Bab 6 - Rumah Calon Mertua

2151 Words
Sebuah mobil toyota berwarna marun tiba di halaman sebuah rumah. Dibukalah pintu gerbang oleh seorang satpam. Lalu mobil itu melaju masuk ke halaman rumah. Di sana terlihat halaman yang cukup luas dengan taman bunga nan indah. Ada bunga mawar merah, mawar putih, anggrek dan masih banyak lainnya. Di samping taman bunga itu terdapat air mancur dengan patung yang membawa kendi di tangannya dan memancarkan air. Di dekat air mancur terlihat sebuah ayunan yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat dengan meja di depannya semakin menambah asri halaman rumah itu. Dua buah mobil Avanza berwarna hitam dan mobil Toyota Yaris berwarna putih terpampang di garasi mobil rumah itu. Di samping garasi mobil terlihat ada sebuah pondok tempat bersantai yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat dengan atap genteng berwarna coklat pula. Mobil itu tiba di depan pintu rumah rumah Bimo. Bimo dan Aleyra turun dari mobil lalu melangkah tepat di depan pintu. Mata Aleyra berkelana menjelajahi suasana di depan rumah Bimo. Aleyra berdiri di depan bangunan yang menurutnya cukup megah. 'Rumahnya besar sekali.' gumamnya di dalam hati. Saat Aleyra masih berdiri di depan pintu, Bimo mengajak Aleyra masuk. "Ayo, Ley masuk. Gue lihat ibu gue dulu" Bimo segera berlari memasuki rumah, lurus ke arah kamar ibunya. Bimo masuk ke dalam kamar ibunya dan di sana masih ada dokter Dedi yang sedang berbicara dengan mamah Bimo dan juga bi Inem. Bimo segera mendekap mamahnya. "Mah ... mamah Enggak apa-apa?" "Alhamdulillah, mama enggak apa-apa, Bim." "Dok, enggak ada luka yang serius kan sama mamahku?" "Jangan khawatir, Mas Bimo. Mamahnya baik-baik aja, kok. Dokter Dedi tersenyum sambil membereskan perlengkapan pemeriksaannya. "Syukurlah kalo begitu." "Saya buatkan resep obatnya dan juga vitamin buat Bu Sarah, ya." Dokter Dedi membuatkan resep lalu menyerahkannya kepada Bimo. "Kalau begitu saya permisi ya, mas, bu." Dokter Dedi pergi meninggalkan kamar diantar oleh Bimo. Saat mengantar Dokter Dedi, Bimo hampir saja lupa kalau dia membawa serta Aleyra yang saat itu Aleyra berada di ruang tamu sedang duduk di sofa berwarna hijau terbuat dari kain midili. "Ley, Ya Allah gue hampir aja lupa kalau ada Lo." Bimo menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. "Ga apa-apa, Bim. Ibu Lo gimana keadaannya?" "Alhamdulillah, ga ada luka yang serius, Ley." "Syukurlah." Aleyra mengelus da**nya. "Oh, iya. Ayo kita masuk, aku kenalin sama mamahku. "Eh ... anu, aku malu." "Udah ayo. Malu kenapa. sama calon mertua sendiri kok malu," ledek Bimo yang dibalas bulatan mata oleh Aleyra. "Eh, Bimo, jangan becanda ah." Muka Aleyra merah padam tersipu malu dengan perkataan Bimo. "Iya-iya. Ya sudah ayo masuk. Mamahku baik, kok. Ga bakal makan kamu, hahaha." Ledek Bimo. Bimo menarik tangan Aleyra lalu membawanya menuju kamar mamahnya. Sesampainya di kamar, Bimo masuk terlebih dulu. "Mah, ada yang mau aku kenalin sama mamah." "Siapa, Bim." "Ley ...." Bimo menengok ke kanan, kiri dan ke belakang. Ternyata Aleyra tidak ada. Dia masih berdiri di depan pintu kamar mamah Bimo. Bimo menariknya masuk ke dalam kamar. "Assalamualaikum." Aleyra mengucapkan salam kepada Sarah. "Waalaikumsalam." Sarah perlahan duduk dan menyenderkan punggungnya ke dinding tempat tidur. "Mah, kenalin, ini Aleyra, teman sekolah Bimo." Aleyra melangkah maju menghampiri Sarah, lalu dia menjabat tangan Sarah dan menciumnya. "Aku Aleyra, Tante." "Cantik." Sarah mengagumi kecantikan Aleyra yang baru pertama kali dikenalnya. Sarah mulai berbincang-bincang dengan Aleyra. Dia menanyakan di mana dia tinggal dan dengan siapa dia tinggal. Bimo keluar dari kamar mamahnya hendak menaruh peralatan sekolahnya yang sedari tadi belum dia lepaskan dari badannya. Bimo berjalan menuju kamarnya. “Ley, kamu tinggal di mana?” ujar Sarah. “Aku tinggal di desa Manggis, Tante.” Sekitar sepuluh menit Bimo sudah berganti pakaian. Dia mengenakan kaos oblong berwarna biru dongker dan celana jeans pendek berwarna hitam. Bimo berdiri di depan cermin kamarnya, dia membetulkan bagian bawah kaosnya dan merapikan rambutnya. Lalu dia mengambil minyak wangi Bellagio bue sport kesukaannya yang ada di atas violet.. Dia menyemprotkan minyak wangi ke da** bidang dan juga lehernya. Saat dirasa sudah pas wanginya, dia menaruh kembali minyak wangi itu dan bergegas kembali ke kamar mamahnya, dimana ada dua wanita yang saat itu sedang bercengkerama layaknya orang yang sudah lama kenal, padahal kenyataannya mereka baru pertama kali bertemu. Bimo tidak langsung masuk ke kamar mamahnya. Dia berdiri di depan pintu kamar ibunya dan menyenderkan badannya di dinding pintu kamar mamahnya. Dia yang sedari tadi melihat keakraban kedua wanita itu terlihat tersenyum manis. ‘Mereka berdua cepat akrab,' batinnya. Dia berpikir gadis ini memiliki sesuatu yang berbeda. Entah apa yang dia rasakan. Dia seperti bahagia saat ada Aleyra di sampingnya. Sarah yang sedang asyik ngobrol dengan Aleyra melihat anak lelakinya yang sedang berdiri menyenderkan tubuhnya di dinding pintu kamar. Dia melihat Bimo tersenyum sendiri melihat Aleyra. "Bim, ngapain di situ, sini," ajak Sarah pada Bimo sembari melambaikan tangannya. "Eh ... iya, Mah." Bimo tersadar dari lamunannya dan bergerak menghampiri mereka. "Ajak Aleyra makan. Kamu pasti belum makan, kan, Nak?" tanya Sarah melihat ke wajah Aleyra. "Iya, tuh, Mah. Dia belum makan. Kan tadi dia dari sekolah langsung aku ajak ke sini." sosor Bimo. "Eh ..., iya, Tan, makasih. Tapi sebaiknya aku pulang aja. Aku kasian bibiku di rumah jualan sendirian," tolak Aleyra halus. "Oh ... gitu, ya. Ya udah kalo gitu. Nanti lain kali main ke sini lagi, ya. Kita makan bareng," harap Sarah. "Iya, Tan. Nanti aku main ke sini lagi." "Ya udah. Bim, anterin Aleyra pulang, ya," perintah Sarah. "Siap, Mah." Bimo menaruh tangannya di pelipis memposisikan tangannya di posisi hormat, layaknya prajurit mengiyakan perintah atasannya. "Aleyra pamit, ya, Tante." Aleyra bersalaman dengan Sarah lalu melangkah keluar bersama Bimo. *** Sore itu pukul 17.00, Sang Surya sudah beralih dari posisi terbitnya hingga ke posisi hampir tenggelam. Semburat warna jingga di langit menambah indah pemandangan ciptaan Sang Ilahi. Kendaraan besar seolah tak henti-henti berlalu-lalang di jalanan. Aleyra menatap ke arah jendela mobil menikmati pemandangan sore hari di sepanjang perjalanan menunju ke rumah bibinya. Sesampainya di rumah, mereka berhenti dan langsung turun dari mobil. "Bim, makasih, ya," tutur Aleyra. "Sama-sama." "Eh, tapi Bim. Motorku gimana?" "Motor Lo besok siang aja diambilnya. Besok pagi gue jemput Lo ke sini, gimana?" tawar Bimo. "Apa nggak ngerepotin kamu, Bim?" tanya Aleyra pelan. "Nggak, kok. Santai aja." "Ya udah kalo gitu, makasih, Bim." Aleyra berbalik hendak masuk ke rumah. Tapi panggilan Bimo menghentikan langkahnya. "Eh, Ley. Gue nggak di ajak masuk, nih?" Aleyra berbalik badan dan menjawab pertanyaan Bimo. "Lain kali aja, ya. Nggak enak aku sama bibiku." "Oh ... ya udah, oke deh." Bimo segera memacu mobilnya pergi meninggalkan Aleyra. Dari balik pintu rumah terlihat sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Mata yang terlihat merah membara penuh dengan kebencian. Sepasang bola mata yang membara itu adalah mata Sevi. Setelah Bimo pergi, dia berbalik ke kamarnya. Di halaman depan rumah, Aleyra melihat Runi sedang membereskan perabotan dagangannya. Sontak Aleyra segera menghampirinya dan membantu mengangkat dagangannya. "Bi, Ley bantuin, ya." Dia melepaskan selang gas dan mengangkat kompor menuju rumah Runi. “Eh, Ley. Iya." Runi melihat Aleyra pulang dengan seorang lelaki yang belum dia kenal dan dia merasa aneh melihat keponakannya itu pulang tanpa motornya. "Ley, tadi siapa yang nganterin kamu? Motor kamu kemana?" tanya Runi penasaran. "Motorku tadi pagi bocor, Bi. Terus ada Bimo temanku lewat, jadi aku ke skolah bareng dia. Tadi pas pulang mamahnya Bimo kecelakaan, jadi Bimo buru-buru ke rumahnya lalu nganterin aku pulang, Bi. Maafin ya, pulang telat." Aleyra menjelaskan pada Runi panjang lebar sambil membawa kompor. "Iya, Ley, nggak apa-apa, kok." Runi membalas dengan senyuman. Lalu masuk bersama keponakannya itu. *** Malam semakin larut, sang rembulan tengah sempurna menampakkan keindahan rupanya pada penghuni bumi. Cahayanya mampu terangi jiwa-jiwa yang rindu akan sinarnya. Seorang gadis tengah duduk di kursi dekat meja belajar kamarnya, membuka jendela, membiarkan cahaya rembulan menyelinap masuk dari jendela. Dia menengadahkan mustaka, menikmati indah rembulan malam itu. Entah apa yang dia pikirkan. Pikirannya berkelana jauh ke masa lalunya. Saat keluarganya masih utuh. Terbayang sepasang sosok yang dulu penuh kehangatan. Menemaninya di setiap malam, memberinya canda tawa, merangkulnya saat ada teman bermain yang menjengkelkan. Menghibur di kala tangis tercipta. Dia mengingat ayah dan ibunya. Kala itu, Aleyra berlari mengurai senyuman yang tiada tara, tersengal-sengal melintasi halaman rumahnya yang lumayan luas, di kanan kiri dihiasi pot berisikan bunga mawar yang sedang mekar, harumnya semerbak mewangi. Dia menggendong tas ransel berwarna pink bermotif Mickey Mouse sambil menenteng selembar kertas yang isinya adalah nilai ulangan harian biologinya. Dia berharap saat orang tuanya melihat kertas itu, orang tuanya pasti merasa bangga dan senang atas pencapaian nilai ulangannya. Saat dia hendak masuk, dia mendengar suara gaduh dari dalam rumah. Seketika, dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk. Dia berdiri di balik pintu. Dari situ, dia bisa melihat siapa orang yang sedang terlibat kegaduhan. Saat itu pintu terbuka, sehingga dia bisa mendengar apa yang sedang diributkan oleh orangtuanya. Plak ... Tamparan keras mendarat di pipi Rudi─Ayah Aleyra. "Dengerin dulu penjelasanku." Rudi memegang bahu Anita─istrinya yang kala itu menghadiahinya sebuah tamparan. "Diam kau," sergah Anita sambil mengeluarkan jari telunjuknya ke arah Rudi. Matanya mengisyaratkan kemarahan yang hebat. Raut kekecewaan terlihat sekali di wajahnya. Anita menurunkan tangannya keras, hendak mengeluarkan kata-kata, namun tertahan, hingga dia pun menaruh kedua telapak tangannya ke wajahnya sembari terisak. "Aku enggak nyangka Ayah kaya gitu." "Aku mau jelasin semuanya dulu, kamu salah paham." Rudi memegang kedua bahu istrinya dari depan. Anita menurunkan kedua tangan dari wajahnya dan menampik tangan Rudi. "Salah paham katamu? Semuanya sudah jelas, tak ada lagi yang perlu di jelaskan." "Sayang, dia itu hanya teman, teman lamaku saja, tidak lebih." "Teman? Teman katamu? Bulls***.” Anita menghela napasnya sebelum melanjutkan ucapannya dengan nada tinggi, "Teman macam apa yang tidur dalam satu kamar hotel? Teman macam apa, hah?" Anita menangis sejadi-jadinya, dia tak bisa mengontrol emosinya lalu terduduk di sofa berwarna merah marun berbahan kalep itu. "Apa kau punya bukti, hah? Jangan ngomong sembarangan kamu, Bu," tampik Rudi. "Kau ... kau tanya bukti?" Anita menghentikan ucapannya, berpaling muka, lalu membalikkan badan ke arah Rudi seraya berkata, "Aku melihatmu langsung, tidak dari siapa pun. Aku membuntutimu saat kamu berangkat bekerja. Kamu bilang mau ada meeting dengan klien, tapi kamu malah berhenti di sebuah hotel melati dan bertemu dengan seorang wanita yang berpakaian sexy. Aku mencium gelagat aneh darimu dua bulan ini. Aku sengaja membuntutimu untuk meyakinkan kalau ketakutanku pasti salah. Ternyata firasat seorang istri benar, semua yang aku takutkan terjadi. Kamu check in dengan wanita sexy itu. "Tega-teganya kau bermain api di belakangku! teriak Anita. "Maafin Ayah, Bu. Ayah khilaf, sungguh." Rudi memegang tangan istrinya, menatap dalam netranya yang penuh dengan kekecewaan. Anita melepas keras genggaman tangan Rudi seraya berkata, "Lepaskan aku. Kurang apa aku, Yah? Kurang apa?" lirih Anita sambil terisak. "Kalau Ayah sudah tidak cinta Ibu, antarkan Ibu pada orang tua Ibu. Bukan dengan begini caranya, Yah." Dari balik pintu, Aleyra melihat pemandangan itu. Perih hatinya menyaksikan dua orang terkasihnya terlibat pertengkaran seperti itu, karena selama ini yang Aleyra tau orang tuanya baik-baik saja. Belum pernah dia melihat mereka bertengkar seperti hari ini. Badannya gemetar, butiran-butiran bening silih berganti menetes dari sudut matanya. Apa yang dia saksikan benar-benar membuat hatinya lara. Meskipun dia masih remaja yang mungkin belum mengerti rumitnya hubungan suami isteri. Namun, Aleyra yakin ibunya saat ini merasakan perih. Dia melihat seolah api membara dari dalam mata ibunya, tangannya mengepal, meremas-remas pinggiran sofa. Sedangkan ayahnya, dia melihatnya berusaha menenangkan Anita. Ingin sekali rasanya Aleyra masuk dan memeluk Anita, tapi rasanya ini bukan waktu yang pas untuk mencampuri urusan orang dewasa seperti mereka. "Aku kurang apa, Yah, hah? Apa karena aku kurang cantik dan body-ku tak seindah dulu? Karena itu kamu selingkuh dariku?" ujar Anita seraya melebarkan tatapan matanya ke arah Rudi dengan rona membara di wajahnya. Anita memukul tangannya ke dinding di sampingnya dengan cukup keras, dengan napas terengah-engah, mata memerah. Aleyra melihat dinding yang Anita pukul tadi berubah berwarna merah. Ya, merah darah. Dia melihat tangan ibunya berdarah. "Sekarang juga aku mau kita cerai," ketus Anita. "Oke, kalau memang itu maumu, aku mengabulkannya. Aku juga sudah muak denganmu," seru Rudi. Perkataan kedua orang tuanya membuat kertas ulangan yang dipegang Aleyra jatuh dan melayang masuk ke dalam ruang tamu. Kedua orang tua Aleyra melihat kertas itu dan mengarahkan pandangannya ke depan pintu. Alangkah kagetnya Rudi dan Anita, melihat anak tercintanya menyaksikan pertengkaran di antara mereka. Aleyra nampak terlihat sedikit shock. Lalu Rudi dan Anita merangkul tubuh Aleyra dan membawanya masuk ke kamar. Aleyra menghentikan bayangan masa lalu orang tuanya. Dia melihat ke arah jam beker di meja samping tempat tidurnya, terdiam, mengarahkan pandangan ke jendela. Aleyra duduk di meja belajar kamarnya. Membuka isi tas dan mengeluarkan buku pelajaran yang tadi siang dia pelajari di sekolah. Diambilnya buku biologi. Netranya menelusuri setiap tulisan, membaca dengan seksama, memahami setiap kata, dan tangannya sambil menunjuk satu-persatu baris di buku. “Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi seorang guru.” Aleyra meyakinkan dirinya. Setelah selesai mengulas pelajaran, aleyra merapikan lagi buku-bukunya, mempersiapkan buku pelajaran yang besok akan dia bawa ke sekolah. Lalu ia berbaring di kasur dan memejamkan mata hingga terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD