Bab 10

1664 Words
“Kenapa?” tanya Melodi yang memperhatikan Alice yang tampak terlihat kebingungan. Melodi tidak bisa begitu saja tidak peduli walau dia tidak suka dengan sikap Alice. “Sana keluar aja jangan tungguin aku.” “Oh, ya udah, ini juga aku mau keluar kok.” Melodi bengun dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkan Alice yang masih berada di ruang make up. Melodi menghampiri Gibran dan Rianti yang mengikuti meet and greet yang diadakan di sebuah mall. “Alice mana?” tanya Gibran. “Masih di sana, katanya nyuruh duluan aja.”  “Padahal bentar lagi kita mesti naik ke panggung. Aku cari Alice dulu ya.” Gibran akhirnya pergi menjemput Alice yang tak kunjung keluar.  Melodi melirik ke sampingnya di mana Rianti duduk dengan tegap. “Kenapa?” tanya Melodi.  “Aku gugup,” aku Rianti. Rianti mengambil tangan Melodi kemudian menggenggamnya dengan erat. “Aku takut enggak bisa ngontrol diri di panggung.”  “Ak…”  “Bayangin kalu aku malah bikin malu di atas panggung,” seru Rianti. “Aaahh, aku takut, Mel,” rengek Rianti.  Kata-kata Rianti malah membuat Melodi juga mendadak merasa ikutan gugup. Dia dari awal memang sudah gugup membayangkan dia akan melakukan meet and greet seperti ini, di mana sekarang dia adalah pemeran utamanya di sini, kesulitan untuk pasti lebih besar juga.  Melodi balas menggenggam tangan Rianti dengan erat. “Kamu bikin aku gugup juga sekarang.” Sebelah tangannya yang bebas digunakan Melodi untuk mengipasi wajahnya yang terasa memanas.  Air mineral tersodor tepat di depan Melodi dan Ranti. “Minum dulu biar enggak gugup,” ucap Gibran. Gibran merasa beruntung karena dia membawa air mineral di saat yang tepat.  Rianti mengambil air mineral itu terlebih dahulu dari tangan Gibran, setelah itu Gibranpun refleks menarik tangannya yang masih memegang air mineral untuk Melodi. Gibran menariknya tepat saat Melodi akan mengambil air mineral itu.  “Aku bukain.”  “Kukira airnya enggak niat dikasih.” Melodi hampir saja ingin pergi dari tempat ini karena malu.  “Yang dibukain Melodi aja, aku juga dong.” Rianti menggoyangkan minumannya yang belum dia buka karena ternyata tutup botol air mineral yang Gibran kasih terlalu kuat.  “Iya, pasti.” Gibran baru akan mengambil botol air mineral Rianti, sayangnya Alice lebih dahulu mengambilnya.  Botol air mineral yang Rianti pegang mendadak di ambil Alice. “Gini aja enggak bisa.” Alice mencoba membuka botol air mineral milik Rianti, dia tampak sedikit kesusahan namun tutup botol itu akhirnya berhasil dia buka.  “Perempuan itu jangan lemah.” Alice dengan bangganya memberikan botol air mineral itu.  “Makasi Lice, paling tangguh emang,” puji Rianti.  Melodi yang melihat itu hanya diam saja sambil menikmati air minumnya. Tatapan mata Alice yang mengarah kearahnya tadi tidak dia perdulikan karena Melodi sama sekali tidak merasa tersinggung karena ucapan Alice. Nyatanya bukan Melodi yang memaksa Gibran membukakan tutup air mineral itu, tapi Gibran sendiri yang inisiatip melakukannya.  Mereka akhirnya di briefing oleh staf penyelenggara meet and greet. Suara pembawa acara yang sudah ada di atas panggung terdengar sangat bersemangat. Tiba saatnya akhirnya mereka dipersilahkan untuk naik ke atas panggung.  Riuh penonton tak bisa terbendung lagi saat mereka berempat naik ke atas panggung. Ini bisa dikatakan pengalaman pertamanya Melodi benar-benar mendapatkan sorotan. Sorak-sorai namanya yang disebut membuat Melodi ingin menangis mendengarnya. Ini baru permulaan dari karirnya dan Melodi akan berusaha lebih keras lagi agar bisa terus memberikan yang terbaik.  “Gibran! Melodi!”  “Gibran! Melodi! Gibran! Melodi!”  Mereka berempat berdiri tepat di tengah-tengah panggung. Penggemar sinetron mereka ternyata memenuhi mall hingga ke lantai atas. Melodi tidak menyangka sinetronnya yang berbeda dari sinetron lain sampai mendapatkan perhatian yang seperti ini. Senyum Melodi seketika mengembang dengan lebarnya.  “Selamat siang semuanya!” sapa mereka berempat dengan serempak.  “Siang!”  “Udah siap belum buat lihat keseruan-keseruannya?” tanya Alice dengan kerasnya.  “Siap!”  “Yang bener?” sekarang giliran Rianti yang bersua dengan kerasnya karena semangat yang ditularkan oleh penggemar yang datang menghadiri meet and greet.  “Iyaaa!”  Keseruan-keseruan di meet and greet itupun berlangsung dengan meriah. Penonton yang datang rata-rata ingin melihat bagaimana kedekatan antara Melodi dan Gibran. Beberapa game berpasangan dilakukan Melodi dan Gibran yang ternyata mereka bisa melewatinya dengan sangat mudah yang membuat penonton semakin bersorak kesenangan.  “Sebelum meet and greet ini selesai, pada mau enggak sih liat Melodi aegyo?” tanya pembawa acara yang membuat penonton semakin antusias, sedangkan Melodi dia menatap pembawa acara dengan kaget.  “Ah, aku enggak bisa aegyo.” Melodi menutup wajahnya karena membayangkan dirinya harus bertingkah imut di depan banyak orang seperti ini.  “Kak Melodi, aegyo ottoke dong!” teriak satu penonton dengan kerasnya.  “Iya Kak Mel!” ucap suara yang lainnya dengan heboh.  “Ayo nih Melodi, jangan bikin fansnya kecewa dong,” ucap Alice memanasi.  “Aku menunggu loh Mel.” Gibran mengambil posisi agar bisa melihat Melodi ber-aegyo dengan jelas.  “Ayo mel, jangan malu-malu,” ucap Rianti karena dia juga sudah penasaran ingin melihat Melodi beraegyo namun tidak kesampaian karena Melodi menolak untuk melakukannya.  “Aku enggak yakin kalau ini hasilnya bakalan bagus atau enggak.” Melodi menarik napasnya dalam-dalam. Dia menatap penonton yang menatapnya dengan penuh harap, Melodi akhirnya mulai beraegyo dengan lagu ottoke.  “♫Nega neomu joh-a ottoke ottoke, nega neomu yeppeo ottoke ottoke, narang manna bollae saeng-gaghae, janmal malgo malhae johdagu-johdagu♫” Diakhir posenya, Melodi segera menutup wajahnya. Dia merasa malu karena telah melakukan aegyo karena bertingkah imut dengan dilihat oleh banyak orang seperti ini membuat Melodi malu.  “Imut dan lucu kok, ya enggak semuanya?” tanya Gibran dengan bersemangatnya.  “Iya!”  “Mau lagi enggak?” tanya Gibran yang membuat semua penonton bersorak menginginkan Melodi kembali melakukan aegyo.  Refleks Melodi menepuk bahu Gibran. “Sengaja banget, enggak mau, kamu aja yang aegyo.”  “Penontonkan maunya kamu, ya enggak penonton?!”  “Gimana kalau semuanya aja?” usul pembawa acara yang dijawab seruan setuju dari penonton.  Alice yang terlihat tidak tertarik dengan hal semacam itu ternyata melakukan aegyo dengan sangat lancarnya. Dia seakan sudah sering berlatih untuk semacam ini dan itu membuat Melodi kaget. Alice yang sering ketus padanya bisa menjadi sosok yang berbeda hanya karena aegyo.  Acara meet and greet itu akhirnya selesai dan Melodi, tapi sayangnya Melodi tidak bisa langsung pulang ke rumah begitu saja karena harus melakukan pemotretan untuk majalah.  “Borong banget ya.” Putri menatap tak percaya melihat hadiah yang begitu banyaknya diberikan untuk Melodi.  “Terima enggak terima bikin nggak enak, Mbak.” Melodi mencari posisi ternyamannya di bangku belakang mobilnya.  “Selama hadiahnya wajar mah enggak apa-apa, kalau yang udah terlalu mewah atau sebagainya, nolak wajar kok.”  “Aku belum berpikir bakalan dapet hadiah yang harganya fantastis deh Mbak, hadiah kek gini aja aku udah seneng.”  Putri mengeluarkan mobil yang dikendarainya dari parkiran. Hari ini dia yang menemani Melodi karena ternyata ibu Tiara sakit yang membuat Tiara harus merawat ibunya.  “Tetep rendah hati, yang paling penting Mel, rezeki itu paling bagus dicari pakai usaha sendiri, jangan minta ke orang apalagi cari jalan cepat buat cari uang.” Putri memberikan patuah untuk Melodi yang 6 tahun lebih muda darinya. Putri tidak ingin membuat Melodi sampai terjerumus hal yang salah karena membawa Melodi masuk ke dunia hiburan  “Mbak emang yang terbaik.” Melodi memberikan dua finger heart untuk Putri.  Untuk pemotretannya hari ini Melodi mendapatkan pemotretan dengan gaya yang santai. Pakaian dengan warna pastel yang dikenakan Melodi membuatnya terlihat seperti mahasiswa baru, padahal usia Melodi sudah 24 tahun.  Jika dulu untuk menjadi model Melodi harus berusaha dengan keras mencari tawaran, sekarang tawaran yang datang padanya. Melodi jadi lebih menghargai usaha kerasnya karena dia tidak langsung sampai di titik ini saat baru pertama kali terjun ke dunia hiburan.  “Melodi, coba sambil megang bunga ini.” Asisten fotografer memberikan Melodi sebuket bunga aster yang membuat Melodi tertegung saat menerima bunga itu.  Aroma buket bunga aster yang diberikannya membuat Melodi menyerengit. Tidakkah aroma bunga aster yang diberikannya ini tercium sama seperti bunga aster yang diberikan oleh perusahaan Tremart untuknya.  “Kenapa Mel, ada yang aneh?” tanya sang Fotografer.  “Bunga ini dibeli di mana?” Melodi memberanikan dirinya untuk bertanya. Melodi kembali memastikan penciumannya dengan mendekatkan buket bunga aster itu dan bunga aster itu memang memiliki aroma yang sama dengan buket bunga aster yang diberikan perusahaan Tremart.  “Di toko bunga di depan. Tidak suka aromanya?” tanya fotografer itu karena dia yang menyiapkan buket bunga itu.  Melodi menggeleng. “Tidak, aku suka aromanya,” kilah Melodi.  “Aku kira kamu enggak suka aromanya, soalnya toko bunga langganan mawarin bunganya di semprot karena katanya ada orang kaya ngasih parfum, jadi setiap dia beli bunga, bunganya bakalan di semprot parfum ini.”  Penjelasan itu membuat Melodi membayangkan bagaimana orang perusahaan Tremart membuat buket bunga dengan memberikan parfum mewah kepada toko bunga yang didatangi mereka. Bayangan itu membuat Melodi tak bisa menahan senyum gelinya.  Setelah beberapa kali jepretan untuk sesi terakhir, Melodi akhirnya selesai melakukan pemotretan itu.  Fotografer itu menghampiri Melodi. “Melodi, kalau suka bunganya ambil aja, bukan maksud mau ngasih sisa ya, tapi kamu keliatannya suka bunganya.”  “Santai aja Kak, makasi ya.” Melodi tidak menyangka dia sampai dikira menyukai bunga aster ini, atau Melodi tidak sadar dengan ekspresinya sendiri.  Di ruang ganti Putri mengambil alih buket bunga itu karena saking penasarannya. “Baunya enak sih, tapi aneh aja kamu mau bawa bunga pulang padahal di rumah udah banyak bunga.  “Kalau dikasih enggak boleh nolak, Mbak.” Melodi mengulang ucapan Putri yang tadi Putri katakan padanya.  “Ok, Mbak enggak nanya lagi. Sana ganti baju.” Putri mendorong Melodi masuk ke ruang ganti.  Keluar dari studio pemotretan, mata Melodi dengan liar menatap sekelilingnya. Dia mencari keberadaan toko bunga tempat perusahaan Tremart memesan bunga aster untuknya itu. Mata Melodi akhirnya terhenti pada satu titik di mana toko bunga yang  besar yang keberadaannya tidak jauh dari tempat pemotretan itu,  “Ternyata itu,” gumam Melodi dengan senyum kecilnya yang mengembang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD