ASJK Bab.5

1148 Words
di sepertiga malam Aisyah bangun dan berwudhu untuk melaksanakan sholat tahajud, ini lah kebiasaan yang selalu di ajarkan kedua orangtuanya . selesai sholat Aisyah membaca ayat suci Al-Quran, لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ Lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughayyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu'an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waali Artinya: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS Ar-Ra'd: 11) Aisyah melantunkan ayat ayat suci Al Qur'an dengan merdu, hanya ini lah yang membuat hati menjadi tenang dan tentram. sesuai dengan janji ALLAH kalau Al Qur'an adalah sebagai Syifa atau penyembuh, maka semakin banyak masalah semakin perbanyak pula membaca Al Qur'an agar hati menjadi tenang dan ALLAH sebaik baik penolong. selesai mengaji Aisyah memanjatkan doa-doa mengadu pada sang Maha pencipta atas apa yang dia hadapi saat ini tidak mudah rasa nya mengetahui kalau selama ini dia di curangi dan dia harus mengetahui semuanya di malam pertama pernikahannya , di tambah lagi kepergian kedua orangtuanya yang mendadak sungguh rasanya Aisyah tak sanggup menahan beban rasanya sesak hampir tak bisa bernafas, hanya keimanan lah yang membuat dia kuat dan Aisyah yakin bahwa segala sesuatu yang di takdirkan untuknya pasti itu yang terbaik, akan selalu ada hikmah di balik musibah itu lah yang selama ini jadi pedoman hidupnya agar ia bisa tetap waras di tengah kegilaan suaminya. Aisyah tak henti hentinya memanjatkan doa dengan berderai air mata dia mengadukan segalanya kepada sang pemilik hidup ini, Aisyah memohon petunjuk apa yang harus dia lakukan menghadapi masalah yang datang bertubi tubi. adzan subuh berkumandang gegas Aisyah melaksanakan sholat sunah kemudian sholat subuh, Aisyah tidak pernah mau meninggalkan shalat sunah qobliyah subuh karena pahalanya sama seperti dunia dan seisinya, rugi sekali orang yang tidak melaksanakan nya. malam ini suaminya tidak ada di rumah konon katanya dia menginap di rumah orangtuanya karena ibu nya sakit , ah entah lah aku ga yakin tapi aku ga perduli rasa cintaku sudah menguap entah kemana, kalau di tanya apa kabar hatiku saat ini tentu saja hancur, tapi kita hidup bukan hanya untuk hari ini bukan? kita harus bangkit jangan hanya meratapi nasib, toh di balik setiap musibah pasti akan ada hikmah. pagi menjelang Aisyah di kagetkan dengan kedatangan sepasang suami istri yang tidak dia kenal, assalamualaikum,, kedua orang itu mengucapkan salam, waalaikumussalam jawab Aisyah ramah sambil tersenyum, kenalkan nama saya Halimah ini suami saya namanya Rudi ujarnya sambil berjabat tangan. kini mereka duduk di ruang tamu berhadapan setelah Aisyah membuatkan minuman hangat untuk tamu nya. maaf ada yang bisa saya bantu Bu, Aisyah bertanya ramah, begini nak Aisyah kapan saya bisa menempati rumah ini? Aisyah mengernyitkan keningnya bingung, ini maksudnya apa ya Bu? kemudian Bu Halimah mengeluarkan surat surat rumah dan akta tanda jual beli rumah bengkel berikut konveksi yang berada di samping rumah di situ di nyatakan kalau rumah dan yang lainnya telah di jual kepada ibu Halimah dan pak Rudi sebagai suaminya semenjak satu Minggu yang lalau itu artinya hari dimana kedua orangtuanya kecelakaan dan meninggal dunia, bagaimana bisa kedua orangtuanya menjual semua aset tanpa memberi tahunya, ini tidak mungkin pasti ini penipuan pikirnya, maaf Bu tapi saya tidak pernah merasa menjual semua ini mu bikin ibu salah orang, Aisyah masih mencoba meyakinkan mungkin saja mereka salah orang bukan rumah ini yg mereka maksud, Bu Halimah dan pak Rudi saling pandang lalu berkata kami tidak salah rumah nak ini memang betul rumah yang kami beli ini semua suratnya juga asli silahkan periksa sendiri, Aisyah pergi ke kamar ibunya untuk memastikan kalau semua surat surat rumah masih berada di tempatnya, begitu Aisyah membuka pintu lemari yang biasa di pakai untuk menyimpan surat surat berharga berikut tabungan kedua orang tuanya raib entah kemana, seketika itu juga wajahnya pucat seperti tidak di aliri darah, ya Allah apa yang terjadi batin Aisyah. Aisyah kembali ke ruang tamu untuk menemui tamunya ia duduk dengan tatapan kosong ia masih tak percaya kalau semua milik kedua orangtuanya telah berpindah tangan. maaf Bu siapa orang yang sudah menjual semua aset aset kedua orang tua saya tanya Aisyah lesu, kami membeli semua ini dari Bu Vini, Aisyah benar benar kehilangan kata kata, Setega itukah saudara ibunya menjual semuanya dan dari mana dia bisa mendapatkan surat surat berharga milik ayah dan ibu tidak mungkin mereka memberikan nya pada dia. Aisyah tau kalau semua surat surat dan tanda jual beli itu sah di mata hukum. maaf ya nak besok anak kami akan kembali dari luar negeri dan rencananya lusa kami akan segera pindah ke sini jadi tolong ya besok nak Aisyah sudah membereskan barang barang nak Aisyah dan pergi dari sini. telinga Aisyah rasanya berdengung mendengar semua penuturan Bu Halimah, ya Allah sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan untukku ya Allah batin Aisyah menjerit... selepas kepergian Bu Halimah dan suaminya, Aisyah bergegas pergi ke rumah Bu Vini ia ingin mendengar penjelasan apa maksud semua ini. tok.. tok.. tok.. tidak ada sahutan dari dalam ahirnya Aisyah mengetuk pintu lagi dengan lebih keras lagi, ceklek... pintu terbuka memperlihatkan Ningsih dengan penampilan yang masih semrawut , rambut singa dan baju tidur tipis yang ah entah lah tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata, Ningsih tersenyum sinis, mau apa Lo kemari tanya nya ketus seperti biasa, aku mau ketemu Bu Vini jawab Aisyah, dia ga ada di rumah lagi liburan ke Bali selama satu Minggu bersama teman temannya,, hhahhhhh Aisyah menghembuskan nafas nya kasar kecewa mendengar penuturan Ningsih, kenapa kalian menjual aset aset punya ayah sama ibu? ahirnya Aisyah langsung mengungkapkan maksudnya yang ingin tau maksud dan tujuan mereka, jelas saja Aisyah tidak perlu berbasa basi busuk karena mereka memang sudah bersikap memusuhinya sejak lama, Ningsih menyeringai dan berkata, terima saja nasib Lo sekarang Lo udah jadi orang miskin yang tidak punya apa apa, dan Lo ga akan lagi bisa sombong dengan harta Lo itu, Aisyah jelas saja bingung sejak kapan ia, ibu dan ayahnya bersikap sombong? justru yang ada kami sering menolong mereka yang membutuhkan dan kurang mampu... batin Aisyah. ceklekk pintu kamar Ningsih terbuka seseorang keluar dari kamar Ningsih dengan hanya mengenakan boxer saja dia berjalan menuju ke arah dapur dia tidak menyadari ada orang yang sedang memperhatikannya, dengan santainya dia mengambil air minum dan berjalan ke arah ruang tamu,, praaaanggggg... gelas yang ada di genggamannya terjatuh begitu saja matanya membulat sempurna dengan tubuh gemetar dengan wajah pucat seperti mayat.... Aish..... lirihnya .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD