Bab 6

1673 Words
Melodi membuka pintu rumahnya kemudian dan berucap, “Selamat datang di kediamanku.”    Senyum ramah Melodi mendadak hilang saat kameramen hendak masuk ke rumahnya, dia menahan langkah kameramen itu. Apa yang dilakukannya membuat reporter yang bersama si kameramen hendak meng-cut pengambilan gambar namun Melodi ternyata hanya sengaja melakukan itu karena saat itu juga dia berucap, “Ah tunggu, pasti banyak pemirsa di rumah sana yang belum mengenalku.”   “Perkenalkan saya Kim Melodia, biasa dipanggil Melodi dan selamat bergabung diliputan eksklusif aku.” Senyum manis Melodi langsung mengembang lebar. Melodi memberi kode pada kameramen untuk masuk ke dalam mengikutinya.   “Sebenarnya ini bukan liputan house tour, jadi buat pemirsa maaf ya karena aku tidak bisa memperlihatkan rumahku secara detail,” ucap Melodi.   “Terus… kalian datang di waktu yang tepat, karena sekarang aku mau beres-beresin barang buat dibawa syuting.” Melodi memperlihatkan barang-barang yang tadi Tiara sudah lebih dahulu siapkan.   “Karena syutingnya sampai malam jadi aku bawa cukup banyak barang.” Melodi benar-benar memperlihatkan dirinya yang dengan cekatan merapikan barang-barang yang akan dibawanya ke lokasi syuting. Jika biasanya Tiara yang merapikannya seorang diri, sekarang Melodi ikut ambil bagian dalam hal ini walau begitu Melodi sudah biasa melakukan hal ini.   “Itu apa Melodi?” tanya sang Reporter.   Melodi melirik ke arah yang ditunjukkan reporter itu kemudian dia mengambilnya dan memperlihatkan kotak bekal yang sudah disiapkannya itu.   “Aku membuat bekal untuk pemain yang lainnya. Jadi nanti aku mau liat reaksi mereka setelah makan masakan yang aku buat.” Melodi tersenyum dengan riangnya seakan dia sangat menantikan orang-orang mencicipi masakannya, padahal aslinya Melodi tidak ingin hal itu terjadi walau masakannya bisa dikatakan layak untuk dimakan.   Melodi kemudian memasukkan semua barang-barang yang diperlukannya itu ke dalam mobil. Setelah semua barang-barang itu masuk Melodi membuka pintu depan mobilnya. “Sampai ketemu di lokasi syuting ya,” ucapnya sembil melambaikan tangan.   Melodi pun masuk ke dalam mobilnya dan syuting untuk di rumahnya hanya sampai itu saja. Melodi tak habis pikir mereka seniat itu mau ke rumahnya hanya untuk adegan yang tadi? Padahal mereka bisa melakukannya di lokasi syuting, melihat isi-isi mobilnya.   “Ucapan Mbak Melo di awal tadi bikin deg-degan tau enggak sih. Kalau ada Mbak Putri, dia pasti jantungan dan marahin Mbak Melo,” ucap Tiara setelah menjalankan mobil yang dikemudikan olehnya. Di saat tidak ada Putri, maka Tiara yang akan menggantikan Putri untuk menyetir.   “Dih biasa aja kali, Ra. Yakali aku ngancurin karir sendiri,” jawab Melodi.   “Ya siapa tahu Mbak bosen jadi artis kan?”   “Aku enggak bakalan bosen jadi atris kecuali udah hidup makmur dengan punya suami direktur.”   “Oh gitu, kalau Mbak Melo mau suami direktur giamana kalau Mbak Melo nikah aja sama Pak Ar…Arwin?”   Mendengar nama Arwin disebut oleh Tiara membuat Melodi menoleh dengan mata sipit yang melotot ke arah Tiara. Dari sekian banyak direktur Tiara malah menyebut nama Arwin.   “Big no.” Tanpa basa-basi Melodi menolak itu dengan mentah-mentah. Jelas-jelas Arwin sukanya ke Putri bukan ke dirinya. Melodi juga tidak ada niatan untuk menyukai Arwin karena masih banyak pengusaha muda di luar sana.   “Yo wes kalau Mbak Melo enggak mau, moga aja Pak Arwin sama aku aja.”   Melodi geleng-geleng kepala melihat Tiara yang mulai menghayal. “Kamu ini ya Ra, ngayal kamu ketinggian.”     “Lha, emangnya enggak boleh gitu, Mbak? Saya enggak pantes ya?”   Tangan Melodi yang tengah mengetik di ponselnya mendadak diam. Melodi pun mendadak merasa tidak enak hati karena dia sadar ucapannya sudah melukai Tiara, padahal dia sama sekali tidak berniat menyakiti Tiara dengan ucapannya yang sekarang sudah salah diartikan.   “Enggak gitu Ra, maksud aku tu Pak Arwin dan kita berdua itu beda alam, jadi khususnya Pak Arwin itu enggak cocok sama kita,” ucap Melodi cepat. Melodi tidak ingin Tiara semakin salah paham karena ucapannya.   “Aku ngerti kok Mbak kalau aku emang enggak pantes.”   “Ra, enggak gitu astaga.” Melodi memandangi Tiara yang fokus menyetir, saat mata Tiara meliriknya sejenak Melodi terdiam melihat guratan kekecewaan itu.   “Ra, kamu marah? Aku enggak maksud gitu loh, ucapan aku itu enggak maksud ke arah sana.” Kembali Melodi menjelaskan maksudnya.   Hening dan Melodi hanya bisa tersenyum kecut karena Tiara marah padanya. Saat baru saja Melodi membenarkan posisi duduknya suara tawa menggelegar dari sampingnya membuat Melodi menoleh kemudian menatap Tiara dengan kesal.   “Astaga, Mbak Melo lucu banget pas keliatan takut enggak di maafin,” ucap Tiara di sela-sela tawanya.   Melodi mengerucutkan bibirnya kesal.“Sumpah ya Ra, kamu nyebelin banget.”   “Maaf Mbak Melo, tadi itu becanda, sumpah.” Tiara menoleh ke arah Melodi sambil menyengir lebar.   “Udah ah, aku mau tidur aja,” ucap Melodi.   Tiara tersenyum lembut ke arah Melodi, diapun mengangguk mengiyakan. “Yo wes, nanti kubangunin kalau udah sampai lokasi.”   Sejenak Melodi melirik ke arah luar jendela kemudian menutup matanya karena Melodi cukup lelah pagi ini, 15 menit tidur itu lebih dari cukup menurutnya.   Seperti apa yang diucapkan oleh Tiara, Melodi langsung dibangunkan begitu mobil mereka berhenti di parkiran lokasi syuting. Melodi yang baru saja bangun sejenak terdiam sebelum akhirnya sadar, dia sekarang harus memulai rutinitasnya.   “Mbak Melo, mereka juga udah dateng tu.” Tiara mengingatkan Melodi. “Aku keluar duluan ya, Mbak.”   Melodi mengangguk mengerti, sebelum menyusul Tiara keluar, Melodi lebih dahulu membenarkan make upnya yang mungkin saja berantakan karena dia tidur tadi. Setelah merasa semuanya sudah sempurna, Melodi kemudian keluar dari mobil dan sudah ditunggu oleh reporter yang meliputnya tadi.   Mereka memberikan sedikit arahan sebelum kembali memulai syuting. Melodi mengambil tas yang biasa dia bawa dan juga tas bekal yang tidak boleh ketinggalan dan harus dibawa oleh dia sendiri.   “Sekarang kita ke tempat di mana pemain yang lainnya biasa santai yuk.” Melodi memandu perjalanan menuju tempat di mana biasanya pemain yang lainnya bersantai sebelum proses syuting dimulai.   Melodi sedikit bersyukur karena scennya untuk pagi ini lebih sedikit karena untuk pagi ini akan lebih banyak scene dari Alice. Di perjalanan banyak kru yang menyapa Melodi yang dibalas Melodi dengan ramah, ini bukan pencitraan karena ada kamera yang meliputnya karena biasanya Melodi seperti ini.   Sesampainya di tempat istirahat, Melodi langsung menyapa semua orang yang ada di sana. “Pagi semuanya,” sapa Melodi.   “Pagi Mel.” Gibran orang yang pertama kali membalas sapaan Melodi yang langsung mendapat sorotan kameran.   Semua yang ada di ruangan itupun juga membalas sapaan Melodi, tanpa terkecuali Alice yang ada di sana sambil membaca sekripnya.   “Aku bawa sarapan buat semuanya.” Melodi berjalan menuju meja yang ada di tengah-tengah ruangan. “Semoga kalian suka ya.”   Melodi merasa bersyukur karena ini bukan pertama kalinya dia membagikan makanan untuk pemain lainnya sehingga dia tidak dipandang membawa makanan hanya karena tengah diliput infotainment. Cuman bedanya untuk hari ini Melodi membawa makanan hasil masakannya sendiri, bukan makanan yang dia beli.   Rianti yang menjadi sahabat Melodi di sinetron ini menghampiri Melodi yang tengah membuka tas bekalnya. “Enggak seperti bekal yang sering dibawa ya?” Rianti menatap Melodi penuh arti.   “Aku yang masak dong.” Melodi berucap dengan bangganya.   “Wih, asik ni bisa rasain masakan Melodi.”   “Ada udang dibalik batu nih,” ucap Alice yang sedari memperhatikan.   “Ada udang di balik batu gimana. Mending kamu sarapan dulu sebelum mulai take” Melodi memberikan senyumannya.   “Aku udah sarapan tadi, sayang banget.”   “Oh, ya udah, kalau Gibran, kamu mau sarapan enggak?” Melodi memandangi Gibran dengan penuh harap agar Gibran langsung mengerti maksudnya.   “Boleh, tapi aku masih main game bisa bawain ke sini enggak?”   “Boleh.” Melodi tersenyum singkat kemudian mengambilkan Gibran seporsi nasi goreng dan juga salmon. “Supnya mau juga?” tanya Melodi.   “Boleh.”   “Gitu tuh pemirsa, si Gibran orangnya mageran,” ucap Rianti yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Gibran.   “Ini karena gameku aja yang enggak bisa ditinggal Rian,” ucap Gibran sedikit lebih keras.   “Rian-Rian, Rianti, pakek ti,” jelas Rianti kesal, Gibran selalu saja memanggilnya dengan sebutan Rianti.   Melihat Melodi yang hendak pergi membuat Rianti segera menahan tangan Melodi. “Jangan kasih dia sarapan Mel.”   “Kasian, dia mau take terus scennya banyak lagi.”   “Istriku emang baik banget.” Gibran memandangi Melodi dengan tatapan senang.   “Merinding aku dengernya.” Rianti melepaskan tangannya yang menahan tangan Melodi.   Melodi kemudian menghampiri Gibran yang duduk di samping Alice. Alice yang sadar kedatangan Melodi segera bangun dari tempatnya. “Di sini panas juga ya, aku keluar dulu.” Alice tersenyum penuh arti sebelum keluar dari sana.   Melodi merasa bersyukur bahwa Alice memilih untuk pergi, Alice jelas berakting di depan kamera pura-pura menyukainya dan kedipan matanya yang tersorot kamera tadi tentu saja bagian dari aktingnya juga.   “Mau take masih sempatnya main game?” Melodi duduk di samping Gibran.   “Hidupnyakan tiada hari tanpa game,” celetuk Rianti.   “Satu game aja kok, aku baru aja main.”   Melodi memperhatikan game yang tengah dimainkan Gibran. “Enggak bisa berhenti buat sarapan dulu?”   Gibran menggeleng. “Maunya sih gitu, apalagi aroma masakan kamu enak banget, tapi lagi serunya nih, giamana dong?”   “Suapin.”   Melodi menoleh ke arah orang yang mengatakan itu dan itu adalah Rianti yang sedari tadi memperhatikan mereka dan bisa-bisanya Rianti mengatakan itu.   “Ide bagus.” Gibran tersenyum lebar.   “Ini ni, kalau aku enggak baik dan mikirin kesehatan kamu, aku enggak nyuapin kamu.” Melodi mengambil satu sendok nasi goreng kemudian menyodorkannya ke depan mulut Gibran. Tanpa ragu Gibran membuka mulutnya dan memasukkan nasi goreng yang disuapinya itu.   “Enak juga,” puji Gibran.   “Makasi.” Melodi kembali menyuapi Gibran hingga game yang dimainkan Gibran pun selesai dan Gibran bisa menyantap sarapan dengan tangannya sendiri.   Infotainment yang meliput kegiatan Melodi hanya meliput sampai Gibran selesai sarapan dan mulai bersiap untuk take. Mereka tidak meliput bagaimana jalannya syuting yang berlangsung karena akan memberi spoiler bagi penonton yang masih ada ditengah cerita, belum benar-benar sampai di konflik utama dan apa yang tengah di syutingkan kali ini sudah ada diakhir konflik dan syutingpun akan benar-benar berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD