Kesibukan Melodi perlahan mulai berkurang semenjak dia selesai melakukan promosi untuk sinetronnya yang masih tayang itu. Efek sinetron yang diproduksi lebih dahulu dan mementingkan syuting. Menabung episode cukup banyak lalu menjelang syuting berakhir sinetron akan ditayangkan.
Kesibukan Melodi sekarang adalah sibuk melakukan pemotretan dan beberapa kali menghadiri acara talk show. Kelanjutan naskah yang akhirnya Melodi pilih pun sudah jelas. Proses pembacaan naskah akan dilakukan pemain dalam waktu dekat. Melodi sendiri tidak tahu lawan mainnya di film terbarunya ini. Melodi harap mereka bisa bekerja sama dengan baik dan menjalin hubungan yang baik pula. Membayangkan dirinya akan kembali melakukan proses syuting membuat Melodi sudah tidak sabaran.
Di saat masih senggang seperti inilah Melodi selalu menyempatkan dirinya bersantai sebisa mungkin. Selain itu, setiap minggunya Melodi selalu menyempatkan dirinya untuk menghabisi waktunya dengan dua sahabatnya. Bisa menghabiskan waktu dengan dua sahabatnya itu membuat Melodi senang, kapan lagi dia bisa melakukan hal ini lagi karena Melodi akan sangat sibuk karena akan kembali syuting untuk film terbarunya.
Seperti sekarang, Melodi akan pergi keluar dengan dua sahabatnya lagi. Dia akan pergi mengunjungi rumah makan yang selalu mereka datangi saat zaman kuliah dulu, setelah dari sana mereka berencana berjalan-jalan kemudian karaoke bersama.
Agar bisa pergi dengan nyaman dan tanpa gangguan, Melodi tak lupa menyiapkan topi dan masker. Make up yang ditutup dengan topi dan masker tidak masalah bagi Melodi. Ini juga hanya akan digunakannya saat keluar dan berada di tempat umum saja, jika sudah sampai di tempat tujuannya saja.
Melewati ruang keluarga, Melodi mendapati Putri yang sibuk dengan urusannya. Melodi sampai lupa jika Putri ada di rumahnya dan akan pergi begitu saja tanpa berpamitan.
“Aku mau pergi sama Ian dan Salsa, Mbak.”
“Jangan pulang kemaleman,” tegur Putri yang bersantai di ruang keluarga rumah Melodi.
“Tenang aja Mbak. Oh ya, Mbak mau sampai malem di sini?” tanya Melodi.
“Emangnya kenapa?”
“Ya biar sekalian aku bawain makan pas pulangnya.”
“Mbak enggak sampai malem di sini.”
“Okeh deh Mbak, aku berangkat dulu.”
Baru saja Melodi melanjutkan langkahnya lagi namun tertahan oleh seruan Putri, “Kalau bawa mobil jangan ngebut-ngebut!”
“Aku dijemput kok, mereka udah di luar, aku berangkat dulu Mbak.”
Di luar pagar rumahnya, mobil Ian sudah terparkir. Melodi masuk ke kursi belakang di mana Salsa ada di sana.
“Sumpah, berasa sopir banget aku,” celetuk Ian.
“Emang sopir,” jawab Melodi dan Salsa secara bersamaan, hal itu membuat mereka berdua saling menatap lalu tertawa.
“Hal beginian aja kompak.”
Melodi menjulurkan tangannya dan mengacak rambut Ian dengan gemas. “Mending cepetan berangkat deh.”
Ian melirik dari kaca spion dalam mobilnya. “Argonya mulai saya nyalain ya,” ucap Ian seakan dia adalah sopir taksi yang siap mengantar penumpang.
“Jangan cari untung lewat jalan terjauh ya, mentang-mentang mau nganterin aktris besar.” Salsa tidak tinggal diam begitu saja, dia juga ikutan berakting seperti layaknya penumpang.
Melodi melempar bantal kecil yang ada di mobil Ian ke arah Salsa. “Jangan ngajakin berantem deh,” katanya, Melodi merasa tidak pantas dengan sebutan itu. Dia benar-benar masih hijau di dunia akting, lima kalinya terjun ke dunia akting tidak membuat Melodi merasa dirinya aktris besar.
“Setelah film baru kamu ini tayang, kamu pasti semakin diperhitungkan di perfilman Indonesia.”
Melodi menyandarkan kepalanya di bahu Salsa. “Aku enggak berani berharap banyak.”
“Berharap sambil berusaha enggak apa-apa kok Mel.” Ian menimpali.
“Bener, eh tapi buat di ajang penghargaan antar televisi itu, aku yakin kamu pasti dapat piala pertamamu deh Mel.”
“Apalagi itu,” ucap Melodi cepat. Melodi sama sekali belum pernah membayangkan dirinya sampai hingga ke tahap itu. Semua tawaran dan popularitas yang didapatkannya sekarang saja masih Melodi belum sangka-sangka.
Salsa merangkul Melodi erat. “Sahabat aku emang selalu baik.”
“Baik sih, tapi….”
“Tapi apa?” tanya Melodi. Matanya memicing dengan tajam menatap Ian, Ian yang fokus ke jalan sampai bisa merasakan tatapan yang terasa menusuk itu.
“Suka ngambek, hahaha.” Ian tertawa namun yang dikeluarkannya hanyalah tawa sumbang akibat takut diapa-apakan oleh Melodi.
Mobil Ian membelah jalan Jakarta yang sedikit macet. Mereka tidak akan pergi makan di dalam mall, melainkan ke sebuah restoran keluarga yang ada di sebuah ruko. Tempat makan itu merupakan tempat makan favorit mereka sejak jaman kuliah. Sudah lama mereka tidak pergi ke sana, jadi hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke sana sebelum berjalan-jalan sebentar di mall kemudian ke tempat karaoke.
Setelah hampir satu jam, mereka akhirnya sampai di rumah makan itu. Datang di saat jam makan siang sudah lewat membuat rumah makan itu kosong tanpa pengunjung. Rumah makan yang didatangi Melodi tidak bisa dikatakan tidak ramai karena mereka memiliki pelanggañ setia.
Mereka bertiga di sambut dengan hangat oleh bapak pemilik rumah makan. Si pemilik jelas tidak bisa melupakan ketiga pelanggañ setianya yang sudah cukup lama tidak datang ke tempatnya.
“Pesanannya seperti biasakan?” tanya Pak Widodo.
“Bapak emangnya masih ingat?” Melodi balik bertanya yang membuat Pak Widodo tertawa.
“Inget dong.”
“Ya udah, Bapak buat seperti biasa.”
Pak Widodo kemudian pergi menyiapkan pesanan. Melodi memperhatikan rumah makan pak Widodo dan tidak banyak yang berubah dari tempat ini, kecuali temboknya yang dicet agar tampak selalu bersih.
Mereka bertiga benar-benar banyak menghabiskan waktu untuk bernostalgia mengingat banyak hal yang sudah mereka lalui di tempat ini. Cukup lama mereka di sana hingga akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan rencana mereka untuk pergi ke mall. Sebagai kenang-kenangan, karena Melodi juga sudah menjadi artis, Pak Widodo meminta untuk berfoto bersama. Melodi dengan senang hati mengiyakan hal itu.
“Aku pernah enggak sengaja buka fans page Gibran dan Melodi, isinya semua foto-foto kamu sama Gibran dan kalian berdua di shipperin, menurutmu gimana Mel?” tanya Ian.
“Ya itukan karena mereka suka akting aku sama Gibran di sinetron, jadi wajar sih.”
“Kamu enggak pernah ngeidolain orang sih makanya gitu,” semprot Salsa.
“Yakan aku nanya Sal, siapa tahu Melodi risihkan digituin, apalagi Melodi enggak ada hubungan spesial sama Gibran.”
“Apa boleh buat, itu tandanya aktingnya baguskan?”
“Pas gini dong pede aktingnya bagus, tadi aja pesimis,” sindir Salsa.
“Itu kata mereka ya, bukan aku.”
Mereka bertiga kembali sibuk dengan kegiatan mereka berjalan-jalan di mall. Mereka bisa berjalan-jalan dengan tenang karena Melodi menutupi dirinya dengan cukup bagus yang membuat orang-orang tidak sadar akan kehadiran Melodi.
Dari yang awalnya niat berjalan-jalan saja berakhir dengan mereka yang memutuskan untuk bermain di wahana permainan. Hari ini mereka bertiga benar-benar mengulang masa-masa di zaman kuliah mereka, kemarin-marin saat mereka bertemu mereka hanya makan-makan dan mengobrol tanpa melakukan banyak hal seperti hari ini.
Walau melakukan sesuatu di luar rencana mereka, mereka bertiga tetap memutuskan untuk pergi ke tempat karaoke yang terdapat di mall itu. Tempat karaoke yang mereka datangi merupakan tempat karaoke yang bagus, entah itu dari segi tempat dan pelayanan, tempat karaoke itu juga memiliki menu makanan yang enak-enak.
Begitu sampai di ruangan karaoke mereka, Ian menghempaskan tubuhnya di atas sofa, lalu memutuskan untuk merebahkan dirinya di sana. “Emang ya, apa yang direncanain suka beda sama kenyataannya.”
“Tapi ini seru juga tau,” ucap Melodi duduk di bagian sofa yang kosong, diikuti oleh Salsa.
Salsa melirik Ian yang tengah memijat pinggangnya. “Diakan udah tua Mel, jadi wajar aja gitu.”
Ian yang mendapat sindiran hanya bisa pasrah dan mengiyakan. “Buruh yang kerjaannya duduk tiap hari mah wajar gini. Di rumah enggak ada yang pijitin lagi.”
“Tinggal ke tukang pijet aja kali.”
“Aku pengen nikah,” racau Ian.
“Itu mulu yang di bahas. Udah deh, mending sekarang happy-happy.” Salsa menyodorkan mic ke arah Melodi, sedangkan mic untuk Ian, Salsa lempar tepat di atas perut Ian yang membuat Ian mengaduh kaget.
“Lagu apa ni?” tanya Salsa yang tengah memilih lagu untuk mereka nyanyikan.
Ian bangun dari rebahannya, diapun menjawab. “Biasa, yang bikin ajep-ajep.”
“Siap!”
Seheboh apapun Ian dan Salsa, Melodi tidak pernah bertingkah lebih absurd dari mereka berdua. Mereka bertiga bernyanyi tanpa beban hingga bagian Melodi bernyanyi sendiri yang di rekam oleh Salsa. Melodi tidak pandai bernyanyi, namun suaranya tidak buruk juga.
Belum habis lagu dinyanyikan oleh Melodi, Melodi melepaskan mic yang dipegangnya.
“Aku mau ke toilet, kebelet.” Melodi mengambil topinya.
“Ke toilet aja pakek topi?” tanya Salsa bingung.
“Jaga-jaga dia, siapa tahu ada fans beringas kek kamu,” balas Ian yang langsung diberikan jempol oleh Melodi. Lebih baik mencegah daripada Melodi harus menyesal nantinya.
Lorong tempat karaoke yang dilalui Melodi ternyata cukup sepi, tapi rata-rata ruangan di tempat karaoke ini sudah terisi orang-orang. Saat Melodi melihat seorang yang hendak berpapasan dengannya, Melodi sontak menundukkan kepalanya. Tepat saat mereka berpapasan Melodi menghentikan langkahnya beberapa langkah di belakang sosok itu.
Melodi menoleh ke belakang dan mendapati sosok itu masuk ke salah satu ruangan yang tak jauh dari sana. Aroma orang itu mengingatkan Melodi akan aroma bunga aster yang selama satu minggu terus dikirimkan oleh perusahaan Tremart. Hanya satu minggu mereka mengirimkannya tanpa henti dan sekarang mereka sudah tidak melakukannya lagi.
Aroma orang itu jarang dipakai orang dan orang yang memakai aroma itu sebagai parfumnya sukses membuat Melodi tertegun. Melodi yang tersadar telah berhenti cukup lama segera melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Keluar dari toilet, Melodi kembali teringat sosok dengan parfum itu, Melodi penasaran dengan sosok itu dan ingin melihatnya. Saat melewati ruangan orang itu, Melodi memutuskan untuk melirik ke arah kaca yang ada di pintu. Tempat itu tidak gelap sehingga Melodi bisa melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu, orang itu tak lain tak bukan adalah Arwin dan sekretarisnya Rendi.
Melodi segera melanjutkan langkahnya cepat-cepat dan masuk ke dalam ruangannya. Melodi tak percaya bahwa orang itu adalah Arwin. Pantas saja aura badass yang dikeluarkannya sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Saat berpapasan tadi, Melodi hanya sadar bahwa orang itu memakai long trench hoodie yang bergambar tengkorak di belakangnya. Orang-orang pasti tidak akan percaya jika dia adalah seorang CEO dari perusahaan e-commerce terkenal dari Indonesia.
Satu hal yang membuat Melodi bingung, apa Arwin senarsis itu memberikan parfum yang digunakannya untuk disemprotkan di bunga yang akan mereka berikan pada brand ambassadornya? Melodi benar-benar tidak mengerti selera dari perusahaan-perusahaan seperti itu.