ASJK Bab.4

1086 Words
Aisyah POV apa minuman ini yang Laila maksud batin Aisyah gelisah, ahirnya Aisyah memutuskan untuk membuang isi jamu itu ke dalam pot bunga yang ada di kamar lalu meletakan gelas yang telah habis isinya seolah dia telah meminumnya, Aisyah membaringkan tubuhnya seolah olah dia tertidur dengan selimut menutupi leher, aku mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan Andrie berjalan mendekat ke arahku dengan mengusap lembut kepalaku, tak berselang lama aku mendengar seseorang masuk ke kamarku tentu saja aku kaget siapa yang berani masuk ke kamar pengantin kami tanpa seijinku. mendengar suara yang tidak asing di telinga ku membuat dadaku semakin sesak, aku berusaha menahan diri untuk terus berpura pura tidur agar mereka tidak curiga aku bukannya takut untuk memergoki mereka yang berbuat curang terhadapku aku hanya ingin tau apa saja yang selama ini tidak aku ketahui, di malam pengantin ku aku mendengar kisah yang sungguh sangat menyakitkan bagaimana bisa aku sebodoh ini aku di hianati mereka selama tiga tahun lamanya dan aku sama sekali tidak menaruh curiga apapun pada mereka, apa aku yang terlalu cuek sama kak Andrie atau aku terlalu percaya atau mungkin mereka yang pandai menyimpan rahasia, ah entah lah apa pun itu hasil akhir nya adalah aku yang di curangi menggelikan sekali rasanya. mendengar cerita mereka saja sudah sangat membuat hatiku hancur di tambah lagi mereka melakukan hal menjijikan di malam pengantin ku di ranjangku bahkan di sampingku ya Tuhan terbuat dari apa hati mereka bisa sampai sekejam itu terhadapku, apa salahku pada mereka sehingga mereka berbuat sekeji ini. tubuh ku rasanya kebas tidak merasakan apapun otakku rasanya ngbleng menyaksikan sesuatu yang sangat amat menyakitkan. Aku berusaha keras agar jangan sampai mengeluarkan air mata aku hanya diam mematung seolah aku tertidur karena pengaruh obat tidur. keesokan paginya aku terbangun seusai melaksanakan sholat subuh aku pun pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, aku tidak ingin membangunkan suamiku karena pasti dia sangat kelelahan setelah bertempur dengan jalangnya. aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa aku hanya ingin melihat sejauh mana suami yang selama ini bersikap begitu baik, begitu lembut kepadaku bisa menipuku dengan saudara yang selama ini membenci ku. tepat pukul sepuluh pagi suamiku bangun dan menghampiri ku yang berada di ruang tamu, sayang kamu ko ga bangunin aku tadi ujar Andrie sambil mendekatkan dirinya hendak mencium pipi ku tentu saja aku menghindar, jijik rasanya harus di sentuh olehnya yang sudah jelas jelas sering menjamah jalangnya di luar sana mual rasanya membayakan kejadian tadi malam aku pun memuntahkan sarapan yang tadi aku makan di wastafel, aku benar benar jijik dengan kelakuan mereka. sayang kamu kenapa kamu sakit Andrie mendekatiku dia hendak memegang punggungku tentu saja aku mengelak dan berkata aku sepertinya masuk angin aku ingin minum obat terus istirahat jawabku asal. kamu mandi aja kak setelah itu sarapan aku udah siapkan nasi goreng di atas meja aku ga papa ko aku baik baik aja, aku tak ingin lama lama dekat dengannya. Andrie pun mengangguk dan pergi ke kamar untuk mandi. aku benar benar ga habis pikir bisa bisa nya mereka mencurangiku sampai sejauh ini, kalian berdua awas liat aja nanti apa yang akan aku lakukan geramku dalam hati. selepas sarapan Andrie menghampiriku, Aish ayah dan ibu kemana ko ga ada? mereka lagi pergi ke kota kak mau anter barang ke toko langganan, owh gitu, ayah sama ibu pengertian sekali ya membiarkan pengantin baru di rumah berduaan saja, Andrie tersenyum penuh arti, tentu saja membuatku berfikir keras bagaimana caranya agar terhindar dari suami ga tau diri nya ini. tok... tok... tok aku dan Andrie saling pandang siapa yang bertamu pagi pagi begini batinku, aku pun berjalan ke arah pintu dan membukanya,, aku melihat wajah suamiku itu memucat melihat siapa yang datang ternyata kekasih gelap nya, mungkin dia takut aku akan mengetahui kecurangannya, ah aku sih biasa aja secara aku memang sudah tau, ada apa kemari mbak Ningsih ko tumben kataku, Ningsih yang selama ini selalu sinis terhadapku dia bersikap manis dan tersenyum ke arahku lalu ke arah suamiku ah aku merasa geli memanggil dia suamiku, suami penghianat lebih tepanya. aku bawain sarapan buat kalian berdua jawabnya, ah baik sekali sodaraku ini sampai sampai berbaik hati memberikan kami sarapan cuihhh jangan jangan makanannya di taroin racun lagi iihh aku bergidik ngeri. Ningsih langsung saja dia masuk tanpa aku persilahkan dan mendekati suamiku sambil mengedipkan matanya, aku pura pura tidak melihatnya saja biar mereka bahagia. ini di makan dulu sarapannya ndri kata Ningsih, aku udah makan tadi mbak jawab suamiku, ya sudah buat nanti saja kamu kan butuh banyak makan biar bertenaga jawabnya dengan delikan matanya, oh ya ampun ingin rasanya aku tendang mereka dari sini, kring.... kring... kring... handphone ku berdering, aku mengernyitkan kening karena melihat nomor yang tidak di kenal hallo assalamualaikum sapa ku, iya waalaikumussalam jawab di seberang sana ini benar dengan Mbah Aisyah? iya benar saya sendiri ada apa ya pak jawabku ini saya dari rumah sakit sejahtera mau mengabarkan kalau kedua orang tua anda mengalami kecelakaan dan maaf keduanya sudah tiada seketika kepalaku pening mendengar apa yang di katakan barusan dunia rasanya berhenti berputar, pusat duniaku kini telah meninggalkanku air mataku mengalir deras seperti tanggul yang jebol, ada apa Aish Andrie terlihat khawatir dia menghampiri ku, aku hanya diam mematung tak mengeluarkan suara sedikitpun hanya tangis yang tak berhenti yang terus saja mengalir, entah aku salah lihat atau bagaimana tapi seolah aku melihat Mbak Ningsih tersenyum penuh arti, ah aku tak perduli aku hanya memikirkan kedua orang tuaku... aku menangis tersedu di hadapan kedua kuburan orang tuaku, kini aku sendiri di dunia ini mereka meninggalkanku dalam keadaan yang tidak baik baik saja, ayah ibu semoga kalian tenang di alam sana aamiin aku terus melafalkan do'a do'a dalam hati. sudah lah Aish kamu kan masih ada aku suamimu aku akan menemanimu seumur hidupku, aku masih diam mematung tak bersuara sedikitpun sesak rasanya mengingat apa yang telah suamiku lakukan padaku, Laila sahabatku memeluku dan berkata Lo masi punya gue Aish jangan sedih lagi ya, aku memeluknya erat sambil sesenggukan hari ini aku hanya butuh pelukan tidak dengan yang lain... selama tujuh hari di rumahku selalu ramai para tetangga yang mengadakan pengajian, dan selama itu pula aku jadi punya alasan untuk menghindari suamiku, bukannya aku tidak tau kalau selama itu pula Ningsih selalu mencari kesempatan untuk berduaan dengan suamiku dan aku tak perduli, hatiku sudah mati rasa tidak tau lagi bagaimana cara mengungkapkan rasa sakit ini. selama ini pula Laila sahabatku yang selalu setia menemaniku dan menguatkanku. Laila tau semua yang terjadi dengan rumah tanggaku, tidak ada rahasia yang tidak kami ketahui berdua semua kita selalu berbagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD