03

1232 Words
"Kok gila sih, Mik?" Mika menghela napas mendengar komentar adik tirinya melalui ponsel. Saat ini ia sedang terbaring nyaman di atas ranjang kanopi klasik dengan kain dominan berwarna putih. Mika seperti memasuki dunia yang berbeda ketika menempati "kamarnya" ini. Ia mendadak seperti menjadi seorang putri saja. Bangunan rumah ini terbuat dari kayu dan bergaya kolonial. Namun bagian depan rumah menggunakan cat serba putih, sementara kamar yang ditempati Mika berwarna cokelat. Kamar ini sangat luas bila dibandingkan dengan kamarnya dulu di kos. Ia tidak pernah menempati kamar seluas ini seumur hidupnya. Ada lukisan klasik yang sama sekali bukan tipe Mika tergantung menghias dinding. Sampai menit ini Mika belum mendapat gambaran yang jelas maksud dari lukisan abstrak yang terpajang itu. "Yah, mau bagaimana lagi?" Mika bangkit, mengganti posisinya dengan bersandar setelah menumpuk bantal empuk ke kepala ranjang. "Aku keselo tiba-tiba." "Mau aku samperin?" Tawar Henry. "Jangan deh," Mika menolak tawaran itu. Selain ia tahu Henry yang cukup sibuk Koas, tentu akan memakan waktu mendatangi lokasi rumah ini, Mika juga beranggapan kehadiran Henry akan semakin memperparah suasana. Ia yang memiliki sebagian darah keluarga dari pihak Ayahnya saja dipandang sebelah mata. Apalagi jika ia membawa adik tirinya. "Cuma keseleo kecil kok, masih bisa berjalan sendiri," kata Mika. "Sudah ya, nanti aku telepon lagi." "Oke. Pokoknya kontakan terus ya? Aku kok merasa khawatir ya..." "Kamu mah selalu sok khawatir mau aku pergi kemana aja." "Haha, bukan begitu..." "Dah, Hen... Salamualaikum." "Waalaikumsalam." Obrolan antara Mika dan Henry berhenti tepat ketika pintu diketuk. Mika menolehkan wajah ke pintu dan pintu membuka. "Halo, Mika." Nadia berjalan lebih dulu masuk, di belakangnya Rizal mengikuti sambil menyeret koper-koper Mika. Mika menelan ludah melihat kehadiran mereka berdua, ia berniat bangkit namun Nadia segera menahannya yang berniat turun dari ranjang. "Nggak usah, Mika..." Kata Nadia. "Kaki kamu keseleo, nggak usah banyak gerak dulu." Rizal menyeret semua koper milik Mika, menaruhnya dengan rapi di sebelah lemari kayu besar. Rizal mengangguk sopan sebelum menghilang dari balik pintu kamar. Sementara Nadia duduk di samping ranjang, memandang Mika dengan ekspresi sedih. "Malang sekali," kata Nadia. "Sebenarnya ini salahku. Aku kira kamu akan datang setelah makan siang. Aku tadi menyuruh Nata untuk segera menaruh patung Mas Louis di dekat taman..." Itu artinya ini semua salah wanita ini. Mika membatin. Jelas-jelas dia bilang akan datang sebelum makan siang. Mika mengakui jika ia merasakan ketidaksukaannya terhadap Nadia. Entah kenapa. "Tante Lenka sedang ada di mana?" Tanya Mika. Ia masih lebih suka pada wanita yang menemuinya waktu itu. "Oh, Mbak Lenka sedang ada di kantor." Jelas Nadia. "Di rumah aja kok. Ngantor daring karena masih pandemi." Ia menambahkan. Mika mengangguk mengerti. Lalu hening yang canggung menyela di antara mereka berdua. "Hmm, kalau begitu kamu istirahat aja dulu ya?" Kata Nadia. Sebelah tangannya terangkat kemudian menyeka rambut panjang Mika ke telinga. Mika menahan diri untuk tidak terkejut. "Aku di dapur, membantu para koki untuk menyiapkan makan siang. Kalau kamu perlu aku, tinggal gunakan telepon rumah, pilih angka nomor tiga untuk dapur." Mika mengangguk. Ia semakin tidak sabar menunggu hingga Nadia pergi dari kamarnya. Nadia pun beranjak berdiri, melambai sambil tersenyum. Kemudian wanita itu menghilang dari balik pintu kamar yang menutup. Seketika Mika menghela napas lega. Keberadaan Nadia membuat dirinya terasa tercekat. Aneh sekali. Keberadaan Nadia membuatnya tidak nyaman. Ia mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan pada Lenka. Mika : Tante, saya sudah datang. Maaf terlambat memberitahu. Tak berapa lama Lenka menghubunginya. "Wah, kenapa baru kasih tahu?" Terdengar suara Lenka. "Aku masih ngantor daring. Sudah diantarkan Nadia ke kamar kan?" "Iya, sudah di kamar, Tan." Jawab Mika. "Siapa yang menjemput kamu di depan tadi?" "Tidak ada, Tan." "Hah? Maksudnya?" "Saya tadi kan menghubungi Tante, tapi Tante lagi sibuk." Mika mulai menjelaskan. "Pintu gerbangnya dikunci, tapi saya masuk melalui pintu kecil di sebelah gerbang. Lalu berjalan masuk ke sini. Terus saya perlu beberapa kali untuk mengetuk pintu rumah." "Loh? Nadia kok tidak menyambut kamu?" Tanya Lenka semakin heran. "Kan aku sudah bilang kamu akan datang sebelum makan siang! Hah, dasar! Cewek bodoh!" Mika terkesiap mendengar makian Lenka. Sepetinya Lenka juga tidak menyukai istri muda kakak sulungnya itu. "Kamu sudah sarapan sebelum ke sini?" Seketika Mika terdiam karena Lenka sepertinya mengetahui keadaannya dengan lebih baik daripada Nadia yang hanya memandangnya dengan sorot melankolis tidak berguna. "Eum, belum sih..." Kata Mika. "Karena saya berpikir untuk sampai di sini tepat waktu... Makanya saya agak terburu-buru..." "Ya ampun..." Keluh Lenka di seberang sana. "Aku mendadak harus rapat secara daring karena ada masalah di kantor pagi ini. Aku sudah menitipkan pesan pada Nadia untuk menjemput kamu. Aku sudah memperkirakan kamu akan datang sekitar pukul sepuluh. Tapi cewek itu memang bodoh rupanya." Mika mengurungkan niatnya untuk memberitahu Lenka jika Nadia jelas-jelas mengira ia akan hadir setelah makan siang. Jika ia memberitahukan hal tersebut mungkin Lenka akan semakin bertambah marah. "Aku akan telepon Nata untuk mengantarkan camilan pengganjal perut ke kamar kamu." Kata Lenka kemudian. "Tunggu saja ya." Lalu komunikasi itu pun berakhir. Nama Nata yang baru saja Mika dengar membuatnya kikuk. Kenapa Lenka malah menyuruh Nata? Apakah hanya Nata satu-satunya petugas rumah di sini? Sekitar lima belas menit berlalu akhirnya pintu diketuk. Pintu membuka dan pria tampan itu melongokkan wajah dari daun pintu. "Siang..." Sapa Nata yang kemudian masuk sambil membawa nampan, ia tersenyum ramah bagaikan robot yang sudah diprogram untuk dapat selalu tersenyum walau apa pun yang terjadi. Melupakan kejadian ketika ayahnya memanggilnya dengan berang serta menyeretnya dengan kasar. "Rizal nggak akan memukul wajah tampan anaknya." Seketika ia teringat dengan kata-kata Fleur. Apakah Rizal benar-benar memukuli Nata? "Halo, maaf mengganggu," sapa Nata. Mika mengangguk dan gagal mengeluarkan sepatah kata pun. Nata berjalan memasuki kamar, ia meletakkan nampan di atas nakas sebelah ranjang. Ia lalu berdiri sambil memandang Mika. Pemuda itu tampak terlihat baik-baik saja. Mungkin Fleur terlalu berlebihan menyebut Rizal akan memukulnya. "Saya... benar-benar minta maaf." Kata Nata. "Saya seharusnya menunggu Anda di depan gerbang." Sebelumnya Mika sudah yakin semua penyebab dari kesialannya hari ini adalah oleh karena Nata. Tapi sekarang ia sudah tahu jika penyebab sebenarnya adalah dari Nadia yang sangat ingin patung Louis Angkasa segera didirikan. "Nggak... Nggak apa-apa," Mika tidak berhasil memandang ke arah Nata. "Apa patungnya sudah didirikan?" Tanyanya, tidak dapat menahan nada sinisnya. Nata mengangguk. "Patung sudah didirikan dengan sempurna. Apakah Anda ingin melihatnya?" "Tidak," jawab Mika segera, ia tidak tertarik tentang persoalan sebuah patung. Nata mengangguk mengerti. "Anda... benar-benar mirip dengan mendiang Pak Louis." Mika cukup kaget karena Nata masih berdiri di samping ranjangnya, dan kini malah mengajaknya berbicara. Seorang pengurus rumah bersikap begitu sangat akrab. Ini agak aneh menurut Mika. Atau ini disebabkan karena usia mereka yang mungkin berdekatan. Mika mencoba menebak usia Nata. Nata bisa sebaya dengannya atau bahkan lebih muda darinya. "Maafkan saya, tapi sangat aneh melihat putri mendiang Pak Louis. Rasanya segala hal ini tidak nyata." "Apanya yang tidak nyata?" Tanya Mika, ia tidak berhasil menekan nada sinis dari suaranya. "Aku jelas-jelas hidup kok." Nata terdiam memandang Mika, ia pasti menyadari nada suara Mika yang merasa tersinggung karena dianggap tidak nyata. "Anda pasti lelah," ucap Nata akhirnya, kembali tersenyum tanpa beban seperti sebelumnya. "Beristirahatlah, Nona." Ia pun berbalik pergi meninggalkan kamar Mika. Mika menghela napas lega dengan kepergian Nata. Ia berharap bisa berdiri lalu mengunci kamarnya. Dia tidak ingin bertemu dengan orang asing lagi. Dan tentu saja ia merasa sangat lapar. Untunglah Lenka sangat pengertian terhadapnya. Ia segera mengambil roti dan minuman yang diantarkan Nata. Ini memang seperti mimpi, Mika membatin di dalam hati. Keberadaannya di rumah ini memang bagaikan mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD