Tips dan Trik

1026 Words
"Tikus!" jerit Quintessa tiba-tiba. Lelaki berambut coklat keemasan langsung mendongak. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. Benarkah ada hewan pengerat di sana? Quintessa memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Dia melakukan roll depan. Membuat lelaki berambut coklat keemasan terjengkang, sedangkan Quintessa berhasil lolos meski kepalanya pusing membentur lantai. "Kenapa kau berubah menyebalkan seperti ini, hah?" teriaknya kencang. Mata lelaki itu terlihat berkilat-kilat, menahan amarah. Membuat keberanian Quintessa langsung menciut. Sekarang, dia hanya bisa duduk di tempat. Perlahan, Gallen mendekat. Mata tajamnya tak lepas memandang Quintessa. Ingin mengetahui, sejauh mana keberanian yang dimiliki gadis itu untuk terus menerus membohonginya. Hingga jarak kembali terkikis, Quintessa tak mampu beranjak sedikit pun. Tahu-tahu, lelaki itu sudah berada di hadapannya dengan tatapan setajam elang. Seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Embusan angin hangat itu kembali menyapa. Tengkuk Quintessa pun meremang dengan segera. Otaknya memutar kejadian yang baru saja terjadi dan tidak menutup kemungkinan untuk terulang kembali. "Masih ingin bermain-main denganku, Sweetheart?" tanya lelaki itu pelan, tapi mampu membuat Quintessa begidik ketakutan. Sebab sekarang, wajah keduanya begitu dekat. Tadi, Gallen berbisik tepat di depan telingnya. Sampai sekarang pun masih di sana. Seolah enggan untuk menyingkir dari Quintessa, barang sebentar saja. Tanpa dapat diduga sebelumnya, tangan lelaki itu menyentuh lengan gaun Quintessa. Refleks, gadis itu mencoba menahan. Namun gagal karena tangannya langsung dikunci di dekat dinding. "Lepas!" raung Quintessa panik. Pandangan lelaki itu mengerikan. Terlebih sekarang, dia mengunci tangannya di atas kepala. Membuat pikiran Quintessa berkeliaran ke mana-mana. Seolah tidak peduli dengan pendapat gadis itu, lelaki berambut coklat keemasan mengalihkan pandang ke bahu kiri Quintessa. Tangan kanannya kemudian menurunkan lengan gaun. Membuat gadis bersurai hitam otomatis memejamkan mata. Malu rasanya kalau lengan bajunya dipelototi seperti itu. Lelaki tersebut diam membeku di tempat. Menelan salivanya kasar. Lantas, mengamati wajah gadis cantik di hadapannya. Quintessa yang tidak merasa ada tindakan lanjutan pun memberanikan diri untuk mengintip. Dia membuka sebelah mata. Bermaksud untuk mencari tahu apa yang tengah dilakukan lelaki menyebalkan itu. Gadis berambut pirang langsung terkejut. Sebab, lelaki itu memandangnya intens. Dari sorot mata, dirinya bisa menyimpulkan kalau perasaan lelaki itu sedang bercampur aduk. "A-apa lihat-lihat? Baru sadar kalau aku ini cantik?" tanya Quintessa, berusaha melepaskan diri dari situasi canggung ini. Mengusap muka sambil melepaskan tangan Quintessa. Kemudian, dia memijit kening. Seolah menemukan beban berat yang harus dipikul. Quintessa sendiri sibuk mengibas-ngibaskan tangan. Cekalan lelaki itu cukup erat dan membuat pergelangan tangannya memerah. Rasanya pun cukup sakit. "Kau sungguh bukan Shareness?" tanyanya memastikan. Mengerucutkan bibir tanda sebal. "Baru percaya sekarang? Dasar lelaki menyebalkan!" protes Quintessa. "A-aku minta maaf. Kupikir, kau kekasihku," ucapnya sambil membenahi lengan baju yang belum sempat dia kembalikan ke posisinya semula. Gadis berambut hitam berjengit. Tindakan tiba-tiba lelaki itu membuat jantungnya berdebar kencang. Bahkan sekarang, dia bisa merasakan kalau aliran darahnya meningkat dua kali lipat. "Kau tahu di mana Shareness yang asli?" tanya lelaki itu lagi. Menggelengkan kepala. "Aku tidak kenal dengan siapa pun. Bahkan, nama tempat ini pun, aku tidak mengetahuinya." "Lantas, bagaimana kau bisa ada di sini? Kompleks istana, pula," selidiknya sembari menaikkan sebelah alis. Quintessa mengedikkan bahu. Dia kemudian menjelaskan secara singkat, "Aku mencoba menenggelamkan diri di danau. Sebelum mengembuskan napas terakhir, rasanya air di gaunku menghilang. Ketika membuka mata, aku jatuh dari pohon apel karena rantingnya patah." "Ja-jatuh? Pohon apel yang mana? Katakan!" ujarnya panik. Lelaki itu terlihat begitu risau. Bahkan, kedua tangannya mampir di bahu Quintessa. Ada pun netra coklatnya menatap tajam pada gadis itu. Menyingkirkan kedua tangan di bahu, lantas menjawab, "Mau kuantar ke sana?" "Kau tidak mencoba kabur, 'kan?" tanyanya memastikan. Quintessa merotasikan bola mata. Mengapa lelaki satu ini selalu salah sangka padanya? Astaga, menyebalkan sekali. "Untuk apa kabur? Itu sia-sia. Sekeras apa pun usahaku untuk lari, penjaga-penjaga macho itu selalu berhasil membawaku kembali," curhat Quintessa. Semenjak disangka sebagai Putri Shareness, dia kucing-kucingan dengan para penjaga dan maid di istana. Bahkan sesekali, dapat meloloskan diri. Akan tetapi sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Quintessa tertangkap dan berakhir dikurung di dalam kamar mewah ini. Lelaki berambut coklat keemasan menyunggingkan senyum tipis, menertawakan nasib sial yang dialami Quintessa. Sejenak, gadis di hadapannya terpesona. Siapa sih yang tidak terkesima kalau ada lelaki tampan yang tersenyum dalam jarak sedekat ini? "Oke, antarkan aku. Tapi sebelum itu, kau tahu namaku?" Quintessa segera tersadar dari lamunannya. Dia menjawab sebal, "Nggak. Memang, kau siapa? Lalu ini tempat apa? Seperti istana kerajaan negeri dongeng." "Gallen Windemere. Sekarang, kau ada di Kastil Windemere, Kerajaan Windemere," balasnya panjang kali lebar. Gadis berambut hitam langsung membulatkan mata. Apa dia tidak salah dengar? Kenapa begitu banyak Windemere? Jangan bilang, lelaki ini adalah seorang bangsawan kelas atas. "Kenapa?" tanyanya lembut sambil menarik sudut bibir ke atas. Quintessa menjawab gugup, "Anda pemilik kastil ini?" "Bukan. Aku putranya. Bisa tebak gelarku?" tanya Gallen, mencoba bermain-main dengan gadis manis di hadapannya. Bukan bermaksud apa-apa. Dia hanya suka dengan gadis polos seperti Quintessa. Terasa menyenangkan ketika membuatnya bingung seperti ini. Terlihat olehnya kalau Quintessa tengah berpikir keras. Hal itu tergambar jelas dari kedua alis yang nyaris tertaut. Dahinya juga berkerut. Namun yang aneh, kecantikan Quintessa tidak berkurang sama sekali. "Earl? Duke? Count?" tebak gadis itu, membuyarkan konsentrasi Gallen. Gallen tertawa kecil. "Astaga, kau tidak bisa menebak hal semudah ini?" "Apa kita harus berhasil dalam percobaan pertama? Bukankah masih ada kesempatan lain? Tidak perlu menertawakanku seperti ini," ujar Quintessa yang mulai kesal. Suatu hal yang lazim kalau dia tidak dapat menebak dengan benar. Sebab, tak mengerti sama sekali tentang tempat ini. Nama Windemere saja, baru saja mendengar. Itu pun Gallen yang memberitahu. "Orang tuaku selalu mengajari untuk berhasil pada percobaan pertama," balas Gallen. Kemudian, lelaki itu memundurkan tubuh. Berpindah menyandar di tembok. Sama seperti Quintessa. Menoleh ke samping. Kemudian kembali mencoba peruntungan untuk menebak gelar alias jabatan Gallen. "Pangeran?" "Kenapa memanggilku, hm?" balasnya sembari mencuri pandang. Quintessa mendengus. "Aku cuma menebak, nggak niat manggil." Sesaat kemudian, gadis itu tersentak. Bahkan, sampai terlonjak dari tempatnya. Membuat Gallen ikut membulatkan mata. Bertanya panik, "Anda sungguh seorang pangeran?" Tersenyum kecil. Kemudian, tangannya terulur. Menyentuh pipi Quintessa yang begitu lembut. Bahkan mungkin, sehalus sutra. "Menurutmu?" ucapnya, balas bertanya. Gallen sungguh gemas. Otak Quintessa connectnya memang lambat atau bagaimana? Jika begini keadaannya, dia serasa sedang dihadapkan dengan Shareness versi produk gagal. Gallen jadi ingin mengurung Quintessa di kastil ini untuk selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD