas, kemudian bangkit dari duduknya. " Mau kemana Na? " "Ke kelas Genan, mau mastiin dia udah berangkat apa belum" Meyra mengangguk, "mau gue temenin?" Leana menggeleng, "aku bisa sendiri" Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas Genan. Sesampainya di depan kelas, Leana sama sekali tidak menemukan cowok itu. Seorang cowok berkacamata menghampirinya. "Nyari siapa Na? ", Tanya irfan sambil membetulkan letak kacamatanya " Genannya ada? " Irfan menggeleng. "Genan belum berang—" "Ngapain nyari gue? ", Sebuah suara bariton memotong pembicaraan kedua orang tersebut. Leana membalikan badan dan mendapati seorang lelaki jangkung tengah menatapnya dengan tatapan malas. " Nah, ini Genannya, gue duluan ya Na", Ucap Irfan kemudian berlalu kembali masuk ke dalam kelasnya. Leana meringis,"aku cuma mastiin kamu udah berangkat apa belum" Genan memutar bola matanya, "Gausah caper, gue eneg liatnya! " Leana mengeryitkan dahinya, "Kamu ngomong apa sih nan?" Genan berdecak malas, "lo udah punya cowok kan?, urusin cowok lo, dan gausah lagi ganggu kehidupan gue, jangan jadi cewek ganjen!! " "T-tapi Nan, Regas cuma—" "Minggir gue mau lewat! " Lagi lagi, Genan memotong ucapan Leana, membuat gadis itu terpaksa meminggirkan badannya. Genan memasuki kelasnya tanpa mempedulikan Leana. Leana menunduk, seperti yang ia duga semalam, Genan tak membaca chat darinya. Sebuah tepukan di bahunya membuat Leana mendongakan kepalanya. "Loh, Leana ngapain lo disini? Nunggu Genan?mau gue panggilin? " Agam, lelaki itu hendak masuk ke kelasnya untuk memanggil Genan namun langsung ditahan oleh Leana. "Gausah gam, tadi udah kok, aku balik ke kelas dulu ya, titip salam buat Genan aja, makasih", Ucap Leana diiringi senyuman paksa, lalu berbalik meninggalkan kelas Genan. Agam bisa melihat ada sorot luka di mata Leana, ia menatap punggung kecil itu yang perlahan menjauh, ia tahu penyebab Leana menjadi murung seperti itu,siapa lagi kalau bukan Genan. " Tetep kuat Na," Ucapnya sepintas lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam kelasnya. ✧・゚: *✧・゚:*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD