bc

Mencintai Istri Orang

book_age18+
33
FOLLOW
1K
READ
billionaire
love-triangle
possessive
playboy
drama
tragedy
sweet
serious
love at the first sight
affair
like
intro-logo
Blurb

Blurb

Berawal dari keinginan iseng belaka karena Samuel memiliki banyak uang dan kekuasaan, dia tertarik dengan seorang wanita yang ia lihat dari rumah sakit.

Setelah diselidiki, diketahuilah wanita itu sudah memiliki suami dan anak-anak.

Seharusnya Samuel menyerah, bukan? Tapi anehnya dia malah terobsesi untuk merebut Janice dari keluarga bahagianya.

Berhasilkah rencana-rencana Samuel untuk merebut Janice dari suami dan anak-anaknya?

Ps. Ide novel ini saya dapat saat sedang merawat mami saya di rumah sakit jadi novel ini saya dedikasikan untuk mengenang kepergian beliau agar selalu hidup di hati saya. Semoga kalian suka yah. jangan lupa follow ig penulis_lucyang, ntar ku followback y

chap-preview
Free preview
Salah mengira!
Bab 1 “Bagus kau datang sekarang! Ada hal penting yang harus kau kerjakan,” kata Samuel saat melihat kedatangan asistennya dan langsung memanggilnya mendekat. “Rik, coba lihat di sana!” kata Samuel dengan penuh antusias sambil menunjuk dan memberikan teropongnya kepada Riki, asistennya. Riki mengambil teropong dari sahabat sekaligus bosnya yang terlihat sangat antusias. Dengan penuh kebingungan dan rasa penasaran ia mengambil teropong dan meneropong ke arah yang ditunjuk Samuel kepadanya. “Yang mana yang harus kulihat?" tanyanya dengan bingung mencari-cari. Samuel memelototi Riki tanpa mau banyak komentar! "Apa kau tidak akan memberi petunjuk yang jelas?” tanyanya lagi dengan bingung. "Aku bukan paranormal yang bisa tahu pemikiranmu itu," tambahnya lagi meminta penjelasan lebih. “Matamu picek, yah? Itu!" umpat Samuel dengan kesal sambil mengarahkan pandangan Riki ke arah wanita yang ia inginkan di gedung seberang. "Wanita yang berbaju kuning itu! Aku sudah menunjuk arahnya dengan jelas padamu!”sahut Samuel seraya mengomeli Riki yang terkadang lemot saat menanggapi maksud perkataannya. “Oh,” sahut Riki berusaha untuk bersabar menghadapi sikap sahabatnya ini. Ia lalu meneropong ke arah wanita yang tengah dibidik bosnya ini. Pasti mulai lagi penyakit playboynya, keluh Riki dalam hati tapi ia memang harus mengakuinya, wanita itu memang terlihat sangat cantik. Ia hanya bisa menghela napas, merasa maklum menghadapi kebiasaan sahabatnya yang satu itu. Mungkin karena Samuel sedari kecil sudah makan dengan sendok emas di mulutnya dan keluarganya terlalu banyak memiliki uang, jadi ia menganggap semuanya termasuk para wanita, bisa ia dapatkan dan buang begitu saja dengan mudah tapi pada kenyataannya memang hal itulah yang terjadi. Semua wanita berbondong-bondong tergila-gila bahkan berharap bisa menjadi kekasih atau pun calon istri dari Samuel yang memang sangat tampan dan gagah. “Terus, kenapa dengan wanita itu?” tanyanya lagi sambil menatap wajah Samuel yang sudah terlihat seperti cacing kepanasan menghadapi sikapnya yang santai. “Aku ingin kau segera ke sana untuk menyelidikinya!” sahut Samuel dengan senyum merekah. Matanya berbinar cerah saat menemukan wanita yang ia inginkan! Sudah lama ia tidak menginginkan seorang wanita seperti ini! “Lalu?” tanya Riki lagi tetap tidak mengerti dengan maksud perkataan Samuel kepadanya. “Kau tawarkan kepadanya pekerjaan sebagai perawat Mama,” jawab Samuel dengan cepat. Idenya sangat brilian, bukan! Gairahnya bergejolak membayangkan apa yang akan terjadi saat wanita itu bekerja di rumahnya. Pada saat itu, ia akan merayu wanita itu dan menjadikannya miliknya sepenuhnya. “Tapi untuk apa?" tanya Riki dengan bingung. "Bukankah Nyonya sudah memiliki tim perawat ahli untuk merawatnya?” kata Riki mengingatkan Samuel. “Bawel!” sergah Samuel dengan suara tertahan. Bayangannya langsung buyar saat mendengar kata-kata Riki yang menyebalkan di telinganya! Ia tidak mau kalau sampai tidur mamanya terganggu karena volume suaranya. “Jangan bilang kalau kau tertarik padanya!” terka Riki dengan tatapan ngeri. Entah sudah berapa wanita yang mengalami patah hati karena ditinggal Samuel. Usia terlama kencan Samuel hanya satu minggu karena entah kenapa Samuel akan bosan saat sudah berhasil menaklukan mangsanya. “Jangan cerewet! Kerjakan saja apa yang aku suruh!" serunya dengan suara tertahan. "Ingat, berikan berapapun gaji yang dia minta asal dia bersedia bekerja di rumahku,” kata Samuel dengan tatapan berapi-api. “Baik, Bos!" sindir Riki dengan cepat. "Ngomong-ngomong, bonus bulan ini apa akan ditambahkan kalau aku berhasil melakukannya?” godanya dengan ekspresi serius. “Katakan saja kalau kau memang sudah bosan bekerja padaku! Aku akan segera membuka lowongan untuk asisten baru,” sahut Samuel sambil menatap jengah ke arah sahabatnya yang terkadang jahil ini. “Aku pergi sekarang, Bos!” seru Riki langsung mengambil langkah seribu dari dalam ruangan medis ibunda Samuel yang sedang sakit. Dengan hati-hati, Riki mengetuk pintu ruangan tempat wanita itu terlihat. Janice bergegas membuka pintu setelah membersihkan tubuh mamanya. “Yah?” tanyanya dengan cepat karena tidak mengenal orang di depannya ini. Riki langsung memperkenalkan dirinya sekilas. “Maaf, apa bisa kita bicara sebentar?” tanyanya karena tidak dipersilahkan masuk. “Maaf, ada apa yah?” tanya Janice dengan cepat. “Apa saya boleh masuk?” tanya Riki lagi berusaha mengingatkan. Janice hampir menepuk kepalanya karena bersikap kurang sopan "Oh, iya, silahkan masuk," katanya mempersilahkan Riki masuk ke dalam ruangan. Setelah duduk di ruang tamu, Riki langsung membuka pembicaraan dengan suara. “Begini, kalau boleh tahu saat ini Anda sedang merawat siapa di sini?” tanya Riki berusaha mencari tahu dengan hati-hati. “Hah!” respon Janice merasa bingung dengan pertanyaan tamu di depannya ini. “Maaf pertanyaan saya terdengar aneh tapi hal ini sangat penting sekali untuk dijawab,” sahut Riki dengan cepat menambahi. “Saya merawat Mama saya,” jawab Janice pada akhirnya. “Oh, begitu,” sahut Riki sambil mengangguk-angguk. Janice menatap bingung sambil mengamati pria di depannya ini. Apa orang ini petugas asuransi yang mau menawarkan asuransi kesehatan atau bagaimana sih? tanya Janice dalam hati dengan kening mengerut penasaran. “Oh, maaf!” kata Riki langsung menyadari kesalahannya saat melihat ekspresi Janice saat ini. Ia segera mengeluarkan kartu namanya dan memperkenalkan diri kepada Janice. “Nama saya Riki, saya asisten Pak Samuel dari Perusahaan Multi Daya Properti dan Keuangan. Beliau tanpa sengaja melihat dan mengamati cara anda merawat Mama Anda yang telaten. Mama Beliau saat ini sedang sakit karena itu ia tertarik dan ingin menawarkan pekerjaan untuk merawat Mamanya yang sedang sakit saat ini,” kata Riki langsung menjelaskan dengan hati-hati. Janice menggaruk keningnya seraya menahan senyuman kebingungannya. Entah dia harus merasa terhormat atau terhina saat ini karena itu ia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Riki. “Maaf, tapi saya tidak tertarik untuk mengambil pekerjaan itu,” sahut Janice dengan sopan. “Sekedar informasi kalau kami bersedia menyetujui berapapun gaji yang anda ajukan asal anda bersedia menerima tawaran pekerjaan dari Pak Samuel,” kata Riki segera menyondorkan cek kosong yang sudah ditandatangani Samuel di atasnya. “Selain itu anda juga bisa mengklaim biaya rumah sakit Mama Anda ke perusahaan, kami yang akan menanggung semua biaya rumah sakit Mama Anda, bagaimana?” tambahnya dengan cepat berusaha meyakinkan Janice lagi. Janice hanya bisa tersenyum, berusaha untuk tetap sopan dan sabar menghadapi tawaran aneh pria di hadapannya ini. “Sungguh penawaran yang menarik tapi maaf saat ini saya sedang merawat Mama saya. Setelah Beliau pulih, saya masih harus berkonsentrasi mengurus usaha saya,” jawab Janice berusaha untuk memberitahu Riki kalau dia sama sekali tidak membutuhkan pekerjaan lain dalam hidupnya. Bagaimanapun dia wanita mandiri yang berkecukupan! “Usaha?” tanya Riki dengan hati-hati. “Usaha apa kalau boleh tahu?” lanjutnya lagi dengan hati yang gugup. “Saat ini saya memiliki usaha penyewaan gaun pengantin dan studio foto,” jawab Janice berusaha menjawab dengan setenang mungkin. Riki tertegun sesaat kemudian menertawakan kebodohannya dan juga bosnya! Pantas saja, wanita di depannya ini langsung menolak tawarannya! Dia bukan perawat sungguhan dan murni hanya merawat orang tuanya saja! katanya sambil tertawa dalam hati. "Maaf," sahutnya dengan cepat sambil mengatupkan kedua belah tangannya di depan d**a. “Kenapa?” sahut Janice sambil ikut tersenyum menanggapi kata-kata Riki. “Maaf, sekali lagi. Tampaknya Bos benar-benar telah salah paham. Ia mengira kalau anda adalah seorang perawat profesional yang sangat berdedikasi karena itulah saya diperintahkan untuk segera ke sini dan melamar anda untuk menjadi perawat,” jawab Riki lagi sambil mengumpat Samuel dalam hati karena telah mempermalukannya saat ini. Janice tersenyum memaklumi anggapan Riki dan bosnya yang salah seraya menggeleng sopan. “Kalau boleh tahu kenapa Anda tidak gunakan jasa perawat pribadi untuk mengurus Mama Anda?” tanya Riki mencoba mencari tahu. “Kenapa saya harus melakukan hal itu?” sahut Janice merasa bingung mendengar pertanyaan pria asing di depannya ini. “Meski saya mampu menyewa tenaga perawat, kenapa saya harus menyuruh orang lain melakukannya sementara saya masih sanggup melakukannya? Orang tua membutuhkan kehadiran dan perhatian dari anak-anaknya untuk merawat ibu mereka dan bukannya perawat meski ahli sekalipun,” jawab Janice dengan sabar. “Oh, iya, iya, anda benar! Maafkan saya, kalau pertanyaan saya menyinggung. Hanya saja, hal itu sudah umum dilakukan apalagi anda memiliki bisnis sendiri pasti sibuk sekali, bukan?” sahut Riki mengemukakan pandangannya. “Sibuk memang benar tapi enaknya punya usaha sendiri itu, anda bebas menentukan waktu libur anda karena itu semuanya masih bisa berjalan dengan dibantu oleh para karyawan yang berdedikasi,” jawab Janice dengan terus terang. “Anda benar tapi sedikit orang yang bisa mengatur jam bisnisnya seperti cara berpikir anda. Begitu masuk dalam kesibukan bisnis, waktu kita seolah habis untuk mengurus segalanya," kata Riki lagi merasa kagum dengan pemikiran Janice. Kalau begitu, saya tidak menganggu lagi dan akan permisi tapi maaf, apa anda memiliki kartu nama bisnis? Siapa tahu banyak rekanan yang mau menikah dan saya akan merekomendasikan bridal dan studio anda kepada mereka,” kata Riki dengan sopan. “Oh, iya ada. Sebentar yah,” kata Janice sambil mengambil kartu nama dari dalam tas jinjing-nya dan memberikannya kepada Riki. “Ini,” katanya sambil menyerahkan kartu namanya kepada Riki. "One Stop Wedding Shoping Janice," kata Riki setelah melihat kartu nama dengan embose emas yang sangat mewah. "Keren," pujinya ke arah Janice. "Terima kasih," sahut Janice sambil menerima parcel buah dari Riki. Setelah itu Riki langsung berpamitan untuk memberitahukan hasil investigasinya kepada Samuel. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Samuel selanjutnya. Samuel akan semakin tertarik dan berusaha untuk menanamkan sahamnya ke perusahaan Janice! “Siapa Jan?” tanya Nia dengan lembut dari atas ranjang. “Entahlah, hanya orang nyasar?” sahut Janice mencoba menahan tawa saat mengingat kedatangan Riki barusan. “Jaman begini kau harus lebih berhati-hati,” sahut Nia mencoba mengingatkan putrinya ini. “Iya, Ma, Janice mengerti,” kata Janice mengatur bantal dan memberikan minuman hangat untuk mamanya dengan bantuan sedotan. “Apa Dani belum datang?” tanya Nia berusaha mencari tahu. “Sore ini dia akan datang,” jawab Janice seraya tersenyum sambil membelai wajah tua milik mamanya. Semenjak sakit ia merasa kondisi mamanya bertambah hari bertambah buruk. Sebenarnya dokter sudah menyerah memberi pengobatan kepada mamanya tapi sebagai anak dia tidak tega membiarkan mamanya sakit tanpa bisa dirawat. “Mama sudah menyusahkanmu, bukan?” sela Nia dengan mata berkaca-kaca. “Apa yang Mama katakan ini! Sudah sewajarnya Janice merawat Mama. Sama halnya kalau Janice sedang sakit, kalau hal itu sampai terjadi, katakan, apa Mama akan berdiam diri dan hanya melihat Janice tergeletak sakit di rumah?” sahut Janice dengan penuh kesabaran menanggapi ucapan mamanya seraya menahan sedih di hatinya. “Mama orang tua,” sahut Nia mengingatkan sambil menghela napas panjang. “Dan Janice ini anak, apa bedanya!" sahut Janice dengan lembut. Ia memegangi tangan mamanya yang sudah keriput tapi selalu hangat. "Karena itu, biarkan Janice menjalankan kesempatan langka ini untuk merawat Mama sebaik-baiknya,” kata Janice sambil menggenggam tangan mamanya dengan penuh haru. “Kau adalah anak yang baik,” kata Nia sambil mengelus wajah putrinya yang selalu telaten merawat dirinya. Selama lima, enam bulan ini kondisi kesehatannya menurun drastis dan selalu keluar masuk rumah sakit tanpa bisa disembuhkan sampai saat ini. Kehidupannya selalu dihabiskan di atas ranjang tanpa bisa duduk dan berjalan seperti dulu. Ia merasa sangat lelah tapi tidak sanggup menyerah karena melihat keuletan Janice dalam merawatnya. “Itu karena Mama adalah Ibu yang baik, buah itu jatuh, tidak jauh dari pohonnya, bukan?” sahut Janice sambil menjembel pipi mamanya yang sudah keriput. Ia merasa ingin menangis menyadari mamanya tidak lagi muda dan kuat seperti dulu. Tapi ia tidak rela kalau harus melepas dan merelakan mamanya tanpa mencoba setiap kesempatan pengobatan berdasarkan rekomendasi dari dokter, sekarang dokter sendiri sudah lepas tangan dan tidak bisa memberikan pengobatan apapun juga karena tubuh mamanya sudah memberi penolakan. “Mama bersyukur memiliki, paling tidak ada satu anak berbakti sepertimu,” ucap Nia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia memiliki empat orang anak tapi hanya Janice yang sayang dan perduli kepadanya. “Semua anak Mama itu berbakti,” sahut Janice dengan cepat menghibur mamanya dengan lembut. “Tapi mereka tidak kunjung datang,” sahut Nia menghapus air matanya lagi. “Mereka akan datang. Janice sudah memberitahu mereka, Ma,” kata Janice mencoba menghibur mamanya tapi mengumpat saudara-saudarinya yang selalu beralasan sibuk untuk mengunjungi mamanya. “Sudah sepuluh hari Mama di sini tapi mereka tidak juga datang!” sahut Nia mencoba menahan kesedihannya. “Ma, jangan pikirkan mereka! Lihat Janice saja apa bisa? Tugas Mama saat ini istirahat yang cukup, makan dan minum obat secara teratur agar bisa segera sembuh. Nanti setelah sembuh, kita akan pergi jalan-jalan ke luar kota, bersama anak-anak,” kata Janice lagi mencoba memberi semangat kepada mamanya. “Kau sibuk,” sahut Nia sambil terkekeh seraya menghapus air matanya. “Sekali-kali Janice juga perlu berlibur, 'kan Ma? Bridal dan studio juga tidak ramai-ramai amat, bisa ditinggal dan diurus karyawan,” sahut Janice seraya terkekeh. “Mama tahu kau hanya menghibur Mama," kata Nia sambil menarik hidung putrinya ini. "Bridalmu tidak pernah sepi masih kau katakan tidak ramai amat!” sahutnya lagi sambil terkekeh mengikuti senyuman geli putrinya saat ini. Janice tertawa sambil mencium pipi mama-nya dengan gemas. “Cepat sembuh, jangan cerewet!” sahutnya dengan ekspresi galak tapi kemudian tersenyum lagi. Nia tertawa sambil memeluk anaknya dengan erat. Di ruangan lain … “Jadi?” sahut Samuel tidak melepaskan teropong dari matanya. “Jadi, sudah dipastikan rencanamu untuk merekrutnya menjadi perawat Nyonya Besar, gagal total!” sahut Riki memberi kesimpulan kepada Samuel. “No, no, no, no, hal itu harus terwujud! Aku suka tantangan! Kau tahu itu bukan? Semakin sulit aku mendapatkannya, semakin ingin aku mengusahakannya! Sekarang cepat selidiki lagi, lebih jauh lagi tentangnya. Aku mau mendapatkan laporannya, semuanya! Besok,” sahut Samuel seraya tersenyum saat melihat Janice tersenyum dan menghibur mamanya dengan tarian yang terlihat sangat menggemaskan. Bagaimana wanita dewasa bisa terlihat menggemaskan seperti itu! keluh Samuel merasa senang melihat tingkah Janice mesti hanya dari kejauhan seperti ini. “Besok, bagaimana mung …!” kata Riki langsung mencoba meminta tambahan waktu. “Apa aku harus mencari asisten lain? Kurasa kau tidak se-sigap dulu,” sahut Samuel melirik Riki dengan tatapan kesal kemudian ia menatap ke arah teropongnya lagi sambil tersenyum lagi. Riki menghela napasnya kemudian jawabannya meski harus mengeluh dalam hati. “Besok semua berkas tentangnya akan sampai ke hadapanmu,” sahut Riki dengan cepat membereskan berkas-berkas yang sudah ditandatangani Samuel. “Bagus!” kata Samuel tanpa melepaskan tatapan elangnya sambil memandangi Janice yang sedang bercengkrama dan tertawa bersama mamanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pak Bos Gila Jadi Jodohku

read
112.2K
bc

SIMPANAN OM SAGARA

read
5.0K
bc

MAMA PACARKU BUDAK SEKSKU

read
58.1K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
12.2K
bc

GAIRAH LIAR SANG JENDRAL

read
140.3K
bc

Malam Pertama Sebelum Bercerai

read
15.6K
bc

Tetanggaku, CEO Bucin!

read
4.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook