2. Pulang

2163 Words
Sore hari telah menjelang, matahari mulai turun ke ufuk barat dan sinar yang oranye membuat pemandangan indah di cakrawala. Siera baru saja menghabiskan semangkuk kecil agar-agar yang merupakan cemilan khusus dari rumah sakit, sesekali putri Selena itu bernyanyi sambil memainkan rubik sederhana hadiah dari Andrew ketika ulang tahun kesepuluh beberapa bulan lalu. Ketukan pintu terdengar, Selena yang sedang memandangi putrinya pun mengalihkan atensi. Menyibak tirai yang berada di pembatas ruangan untuk menghalau ada yang mengintip dari balik kaca, Selena lantas membuka pintu dan mendapati kakak lelaki dan Karin telah datang seperti janji mereka. “Hai! Selena, apa kabar?” tanya Karin, kemudian ia memeluk wanita itu dengan erat dengan senyuman lebar. Karin melepaskan rengkuhan, mengalihkan pandangan dan menatap sosok yang dia rindukan, berpindah dan berlari ke arah gadis kecil yang memandang mereka dengan antusias. “Bibi Karin!” Terhenti karena mendengar panggilan si kecil, Karin melotot dan langsung berkacak pinggang. Wanita berambut kemerahan itu cemberut main-main dengan wajah bersungut. “Sayang, panggil saja ‘Karin’, aku tidak setua itu, ok.” Kembali tersenyum, Karin lantas memeluk Siera dan memberikannya sebuah kado. “Wah, apa isinya?” “Kau pasti akan suka, Princess.” Di depan pintu, Selena memeluk kakaknya yang baru saja pulang dari luar kota, ia lantas mengajak Lucas masuk dan langsung mendatangi Siera. “Paman, lihat! Karin memberiku kado yang sangat luar biasa.” Siera berucap dengan riang, memamerkan kado di tangannya. Melihat sang kemenakan, alis lelaki berambut cokelat itu naik satu, tidak menyangka wanita yang adalah partner-nya itu terus mengingatkan Siera agar jangan memanggil dengan embel-embel bibi. “Karin, usiamu sudah tiga puluh tiga dan cocok dipanggil bibi.” Sang wanita malah memutar bola mata malas, ia lantas sibuk membantu Siera yang kesulitan membuka kado dengan punggung tangan diinfus. Sambil mengatakan kepada si kecil bahwa mereka tidak perlu menghiraukan lelaki tua yang sekarang mengerutkan alis dan menghela napas. Siera tertawa, kemudian memeletkan lidah kepada Lucas dan dibalas dengan muka mengerut lucu oleh sang lelaki. “Oh, ya. Seharusnya kau tak perlu membawa buah sebanyak ini, Lucas.” Membuka lemari es, Selena menawari Lucas dan Karin kopi kemasan di dalam kaleng. Dan dilemparkan kepada kedua orang yang tengah menjenguk putrinya. Karin membuka minuman kaleng, terharu dengan wajah lucu karena melihat kebahagian Siera. Bersyukur wajah gadis itu sudah cerah dan tidak pucat seperti perkataan Selena. Di atas ranjang, Siera sekarang tengah semringah sambil berteriak senang, mendapatkan sebuah rumah-rumahan bongkar pasang dengan boneka kelinci sebagai penghuninya. Gadis itu berterimakasih kepada Karin dan memberi pujian bahwa wanita itu sangat baik hati. Menggeleng sambil tersenyum, Lucas lantas memakan apel yang disajikan untuknya. “Hei, rambutmu sudah agak panjang, Lucas. Tidak mau aku potongkan besok kalau pulang?” tanya Selena, ia mendekati kakak lelakinya dan mengelus juga mengenggam rambut yang mulai bisa dijambak. Padahal Lucas adalah jenis orang yang suka kerapian, kenapa sekarang membiarkan rambutnya menjadi seperti ini? “Ada seorang wanita liar yang terlalu suka memainkan rambutku ketika kami tidur.” Menyeringai kecil, tatapan mata beriris sama seperti Selena tengah mengarah kepada Karin yang kembali memutar bola mata dan mendengkus. “Sudahlah, jangan memulai, Lucas. Kau harus ingat ini di rumah sakit dan lagi aku tidak tahu kau jenis laki-laki yang suka didominasi?” tanya adiknya sambil cekikikan kecil, sekarang Selena malah menatap kakaknya yang terlihat ikut tersenyum misterius. Oh, sungguh Selena kadang sulit membayangkan sifat asli pria yang di tahun ini berusa tiga puluh enam, di sisi Selena terlalu perhatian dan lembut, tetapi Karin pernah bilang Lucas sangat berbeda saat bersama wanita itu, kadang-kadang benar-benar membuat ia menjadi sangat penasaran. Mereka sekarang sibuk dengan urusan masing-masing, Karin dengan Siera, Selena dengan pakaian si kecil yang mulai dikemasi dan Lucas dengan apel dan kaleng kopi di tangannya. “Apa tadi dia juga datang?” tanya Lucas serius, laki-laki itu sekarang mengeluarkan raut tidak tertebak, terlihat datar, tetapi Selena tahu lelaki itu menyimpan kemarahan. Menghela napas, Selena hanya mengangguk sebagai ganti mengiyakan ucapan sang kakak. “Lucas, aku ingin berbicara kepadamu sebentar.” Mengindahkan keinginan adik perempuan satu-satunya, Lucas lantas mengajak Selena untuk berbicara di luar ruang rawat inap sang keponakan. Menitipkan Siera kepada Karin, mereka lalu melangkah bersama keluar dari bangunan rumah sakit. Mereka duduk di bangku taman, yang terlihat begitu indah dengan sinar jingga mentari. Beberapa keluarga pasien juga ada yang berjalan-jalan, terlihat seorang anak yang cedera kaki berusaha untuk melatih melangkah lagi. “Karin pasti sudah cerita tentang Siera yang menangis dari pagi tadi kepadamu, kan?” “Hm, ya. Kami begitu cemas. Namun, sekarang dia terlihat lumayan pulih dan ceria.” Menganggukkan kepala, Selena sekarang menatap hampa para nenek dan kakek yang sedang berbicara kepada cucu-cucu mereka. Selena agak ragu menceritakan hal ini, bagaimanapun ia tahu kakaknya ini tidak pernah merestui hubungan antara ia dengan Andrew dahulu. Namun, mau bagaimana lagi, Selena terlalu mengasihi dan mencintai Andrew karena mereka dahulu adalah sahabat lama, dan teman pertama Selena. Kuku-kuku jari lentik tersebut saling berkaitan, menatapnya, Lucas tahu sang adik sedang dilanda kebimbangan. “Kalau kau belum siap, tidak perlu memaksakan diri untuk menceritakan semua ini, Selena.” Menjatuhkan kepala di bahu lebar itu, Selena memeluk sebelah lengan Lucas dan meremasnya pelan seperti kebiasaan ketika sedang kebingungan dan merasa resah. “Aku lelah, Lucas. Namun, aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan dengan segala yang telah terjadi di hidup kami ini.” Rahang Lucas mengeras, ia tahu jika telah berhubungan dengan bungsu Clay, pasti adiknya akan sengsara. Padahal sejak dahulu sudah ia jelaskan bahwa Andrew telah berubah, bukan lagi anak lelaki yang murni, sebab ketika remaja dan mereka bertemu kembali setelah sekian lama, ia sadar bahwa Andrew telah cacat. “Lakukan apa pun yang menurutmu tepat, Selena.” Tersenyum tulus, Lucas hanya berharap adiknya berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan, sebab ia sendiri tidak pernah setuju dan sangat bersyukur Andrew telah tidak memiliki andil lagi terhadap hidup adiknya. Mungkin yang tersisa sekarang adalah bahwa lelaki itu merupakan ayah biologis dari sang keponakan. “Hm, terima kasih banyak, Kak.” Wanita itu terlihat lebih baik dan tersenyum walau berwajah lesu. Mengacak rambut Selena, adiknya itu lantas mencoba menghindar hingga pergelangan yang lebih kecil digenggam oleh Lucas. “Hey, di mana cincin pemberian Jhonatan? Bukankah kau telah menerima lamarannya?” tanya Lucas, alis berkerut ketika tidak menemukan benda putih melingkar dengan permata di jari manis sang adik. “Ah, aku menyimpannya. Belum, aku belum memutuskan, tetapi aku menerima pemberian Jhon karena menghargai perasaannya.” Menghela napas, Lucas mendongakkan kepala, menatap langit senja yang sebentar lagi akan berubah menjad gelap. Sejak dahulu, Selena memang terlalu baik. Maka dari itu, laki-laki seperti Andrew terus bisa memasuki kehidupan sang adik walau telah lima tahun bercerai. Seharusnya memang sejak dahulu Selena pindah dari kota ini ketika telah menjadi mantan istri pria itu, atau bisa ikut bersama Lucas ke kota lain yang sekarang ditinggalinya, ia bisa menanggung kehidupan mereka tentu saja. Namun, Selena pasti tidak akan mau dan akan merasa membebani kakaknya sendiri. “Baiklah, ayo kita kembali. Siera pasti telah menunggu.” Lucas berdiri, diikuti dengan adiknya. Mereka kembali melangkah bersama dengan telapak tangan yang saling menggenggam sekarang. Saling memandang sejenak, baik Lucas maupun Selena sekarang saling tersenyum karena merasa lucu. “Sudah lama tidak berjalan bergandengan tangan, ya?” tanya Selena. “Hm, aku juga merindukannya ternyata.” *** Esok pagi di pukul sepuluh seperti yang telah dijelaskan Dokter Crisie, Siera pun telah diperbolehkan untuk pulang. Andrew juga berada di sana dan membantu membereskan barang-barang si gadis kecil, matanya yang emerald menatap sebuah rumah bongkar pasang, dan menebak pasti itu merupakan hadiah dari Lucas atau Karin. Mereka mengucapkan terima kasih kepada beberapa perawat yang berada di ruangan, kemudian Siera meminta agar sang papa menggendongnya. Tentu saja Andrew mengabulkan kenginan gadis kecil itu. “Apa tanganmu masih sakit? Kau sungguh pemberani dan hebat, Siera.” “Hm, sakit, Pa. Tapi, kalau ada papa dan mama jadi berkurang.” Kemudian Siera tersenyum sampai giginya terlihat. Mengembuskan napas, Andrew lantas mengecup pipi anaknya dan berucap bahwa ia aka mengabulkan keinginan Siera. “Selena, kau ingin ke mana?” tanya Andrew ketika melihat wanita di sampingnya melangkah ke arah yang berbeda. “Aku mau membayar administrasi dan menebus obat di apotek.” “Ah, untuk administrasi sudah aku selesaikan. Masalah obat, nanti aku suruh Oliver yang menangani. Kita sebaiknya pulang saja, kau terlihat lelah.” “Benar, Ma. Nanti malah kena flu kalau kelelahan seperti kata Miss Angela.” Siera berkata seperti pesan gurunya di sekolah. “Miss Angela?” tanya Andrew mengerutkan alis. “Guru kesehatan di sekolah, Pa. Miss Angela yang tahu pertama kali kalau Siera sedang sakit.” Mereka lantas menuju parkiran dan Selena membukakan pintu agar Andrew lebih mudah memasukkan Siera, kemudian ia ikut duduk di jok samping dan menatap kembali anak mereka yang ada di belakang. “Ok?” “Siap, Pa.” Mereka lantas melaju, menuju rumah yang menjadi saksi bisu di mana pasangan suami dan istri beserta anak tercinta sempat menghabiskan waktu bersama selama bertahun-tahun. Perjalanan memakan waktu dua puluh menit, melewati sebuah gereja yang ada di pinggir kota dan sungai nan indah, beberapa kilo kemudian sampailah mereka ke sebuah pekarangan yang dikelilingi pohon ekk. Di bagian samping terlihat sebuah labirin setinggi pinggang orang dewasa yang terbuat dari tanaman pagar. Sebuah kebun bunga dan juga batu-batu yang sengaja disusun di dekat kolam ikan pun menambah kesan menyujukkan mata dari kediaman Selena dan putrinya. “Kami pulang!” seru Siera lantang, gadis kecil itu masih berada di gendongan papanya dan menggandeng telapak tangan sang mama. Pukul sebelas siang, sekitar satu jam setengah dari sekarang Siera akan meminum obatnya. Pelayan beberapa saat lalu telah Selena berikan kabar untuk membuat sup dan bubur untuk santap siang si gadis kecil, juga steak domba dengan saus asam manis ditambah kentang, brokoli, wortel, jamur dan potongan jagung yang dipanggang untuknya dan Andrew. Membawa putri mereka ke kamar yang ditempati, Siera yang masih berada di gendongan papanya lantas diturunkan ketika telah sampai di tempat tidur. Mengusap kepada si kecil, kemudian mereka memperbaiki selimut. “Jangan terlalu banyak beraktivitas, ok? Kau masih butuh beristirahat, Princess.” Andrew berkata dengan senyuman lembut, kemudian mengalihkan pandangan ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Bibi pelayan yang telah diketuk pintu akhirnya dipersilakan masuk, membawa senampan makan siang untuk Siera. Karena saatnya menyantap hidangan, Andrew lantas membawa gadis kecil itu untuk duduk dengan pungung bersandar di dadanya. Melihat anaknya yang manja, ia kembali tersenyum dan memandang Selena yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Nah, sebaiknya kau sekarang makan, Siera. Sini bonekamu, biar Mama yang pegang.” Dia mengangguk, memberikan boneka kelinci kecil yang merupakan penghuni rumah bongkar pasang hadiah dari Karin. Membuka mulut ketika Selena memberikan sup hangat, Siera sekarang menyantap hidangan dengan ekspresi riang, bahkan terkadang memainkan tangan Andrew yang berada di samping tubuh. Tanpa sadar, Selena yang menyaksikan hal ini pun merasa dadanya berdesir, tentu saja ia begitu tak sampai hati memisahkan Siera dan sang papa. Namun, ia tahu Andrew sering di luar batas jika mereka terlalu dekat. Laki-laki itu tidak segan-segan membalas dan menghabisi siapa saja yang dianggap penggangu hubungan mereka. Selena juga mengingat kejadian bertahun-tahun lalu, saat mereka berada di taman yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah, dengan kejam Andrew mendorong anak kecil yang tidak sengaja membuat Siera terjatuh karena tertubruk tubuh. Setelah itu, Andrew nyaris mencekik dan mengacam akan memotong kaki si anak karena tidak dipakai dengan benar. Melihat hal mengerikan tersebut, Selena langsung menyuruh anak laki-laki itu pergi, kemudian menarik Andrew untuk langsung pulang ke rumah karena telah melanggar janji untuk tidak sembarangan menghakimi seseorang tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Ma?” Lamunan Selena hilang sekejap mata, ia tersentak kecil, kemudian menyahuti sang putri sambil tersenyum. “Ah, maaf. Kau mau air, ya. Nah, sekarang adalah waktunya meminum obat. Lihat! Ini rasa stroberi kesukaanmu.” “Siera tidak minum obat, Ma. Tidak mau, Siera kan sudah sehat. Sudah tidak di rumah sakit lagi.” Siera menggeleng dengan dramatis, menutup mulutnya rapat hingga membuat Andrew tersenyum maklum. “Ayolah, Princess. Ini hanya satu sendok saja, rasa stroberi kesukaanmu. Kalau rasanya tidak enak, Papa janji akan kena hukumanmu, bagaimana?” tanya Andrew dengan wajah yang memelas.   Memandang sang papa dengan tatapan menyelidiki, Siera kemudian menggerakkan jari kelingking, meminta Andrew untuk menyatukan kelingking mereka sebagai tanda mereka telah berjanji. Laki-laki dewasa itu tentu tidak memahami apa maksud yang ingin diutarakan Siera, hingga dia masih terdiam, akhirnya menyerah dan mengalihkan atensi kepada Selena. Menghela napas, Selena pun mengucapkan agar kelingking Andrew dikatikan ke kelingking anak mereka. “Nah, Siera. Papamu telah berjanji, jadi minum obatmu sekarang, Ok.” Dengan wajah masam, gadis kecil itu membuka mulut ragu-ragu, sambil memejamkan mata ia menerima satu sendok obat dan menelannya seperti itu adalah sebuah bola golf. Setelah merasakan bahwa yang ditelan benar seperti yang dijelaskan sang mama, Siera pun tersenyum sampai gigi kelinci terlihat, bahkan tertawa kecil. “Satu lagi boleh, ya, Ma?” tanya Siera antusias. Baru menyadari betapa obat rasa stroberi kesukaannya sangat enak. “Hei, ini bukan permen, Sayang. Baiklah, sekarang kau harus istirahat. Nanti kami kembali lagi untuk melihat apakah kau sudah tidur atau belum. Andrew, biarkan Siera berbaring, pelayan telah menyiapkan makan siang juga untuk kita.” Selena berkata sambil tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil kesayangannya. Menidurkan tubuh Siera, lelaki itu lalu menyelimuti dan memberikan kecupan di kepala. “Semoga lekas sembuh, Sayang.” Andrew berkata, kemudian menatap Selena yang juga mengucapkan kalimat yang sama. Mereka berjalan bersisihan, dan ketika telah keluar dari kamar, eksperis Selena seketika berubah menjadi dingin. Wanita itu memijat dahi beberapa kali dan berjalan lebih dahulu menuju ruang makan. Tidak menatap ke belakang atau melihat Andrew yang sekarang duduk di hadapan Selena setelah berada di meja makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD