Setelah menyantap makan siang, Selena mendapatkan pesan di ponselnya bahwa Jhonatan berniat mampir untuk menjenguk Siera. Tentu saja niatan baik itu langsung ditolak mentah-mentah, sebab bukan hanya karena di rumah sedang ada Andrew, juga karena penyebab sakit sang anak memang berkaitan dengan kedekatan Selena dan Jhonatan.
Ia mendesah pasrah, laki-laki berambut kemerahan mirip cola itu memang selalu memberi perhatian, tetapi putrinya selalu tidak suka. Sebab, bagi Siera tidak ada yang boleh mendekati sang mama apalagi berusaha untuk menjadi pengganti Andrew sebagai sosok papa paling sempurna bagi si kecil.
Memasuki kamar, Selena mengambil tas dan membukanya, melihat cincin pemberian dari Jhonatan yang sekarang berada di telapak tangan. Ia lalu membuka laci dan mengambil kotak cincin berlapis beludru merah dengan bunga lili tiruan yang tersemat indah di tengah-tengah kotak.
Memperhatikan sejenak cincin yang telah diletakkan di dalam kotak, kepala Selena menoleh ketika telah mendapati Andrew masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Melihat hal itu tentu saja alisnya mengerut seketika, Selena sempat membatin kenapa dia bisa seleluasa ini, hal demikian tidaklah sopan bagi tamu seperti sang lelaki.
“Ada apa?” tanya Selena setelah menutup kotak cincin.
Tidak menjawab pertanyaan Selena, Andrew malah melangkah dan mendudukkan diri di samping si empunya rumah. Ikut menatap kotak cincin yang kini telah ditutup oleh jari dari sang mantan istri.
“Siera bilang kepadaku bahwa kau ingin mencarikan papa baru untuknya, jadi benar kau menerima laki-laki itu?”
“Andrew, bisakah kau tidak terus-terusan mengorek urusan pribadiku,” ujar Selena dengan desahan napas lelah, lelaki di sampingnya ini selalu saja seperti ini di setiap kesempatan.
“Ini berkaitan dengan Siera, Selena. Kenapa kau tidak bisa—” perkataan Andrew terhenti seketika karena dipotong oleh wanita yang duduk di sampingnya.
“Baik, aku tidak pernah menerima perasaan Jhonatan, mengerti.” Selena tentu berusaha sabar, ia sampai memejamkan mata beberapa kali karena Andrew begitu keras kepala.
Memijat batang hidungnya sebentar, Selena tidak tahu kalau Andrew menyeringai kecil sebelum mengembalikan ekpresi seperti sedia kala.
“Kalian berpacaran, bukan?” tanya Andrew kembali, mendapati pandangan tak suka Selena, laki-laki itu cepat-cepat menambahi. “Siera yang mengatakannya kepadaku.”
Hela napas kembali dikeluarkan untuk menahan gejolak emosi karena Andrew terus-terusan bertanya tentang masalah ini.
“Baiklah, kalau kau tidak mau menjelaskan, setidaknya aku telah paham.” Menegakkan diri, Andrew kemudian menaruh kedua telapak tangan di dalam saku, kemudian memandangi Selena yang mengerutkan alis dan berekspresi kesal karena perkataannya.
Mendengkus, akhirnya Selena pun memilih untuk berdiri, kemduian ia mendekati lemari dan menaruh cincin di dalam laci sebelum menguncinya kembali. Menatap Andrew yang berada di depan pintu, ia pun mendekati lelaki itu dan berdiri di hadapan sang mantan suami.
“Sebaiknya kau kembali ke kantor, Andrew. Aku akan menemani Siera di sini, sebelum dia bangun dan mencari-carimu.”
“Hari ini aku mengambil cuti, kalau kau belum tahu.” Andrew berkata sambil mengendikkan bahu.
Melangkah menuju kamar sang putri, Andrew membuka pintu, dan membiarkan Selena di luar sana untuk terus menyoroti punggunya. Beberapa saat kemudian, seperti yang ia duga, wanita berusia tiga puluh dua tahun itu datang dan memperhatikan apa yang ia lakukan kepada sang putri dari belakang tubuh pria itu.
Ternyata Andrew sedang memasangkan sebuah kalung berbandul hati dengan hiasan permata merah di tengah-tengahdi leher Siera, kemudian ia berdiri dan memberikan benda yang sama kepada Selena, tetapi berbandul bunga cosmos.
“Kau tidak menerima perasaannya, tetapi menerima hadiah pemberiannya, bukan. Aku juga akan melakukan hal yang sama, dan aku tidak menerima penolakan untuk yang satu ini, Selena.”
Mengerutkan alis, Selena kini hanya terdiam, menatap kalung berliontin kelopak bunga cosmos di tangan Andrew. Tidak bergerak untuk beberapa saat, tetapi dengan ragu telapaknya mengambil hadiah dari lelaki itu.
“Terima kasih,” ucap Selena pada akhirnya, ia lantas melihat senyuman Andrew yang begitu manis dengan kedua mata nyaris menyipis, terlihat mempersona di wajah rupawan sang lelaki, tetapi bagi Selena semua itu terasa palsu.
***
Andrew memutuskan untuk pergi sebentar karena ingin memberikan ruang kepada sang wanita pujaan agar tidak terus-terusan mencurigai dirinya seperti ia adalah seorang pencuri kecil di tempat ini. Namun, sore nanti ia akan memutuskan kembali karena tahu pasti sang putri akan bersedih karena mencari-cari keberadaan sosok papa tersayang, dan tidak menemukan kehadiran dirinya.
Maka dari itu, ia berencana membiarkan Selena sendirian agar bisa berpikir jernih, memikirkan keadaan yang terjadi, kemudian menerima kehadiran Andrew kembali di rumah demi anak mereka atau tetap kukuh dengan keinginan wanita itu untuk hanya membiarkan dirinya datang beberapa kali dalam sebulan saja.
Mengendarai mobil, Andrew melihat seseorang yang duduk di kafe dekat dengan lampu merah.
Ah, ada yang datang dan itu adalah seorang lelaki yang selalu mengahalang-halangi kedekatannya dengan Selena dan Siera.
Memutuskan untuk membelokkan mobil dan memarkirkan kendaraannya di sana, Andrew pun keluar dari mobil dan memasuki kafe, melangkah untuk mendekati meja dari dua orang yang terlihat tengah mengobrol santai.
“Selamat siang, Bung.”
Dua kepala langsung menoleh, melihat laki-laki yang diperbicangkan mereka entah dari mana tiba-tiba muncul di tempat ini. Senyuman Andrew terlihat manis, tetapi jelas tahu bahwa semua itu hanyalah kepalsuan belaka. Itulah yang pertama kali terbayang di benak dari kedua orang pria yang telah disapanya.
“Kakak Ipar, bagaimana kabarmu? Ah, kau membawa kue kesukaan anakku, jangan bilang kalian ingin mampir.” Andrew lantas mengalihkan antensi kepada lelaki yang memberikan cincin kepada mantan istrinya. “Jhonatan, kau juga? Namun, sayang sekali karena Siera tidak menyukai kehadiranmu.” Laki-laki itu masih berbicara dengan senyuman di bibir, menatap antara Lucas dan juga Jhonatan bergantian.
“Andrew!” tegur Lucas, matanya menyipit tajam karena menyoroti sang lelaki dengan sinis.
“Ya?”
Hela napas terdengar, Lucas mencoba menahan kesabarannya. Bagaimanapun percuma untuk meladeni laki-laki ini, tetapi ucapan mantan suami adiknya itu terhadap Jhonatan tadi sungguh keterlaluan.
“Oh, apakah kau akan ke sana sekarang? Biar aku antar, Lucas.” Lelaki itu sekarang menawarkan sesuatu yang menurut Lucas di luar nalar dan sangat tidak mungkin untuk diterima oleh kakak dari Selena.
“Tidak perlu, aku membawa mobil.”
Mengendikkan bahu santai, Andrew hanya mengucapkan ok, diliriknya Jhonatan yang juga sekarang berdiri dan berpamit diri karena harus kembali ke kantor, kemudian laki-laki berambut cola itu berterimakasih kepada Lucas dan menjabat tangan mereka. Dan di sinilah mereka, Andrew dan Lucas berdua saja, kemudian entah ada angin apa, laki-laki yang lebih tua empat tahun itu menyuruh dirinya untuk duduk.
Mengangguk sebagai respons, ia lantas melakukan apa yang diinginkan mantan kakak iparnya. Kedua tangan Andrew diletakkan di atas meja, ia melihat lak-laki di hadapannya memanggil pelayan untuk memilih pesanan. Ia hanya menginkan kopi hitam tanpa gula dan sebuah kue kering yang memiliki rasa manis dan asin.
“Kue kesukaan Selena,” bisik Lucas tanpa sadar.
Dengan senyum di bibir, Andrew menjelaskan bahwa Selena lah yang menyarankan untuk mencoba camilan ini, dan ia pun lumanyan menyukai.
Melihat raut datar Lucas kini berubah serius, Andrew pun menebak bahwa lelaki itu akan segera mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan keterlibatannya di dalam hidup Selena dan juga Siera.
“Kau tahu bukan, aku tidak menyukai kehadiranmu di sisi keluargaku sedari dulu, Andrew. Aku juga telah menjelaskan, kau tidak bisa hidup dengan Selena karena kau menjadi cacat.” Lelaki itu berkata serius, jika Andrew tidak mengerti juga, rasanya benar-benar membuat Lucas ingin segera menyingkir dan pergi.
Memejamkan mata sejenak, kemudian Andrew mendengkus lucu, membuat dalam sekejab Lucas mengerutkan alis kesal.
“Kasar sekali, bukan?” tanya Andrew, matanya menatap bunga yang ada di dalam vas di tengah-tengah meja, tangannya juga ikut memainkan kelopak hingga salah satu tercabut.
Andrew lalu melemparkan kelopak bunga, dan berjatuhan lah mawar merah di atas meja.
“Selena adalah seorang wanita yang diberkahi dengan kebaikan hati, dan walau kami telah resmi bercerai, kau yang paling tahu dia seperti apa, Lucas. Sementara Siera, dia menginginkan keberadaanku dan aku pun akan dengan senang hati untuk terus bersamanya… karena dia adalah anakku.”
“Kau memanfaatkan mereka, Andrew.” Lucas berbicara dengan geraman, tangannya mengepal dan ia begitu ingin menonjok wajah laki-laki beramata indah bak emerald itu.
“Aku ini masih seorang manusia, jangan memandangku seperti iblis, Lucas.” Tertawa kecil, sekarang lelaki itu berterimakasih kepada pramusaji, kemudian meminum kopi hitam tanpa gula yang disajikan.
Tidak ada tanggapan, Andrew yang kini berwajah datar dan asik menyantap kue kering pun menyandarkan punggung di kursi.
“Ah, ya. Aku mulai malam ini akan tinggal di rumah Selena,” jelas Andrew yang mengundang amarah di d**a Lucas.
Tersenyum tipis, ia lantas berdiri dan melangkah pergi setelah mengucapkan sampai jumpa kepada lelaki yang duduk di kursi sambil mengetatkan rahang karena menahan amarah. Napas Lucas menderu, tangannya mengepal dan ia pun mencoba mengendalikan rasa panas yang begitu membara di d**a.
Benar-benar tidak habis pikir, padahal ia sudah berkata kepada Selena agar memikirkan terlebih dahulu keputusan yang ingin diambil, tetapi malah menerima Andrew tinggal di rumah kembali secepat ini. Kepalanya mendadak terasa berasap karena kembali merasakan kemurkaan, mengambil ponsel di saku, ia pun berniat menekan nama sang adik di layar, tetapi beberapa saat kemudian ia urungkan.
Lebih baik langsung menjumpai Selena sekarang, lagi pula memang itu tujuannya untuk menjenguk Siera yang telah keluar dari rumah sakit. Cuti yang ia ambil hanya tinggal beberapa hari lagi, setelah itu Lucas akan kembali bekerja di luar kota. Kalau seperti ini, sang adik bisa semakin terperangkan bersama laki-laki kurang ajar itu.
Langsung pergi, ia tak lupa memberikan beberapa oleh-oleh dari kafe untuk Siera, kemudian mengendarai mobil dan menuju rumah Selena.
Di dalam benak Lucas, ia masih berpikir, kalau saja saat itu Selena mau diajak pindah ke apartemen yang berada di luar kota, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.
Menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit lebih, Lucas pun sampai dan langsung turun, ia melihat Selena yang telah berada di depan pintu menunggu seperti balasan dari pesan singkat yang diberikan setelah ia keluar dari kafe.
Tersenyum ketika menatap wajah sang adik, Lucas pun menghampir Selena dan memeluk tubuh yang terasa agak kurus selama beberapa saat, kemudian ia memberikan kue yang dibeli tadi dan langsung berajak menuju kamar keponakan tersayang. Sebuah bungkusan cukup besar membuat alis Selena naik dan menggeleng sambil tersenyum kepada lelaki yang menaiki tangga sambil berlari.
“Apa Siera sedang istriahat? Aku tidak mengganggu kan?” tanya lelaki itu, masih terlihat antusias walau berkata dengan suara pelan.
“Tidak, Siera baru saja bangun satu jam lalu. Dia sedang bermain dengan hadiah Karin.” Selena menjelaskan sambil tersenyum, kemudian menggelengkan kepala karena melihat Lucas kembali semringah.
Mengetuk pintu kamar Siera, Lucas lantas mendengar suara gadis kecil itu meneriakinya untuk masuk. Membuka pintu, ia tersenyum sesaat sebelum melangkah dan ikut memberikan sebuah kado.
“Halo, Sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Lucas, mendekati dan meletakkan kado di ranjang sang keponakan.
“Sudah sehat, tetapi masih minum obat.” Wajah si kecil terlihat riang, dia tersenyum sampai giginya terlihat.
Atensi Siera teralihkan begitu saja karena melihat kado cukup besar di atas ranjangnya. Ia kembali memandang sang paman, kemudian membawa kado ke dalam pelukan dengan riang.
“Terima kasih, Paman! Wah, apa ini?” tanya Siera antusian. Dengan cekatan ia membukanya dan menemukan boneka kelinci merah muda, langsung saja gadis kecil itu memeluk sangat erat.
“Wah, kau suka sekali boneka kelinci, ya?” tanya Lucas sambil mengerakkan telapak tangan untuk mengelus kepala Siera, rambut si gadis kecil terasa agak kusam karena belum diperbolehkan membasuh kepala.
“Tentu saja, kelinci sangat manis dan seperti tidak bosan untuk dipeluk.” Siera memeluk bonekanya dengan gemas.
Tertawa kecil, kembali Lucas mengacak rambut Siera karena tidak berdaya dengan keimutan keponakan tersayangnya itu.
“Paman, sudah dong.” Gadis kecil itu bersungut-sungut main-main hingga mengundang Lucas berpura-pura berwajah sedih.
“Maaf, maaf. Kau juga sangat manis, Siera.”
“Tentu saja, aku kan anak mama dan papa.” Teringat sesuatu, Siera pun menceritakan hal ini kepada pamannya. “Paman, tahu tidak? Papa dan mama akan tinggal bersama lagi, Siera begitu senang sampai rasanya mau berteriak kencang sambil tertawa.”
Gadis kecil itu mengguncang-guncangkan boneka kelinci yang ada di pelukannya, sesekali memeluk gemas dan menjatuhkan wajah di atas kepala kelinci.
Menghela napas, Lucas tersenyum kecil, sekarang ia sadar bahwa begitu sulit bagi Selena untuk mengambil keputusan. Harapan Siera dan kebahagian gadis kecil itulah yang membuat sang adik rela melakukan apa saja.
Tersenyum lembut, Lucas lantas menatap keponakannya dan menghadiahi sebuah ciuman, kemudian berwajah usil dan berpura-pura menjadi sesosok monster mengerikan yang akan menyerang Siera dengan gelitikan di perut. Suara tawa Siera terdengar sampai ke luar ruangan, membuat siapa saja yang mendengar pasti akan ikut membengkokkan bibir karena tertular kebahagian di kamar si kecil.