Di depan kelas, Sevi bersama kedua temannya sedang asyik memperbincangkan Aleyra yang ban motornya bocor di jalan tadi. Sevi tertawa terbahak-bahak merasa puas dengan meninggalkan dan tidak memberi tumpangan pada Aleyra. Dia berfikir kalau Aleyra pasti datang terlambat dan akan kena hukuman dari gurunya.
Saat mereka masih berbincang, mereka melihat ke arah gerbang dan melihat sebuah mobil marun berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Dua orang turun dari mobil. Dari depan kelas Sevi dan kedua sahabatnya melihat Bimo dan Aleyra baru turun dari mobil dan berjalan bersama memasuki gerbang sekolah. Rona wajahnya terlihat berapi-api. Dia mengepalkan tangannya.
"Kok, mereka bisa barengan sih, Sev?" tanya Afni.
"Gue juga enggak tau, kenapa mereka bisa barengan begitu," balas Sevi.
"Masa sih lo kalah sama dia, Sev. Lo kan lebih cantik dari dia dan juga lebih keren," ucap Widia
"Tenang girls, ada saatnya gue akan kasih perhitungan sama dia. Tunggu aja waktunya. Sevi enggak akan kalah sama orang lain, apalagi sama Aleyra," jelasnya sambil mendengus.
Bimo dan Aleyra terus berjalan sampai di depan kelas mereka, di sana sudah ada Lani yang duduk di teras dan melihat mereka dating bersamaan.
“Cie-cie, kalian datangnya barengan. Apa jangan-jangan kalian janjian ya? Uhuy,” ledek Lani mengangkat telunjuknya, mengarahkannya pada mereka dan menaik-turunkan kedua alisnya memandang ke arah Aleyra dan Bimo secara bergantian sambil tersenyum meledek mereka.
“Ih apaan sih, Lan. Eng-enggak kok, kami gak janjian, ya ‘kan Bim?”
“Iya, tadi gue lihat motornya mogok, udah gitu kan masih pagi jadi gue ajak dia lah. Pastinya ajakan cowok ganteng kaya gue gak bakal ditolak dong, haha.” Bimo memegang kerah bajunya berlaga sok tampan, walaupun pada kenyataannya dia memang tampan. Aleyra mencubit lengan Bimo sambal mengerucutkan bibirnya.
“Ge-er banget sih kamu Bim. Udah ah, aku mau piket, ga bakal selesai-selesai kalo ngeladenin kalian berdua terus.” Bimo dan Lani tersenyum puas melihat ekspresi ALeyra.
“Mau dibantuin gak?” tanya Bimo agak berteriak.
“Gak usah,” sahut Aleyra yang masih kesal karena ledekan mereka. Setelah dia selesai melaksanakan piket, dia dan teman-temannya masuk dan duduk di kelas. TAk lama Bu Andin masuk dan mengumumkan tentang Ujian Nasional.
"Anak-anakku sekalian, tiga bulan lagi kalian akan menghadapi ujian nasional. ibu harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh agar kalian bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Gunakan waktu kalian sebaik-baiknya, jangan digunakan bermain saja, ya."
"Iya, Bu," ucap siswa satu kelas.
Setelah pelajaran selesai, bel istirahat pun berbunyi. Aleyra keluar bersama dengan Lani. Mereka duduk di kursi tepatnya di bawah pohon kersen yang ada di dekat lapangan sambil mengambil satu persatu buahnya lalu mereka memakannya. Mereka menikmati udara yang segar, meskipun panas, tetapi desiran angin jelas terasa menyentuh kulit mereka.
“Eh Lan, kemarin katanya kamu mau cerita sesuatu. Mau cerita apa?” tanya Aleyra melihat ke arah Lani.
“Oh iya, gue hampir aja lupa mau cerita hal itu. Untung aja lo ingetin, Ley. Ini soal Bimo.” Mendengar nama Bimo disebut, Aleyra memicingkan mata. Dia selalu tertarik dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan Bimo.
“Bimo? Ada apa dengan Bimo? Oh iya, lagian kemarin kamu kok suaranya bising banget kaya gitu, lagi ada di mana sih kamu kemarin?” tanyanya penasaran.
“Jadi gini ceritanya, kemarin itu kan gue sama papa keluar malam buat makan malam tuh. Papa diajak teman bisnisnya buat dinner, terus papa ajakin gue deh. Pas nyampe sana itu karena yang dateng duluan itu kami, jadi kami duduk di meja yang sudah dibooked sama rekan kerja papa itu. Gak lama, rekan kerja papa datang bareng istrinya. Pas ngobrol-ngobrol kan dia nanyain itu gue sekolah di mana kan, ya gue jawab dong. Terus istrinya itu bilang kalau anaknya juga sekolah di SMA yang sama dengan gue. Dia buka Hp terus menunjukkan foto anaknya itu. Lo tahu nggak siapa anak rekan bisnis papa gue?”
“Ya, mana aku tau lah siapa. Emang siapa?”
“Tebak dulu dong.”
“Ya ampun, jangan tebak-tebakan dong, Lan. Kamu kira aku paranormal yang bisa nebak-nebak. Ngomong saja siapa nama anaknya?” celoteh Aleyra karena tak mau sahabatnya itu membuatnya penasaran. Lagian siapa pun anak itu baginya tidak akan menarik perhatiannya, kecuali satu orang yang selama ini dia pikirkan, yaitu Bimo.
“Yah, suruh nebak malah susah banget ini anak. Oke lah gue jawab saja deh karena kalau nungguin kamu jawab sampe tahun depan juga gak bakal dijawab-jawab. Ini mah ceritanya tanya sendiri jawab sendiri. Haha. Nama anaknya itu adalah Bi-Mo.” Seketika Aleyra membulatkan mata saat sahabatnya mengucapkan nama orang yang beberapa hari ini ada di benaknya.
“Apa? Bimo?”
“Ternyata papahnya Bimo itu temen bisnis papah gue dulu sebelum papah ke luar negeri. Papah bilang sih mereka itu kaya raya lho, tapi agak sombong gitu papahnya. Mamanya mah baik banget, tapi gak tahu sih kan aku juga ketemu baru tadi malam doang. Cuma ya agak keras gitu papanya.”
“Oh, gitu ya. Tapi aku lihat Bimo sepertinya tidak sombong. Tapi entahlah, kita juga baru kenal sebentar sama dia.” Dia yakin cowok yang dikenalnya di warung seberang sekolah itu tidak terlihat sombong, bahkan sejauh ini kesan yang Aleyra dapat dari Bimo yaitu dia cowok yang baik.
“Tapi kok di resto bising banget? Apa restonya ada band-nya apa bagaimana? Yang aku dengar malah bukan suara musik band atau dangdut, malah kaya suara kendaraan begitu sih.”
“Eh, kemarin itu pas gue telepon lo, itu sudah lagi jalan pulang. Nah di jalan itu kami ngelewatin pasar, macet banget pasarnya, mana bau amis, suara knalpot motornya bising banget pula.
“Haha, kamu ini ada-ada saja, Lan. Namanya juga pasar, ya pasti bau lah.”
“Eh enggak, kalau di kota mah pasar itu ga begitu bau kok, Ley,” tandas Lani.
“Hmm, ini nih. Ya jangan bandingin pasar di desa sama pasar di kota lah, jelas beda Lani, suasananya juga pasti beda.” celoteh Aleyra sambil terkikik mendengar perkataan sahabatnya.
“Tapi kalau soal view, jangan ditanya. Pedesaan memiliki sejuta view yang lebih indah dibandingkan dengan di kota.”
“Iyalah, makanya gue betah di desa. Tapi kalau mau belanja, kota adalah rajanya tempat belanja.”Aleyra tersenyum mengiyakan apa yang diucapkan Lani.
***
Bimo keluar dari kelas lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Dia mencari di mana Aleyra berada. Saat dia menemukan keberadaan Aleyra, dia merasa lega karena Aleyra berada di bawah pengawasannya. Bimo memang merasa tak ingin jauh dari Aleyra. Sikap Aleyra yang baik, wajahnya yang rupawan tapi sederhana, senyumnya yang manis, membuat Bimo merasa tenang saat berbicara ataupun berada di dekatnya.
Bimo berdiri di depan kelas sembari mengobrol dengan teman-temannya. Dalam obrolan itu, ada salah satu temannya yang memberikan tantangan kepada siapa pun yang berani menerima tantangan itu maka dia akan mendapatkan hadiah. Hadiahnya berupa uang lima puluh ribu rupiah.
Tantangannya adalah bagi siapa pun yang berani mengitari lapangan dengan menggunakan sepeda sebanyak lima kali putaran, maka ia dianggap menang. Teman-temannya tak ada yang berani menerima tantangan itu karena nanti pasti orang yang akan menerima tantangan itu akan menjadi tontonan siswa dan siswi lainnya, bahkan guru-guru dan staf tata usaha.
Bimo yang saat itu sedang memfokuskan pandangannya kepada Aleyra tiba-tiba mempunyai ide yang cemerlang. Dia akan menerima tantangan itu bukan semata-mata untuk hadiahnya, akan tetapi, untuk mendapatkan perhatian dari Aleyra. Dia menyampaikan kesanggupannya menerima tantangan itu kepada teman-teman cowoknya.
Setelah memutuskan untuk menerima tantangan, Alvin—salah satu teman Bimo—mengambil sepeda yang ada di samping ruang guru, lalu dia menyerahkannya kepada Bimo.
"Ayo, Bim, Semangat" teriak Alvin menyemangati Bimo sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas.
"Wish me luck, Bro." Bimo membawa sepeda ke pinggir lapangan. Lalu naik di atasnya. Sebelum mengitari lapangan, dia duduk di atas sadel memandang ke seluruh penjuru kelas. Dia melihat ke bawah pohon mangga di mana Aleyra dan Lani sedang duduk di sana. Bimo mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah Aleyra seraya mempersembahkan senyuman yang merekah. Semua siswa bersorak sorai hendak menyaksikan aksi yang akan dipertontonkan oleh Bimo. Suara riuh dari luar kelas terdengar oleh Sevi, Afni dan Widia yang sedang asyik ngerumpi di dalam kelas.
"Eh, Sev ... ada apaan, sih, di luar rame banget?" tanya Widia sambil mengambil camilan di tangan lalu memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya. Di antara mereka bertiga, Widia memang tak bisa jauh-jauh dari makanan. Dia akan selalu membawa makanan walau hanya sekedar camilan. Makanya badannya lebih berisi dibandingkan dengan Sevi dan juga Afni.
"Gue juga enggak tau. Kita keluar, yuk!" ajak Sevi.
"Taruh dulu napa, Wid, cemilan Lo itu." Tegur Afni merebut cemilan dari tangan Widia dan menaruhnya di atas meja di depan mereka.
"Eh ..., jangan. gue laper, tau.. Mau lo kalo gue pingsan karena nggak makan, iya?" Widia mengambil kembali camilannya yang di taruh Afni di atas meja.
"Ah, dasar lebay, lo," Ledek Afni.
"Udah ..., jangan pada ribut napa, sih. Ayo kita keluar sekarang."
Mereka bertiga melangkahkan kaki keluar kelas dan melihat Bimo sedang berada di tengah lapangan dengan sepedanya.
"Sev, Bimo, tuh! Mau ngapain dia di tengah lapangan bawa sepeda?" tanya Afni.
"Ke sana, yuk!" Sevi berjalan masuk ke kelas yang berada di samping lapangan, mengambil kursi lalu kembali dengan membawa kursi dan menempatkannya di bawah ring basket. Kedua sahabatnya pun ikut melakukan hal yang sama dengannya.
Sevi menengok ke samping kiri, melihat ada Aleyra berada di bawah pohon yang juga sedang menyaksikan apa yang akan Bimo lakukan di tengah lapangan.
Sevi tak mau kalah dengan Aleyra, dia mau menunjukkan kepadanya bahkan kepada semua orang kalau dia perduli terhadap Bimo.
"Bimo ... Bimo ... Bimo." Dia berdiri memberi Semangat dengan berteriak sambil bertepuk tangan. Hal itu diikuti oleh kedua sahabatnya dan juga siswa lainnya.
Bimo mulai mengayuh sepedanya mengitari lapangan. Sesekali dia melambaikan satu tangan kepada semua siswa yang saat itu bersorak sorai menyaksikan pertunjukan yang disuguhkan olehnya.
Saat berada tepat di depan Aleyra, kira-kira jaraknya sepuluh meter dari tempat Aleyra duduk, Bimo menghentikan kayuh sepedanya. Lalu mengecup telapak tangan dan meniupkannya ke arah Aleyra.
Aleyra yang saat itu pun sedang melihat ke arah Bimo, jadi salah tingkah, melirik ke kanan dan kiri. Dia tertunduk, pipinya merah merona, dia menahan senyum yang akhirnya keluar dengan sangat manis di kedua sudut bibirnya.
'Ah, Bimo, bikin aku GR aja.'
Sahabatnya─Lani─yang sedari tadi duduk di sampingnya pun mulai menggodanya.
"Eciee ... Pipi Lo merah, Ley. Senyum-senyum sendiri pula. Jangan-jangan Lo suka lagi sama Bimo?"
"Ah ... eng ... enggak, kok. Siapa lagi yang suka sama dia. Aku enggak ngurusin yang begituan, aku mau fokus belajar, kejar cita-citaku dulu," sanggah Aleyra.
Lani menggelengkan kepala tiga kali. "Gue enggak yakin lo ga suka sama dia. Dari gerak-gerik lo aja keliatan banget kalo lo itu suka sama dia."
"Sudah ah, jangan dibahas," timpal Aleyra.
Mereka menyudahi obrolan seru tentang perasaan Aleyra kepada Bimo. Fokus mereka sekarang berpindah lagi pada aksi Bimo yang mengitari lapangan. Sudah tiga putaran Bimo melakukan adegan yang mencuri perhatian banyak siswa tersebut.
Lagi-lagi saat berada di depan Aleyra, Bimo menghentikan kayuhannya dan melihat ke arah Aleyra seraya menganggukkan kepala sambil menyuguhkan senyuman termanisnya kepada Aleyra. Bimo melakukan hal itu sampai putaran ke lima.
Sevi yang sedari tadi melihat Bimo tak henti-hentinya memandangi Aleyra dan memberi perhatian lebih kepadanya seolah murka pada pertunjukan itu. Mata Sevi menatap keduanya tajam, mulutnya berkomat-kamit pelan mengeluarkan kata-kata kemarahan. Kedua tangannya mengepal, terlihat sekali raut kemarahan pada wajahnya. Dia tidak suka Bimo memberi perhatian lebih kepada sepupunya itu. Dia tidak mau kalah sama Aleyra. Dia berpikir dialah yang paling cantik di sekolah itu, apalagi kalau hanya dibandingkan dengan Aleyra. Tentu saja dia merasa jauh lebih cantik di atas Aleyra. Tapi itu hanya kata dia dan kedua sahabatnya itu yang selalu mengagungkan Sevi.
Sevi dan kedua sahabatnya memutuskan untuk bangkit dari tempat duduk lalu meninggalkan lapangan.
Sementara itu, Bimo telah usai melaksanakan aksinya. Dia memarkirkan sepeda di pinggir lapangan lalu mendekati Aleyra dan Lani.
Lani menyenggol bahu Aleyra dan berbisik, "Ley, dia dateng tuh."
"Ssstt ... diam." Aleyra memajukan bibirnya dan menempelkan jari telunjuk ke mulut.
"Hei, Ley. Gimana aksi gue tadi?"
"Keren banget, Bim," celetuk Lani.
"Acara apa sih, Bim, kamu kaya gitu tadi?" tanya Aleyra.
"Gue ditantang berani atau nggak muter lapangan lima kali, ya jelas beranilah gue, haha ...." Bimo tertawa lepas.
"Ah, dasar kamu ini ada-ada aja, Bim. Nih minum dulu, aku tadi beliin minum kali aja kamu kehausan kan setelah aksimu tadi."
"Ah, baik banget, sih lo, Ley." Bimo meneguk air mineral yang diberikan oleh Aleyra. Saat Bimo masih meneguk air minumnya, Lani memberikan pertanyaan yang tidak dia sangka sebelumnya.
"Eh ... Bim, tadi Lo kasih tiupan kecupan ke Aleyra itu maksudnya apa?"
Uhuk ... uhuk ....
Bimo tersedak air mineral yang diminumnya.
"Kalem, Bim, kalem. Jangan buru-buru napa minum tuh. Haha ..." ucap Lani.
Bimo melihat ke Aleyra. Sekali lagi Lani memberikan pertanyaan yang sama kepada Bimo. Bimo tak tau harus menjawab apa. Dia menelan salivanya dan mulai menjawab.
"Aku ... itu ...." Bimo menghentikan ucapannya dan terdiam.
"Itu apa, Bim." Lani memotong perkataan Bimo dan penasaran dengan apa yang akan diucapkan Bimo pada dia dan Aleyra yang saat itu masih berdiri di hadapannya.
Tak lama, bel masuk pun berbunyi, Bimo menjadi punya alasan agar dia tidak menjawab pertanyaan dari Lani.
"Itu, sudah waktunya masuk. Gue duluan, ya."
"Yah, gue belum selesai ngomong, Bim." protes Lani.
"Sudah ah, kita juga ke kelas, yuk." ajak Aleyra. Kedua sahabat itu berjalan menyusuri lorong sekolah hendak ke ruang kelas mereka.
Bimo berlari menuju teman-temannya yang ada di depan kelas yang menunggunya untuk memberikan selamat atas aksi konyolnya itu.
"Wiih ..., keren Lo, Bim. Berani ya lo ngelakuin hal yang mengundang perhatian semua siswa," celetuk Alvin sambil menepuk-nepuk pundak Bimo.
"Iya, lo, Bim. Kita aja yang sudah lama di sini enggak berani ngelakuin hal kaya lo tadi," sambung Ridho—salah satu teman Bimo di kelas.
"Enggak beraninya kenapa, gue mah berani-berani aja, kok. Bimo dilawan." Bimo terkekeh bersama teman-temannya.
"Eh, Bu Syifa datang. Ayo kita masuk," ucap Alvin sembari berjalan masuk ke kelas diikuti oleh teman-temannya. Mereka mengikuti pelajaran matematika dengan tenang dan tertib.
***
Setelah dua jam pelajaran selesai, lonceng berbunyi. Semua siswa mulai bergegas keluar satu-persatu. Sampai Bimo dan Aleyra pun keluar dari kelas dan berhenti di depan kelas.
"Bim, motor aku gimana? Apa udah beres?" tanya Aleyra.
"Bentar, Ley, aku telepon mekaniknya dulu, ya."
Lalu Bimo mengeluarkan gawainya dan menelepon mekanik. Sekitar dua menit, Bimo menyelesaikan obrolannya di telepon.
"Ley, ternyata motor lo belum selesai, banyak pasien katanya di bengkel."
"Duh, terus aku gimana dong pulangnya?"
"Aku akan antar lo pulang, Ley."
"Tapi ..., aku nggak mau ngerepotin kamu, Bim. Tadi pagi kan kamu sudah memberi tumpangan padaku, lalu kamu membantu memanggil mekanik dan mengurus motorku. Masa sekarang aku mau ngerepotin kamu lagi." Aleyra mengerutkan kening dan sedikit memajukan bibirnya menandakan tidak mau lebih banyak merepotkan Bimo.
"Sudah, jangan dipikirin. Enggak ngerepotin, kok. Malah aku seneng, nanti kan aku bisa nganterin kamu. Sering-sering aja begini. Ups ...." Bimo keceplosan lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ah ... kamu ini, doain aku yang enggak-enggak. Lumayan cape tau dorong-dorong motor tuh." Aleyra manyun.
"Becanda kali, Ley." Bimo terkekeh melihat ekspresi Aleyra. 'Dia terlihat manis saat begini,' batin Bimo sambil tersenyum melihat Aleyra.
Kring kring kring!
Suara gawai Bimo menyadarkannya dari lamunan pada Aleyra. Dia melihat layar ponsel. Ternyata nomor telepon mamahnya yang tertera di layar ponselnya.
Ya, Hallo, Ma."
[Den, ini Bibi.] ujar Inem—asisten rumah tangga Bimo.
“Lho, kok, Bibi yang telepon. Mamah mana, Bi?” tanya Bimo.
[Mamah, Den ....]
"Mamah kenapa, Bi?"
[Mamah Den Bimo jatuh di kamar mandi tadi,] terang Inem.
"Terus gimana keadaan mamah sekarang, Bi?"
[Sekarang sedang ditangani dokter Dedi di rumah.]
"Ya sudah bibi tungguin mamah, ya. Aku segera pulang."
Bimo mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Ada apa, Bim?" telisik Aleyra.
"Ibu gue jatuh di kamar mandi. Kita harus segera pulang," terang Bimo
"Kita? Apa maksudmu dengan kita?"
"Sudah jangan banyak tanya, ayo ikut gue!" Bimo menarik tangan Aleyra dan membawanya berlari menuju luar gerbang yang saat itu sudah menunggunya di sana.