Be My Bride!

1026 Words
Quintessa buru-buru menepis tangan Gallen. Dia merasa tidak nyaman karena disentuh sembarangan. Terlebih, pelakunya tak lain ialah seorang lelaki tampan. Jantungnya apa kabar kalau hal itu diteruskan? Gadis bersurai pirang pun berkata untuk mencari suasana canggung ini, "Maaf karena saya tidak mengetahui bahwa Anda adalah seorang pangeran." Lelaki itu menarik sudut bibirnya. Membentuk lengkungan bulan sabit yang indah untuk dipandang. "Tidak masalah," ujarnya sembari bangkit. Mengibaskan debu yang mampir di celana. Kemudian, mengulurkan tangan ke arah Quintessa. Seperti halnya seorang pangeran yang ingin membantu tuan putrinya. Mengajak dengan ceria, "Ayo. Katamu akan menunjukkan pohon apel tempat kau jatuh." Quintessa terkesiap. Buru-buru diterimanya uluran tangan itu. Kemudian, dia berterima kasih karena sudah dibantu bangun. "Kau sungguh-sungguh ingin berterima kasih padaku?" tanya lelaki itu sambil menaikkan sebelah alis. Mengangguk pelan. "Tentu saja. Apa wajah saya kurang meyakinkan, Tuan?" Gallen kembali menerbitkan senyum. Kepolosan Quintessa benar-benar membuatnya terhibur. Sepertinya, mereka cocok satu sama lain. Tangan pangeran menggenggam erat milik Quintessa. Kemudian berbisik pelan di telinga gadis itu, "Jadilah pengantinku." Otomatis, Quintessa membelalakkan matanya. Dia juga langsung mencoba melepas genggaman tangan Gallen. Sayang sekali, usahanya gagal karena lelaki itu tidak mau melepaskan Quintessa begitu saja. Tarik ulur pun terjadi di ruangan mewah bercat broken white ini. Diiringi dengan ringisan kesakitan Quintessa. Sebab, pangeran tidak membiarkan dirinya untuk pergi. Akhirnya, Gallen mulai merasa kesal. Ditariknya tangan Quintessa dengan cukup kencang. Tak ayal, tubuh mungil itu pun jatuh dalam pelukan. Menatap padanya dengan napas yang tidak beraturan. "Hanya aku yang tahu dan percaya kalau kau bukan Shareness. Menikahiku adalah pilihan terbaik. Atau, kau lebih memilih untuk dibakar hidup-hidup, Sweetheart?" pungkas Gallen. Quintessa mulai marah. Matanya berkilat-kilat, menahan emosi yang membara di dalam hati. Sejurus kemudian, dia balik bertanya, "Anda mengancam saya, Pangeran Gallen?" "Iya, jika kau berpikir demikian. Asal kau tahu, semua orang di istana mempercayaiku. Aku bisa membuat mereka berpikir kalau kau adalah penyihir yang menyamar menjadi Putri Shareness," jawabnya santai, seolah tidak memiliki beban hidup. Menyipitkan mata. "Penyihir? Bukankah itu hanya ada di negeri dongeng? Jangan bercanda!" "Aku tidak main-main, Sweetheart!" bentak Gallen. Kali ini, tangannya menarik Quintessa agar semakin mendekat dengannya. Menyisakan sedikit jarak yang membuat jantung berdebar sangat kencang. Gadis itu pun memekik kesakitan. Selain tangan yang dicekal erat, kini keningnya terantuk dahi pangeran. Akibat perbuatan lelaki itu, dia jadi sedikit pusing. "Saya tidak sudi untuk menjadi pengantin pengganti!" tolak Quintessa kencang. Gallen tersenyum sinis. "Baiklah, kalau kau ingin dipanggang hidup-hidup. Ucapkan selamat tinggal pada keluargamu yang entah ada di mana." Sejurus kemudian, lelaki keturunan bangsawan tersebut melepaskan genggaman tangan. Berjalan meninggalkan Quintessa yang masih berdiam diri di tempat dengan suasana hati bercampur aduk. Ingatan Quintessa melayang pada keluarga yang selalu mendukungnya semenjak kecil. Padahal selama ini, dia sudah sangat merepotkan. Terlebih karena insiden sehari sebelum malam halloween tahun 2007. Ketika berusia sepuluh tahun, sahabat terbaik Quintessa yang bernama Asquilla Verdana meninggal dunia akibat tertabrak sebuah mobil. Kejadiannya persis setelah Asquilla membuat roti halloween di rumah Quintessa. Semenjak saat itu, Quintessa trauma. Tak lagi bergaul dengan anak-anak lainnya. Hingga di usianya yang telah mencapai 24 tahun, Quintessa belum berminat untuk menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain. Berteman saja tidak mau, apalagi menikah. Sudah begitu, dia dan Gallen baru saling mengenal selama beberapa menit. Dia memang tampan dan seorang pangeran, tapi Quintessa tidak tahu makhluk macam apa yang akan dia nikahi. Beruntung kalau Gallen adalah manusia. Bagaimana jika lelaki itu ternyata seorang vampir, drakula, atau werewolf? Tidakkah itu mengerikan? Membayangkannya saja sudah membuat bulu roma tegak sempurna. Konsentrasi Quintessa pecah ketika lelaki itu kembali bertanya, "Kau sungguh ingin mati, Sweetheart?" Gadis bersurai pirang terkesiap. Netranya lantas menatap ke arah Gallen. Menemukan lelaki itu tengah memandang padanya dengan sorot mata tajam. "Mati adalah alasanku menenggelamkan diri di danau. Kalau tidak, untuk apa aku repot-repot membahayakan nyawa diri sendiri? Tapi, apa hasilnya? Aku malah nyasar ke sini," balas Quintessa dengan tenang. Gallen tak lagi menemukan sinar pemberontakan yang memancar dari mata gadis itu. Seolah lenyap begitu saja. Seakan-akan, Quintessa sungguh ingin menyambut kematiannya. Merasa salah dalam mengancam, lelaki itu kemudian mengembuskan napas kencang. Otaknya kembali berpikir. Hal apa yang sekiranya dapat digunakan untuk membujuk perempuan satu ini? Menggigit bibir bawah sambil menyugar rambut ke belakang. Pupil matanya beradu dengan sorot sinar mentari yang menelusup dari balik kaca jendela. Membuat Gallen seolah bermandikan cahaya surya. Quintessa terpaku sebentar. Di saat yang kurang menguntungkan ini, dia malah terpesona dengan lelaki yang menawarkan diri menjadi suaminya. Jujur, gadis itu mulai bimbang. Haruskah dia menerima tawaran Gallen? Dia begitu tampan. Sulit menemukan lelaki good looking sepertinya. Cuma satu kekurangan Gallen. Pangeran itu terlalu diktator dan tak segan-segan untuk mendorongnya hingga membentur sana sini. Oh, jangan lupakan juga tentang sikap kurang ajarnya yang membuat otak mendidih dalam hitungan detik. "Aku aku setampan itu, Sweetheart?" goda pangeran tunggal Kerajaan Windemere. Lelaki itu memergoki Quintessa yang tengah memandang ke arahnya dengan pandangan kosong. Terlihat jelas kalau sedang memikirkan sesuatu. Tetapi apa? Dia ingin segera mengetahuinya. Mendapat pertanyaan yang begitu tiba-tiba, gadis berambut pirang langsung mengedip-ngedipkan mata. Mengembalikan kesadaran yang sempat kelayapan entah ke mana. "Bu-bukan apa-apa," balas Quintessa sekenanya. Gadis itu tidak mendengar pertanyaan dari Gallen. Mengira bahwa pangeran bertanya, "Mengapa melihatku seperti itu?" Jadi, begitulah hasilnya. Jawaban yang diberikan oleh Quintessa tidak nyambung sama sekali dengan pertanyaan Pangeran Gallen. Bahkan, alis lelaki itu sampai terangkat. Balik bertanya, "Apa maksudmu dengan ketampananku yang tidak apa-apa?" "Hah? Tampan? Kapan saya mengatakan kalau Anda tampan?" tanya Quintessa terkejut. Gadis itu tentu belum sadar kalau dia salah mendengar pertanyaan. Makanya jadi bingung sendiri seperti ini. Tidak mau memperpanjang masalah, Gallen mengembuskan napas keras-keras. Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya, "Yakin mau dibakar hidup-hidup, Sweetheart? Kau tidak takut kalau tak dapat bertemu dengan orang tuamu lagi?" Deg! Jantung Quintessa serasa hendak melompat dari tempatnya. Dia kembali teringat akan keluarga. Ah, menyebalkan sekali! Mengapa lelaki satu itu harus membahas tentang keluarga sebanyak dua kali? Dia jadi merasa bimbang untuk menerima hukuman mati secara cuma-cuma. "Tidak mau, 'kan?" bisik Gallen di sela angin sepoi yang membelai pipi Quintessa. Gadis itu tidak bisa berkutik. Sebab sekarang, Gallen berada sangat dekat dengannya. Salah satu tangan lelaki itu diletakkan di punggung, sisanya di kaki. Ya, Gallen menggendong Quintessa ala bridal style. Matanya begitu teduh dan dihiasi senyum kemenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD