Arwin menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Putri. Arwin melihat rumah yang tampak sepi itu. Dia mencoba memastikan jika dirinya tidak datang terlalu cepat dan dia memang datang tidak terlalu cepat. Daripada berdiam diri di dalam mobil, lebih baik dia masuk ke dalam untuk memastikan semuanya. Tepat di depan pagar Arwin berdiri sejenak sebelum dia akhirnya memutuskan untuk memencet tombol bel. Dua kali memencet bel dan Arwin mencoba menunggu dibukakan pintu. Tidak mungkin bukan orang yang ada di dalam rumah ini masih tidur. Hampir 5 menit Arwin berdiri di luar pagar hingga akhirnya dia bisa mendengar langkah kaki yang terburu-buru. Langkah kaki itu kemudian tak terdengar lagi dan tergantikan oleh suara gerbang yang dibuka. “Sia… Arwin?” Arwin tersenyum kaku keti

