PROLOG
Rose menghela napas panjang. Tidak mengerti kenapa anak-anak SMA itu begitu mudah jatuh cinta. Ah, mengingat masa lalu, pernikahannya pun bermula dari cinta. Dulu dia yang terobsesi, padahal Dias biasa saja. Hanya karena pria itu pernah menolongnya, dia mengira semua orang tulus menyukainya—padahal tidak. Dias sekadar menolong tanpa sengaja, dan dia sudah terlanjur jatuh cinta. Belum pernah sebelumnya dia memandang pria sebaik Dias. Dia pernah berlabuh hati sebelumnya, namun selalu berakhir buruk. Entah karena perselingkuhan, atau si pria yang tiba-tiba berubah mementingkan harta. Mengingat hal itu, d**a Rose terasa perih.
Dias dulu memang baik, sampai dia memohon pada ayahnya untuk melamar pria itu. Semuanya berubah setelahnya. Ternyata, Dias sudah memiliki kekasih, dan barulah Rose mengetahuinya setelah ikrar terucap. Ibu Dias memang mementingkan materi; meski putranya tak mencintai Rose, wanita itu tetap memaksa agar pernikahan terjadi. Dan malam itu, Rose mendengar semuanya.
Flashback On
Malam resepsi pernikahan mereka, Dias menghilang. Rose awalnya berpikir suaminya memiliki urusan mendesak. Nyatanya, pria itu justu menemui kekasihnya—mantan tunangannya. Tanpa sengaja, Rose pernah memasang pelacak di ponsel Dias, dan sejak saat itu pula, Dias memandangnya bagaikan hama.
Hujan deras malam itu, Rose berdiri agak jauh, menyembunyikan diri.
"Dias, kamu benar-benar akan menjadi suami Rose dan tidak akan menyentuhku lagi malam ini?" suara Vania terdengar bergetar, air mata mengalir deras di pipinya seirama dengan rintik hujan.
Dias menatap wanita itu lekat-lekat. "Kamu tenang saja. Aku tidak akan menyentuhnya."
Vania mendongak, tatapannya penuh keraguan. "Kamu yakin? Bagaimana jika ...."
"Kamu bisa percaya padaku," potong Dias tegas. "Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyentuhnya."
Vania diam. Dia wanita yang polos dan lugu, hanya keadaan serta ibu Dias yang membuatnya berubah. Rose tahu, tak ada suami yang benar-benar tak menyentuh istrinya, meski pernikahan itu tak diinginkan. Namun malam itu, janji Dias terbukti benar.
Rose pulang lebih dulu, wajahnya datar tanpa ekspresi. Saat Dias akhirnya melangkah masuk, dia masih duduk di ruang tengah, menyambutnya dengan senyum yang tak terlihat pura-pura.
"Dari mana?" tanyanya lembut.
Dias terkejut sejenak, lalu menoleh. "Dari luar. Kamu belum tidur?"
Rose menggeleng pelan. "Belum bisa tidur. Kenapa kamu basah kuyup begini?"
"Oh, tadi ada teman yang minta bantuan," jawabnya santai. "Kecelakaan kecil, mobilnya mogok."
Rose menautkan alis, cemas. "Kecelakaan? Di mana? Dia tidak apa-apa kan?"
"Baik, dia baik-baik saja. Sudah dibawa ke klinik terdekat. Mobilnya terserempet sedikit, itu saja. Sekarang sudah di bengkel." Dias berusaha terdengar tenang, tak sadar bahwa Rose tahu semuanya.
"Syukurlah kalau begitu," ucapnya pelan. "Aku ke atas dulu ya."
Tepat saat dia melangkah, Dias justru bertanya balik. "Lah, mobilmu juga basah. Kamu habis ke mana?"
Rose berbalik sedikit, tersenyum tipis. "Iya, tadi aku sempat keluar sebentar mencarimu ke persimpangan kompleks. Ada teman yang mau pamit berangkat ke Belanda besok pagi, jadi aku temui sebentar." Itu tak sepenuhnya kebohongan; temannya memang menelepon, dan dari sanalah Rose tahu ke mana Dias pergi malam itu.
Dias mengangguk singkat, tak banyak bertanya lagi, lalu berjalan menuju kamar. Rose tetap bersikap baik. Selama dua tahun pertama, Dias memang bersikap sopan dan layak, meski tak lebih dari sekadar suami yang menjalankan kewajiban. Di depan orang tua mereka, dia bahkan pura-pura romantis. Namun Rose lelah. Dia tahu tentang Vania, tahu bahwa mereka masih berhubungan. Tahun ketiga pernikahan, Rose mendengar hal yang lebih menyakitkan: Vania hamil, dan Dias menikahinya secara diam-diam. Ibu Dias mulai bertanya soal cucu, orang tuanya sendiri mulai beranggapan bahwa Rose yang tak bisa hamil. Seandainya mereka tahu ... rasanya sesak sekali menanggungnya sendirian.
Flashback off
Rose menatap hamparan bunga di taman itu, tersenyum tipis melihat mereka yang mekar setelah disiram hujan. Rumah itu kini terasa seperti neraka. Lima tahun menikah, tiga tahun ia memendam luka, dan belakangan ini Dias semakin dingin. Ayahnya diam saja, namun Rose tahu dia kecewa. Ibu Dias tak lagi menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Maaf, boleh saya duduk di sini?" suara seseorang terdengar di dekatnya.
Rose menoleh sebentar, lalu kembali memandang bunga. "Silakan."
Pria itu duduk tanpa diminta. "Nama saya Abe. Kalau kamu siapa?"
Rose menegupkan bibir, lalu berdiri bersiap pergi. "Maaf, saya sedang tak ingin berkenalan. Saya hanya butuh waktu sendirian."
Abe tersenyum tak terpengaruh. "Padahal Mbak cantik lho. Jangan galak-galak dong."
Langkah Rose terhenti sejenak, namun ia tetap berjalan pergi. Saat itu, suara Abe terdengar lagi, cukup tajam hingga menusuk telinganya.
"Wanita memang suka pura-pura tak peduli ya. Padahal kalau diabaikan, pasti sakit juga rasanya kan?" Abe menatap punggungnya. "Bayangkan posisi saya. Sekali diabaikan, rasanya cukup menyakitkan, tahu?"
Rose menoleh perlahan. Ucapan pertama pria itu sempat membuatnya ragu, namun kalimat selanjutnya membuatnya sadar—Abe bukan orang yang sebaik yang terlihat.