Bab 13

1770 Words
Melodi harus berbesar hati karena di saat dia sangat ingin menghadiri acara awards yang menominasikan namanya, dia malah harus menghadiri acara yang dibuat oleh e-commerce Tremart yang membuat acara di malam yang sama saat acara penghargaan itu berlangsung.   Setidaknya sekarang Melodi masih tetap bisa menggunakan gaun yang sudah cukup lama sangat ingin dia kenakan. Gaun yang tentu saja sopan untuk acara formal yang juga akan ditayangkan di televisi nasional Indonesia.   Gaun berwarna biru muda panjang yang dikenakan Melodi melebar dari bagian pinggang ke bawah dan tepat di bagian pinggangnya itu dihiasi kelopak-kelopak bunga yang senada dengan gaunnya. Melodi bersyukur karena Tremart mengusung tema yang elegan untuk acaranya.   Sebagai hal yang wajib Melodi lakukan adalah berfoto di spot foto yang sudah disediakan. Sebuah spot foto yang merupakan lambang dari Tremart yaitu sebuah kotak harta karun yang terbuka, lambang itu tentu saja sejalan dengan nama perusahaannya yang panjangnya adalah Treasure Mart.   Yang menjadi brand ambassador untuk e-commerce Tremart tidak hanya Melodi saja, terdapat dua gadis lainnya yang juga merupakan artis besar. Mereka bertiga yang merupakan brand ambassador resmi diharapkan bisa memandu acara dengan baik. Melodi merasa tidak salah juga dia mendapatkan kesempatan seperti ini karena dia mendapatkan pengalaman baru.   Acara pesta besar-besaran yang dilakukan Tremart ini ternyata karena ingin menyambut hari belanja nasional yang diikuti oleh pemberian hadiah besar-besaran untuk pelanggan yang hadiah terbesarnya adalah mobil. Semua orang tentu saja tertarik dengan hal itu.   Satu hal yang membuat Melodi tak habis pikir dengan perusahaan itu, kenapa mereka seberani itu mengambil hari di mana harinya bersamaan dengan awards yang bergengsi di Indonesia? Tidak takutkan mereka akan rating yang kalah jauh?   Acara pembukaan akhirnya dimulai dengan acara hiburan yang sudah disiapkan. Hingga tiba saatnya Melodi naik ke atas panggung yang sudah ramai oleh penonton. Melodi awalnya sedikit gugup karena ini baru pertama kalinya menjadi pembawa acara di acara resmi seperti ini. Efek sudah menjadi brand ambassador, Melodipun jadi lebih hapal keunggulan dari Tremart dibandingkan e-commerce yang lain.   “Kita akan mendengar sambutan dari CEO Tremart, kepada Bapak Arwin Adhyastha kami persilahkan.”   Lampu sorot segera menyoroti Arwin yang datang dengan beribawanya. Arwin terlihat rapi dengan suit hitam yang dikenakannya. Aura badass yang dimilikinya ternyata tetap bisa Melodi rasakan saat Arwin melewatinya. Ketika Arwin berjalan melewatinya tadi, Melodi merasa dirinya kecil padahal tingginya 165 cm apalagi sekarang Melodi sudah menggunakan sepatu yang memiliki tinggi 3 cm, tapi tetap saja Melodi merasa kecil berdiri di samping Arwin.   “Saya tidak akan lama-lama membuat acara penyambutan, kalian tentu saja sudah tidak sabar untuk melihat acara hiburan dan juga acara inti kali ini. Jadi terakhir yang ingin saya katakan, terima kasih karena sudah berbelanja menggunakan Tremart, kami akan selalu memberikan pelayanan yang terbaik agar kalian semua tidak kecewa menggunakan jasa kami.”   Tepuk tangan yang meriah terdengar tak kala Arwin selesai dengan pidatonya itu. Arwin yang ada sekarang benar-benar terasa berbeda dari Arwin yang menyebalkan yang Melodi kira. Apa itu karena dia ingin dekat dengan Putri? Sayangnya Melodi tidak punya kesempatan untuk bertanya hal lebih jauh seperti itu pada Putri karena bisa saja bukan Putri dan Arwin sudah menjalin hubungan bukan? Tidak ada yang tahu, begitupula Melodi.   Acara yang berlangsung hampir dua jam itu akhirnya berakhir. Melodi turun sedikit terburu-buru dari atas panggung karena dia sudah ingin cepat-cepat pulang. Setiba Melodi di ruang ganti di mana Tiara menunggunya di sana, Melodi duduk di kursinya. Dia membuka sepatu haknya begitu saja.   “Capek, sandalku mana?” tanya Melodi.   “Tunggu dulu Mbak Melo, kucariin.” Tiara panik karena dia lupa menaruh sandal Melodi di mana. Selagi Tiara mencari sandal untuk Melodi, Melodi menyadari keberadaan bunga mawar merah di atas mejanya.   “Ini siapa yang kasih bunga?” tanya Melodi.   “Dikasih pihak Tremartnya sendiri, ada hadiah yang lain juga.”   Melodi melirik ke sekelilingnya dan melihat kalau meja brand ambassador yang lainnya juga mendapatkan hal yang serupa. Satu hal yang menjadi pembeda, bunga mawar yang diberikan berbeda-beda. Satu hal lagi yang membuat Melodi kaget karena aroma bunga mawar yang didapatkannya masih saja beraroma sama, lembut dan menyegarkan.   “CEO dan buket bunga yang diberikannya harus memiliki aroma yang samakah?” gumam Melodi tanpa sadar.   Mata Melodi tanpa sengaja melirik ke arah meja sebelah dan di sana Melodi malah mendapati kotak sandalnya. Melodi menipiskan bibirnya, sudah dipastikan Tiara lupa menaruhnya. Melodi beranjak dari tempatnya menuju meja sebelahnya.   “Permisi, kotakku tidak sengaja ditaruh di sini.” Melodi dengan sopan meminta izin mengambil kotak sandalnya. Saat mengambil kotak sandalnya itu Melodi sedikit tertegun.   “Berbeda warna dan aroma juga ya,” gumam Melodi setelah sampai di tempatnya.   “Tapi aromanya seperti bunga mawar pada umumnya, apa bunga mawar satunya lagi punya aroma yang berbeda juga ya?” tanya Melodi pada dirinya sendiri sambil memakai sandalnya.   “Mbak Melo, enggak ketemu.” Tiara datang dengan wajah sedihnya.   “Nih ketemu.” Melodi bengun dari tempatnya. “Jangan sampai ada yang ketinggalan, aku tunggu ditempat Mbak Putri ya.”   Tiara hanya perlu memasukkan sepatu hak Melodi yang membuat Melodi berani meninggalkan Tiara lebih dahulu, jika tidak mana berani Melodi meninggalkan Tiara dengan pekerjaan yang banyak.   Melodi keluar ruang ganti dan tak jauh dari sana Putri berdiri seorang diri sambil memainkan ponselnya.   “Udah selesai Mel? Tiara mana?” tanya Putri.   “Ada di dalem tu, paling bentar lagi keluar.”   Saat Melodi mengatakan itu, satu brand ambassador yang mendapatkan bunga mawar yang lainnya berhenti tepat di depan Melodi dan Putri.   “Duluan ya,” ucapnya dengan sopan.   “Hati-hati ya di jalan,” ucap Putri sedangkan Melodi tampak terdiam dengan pandangan mata yang memandangi ke arah bunga mawar yang ada dalam dekapan itu.   Sedikit guncangan di kakinya membuat Melodi tersentak kemudian berucap, “Hati-hati ya.”   “Iya.” Wanita itupun akhirnya pergi melewati Melodi dan Putri.   “Kamu kenapa?” tanya Putri.   Melodi menoleh. “Nggak apa-apa kok.”   “Jangan suka ngelamun gitu, nanti kesambet.”   “Mbak ayo pulang,” seru Tiara yang baru saja datang.   “Lama banget sih, di dalem ngapain?” tanya Putri.   Putri nyengir. “Biasa Mbak, foto sama artis.”   “Pantes aja. Ya udah ayo pulang.”   Di perjalanan pulang Melodi hanya diam memandangi jalan Jakarta yang ramai. Pikirannya berkelana karena hidungnya yang tidak mencium aroma yang berbeda dari bunga mawar yang diberikan pada brand ambassador yang lainnya. Jika konsepnya setiap orang memiliki warnanya tersendiri, lalu kenapa aroma dari bunga yang dimiliki dua orang itu sama dan hanya punyanya saja yang aromanya berbeda?   Hal itu sukses membuat kepala Melodi penuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Melodi memijat kepalanya yang terasa berdenyut karena memikirkan hal itu.   “Oh ya Mel, aku tadi dapet telpon kalau kamu menang di kategori pemeran utama wanita terbaik.” Putri hampir lupa memberitahu hal ini.   Melodi yang tengah memijat kepalanya menoleh kaku ke arah Putri. “Yang bener Mbak?” tanyanya tak percaya.   “Iya, kalau nggak percaya nonton aja siaran ulangnya. Terus besok pialanya akan dikirim ke rumah.”   Melodi menutup mulutnya tak percaya. “Piala pertamaku.”   Mendadak mata Melodi memanas dan tak lama air matanya mengalir. Melodi menangis saat itu. Dia senang karena akhirnya dia mendapatkan penghargaan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.   “Mbak Melo nangis jadi ikutan mau nangis.” Tiara mengusap matanya yang mendadak ingin mengeluarkan air mata juga. “Untung aja besok Mbak Melo enggak ada kegiatan, jadi nggak malu kalau mata bengkak.”   “Emangnya aku libur ya besok Mbak?” tanya Melodi yang masih menangis.   “Iya, seminggu lagikan kamu udah mulai syuting, jadi Mbak enggak ngambil job biar kamu bisa istirahat sebelum kembali syuting.”   “Mbak emang yang terbaik,” seru Melodi, air matanya mengalir namun bibir Melodi melengkung ke atas.   “Promosi endorse tetep jalan tapi.”   Senyum Melodi seketika pudar.   Putri tetawa senang menjahili Melodi. “Sana nangis lagi.”     * * *   “Tampil di depan umum secara resmi, apa kepalamu baik-baik saja?” Rendi memperhatikan Arwin yang duduk dengan tenang di bangku belakang mobil.   “Itu semua karena iklan waktu itu.” Arwin mendesah lelah. “Jika bukan karena itu aku juga malas tampil seperti tadi.”   Arwin mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya. Dia memperhatikan ponselnya dengan seksama. Mata itu tampak sangat serius memperhatikan pesan-pesan yang didapatkannya.   “Ayahmu minta dipertemukan dengan Melodi.”   Tangan Arwin yang awalnya sibuk mengetik pesan mendadak berhenti. Dia melirik ke depannya dengan tajam. “Untuk apa?”   “Beliau hanya ingin ketemu, katanya dia sudah bosan hanya melihat dari televisi.”   “Jangan kabulkan.” Arwin kemudian kembali fokus pada kegiatannya.   “Dia terus menerorku, apalagi setelah tadi. Ponselku saja sampai kusilent karena dia mengirim pesan terus.”   Arwin menghela napas. “Kamu bisa membayangkannya bukan apa yang terjadi jika dia bertemu dengan Melodi?” tanya Arwin.   Rendi mengangguk, di kepalanya sekarang sudah bisa membayangkan hal-hal yang akan terjadi jika Ayah Arwin bertemu dengan Melodi. “Tapi karena dia orangtua, itu bisa di maklumkan bukan?” gumam Rendi pelan.   “Di hari libur, menginaplah di rumah. Kamu bisa menyasikkan semuanya, aku sendiri sangat kesal melihat tingkahnya.”   “Itukan Ayahmu juga, senangi sekali-sekali nggak apa-apa kali Win.”   “Dia hanya minta dipertemukan dengan Melodi?” tanya Arwin memastikan.   “Ya iyalah, mau siapa lagi?”   “Siapa tahu dia juga ingin dipertemukan dengan pemain sinetron yang menjadi pasangan Melodi itu juga.”   Entah dimulai sejak kapan Arwin mendapati ayahnya sangat menyukai menonton sinetron. Di usia ayahnya yang sudah 52 tahun, Arwin tak percaya ayahnya setergila-gila itu saat menonton satu sinetron. Dia terus menceritakannya dan akan sangat cerewet saat sinetron itu selesai tayang di harus menunggu beberapa hari untuk mendapat sambungannya.   Di setiap hari libur Arwin selalu menyempatkan dirinya pulang ke rumah, keinginannya untuk beristirahat dengan tenang tidak pernah didapatkannya karena ayahnya selalu menceritakan jalan cerita sinetron yang Arwin sendiri tidak berniat untuk dengar.   “Ini terakhir kali beliau akan meminta hal tentang Melodi.”   Arwin tertawa. “Dia mengatakan hal itu juga saat memintaku menjadikan Melodi brand ambassador perusahaanku.”   Arwin ingat betul bagaimana ayahnya menatapnya dengan pandangan berharap, seperti anak kecil, hanya untuk menjadikan Melodi brand ambassador perusahaannya. Ayahnya juga meengatakan bahwa dia tidak akan menganggunya lagi dengan membicarakan sinetron itu. Tapi tetap saja Arwin selalu diganggu oleh ayahnya, apalagi setelah iklan itu tayang. Ayahnya seketika membenci dirinya yang beradu akting dengan Melodi.   “Jangan sampai Ayahku meminta untuk didatangkan lawan main Melodi itu. Aku tidak akan bisa melakukannya.” Pada akhirnya Arwin mengalah juga dan mengiyakan keinginan ayahnya itu.   “Siap.”   “Lalu ingatkan Ayahku untuk menjaga sikapnya, dia jangan sampai berbicara hal-hal yang tidak diinginkan. Jika perlu kamu ikut saja sekalian diacara itu.” Arwin berharap ayahnya tidak mengacaukan semuanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD