Bab 9

1631 Words
Putri berdiri tepat di depan pintu mobil Melodi yang terbuka. Dia menyodorkan naskah yang sudah dijanjikannya pada Melodi. “Bacanya besok aja, sekarang kamu banyak-banyak istirahat.” Melodi mengangguk patuh.   “Langsung bawa Melodi pulang ya Ra,” pesan Putri.   “Siap Mbak Put, aman mah kalau sama aku.”   “Mbak juga langsung pulang,” ucap Melodi dengan jahilnya.   “Iya-iya, sudah sana pulang.” Putri menutup pintu mobil Melodi.   Mobil Melodi yang dikendarai Tiara akhirnya pergi meninggalkan Putri.   “Mbak Melo mau dibuatin apa ni? Jangan sampai Mbak Melo kekurangan makan besok,” tanya Tiara di perjalanan pulang mereka.   Melodi yang sibuk dengan ponselnya sedikit melirik tajam ke arah Tiara karena mendengar kata makan membuat Melodi merasa tambah kenyang. “Aku baru selesai makan Ra.”   “Buat besok, besok pagi-pagi akukan juga mau pulang ke rumah.”   “Kita libur sehari loh.” Melodi mengingatkan.   “Ya karena itu, kita mesti memanfaatkan waktu libur.”   “Ya udah terserah kamu aja,” jawab Melodi akhirnya.   Melodi baru saja memasukkan beberapa foto yang diambilnya di lokasi syuting tadi. Banyak pesan masuk di media sosialnya dan semuanya menyelamatkannya atas syuting yang baru saja selesai dilakukannya. Mendapat banyak cinta seperti ini membuat Melodi tidak henti-hentinya tersenyum.   “Mbak mau tau gosip baru lagi enggak?”   “Gosip apalagi?” tanya Melodi. Apa ada sesuatu yang Alice lakukan lagi kah yang Melodi tidak ketahui? Tapi yang jelas Melodi tidak mengalami kesulitan selama proses syuting tadi.   “Ternyata ya, Pak Arwin itu katanya mantan pacar Cleo, si model yang sekarang lagi di Paris.”   “Patah hati ni ceritanya?” olok Melodi.   “Ya enggak sih, tapi Mbak Melo sendiri gimana?”   Melodi mematikan ponselnya, dia menatap Tiara yang menatapnya dari kaca spion. “Ku doain semoga mereka balikan lagi.”   “Tapi kalau dia suka sama Mbak gimana?”   “Aduh, Tiara itu mulu deh, udah jangan ganggu lagi, aku mau tidur.” Melodi langsung menutup matanya saat itu juga. Karena beraktivitas seharian, Melodi langsung bisa tertidur dengan lelapnya di perjalanan pulangnya.   “Jadi gimana?”   Suara yang terdengar itu membuat Melodi membuka matanya dan menoleh ke sampingnya dan mendapati Arwin menatapnya lekat.   “Ah, apa?” Melodi dengan refleks mengatakan itu karena dia bingung kenapa Arwin tiba-tiba menanyakan hal itu padanya. Yang membuat Melodi bingung juga, kenapa bisa ada Arwin di dalam mobilnya dan duduk tepat di sampingnya.   “I love you.”   “Ah?!” Melodi ternganga menatap Arwin.   “I love you.” Arwin kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuh Melodi membuat Melodi sontak memundurkan tubuhnya. Semakin Melodi memundurkan tubuhnya, Arwin semakin mendekat hingga akhirnya Melodi tidak bisa memundurkan tubuhnya lagi karena terdapat pintu mobil di belakangnya.   Melodi meneguk ludahnya. Saat kepala Arwin ingin menghilangkan jarak di antara mereka, Melodi seketika berteriak dengan kencang, “Menjauh!”    Guncangan hebat Melodi dapatkan yang membuat Melodi tersentak kaget dan menatap sekelilingnya dengan horor. Dia masih ada di mobilnya dengan Tiara yang menatapnya dengan pandangan bingung.   “Mbak Melo mimpi buruk?” tanya Tiara.   Seketika Melodi sadar bahwa tadi dia tanpa sadar benar-benar tertidur di perjalanan pulang. Pantas saja dia merasa aneh dengan kehadiran Arwin di mobilnya, ternyata itu semua cuman mimpi. Kenyataan itu membuat Melodi menghela napas lega. Dia senang dengan kenyataan bahwa apa yang dialaminya tadi hanya mimpi.   “Buruk banget,” gumam Melodi. Dia masih bisa merasakan bagaimana Arwin berada sedekat itu dengannya. Membayangkan dirinya mendapatkan pengakuan cinta seperti itu tidak pernah terbayang oleh Melodi.   Mengingat kalimat pengakuan cinta, Melodi tiba-tiba melotot ke arah Tiara. “Ini semua gara-gara kamu ya!” seru Melodi kesal. Melodi sangat yakin kalau mimpi yang baru saja dialaminya itu karena Tiara. Tiara yang membicarakan Arwin membuatnya jadi memimpikan Arwin.   “Lha, salah aku apa?” Tiara yang tentu saja tidak tahu mimpi Melodi hanya bisa memandang Melodi bingung.   “Pikir aja sendiri.” Melodi kemudian keluar dari dalam mobilnya karena ternyata mereka sudah sampai di rumahnya.   * * *   Melodi membuka matanya perlahan. Dia menatap jam waker yang ada di nakas dan sadar bahwa dia sudah tidur cukup lama karena sekarang sudah pukul 10 pagi. Tadi pagi-pagi sekali Tiara membangunkannya dan berpamitan untuk pulang, setelah itu Melodi kembali tidur dan baru bangun sekarang.   Rasa lapar membuat Melodi akhirnya keluar dari balik selimutnya. Barang pertama yang tidak boleh ketinggalan Melodi bawa ke dapur adalah ponselnya. Baru akan keluar dari kamarnya Melodi ingat bahwa tadi malam Putri memberikannya naskah film yang harus dibacanya. Melodi mengambil naskah itu kemudian keluar dari kamarnya.   Suara langkah kaki Melodi yang menuruni anak tangga terdengar dengan jelas. Rumah yang sering sepi seperti ini sudah sangat biasa bagi Melodi setelah kepindahan keluarganya ke Korea. Melodi lupa jika dia belum memberi kabar ke orangtuanya akan syuting filmnya yang sudah selesai, sayangnya ini masih jam kerja yang membuat ayah, ibu dan juga adiknya pasti masih melakukan aktivitas mereka masing-masing.   Memasuki dapur, langkah kaki Melodi terhenti karena melihat buket bunga besar yang ada di meja makan. Sudah bisa dipastikan pelaku yang membawa bunga ke dapur adalah Tiara. Melewati meja makan barulah Melodi bisa mencium aroma bunga yang terasa lembut dan menyegarkan.   Melodi memundurkan langkahnya, dia menaruh ponsel dan juga naskah yang di pegangnya di atas meja makan. Aroma yang dikeluarkan buket bunga yang ada di atas meja makannya ini benar-benar sukses menarik perhatian Melodi. Melodi mengambil buket bunga itu yang ternyata merupakan buket bunga aster.   Aroma manis dan menyegarkan itu ternyata memang berasal dari buket bunga aster yang berada di dalam genggaman Melodi. Melodi yang tahu bagaimana aroma bunga aster yang asli akhirnya sadar jika aroma yang dikeluarkan bunga aster yang dipegangnya ternyata bukan aroma dari bunga aster yang asli, awalnya Melodi kira ada aroma bunga yang baru tapi ternyata tidak seperti yang dia bayangkan.   Walau aroma yang dikeluarkan oleh buket bunga aster bukan aroma yang sesungguhnya, Melodi cukup senang menerimanya. Melodi mengembalikan buket bunga aster itu ke atas meja dan dia baru sadar jika di atas meja makannya terdapat surat yang menemani buket bunga itu. Perut yang sudah minta diisi membuat Melodi menunda membaca surat si pemberi buket bunga aster.   Selesai sarapan Melodi membawa semua barangnya yang dia tinggalkan di atas meja makan menuju ruang keluarganya. Melodi berniat menghabiskan waktunya di ruang keluarga rumahnya karena itu merupakan salah satu tempat ternyaman di rumahnya ini.   Sambil merebahkan dirinya di atas sofa Melodi mengambil surat yang datang bersama buket bunga aster. “Bahkan aroma suratnya sama seperti aroma bunga yang diberikannya.”   “Lembut dan menyegarkan, pasti orangnya memiliki keperibadian yang lembut dan menyenangkan,” gumam Melodi. Perlahan Melodi membuka surat itu dan saat matanya menemukan nama pengirim bunga itu, Melodi memastikannya lagi dan lagi bahwa dia tidak salah baca.   “Kutarik ucapanku yang tadi.” Melodi membuang surat itu sambil tertawa, mengejek dirinya sendiri yang ternyata salah menebak.   Siapa yang akan menyangka kalau bunga cantik yang beraroma lembut dan menyegarkan itu dikirim oleh Arwin Adhyastha. Seorang CEO dengan gayanya yang sangar dan garang.   Tawa Melodi mendadak terhenti. Dia kembali mengambil surat yang dia buang ke atas mejanya. Melodi kembali membaca sungguh-sungguh surat yang diberikan untuknya. Setelah membaca ulang, barulah Melodi sadar jika buket bunga yang diberikannya diberikan karena dia adalah brand ambassador dari Tremart.   “Ini semua emang salah Tiara,” ucap Melodi lemas karena pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. Sepertinya Melodi harus memperingatkan Tiara agar tidak menjodoh-jodohkannya dengan lawan main atau teman bisnisnya agar tidak terjadi hal seperti ini. Ucapan yang dilontarkan Tiara jelas berbeda dari penggemarnya sehingga Melodi bisa sampai seperti ini.   Melodi mengambil ponselnya kemudian memotret bunga pemberian Arwin atau lebih tepatnya perusahaan Tremart. Melodi mengunggah foto buket bunga itu yang tak lupa dia menandai perusahaan Tremart. Kewajibannya sudah selesai, sekarang Melodi akan fokus menilai naskah mana yang menarik perhatiannya.   Satu persatu naskah Melodi baca. Naskah yang diberikan padanya ini memiliki cerita yang bagus-bagus dan Melodi diharapkan untuk mau terlibat dalam proyek itu. Tapi tidak mungkin bagi Melodi mengambil semuanya dalam waktu yang bersamaan. Dari siang hingga menjelang malam Melodi akhirnya selesai membaca semua naskahnya. Matanya bahkan sampai bengkak karena Melodi menangis membaca satu naskah yang benar-benar menarik perhatiannya.   Bunyi ponselnya yang nyaring mengintrupsi Melodi yang tengah mengusap matanya yang berair. Panggilan video dari ibunya membuat Melodi seketika tersenyum lebar. Tadi siang Melodi sempat mengirimkan ibunya pesan jika dia ingin melakukan panggilan video bersama ayah dan juga adiknya dan sekaranglah waktunya.   Benar saja, saat Melodi menerima panggilan video itu, suara heboh dari ayah dan adiknya menyambutnya. “Astaga, Melodi, kamu menangis?” suara ayahnya terdengar penuh kekhawatiran.   “Sedih karena pisah sama lawan mainnya lah tu.” Eunjin adik Melodi mengerling nakal.   “Jangan menggoda Kakakmu seperti itu,” tegur Aqila mengingatkan Eunjin.   “Benerkah itu sayang?” tanya Daeshim yang termakan ucapan Eunjin.   “Ah, Appa, nggaklah.” Melodi memperlihatkan naskah yang dibacanya. “Aku tadi  habis baca naskah,” jelasnya karena tidak ingin ada kesalah pahaman.   Aqila melirik ke arah suaminya Daeshim. “Tuh dengerin, jangan ikutan terbawa suasana karena peran anak kita.”   “Dia jadi artis di Indonesia, bukan Korea, pacaran itu hal biasa,” ucap Daeshim.   “Jadi kamu mendukung anakmu berpacaran dengan pria itu?” Aqila bertanya.   Melodi dan Eunjin yang melihat perdebatan ayah dan ibunya hanya bisa menghela napas.   “Mereka masih sering seperti itu ya?” tanya Melodi yang dijawab anggukan Eunjin.   “Makin tua makin jadi!” seru Eunjin yang membuat adu mulut Aqila dan Daeshim terhenti.   “Gara-gara kamu ni kita jadi melupakan Melodi.” Aqila menuduh Daeshim yang tidak ingin kalah darinya.   “Ini semua gara-gara Eommamu,kan?” Deashim mencari pembela dari Melodi namun Melodi hanya mengendikkan bahunya tidak ingin ikut campur. Melodi tidak bisa menahan tawanya melihat ayah dan ibunya seperti ini. Walau sering berselisih paham seperti ini, mereka berdua tetap saling mencintai. Buktinya mereka bisa terus bersama sampai sekarang bukan? Melodi berharap dia juga bisa sehidup semati dengan pasangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD