Bab 8

1694 Words
“Mbak Melo!” Tiara dengan semangatnya menghampiri Melodi yang tengah santai sebelum berangkat ke lokasi syuting. “Enggak pakek teriak heboh juga aku denger Ra. Kenapa?” tanya Melodi.   “Yang waktu itu udah tayang loh Mbak di tv,” ucap Tiara.   “Itukan tayangnya dari kemarin kali.” Melodi ingat betul bahwa tayangan di infotainment waktu itu sudah tayang, bahkan Melodi sudah menonton semuanya dan tidak ada yang bermasalah dari narasi videonya.   “Bukan itu, ini iklan Mbak Melo sama Pak Arwin itu loh.” Tiara memperlihatkan layar ponselnya yang berisikan putaran iklan yang dibintangi Melodi dan Arwin. Jika kemarin Melodi hanya melihat fotonya saja sekarang video iklannyapun sudah ada bahkan sudah mulai muncul di tv.   “Oh bagus dong.”   “Sumpah Mbak Melo cantik banget di sini.” Menurut Tiara, Melodi memang selalu cantik namun untuk iklan kali ini aura Melodi terlihat sangat berbeda.   Melodi mengibaskan rambutnya ke belakang. “Aku memang cantik,” ucapnya dengan bangga.   “Mbak Melo emang enggak ada tandingannya. Apalagi ni ya, di sini Pak Arwin ganteng pakek banget,” ucap Tiara sambil mengelus layar ponselnya. “Sepuluh jam mantengin iklan inipun aku siap,” sambung Tiara.   Melodi seketika bergidik ngeri melihat tingkat Tiara yang sudah seperti fan girl yang begitu obsesi pada idolanya.   “Ra?” Melodi memanggil Tiara yang membuat Tiara mengalihkan pandangannya ke Melodi.   “Kenapa Mbak Melo?”   “Kamu pilih iklan itu atau aku?” Melodi tersenyum penuh maksud.   Saat itu juga Tiara mematikan ponselnya. “Tentu saja the one and only one, Mbak Melo.”   Melodi tersenyum puas mendengarnya. “Ya udah, sana beres-beres, aku mau berangkat nih.”   “Siap Mbak.” Tiara berbalik dan melangkah meninggalkan Melodi, namun baru beberapa langkah Tiara kembali berbalik dan berucap, “Oh ya Mbak, nanti kalau mau ketemu Pak Arwin lagi, kasih tahu ya biar aku bisa dandan yang bener.”   “Ya Tuhan, Tiara, masih aja mikirin cowok!” teriak Melodi kesal yang dibalas tawa Tiara.   Melodi menghela napas, dia mengambil gelas s**u miliknya kemudian menenggaknya sampai habis. Melodi kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Tidak bisa dipungkiri bahwa Melodi jadi penasaran melihat iklan dari Tremart yang dibintanginya itu.   Adegan demi adegan terlihat dengan begitu naturalnya padahal saat itu Melodi sangat kesal dengan Arwin tapi iklan yang sekarang ditontonnya bahkan terlihat sangat bagus dibanding yang dia pikirkan. Jika saja Arwin bukan tipe lelaki yang menyebalkan, Melodi yakin dia memang kandidat yang pas untuk Putri, tapi sayangnya tidak.   Bunyi jepretan kamera membuat Melodi mendongak dan mendaapati Putri tersenyum puas dengan apa yang baru saja sudah dia lakukan.   “Gini dong pagi-pagi udah senyum,” ucap Putri.   “Ah, Mbak Putri! hapus enggak?!” Melodi mencoba merain ponsel Putri namun Putri dengan sigap memasukkan ponselnya itu ke dalam tasnya.   “Cantik kok, liat aja sana aku udah post.”   Melodi cemberut, dia mengerucutkan bibirnya kesal, tanpa berpikir panjang Melodi membuka media sosialnya dan melihat postingan Putri yang terbaru dan beruntungnya dia tidak terlihat aneh di foto itu. Posenya yang tersenyum memandangi ponsel itu sukses membuat netizen bertanya. Hanya dalam hitungan detik tapi komentar sudah mulai berdatangan.   Rubybe Wah Melodi senyum-senyum, chatingan sama Gibran ya?   ArtyS Pasti lagi bales chat Mas Ibrahim, emang penganting baru ^_^   “Sepertinya sinetron pertama kamu kali ini berkesan banget buat orang-orang,” celetuk Putri saat melihat komentar netizen yang tak jarang menyangkut pautkan dengan.   “Aku sendiri enggak nyangka bakalan mendapat sambutan sepositif ini padahal Mbak sendiri tahu orang Indonesia udah terbiasa nonton sinetron yang bersambung setiap harinya.”   Putri mengangguk setuju dengan ucapan Melodi. “Ini awal yang bagus, sekarang sudah banyak tawaran film yang masuk, nanti Mbak kirim naskahnya dan nanti kamu kasih tahu Mbak naskah yang mana yang kamu pilih.”   “Jadi Mbak nggak ikut ke lokasi?”   “Nanti Mbak datengnya pas acara makan, yang baik-baik di lokasi.”   Dari belakang Melodi, Tiara datang dengan tas perlengkapan Melodi. “Tenang aja Mbak Put, Tiara bakal jagain Mbak Melo,” ucap Tiara dengan semangatnya.   “Ya udah, Mbak pergi dulu. Jaga Melodi ya Tiara.”   “Hati-hati Mbak.” Melodi memandangi kepergian Putri. Sepeninggal Putri, Melodi akhirnya membantu Tiara membereskan keperluan syutingnya dan segera berangkat ke lokasi syuting untuk melakukan syuting terakhir mereka.   Sesampainya di lokasi syuting Melodi mendapati kru-kru sudah sibuk dengan kegiatan mereka karena sebentar lagi proses syuting sudah mulai dilakukan. Sambil berjalan menuju ke ruang ganti, Melodi memperhatikan sekelilingnya dengan lebih intens. Tempat syuting ini akan menjadi salah satu tempat yang tidak pernah akan Melodi lupakan karena dari sini namanya mulai dikenal dengan luas.     Melodi menghela napas, dia mendadak melankolis karena ini hari terakhir syuting untuk sinetron pertamanya ini. Di ruang make up Melodi disambut pemain lainnya.   “Pagi semua,” sapa Melodi begitu tiba di ruang make up.   Rianti yang duduk tepat di samping Melodi mengubah posisi duduknya jadi menghadap Melodi. “Enggak kerasa ya sekarang terakhir kita syuting, aku bakalan kangen kamu deh Mel,” ucap Rianti membuka pembicaraan.   “Tapi kita masih ketemu untuk beberapa saat karena mesti meet and greet dan ikut variety show bareng.” Melodi mengingatkan karena seingatnya mereka memiliki jadwal yang sama.   “Tapi tetap aja, yang bikin kangen tu suasana di lokasi syuting.”   “Ya, aku juga bakalan kangen juga sih,” ucap Melodi jujur. Untuk syuting di sinetron pertamanya ini, hal ini benar-benar berkesan bagi Melodi, sama berkesannya dengan film pertamanya walau mendapat peran yang biasa saja, dan Melodi cukup berat hati untuk mengakhiri syutingnya kali ini. Tapi, jika ini semua tidak berakhir sekarang, Melodi juga tidak suka karena apa bedanya dia dengan artis yang lainnya yang mementingkan uang bukan kualitas karya yang dihasilkannya.   “Semoga kita bisa ketemu di sinetron atau film yang lainnya ya.” Rianti berucap dengan penuh harap.   “Semoga aja,” balas Melodi.   “Rianti, Melodi itu nggak akan ngambil sinetron yang episodenya panjang, jadi mending kamu ikut casting film layar lebar, siapa tahu ketemu Melodi.” Alice datang tepat dari ruang ganti dan langsung duduk di meja riasnya. “Ya nggak Melodi?” tanyanya dengan senyum manis yang mengembang.   Senyum manis Alice tidak berpengaruh karena ucapan menusuk yang dia lontarkan pada Melodi tadi. Dengan wajah sedihnya Melodi menjawab ucapan Alice. “Bukankah kamu juga pasti akan memilih film layar lebar juga jika mendapat kesempatan menjadi pemeran utama? Tapi Rianti juga pasti mendapatkannya karena akting Rianti sangat bagus.”   Rianti sadar akan situasi yang mendadak menjadi mencekam. “Kita pasti bersinar saat waktunya tiba, aku percaya itu.”   Alice tertawa mendengar ucapan Rianti, menurutnya Rianti terlalu naif untuk seorang yang terjun ke dunia hiburan. “Sebelum bersinar kamu lebih dahulu dimakan nebula.”   “Pikiran negatifmu itu yang bikin kamu enggak pernah berkembang,” balas Melodi kesal.   “Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas itu fakta.” Alice bangun dari duduknya kemudian pergi dari ruang ganti itu.   “Aduh, aku sampai nahan napas liat Mbak Melo berantem.” Tiara yang ada di sana hanya bisa mengelus dadanya.   “Enggak berantem, cuman adu mulut,” jawab Melodi sambil tertawa.   “Maklumin ya Mel, mungkin Alice lagi datang bulan.” Rianti baru beberapa kali melihat Alice yang ketus ke Melodi yang akhirnya membuat Rianti berpikir kalau Alice seperti itu karena Alice tengah datang bulan.   “Udah biasa kok, ya udah aku mau ganti baju dulu.” Melodi beranjak dari tempatnya dan pergi menuju ke ruang ganti.   Syuting hari terakhir Melodi berjalan dengan lebih serius dari sebelum-sebelumnya. Walau beradu akting dengan orang yang tidak disukainya, hal itu tidak membuat Melodi menurunkan kualitas aktingnya, dia bersikap se-profesional mungkin agar di episode terakhir yang dia mainkan ini tidak akan mengecewakan penonton yang sudah mau menunggu sinetron mereka tayang.   Scene episode terakhir yang sekarang tengah disyutingkan rata-rata adalah adegan bahagia yang membuat Melodi tidak perlu repot-repot harus menangis seperti beberapa hari yang lalu. Senyum dan tawa Melodi lepas dengan naturalnya karena dia benar-benar menikmati hari terakhir syutingnya.   “Terima kasih atas kerja keras semuanya!” teriak sang Sutradara dengan kerasnya.   Tepuk tangan meriah langsung menyambut ucapan sutradara tadi, tanpa terkecuali Melodi yang sangat bersemangat padahal seharian dia sudah mengerahkan tenaganya untuk syuting.   “Semoga kita bisa bekerja sama di kesempatan yang lain,” ucap Gibran di samping Melodi.   Melodi menoleh dan mengangguk mengiyakan ucapan Gibran. Keinginan baik seseorang tidak bisa ditolak bukan karena tidak menutup kemungkinan Melodi akan disandingkan lagi dengan Gibran.   “Ayo semuanya baris yang rapi!” seruan itu terdengar menngintrupsi membuat Melodi tersentak dan pemain-pemain yang lain mulai mengambil barisan karena mereka semua akan mengambil foto bersama.   “Sini, pemain utama di tengah!”   Gibran berjalan dengan santainya sambil menarik tangan Melodi menuju bagian barisan mereka. Sesi foto dilakukan beberapa kali, dari para pemain saja hingga kru-kru ikut di dalam foto itu.   Seperti janji Sang Sutradara waktu itu, semua pemain dan kru-kru diajak untuk merayakannya dengan makan malam yang dilakukan di lokasi karena mengingat kru-kru tidak bisa langsung pergi meninggalkan lokasi syuting jika alat-alat tidak dibersihkan lebih dahulu. Sebagai ganti makan malam perpisahan yang dilakukan di lokasi, sutradara mendatangkan chef dari hotel yang sudah dijanjikannya untuk menyajikan makanan untuk mereka semua.   “Besok akhirnya aku bisa tidur seharian.” Melodi mendesah senang karena membayangkan dirinya bisa istirahat sehari sebelum melakukan syuting variaty show dan menghadiri meet and greet yang diadakan di akhir pekan nanti.   “Syuting sinetron berat ya,” tanya Gibran.   Melodi mengangguk setuju. “Waktunya cukup lama juga tapi ini masih mending sih dibandingkan syuting sinetron yang bahkan sampai ribuan episode, pasti lebih capek lagi.”   “Enggak ada waktu santai, semuanya serba cepet,” jelas Gibran karena dia sudah sering merasakan syuting hingga ratusan episode.   “Melodi, Gibran liat sini!” Rianti tiba-tiba berseru dan memberi tanda agar Melodi dan Gibran melihat ke arah kamera ponsel. Melodi melambaikan tangannya begitupula dengan Gibran. Kamera ponsel Rianti kemudian berpindah ke pemain lainnya.   “Melodi, aegyo dong,” pinta Rianti.   Saat itu juga bibir Melodi terbuka, dia menatap Rianti tak percaya.   “Boleh tu, Oppa jadi penasaran nih liat Melodi aegyo.”   Ucapan Gibran tambah membuat Melodi ternganga. “Ah, Gibran jangan nyebut Oppa gitu, geli.” Melodi memukul bahu Gibran.   “Orangtua iyain aja Mel,” balas Rianti yang membuat yang lainnya tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD