Persiapan

1062 Words
Hai, Zora minta maaf karena ternyata kemarin lupa update. Jadi hari ini 2 bab, ya. Happy reading. *** "Jaga bicaramu, Stev!" amuk Gallen. Padahal dia bukan siapa-siapanya Quintessa. Lelaki tampan itu tertawa kecil melihat sisi posesif Gallen yang mulai muncul. Setelahnya dia menjelaskan, "Aku hanya menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku. Tidak kurang dan tidak lebih. Toh apalagi namanya kalau bukan tertarik? Karena kulihat, dia terpana memandangku." Gallen mendengus kesal. Saat netranya mencuri pandang pada Quintessa, dia mendapati gadis itu tengah tersipu malu. Gallen jadi tambah cemburu dan tanpa sadar, semakin menarik Quintessa untuk merapat pada dirinya. Gadis itu sebenarnya kaget dengan perlakuan pangeran. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena situasi yang kurang memungkinkan. Jadi Quintessa mengambil jalan aman, mengikuti seluruh permainan Gallen. "Kenapa malah kau yang datang? Bukankah seharusnya Tetua Han?" tanya Gallen kemudian. Steven menjawab dengan bahasa formalnya, "Anda sebaiknya duduk terlebih dahulu, Tuan. Penjelasan dari saya ini akan berbuntut panjang seperti tali tambang." Gallen agak kesal dibuatnya. Tapi ucapan Steven memang benar. Kasihan juga kalau Quintessa harus berdiri lama. Terlebih sepatunya memiliki hak. Berbeda dengan miliknya yang datar-datar saja. Dengan manis, lelaki itu membantu Quintessa untuk duduk. Setelahnya mereka kompak memandang Steven. Menagih janjinya untuk menjelaskan semua ini. "Baik Tuan, sebelumnya kami meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Tetua Han terjatuh ketika akan berangkat kemari. Oleh karenanya, saya yang datang. Menggantikan beliau untuk menjelaskan tentang penyelenggaraan pernikahan," cerita Steven. Gallen mengangguk paham. Tetua Han memang sudah berumur lanjut. Tidak heran kalau insiden jatuh dapat membuatnya batal berpergian. Terlebih jarak padepokan dengan istana dapat dibilang jauh. Jika memaksakan diri, takut terjadi masalah yang lebih besar. Pangeran bertanya, "Bagaimana pengamanan di sekitar istana? Apa jumlah prajurit memadai?" "Tentu, Tuan. Kami sudah menaruh penjaga di beberapa titik strategis. Di samping itu, kami juga menempatkan satu penjaga setiap dua meter. Lalu yang terpenting, masih ada pasukan bayangan. Kami juga sudah melakukan seleksi pengawal istana. Berjaga-jaga kalau ada yang melakukan pemalsuan identitas atau penyusup dari organisasi yang hendak mengacau. Tapi sejauh ini, aman-aman saja. Kami tidak menemukan kendala," jawab Steven. Sesekali, tangannya menunjuk pada denah. Memperlihatkan di titik mana saja yang diberi penjaga. Gallen kembali bertanya, "Soal hidangan dan pawai, sudah kau urus?" Menganggukkan kepala sambil berkata, "Sesuai perintah Anda, Tuan. Putri Shareness pasti menyukainya." Steven menerbitkan bulan sabit di bibir merahnya. Quintessa yang sedang cosplay menjadi Shareness pun terpaksa tersenyum. Ya, meski agak kaku karena dia belum terbiasa tersenyum. "Tahan detailnya. Aku mau itu tetap menjadi kejutan," perintah Gallen dingin. Lelaki di hadapannya mengiyakan. Mereka lantas membahas mengenai hal-hal lain. Tamu undangan, jumlah maid, dan masih banyak lagi. Hanya saja, Quintessa merasa tidak dibutuhkan di sini. Sepanjang percakapan, dia hanya mendengarkan ocehan kedua lelaki itu. Hal tersebut membuatnya sedikit bosan dan ingin cepat-cepat beristirahat. *** Setelah tak ada lagi yang bisa dibahas, Steven pamit undur diri. Gallen menganggukkan kepala dan mempersilakan lelaki itu untuk pergi. Namun sebelum benar-benar beranjak, Steven menyempatkan diri untuk bertanya, "Kau tidak berpikir menyewa seseorang untuk melindungi Shareness?" "Sudah kulakukan," jawab Gallen singkat. Lelaki itu kemudian melanjutkan, "Aku juga sadar kalau kehidupan seorang calon ratu bisa penuh dengan bahaya. Pengawal yang aku sewa akan datang saat pernikahan. Pastikan kau memiliki cukup kue untuknya." Steven menyunggingkan seulas senyum. "Syukurlah kalau kau akhirnya sadar. Shareness butuh pendamping selain dirimu." "Hm," sahut Gallen datar. Lelaki itu pun tahu diri dan segera pergi. Meninggalkan Gallen yang masih berada di gazebo bersama Quintessa. Memandang pada punggung Steven yang kian lama semakin tak terlihat oleh pandangan mata. Sepeninggal Steven, Gallen melirik pada calon istrinya dengan tatapan tajam. Membuat Quintessa cengar-cengir dan menundukkan kepala. Antara takut dimarahi, tapi senang juga saat melihat Gallen marah. "Kau lebih memilih monster itu dariku?" tanya Pangeran tidak percaya. Quintessa menyenggol tangan lelaki itu sambil bercakap, "Apa maksudmu? Dia bukan monster, aku juga tidak memilihnya." "Tapi kau melihat Steven cukup lama. Kau bahkan terlihat mengaguminya," sangkal Gallen yang mulai merasa cemburu. "Tidak boleh? Aku ini juga punya mata yang seharusnya digunakan untuk melihat. Toh di rumahku, tidak banyak lelaki tampan. Apa salahnya kalau sekarang aku melihat mereka dari dekat? Ini kesempatan langka," elak Quintessa yang mencari pembenaran. Mencoba memberikan alasan masuk akal. Gallen mendengus mendengar pengakuan itu. Dia lantas bertanya, "Apa aku tidak tampan?" Napas Quintessa terasa terhenti ketika pangeran tampan tersebut merangsek maju dengan sebelah tangan yang memerangkap dirinya. Ada pun yang satunya dilingkarkan di pinggang. Gallen membuat scene ala drama romantis, di mana pemeran utama pria mengurung gadisnya dengan sebelah tangan. Embusan napas pun terasa dengan jelas di pipi Quintessa. Hidungnya kini bahkan dapat membaui aroma mint yang keluar dari bibir Gallen. Sebab jarak mereka semakin terkikis. "Kau ... tampan," ungkap Quintessa pada akhirnya. Gallen terpaku sebentar. Mengamati wajah cantik gadisnya sambil menahan rasa senang di dalam hati. Hampir saja dia tersenyum, tapi masih berusaha menyembunyikan. Tak mau Quintessa menganggapnya gr. Menarik diri sambil mengancam, "Cukup lihat aku. Kalau kau sampai macam-macam, aku akan langsung memberimu hukuman yang lebih manis dan mendebarkan dari ini." Quintessa membulatkan matanya. Gallen sangat pandai membuat dirinya terkejut. Lelaki itu penuh dengan kejutan dan rencana di kepala Gallen tak bisa dia tebak sebelumnya. "Persiapkan dirimu dengan baik. Aku tak mau ada yang curiga tentangmu. Kita menikah satu minggu lagi," ujar lelaki tersebut sambil menepuk rambut Quintessa. Gallen kemudian berbalik badan. Lelaki itu senyam-senyum sendiri mengingat pujian Quintessa. Beruntung di sini tidak ada penjaga yang melihat. Bila ada yang menyadari bahwa Gallen tersenyum sendiri tanpa sebab yang jelas, desas desus kalau dia gila pasti menyebar dengan cepat. Sementara itu di waktu yang sama, Quintessa melongo. Dia bertanya panik, "Satu minggu? Apa pria itu serius?" Tujuh hari bukanlah waktu yang lama baginya untuk menjiplak setiap perilaku Shareness. Oh, ayolah! Dia bahkan belum terbiasa tersenyum. Bagaimana bisa hendak menikah? "Ini sungguh gila," komentar Quintessa sambil mengacak rambutnya sendiri. Merusak tatanan yang dikerjakan dengan hati-hati oleh maid istana. Namun setelah itu dia meralat ucapannya. Dia berujar, "Tidak! Aku yang gila karena menerima tawaran itu! Oh Tuhan, apa yang sebenarnya sudah aku lakukan?" Quintessa menyesalkan tentangnya yang tidak bertanya mengenai kapan pernikahan akan dilaksanakan. Dia sungguh tidak menyangka akan terjadi secepat ini. "Sial! Aish!" umpatnya sambil memukul pilar gazebo. Namun memprotes seperti apa pun, semua sudah terjadi. Quintessa sadar bahwa yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjalani kepura-puraan ini dengan sempurna tanpa kekurangan suatu apa. Atau, semua bisa gagal dalam satu kedipan mata. "Semangatlah, diriku," ujarnya lemas sambil menyandarkan kening di pilar. Memejamkan mata untuk meredakan kecemasan yang melanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD