Bab 12

1594 Words
Melodi memandangi ponselnya dengan serius. Wajah-wajah yang termuat dalam sebuah artikel resmi itu membuat Melodi tidak tenang. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu pemeran dari film yang akhirnya dipilih Melodi mengumumkan semua pemeran yang membintangi film Forbidden Heart.   “Mbak aku gugup.”    “Nanti juga biasa, ada Gibran jugakan?”   “Iya sih, tapi tetap aja.” Melodi menghela napas berat, dia gugup karena di film layar lebar ini, ini pertama kalinya Melodi menjadi pemeran utama. Tidak hanya itu, banyak senior di dunia perfilman y ang ikut dalam produksi film ini.   “Mbak yakin mereka bakalan nerima kamu dengan baik, selama sikapnya dijaga di sana.”   “Aku nggak pernah macem-macem Mbak.”   Putri mengangguk mengiyakan. Untuk sejauh ini Melodi sangat aman, tidak pernah membuat masalah atau sebagainya. Melodipun juga sangat fokus dengan pekerjaan-pekerjaan yang dia dapatkan. Saking seriusnya, Putri khawatir Melodi akan jatuh sakit.   “Tenangin diri, jangan sampai salah baca skenario, nanti kamu malah dikira nyogok lagi jadi pemeran utama,” kelakar Putri yang malah membuat Melodi cemberut.   “Mbak makin nakutin aja kan.”   “Becanda astaga, toh syutingnya masih lama jadi kamu masih bisa belajar mendalami karakternya.”   “Aku bakalan berusaha lebih keras lagi, Mbak.”   “Bagus, itu baru Melodi.”   Selama perjalanan menuju tempat pembacaan skenario sekaligus menjadi pertemuan pertama bagi pemeran dalam film Forbidden Heart, Melodi mencoba menenangkan dirinya dengan mendengarkan musik-musik klasiknya. Biasanya dengan ini Melodi akan merasa jauh lebih tenang dan hal itu cukup membantu karena Melodi tidak terlalu terbebani dengan perasaan akan bertemu dengan senior di dunia perfilman.   Melodi tiba di kantor produksi film Forbidden Heart ternyata berbarengan dengan Gibran. Semenjak selesai syuting, Melodi tidak benar-benar berhenti berhubungan dengan Gibran karena mereka juga pernah dipasangkan di majalah yang sama berkat kesuksesan film mereka yang hampir selesai ditayangkan, tersisa lima episode lagi menuju akhir.   Sinetron yang terus-terusan menjuarai rating membuat popularitas Melodi maupun Gibran semakin di atas, bahkan melebihi sebelumnya. Dengan diumumkannya pemeran yang memainkan film Forbidden Heart kemarin, semua orang menjadi tidak sabar untuk melihat Melodi dan Gibran beradu akting bersama lagi.   Mereka menganggap jika Melodi dan Gibran sangat cocok karena akting mereka yang terlihat sangat natural. Dengan diumumkannya Melodi dan Gibran menjadi pemeran utama di film inipun, para penggemar sudah sangat menantikan adegan romantis yang akan dilakukan Melodi dan Gibran.   “Aku enggak nyangka kamu bakalan ikut main di film ini,” ucap Gibran.   “Aku juga kaget pas tahu lawan mainku ternyata kamu.”   “Bosen ya lawan mainnya aku terus?”   Pertanyaan Gibran membuat Melodi seketika tertawa. “Enggaklah, malah bagus bukan karena kita udah ada chemistrynya.”   Melodi tertawa kecil di akhir ucapannya. Tawa itu hanya sementara karena ucapan Gibran sukses membungkam mulut Melodi. “Jadi kita ada chemistrynya.”   Sadar akan akan hal yang terasa janggal, Melodi kembali tertawa dan mengangguk. “Kalau enggak ada chemistrynya, orang-orang enggak mungkin nonton sinetron kita bukan?”   “Ah, ya bener juga.” Gibran tertawa.   Melodi juga ikutan tertawa, Saat itu juga di dalam hati Melodi, dia langsung bernapas lega karena berhasil mengatasi ucapannya yang bisa saja diartikan lain oleh Gibran. Langkah kaki Melodi tepat terhenti di pintu ruangan tempat dilakukannya pembacaan sekenario sekaligus pertemuan pertamanya dengan pemain yang lainnya.   “Yuk masuk.” Gibran membuka pintu itu lebar, Melodi yang dipersilahkan mau tak mau masuk lebih dahulu. Melodi sadar betul dia sudah menjadi pusat perhatian karena gaya Gibran yang membukakannya pintu.   “Kalian dateng barengan ya?”   Mendengar pertanyaan dari pemain lain Melodi sontak menggeleng. “Tadi aku ketemu di bawah.”   “Wah, kukira rumor itu benar.”   “Enggak kok.” Melodi meluruskan. Melodi yang ditatap oleh Dito, orang yang terus-terusan bertanya itu membuat Melodi menunduk malu.   “Aduh, sini Melodi duduk dulu.” Tangan Melodi ditarik dengan lembut yang membuat Melodi tersentak dan mengikuti arah tarikan. Sosok yang menarik Melodi adalah Yunita, seorang aktris senior yang sudah berumur 40 tahun.   “Karena yang lainnya belum datang, kita lebih mengakrabkan diri dulu, yang muda-muda ini apalagi,” saran Yunita,   Usulan dari Yunita tentu saja dituruti oleh pemain yang sudah datang yang rata-rata usianya memang 20 tahun ke atas. Mereka mengobrol cukup banyak hingga pemain dan juga sutradara datang.   Sambutan-sambutan sutradara sudah berikan. Para pemain pun diminta untuk saling berkenalan satu sama lain, hingga akhirnya sesi pembacaan skenario akhirnya mereka jalani.   “Apa Anda tidak takut akan karma?” suara Melodi memecah kesunyian di ruangan itu.   Gibran memberikan tatapan mata tajamnya. “Saya tidak pernah percaya karma itu ada. Datang dan pergi, siklusnya akan selalu sama. Jadi, apa yang saya lakukan itu sudah sangat biasa bukan?”   Melodi meneguk ludahnya, dia mengangguk ragu. “Lantas, apa Anda tidak takut jika kelak Anda akan merasakan itu juga?”   “Aku sudah siap menerima hal itu,” jawab Gibran dengan mantap.   “Ya bagus.” Sutradara bertepuk dengan senangnya. “Ternyata kalian bisa langsung memperaktekkan adegan yang kuinginkan.” Sutradara itu tersenyum puas setelah melihat akting dari Gibran dan Melodi.   “Anak muda emang, semakin lama semakin di depan, apalagi Melodi.”   Pujian yang diberikan Yunita langsung dibantah oleh Melodi, “Dibanding aktingku yang masih awam, akting Kak Yunita jauh lebih di depan.”   “Aduh, aku dipanggil Kak, emang keliatan masih muda ya. Melodi anaknya ternyata baik dan menggemaskan ternyata.”   Pujian yang lagi-lagi Melodi terima sukses membuat pipi Melodi memerah. Sesi pembacaan skenario terus berlangsung selama satu jam hingga akhirnya pertemuan pertama mereka berakhir sampai di sana.   Melodi bersama Gibran berjalan bersama, mereka hendak turun saat pintu lift akan tertutup. Beruntung Gibran dengan sigap menekan tombol buka sehingga lift itu tidak jadi tertutup.   “Yah, sisa satu orang lagi ni yang boleh masuk.” Yunita yang ada di dalam lift berseru.   “Gibran aja duluan, soalnya diakan ada jadwal lagi.”   Gibran yang menoleh ke arahnya membuat Melodi tersenyum dan mengangguk, seakan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa jika ditinggalkan sendirian menunggu lift selanjutnya.   “Ya udah, aku duluan ya Mel, sampai ketemu di pembacaan skenario ke dua.”   “Hati-hati, Gib.”   Pintu lift itu akhirnya tertutup dan Melodi menghela napas.   “Beneran enggak bareng Gibran ternyata.”   Suara itu membuat Melodi tersentak kaget dan diapun menoleh ke belakang. Dito, pria itu tepat berada di belakang Melodi dengan senyum lebar yang mengembang.   “Emang enggak, kan aku udah bilang.” Melodi bangun dari tempatnya.   “Kalau seandainya bareng, dia tega sih ninggalin kamu.”   “Kamu ngaco.” Melodi mengambil ponselnya yang berbunyi, bunyi itu berasal dari pesan masuk dari Putri yang sudah menunggunya di dalam mobil.   Tak berselang lama, pintu lift terbuka dan Melodi buru-buru masuk ke dalamnya diikuti oleh Dito.   “Melodi, boleh minta nomernya enggak?”   Melodi sedikit kaget saat mendengar suara Dito yang meminta nomernya itu. Mereka berdua sekarang adalah rekan kerja, tidak masalah sepertinya bagi Melodi memberikan nomer ponselnya karena mereka terlibat dalam produksi film yang sama. Melodi mengambil ponsel Dito kemudian menuliskan nomernya di sana.   “Makasi.” Dito lagi-lagi tersenyum lebar.   Seperti apa yang dikatakan Putri, lambat laun Melodi semakin akrab dengan artis yang lainnya. Pertemuan pertama yang sedikit terasa canggung, di pertemuan ke dua mereka semua mulai akrab satu sama lain. Apa yang ditakutkan ternyata Melodi tidak terjadi sama sekali. Hari ini adalah pertemuan ke empat mereka semua. Dipertemuan ini, mereka semua akan secara resmi melakukan foto bersama sekaligus memberitahu peran resmi mereka di film yang akan mereka mainkan.   Pemain yang lainnya tampak masih bersiap-siap, sedangkan Melodi sudah selesai dengan persiapannya. Diapun memutuskan untuk berada di ruang tunggu daripada harus ada di dalam ruang make up karena akan membuat tempat itu tambah sumpek saja.   “Si Melo, udah selesai aja.” Dito datang dan duduk begitu saja di samping Melodi.   “Melo?” Melodi melirik Dito kaget.   “Lha, Asistenmu Tiara manggil gitukan? Melo, panggilan yang unik.”   Melodi mengelus dadanya. “Nasib-nasib,” ucapnya.   “Fotoan dulu yuk.” Kamera ponsel Dito sudah menyala saat Melodi menoleh ke arah pria itu.   Melodi sontak saja langsung tersenyum ke arah kamera. Foto pertama mereka setelah empat kali pertemuan mereka.   “Sekali lagi,” ucap Dito. Foto kedua akhirnya berhasil Dito ambil. Diapun tersenyum puas karena hasil jepretannya yang bagus. “Ntar ku krim,” ucap Dito kemudian.   “Fotoan berdua aja.” Gibran menghampiri Melodi dan Dito yang duduk berdua saja.   “Lo kelamaan dandan sih,” sindir Dito.   “Lo kata gue cewek? Siapa di sini yang dempulnya ketebelan.”   Melodi yang berada di tengah-tengah perdebatan antara Gibran dan Dito hanya bisa menghela napas. Ini sudah terjadi sejak pertemuan kedua dan berlangsung hingga sekarang. “Kalau sesama dempul ketebelan jangan saling hina dong,” gumam Melodi.   “Tuh dengerin kata Melodi.” Dito memojokkan Gibran.   “Mau foto aib lo kesebar?” tanya Gibran. Sontak saja Dito memajukkan tubuhnya dan melotot ke arah Gibran. Pelototan Dito malah membuat Gibran menyeringai.   Dito membenarkan posisi duduknya lalu berucap, “Ok, ok, ok.”   “Gito dong.” Gibran tersenyum puas, namun senyum Gibran langsung hilang. Dia sekarang beralih memandangi Melodi dengan serius.  “Oh ya Mel, katanya kamu enggak akan dateng ya ke acara awards itu?”   Melodi tersenyum kecut. “Efek pekerjaan jadi enggak bisa ditinggal.”   Padahal Melodi sedari dulu selalu ingin pergi ke acara penghargaan yang di mana, namanya dinominasikan. Saat namanya dinominasikan di beberapa nominasi sseperti ini dia malah tidak bisa hadir karena harus menghadiri acara lain.   “Sayang banget,” ucap Gibran dan Dito berbarengan.   “Nasib jadi brand ambassador,” ucap Melodi pelan. Tidak mungkin sekali bagi Melodi menolak menghadiri acara utama dari brand yang memesan jasanya sebagai ikon untuk brand itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD