Menjelang hari h pernikahan, jantung Quintessa berdegup dengan kencang. Dipandangnya langit malam yang penuh dengan bintang. Seakan turut meramaikan suasana.
Pandangan gadis itu kemudian turun pada jalan sekeliling istana. Kebetulan dirinya tengah berada di lantai dua. Di sini, Quintessa dapat melihat dekorasi yang begitu cantik. Tampak begitu sempurna ketika diterangi sinar rembulan.
"Aku ... akan menikah?" lirih gadis itu tidak percaya.
Dia sama sekali tidak menyangka. Acara bunuh dirinya akan berakhir dengan sebuah pernikahan tanpa berlandaskan cinta. Terselip rasa kasihan di lubuk hatinya tentang Shareness. Perempuan itu yang seharusnya berada di sini. Melihat semua dekorasi cantik ini.
Netra Quintessa menerawang ke arah langit. Kembali dilihatnya cahaya rembulan. Terlihat seperti menyorot dirinya seorang. Ada pun para bintang mulai meredup. Quintessa rasa, itu karena kabut malam yang semakin menebal.
"Belum tidur, Sweetheart?" tegur Gallen yang sedari tadi mengamati dari halaman.
Gadis bersurai pirang berbalik. Mendapati calon suaminya yang berada di belakangnya. Sedang mendekati dirinya.
Quintessa menganggukkan kepala. "Aku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu?"
"Aku baru saja menyelesaikan urusanku," ungkapnya jujur sambil melingkarkan kedua tangan di pinggang Quintessa.
Pengganti Shareness itu merasa tidak nyaman. Terlebih saat Gallen menyandarkan kepala di bahunya. Semakin membuat jantung Quintessa ingin melompat keluar dari tempatnya. Berkelana mencari tempat baru.
Dengan gugup Quintessa bertanya, "Selarut ini?"
"Hm. Demi pernikahan kita esok hari," bisiknya lembut di tengah semilir angin malam.
Terdengar cukup sendu, memberi isyarat kalau Gallen sama sekali tidak bahagia dengan acara sakral yang besok akan diselenggarakan secara meriah dan besar-besaran.
Quintessa menghela napas kasar. Perlahan sekali dia menjauhkan Gallen. Menangkup rahang tegas nan mulus itu dengan kedua telapak tangan. Ada pun matanya memandang lurus pada wajah Gallen yang terlihat sedih.
"Ayo selesaikan ini. Kau tentunya tidak mau hidup selamanya denganku, bukan?" ujar gadis cantik itu.
Gallen menganggukkan kepala. "Tentu saja, aku hanya menyukai Shareness. Bukan dirimu."
"Aku tahu," ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung kekar milik Gallen. Merasakan otot yang begitu kuat.
Pangeran tampan itu pun merasa nyaman. Gara-gara hal tersebut, rasa kantuk pun menyergap. Tepukan Quintessa seperti pengantar tidur untuk dirinya. Sebelum jatuh terlelap, Gallen segera menjauhkan diri dengan mata berair. Dia sempat menguap tadi.
Quintessa bertanya, "Kau menangis? Cengeng sekali."
"Siapa yang menangis? Aku hanya menguap," kilahnya sambil menyeka air di sudut mata.
Gadis di hadapannya melotot, memperhatikan tanpa berkedip. Gallen yang menyadarinya pun segera menjauh dan bertanya, "Apa yang kau lakukan?"
"Hanya memastikan kalau kau tidak menangis," sahutnya enteng seraya menyentuh hidung Gallen.
Lelaki itu kembali berjengit sembari melangkah mundur. Hari ini dia menyadari kalau tingkah Quintessa sedikit lain dari biasanya. Maka dia bertanya, "Apa kau sakit?"
Menempelkan punggung tangan pada kepala sendiri. Merasakan kehangatan yang normal. Tidak ada tanda-tanda akan terserang demam.
"Tidak," jawab Quintessa polos.
Gallen pun tergelak melihat tingkah calon istrinya. Dia lantas meluruskan, "Bukan itu. Kau terlihat sedikit agresif."
Sambil berkata, lelaki tampan tersebut meraih pipi Quintessa. Memaksa pemilik bulu mata lentik tersebut untuk bertatapan dengan dirinya. Saling bertukar pandang dibawah terang sinar bulan purnama.
"Apa kau tidak sabar untuk malam pertama kita?" terka lelaki itu sambil mengunci Quintessa dengan cara melingkarkan sebelah tangannya.
***
Tepat pukul enam waktu setempat, Quintessa sudah siap untuk dirias. Gadis itu baru saja mandi dan langsung dihampiri oleh tim rias. Namun sebelum wajahnya ditaburi bedak dan segala macam make-up lain, dia terlebih dahulu diminta mengganti baju.
Sebuah gaun pengantin berbahan sutra dan dilapisi oleh kain tile. Terlihat begitu anggun di manekin. Quintessa bahkan jatuh hati dengan desainnya.
Perlahan, gadis itu mendekat. Merasakan halusnya sutra yang bertabur mutiara. Setelahnya dia mengenakan gaun cantik tersebut. Terasa sangat pas, bahkan garis lehernya yang berbentuk u tidak terlalu rendah. Menjaga asetnya agar tidak nampak oleh orang lain.
"Anda sangat cantik, Nona," puji seorang perias. Quintessa hanya bisa tersenyum tipis. Setelahnya perempuan perias tersebut melanjutkan, "Biar saya bantu mengikatkan talinya."
"Silakan," ujar Quintessa sambil merentangkan kedua tangan, memberikan kesempatan bagi maid tersebut untuk mengikatkan kain mewah berwarna silver yang berkilau.
Bertanya pelan, "Apakah ikatannya terlalu kencang, Nona?"
Quintessa menggelengkan kepala. "Tidak. Ini sempurna."
Mendengar jawaban tersebut, maid itu lega dan segera membuat simpul. Sebuah pita yang indah pun tercipta. Sesuai dengan keinginan Shareness yang disampaikan pada desainer gaun. Gadis itu ingin menggunakan pita yang terpisah dari gaunnya.
"Terima kasih," ujar Quintessa seraya pergi untuk duduk di depan cermin. Membiarkan wajahnya dijadikan kanvas oleh para perias profesional.
Sebagai pelengkap, Quintessa mengenakan sebuah sepatu berwarna silver. Terlihat cantik dan serasi dengan gaunnya saat ini. Terlebih sekarang, sebuah mahkota disematkan di rambut pirangnya. Menambah kecantikan sang pengantin pengganti.
Salah satu dari mereka berceloteh, "Tuan Pangeran pasti tidak akan berkedip saat melihat Anda keluar dari ruangan ini, Nona."
Quintessa hanya menampilkan segaris senyum. Sebab tiba-tiba saja, dia teringat akan perkataan Gallen. Shareness hanya bicara seperlunya. Sekilas, gadis itu tampak bagaikan orang yang pendiam.
Setelah selesai, Quintessa berputar satu kali. Membuat rok gaunnya turut mengembang. Menjerat siapa pun yang melihatnya dalam pesona mematikan. Termasuk, Gallen Windemere.
Lelaki itu tidak sabar melihat penampilan calon istrinya. Dia pun menerabas masuk. Hendak meminta tim rias agar lekas menyelesaikan pekerjaannya.
Tepat ketika Quintessa berhenti, pandangan matanya tertuju pada sosok tampan di ambang pintu. Siapa lagi kalau bukan Gallen? Pangeran tersebut sudah terlihat sangat tampan dan gagah dengan jas silvernya. Serasi dengan penampilan Quintessa saat ini.
"Sudah selesai, Sweetheart?" tanya Gallen saat memergoki gadis itu tidak berhenti memandangnya.
Quintessa terkesiap. Dia lalu menganggukkan kepala sambil berjalan mendekat. Menerima uluran tangan Gallen untuk bergandengan menuju aula utama. Tempat di mana mereka akan memulai pawai sebelum diresmikan menjadi sepasang suami istri.
Sepanjang perjalanan, rakyat mencuri pandang. Terdengar sorak sorai saat melihat kedua calon pengantin sudah selesai dirias dan menuju aula. Mereka ingin melihat dari dekat.
"Apa dia manusia? Terlihat seperti dewi!"
"Cantik sekali, astaga! Pangeran juga tampan. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi!"
"Ini pernikahan terbaik yang pernah ada!"
Beragam komentar mereka lontarkan. Hingga akhirnya, tibalah saat bagi Gallen dan Shareness palsu meminta doa restu serta keselamatan dalam pawai. Raja dan Ratu sama-sama tak kuasa menahan tangis. Masih tidak percaya kalau putra mereka satu-satunya akan menikah hari ini. Bersiap menempuh hidup baru dan memikul tanggung jawab yang besar di kemudian hari.
Setelah diizinkan, Gallen membimbing Quintessa menuju sebuah kereta kuda, tapi yang ini cukup tinggi. Beruntung Gallen berbaik hati untuk mengulurkan tangan. Kalau tidak, Quintessa yakin dirinya sudah terjatuh di tangga.
Setelah duduk, keduanya menebar senyum. Namun Gallen mendapati raut wajah Quintessa agak lain dari hari biasa. Dengan lembut, diraihnya tangan Quintessa. Menggenggam erat hingga gadis cantik itu menoleh. Memusatkan seluruh perhatian padanya.
"Nervous, Sweetheart?" terka lelaki itu.
Quintessa menggigit bibirnya. Memberi isyarat kalau dia tengah gugup. Gallen pun meraih pundak gadisnya. Dia berbisik, "Tidak apa-apa. Semua pasti berjalan dengan lancar. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu acara kita hari ini. Ya?"
"Bukan itu," ujar Quintessa tertahan. Ada hal lain yang mengganjal di dalam hatinya selain kelancaran proses pernikahan yang menurutnya cukup ribet ini.
"Lalu?" tanya Gallen sembari menaikkan sebelah alisnya. Menanti jawaban yang akan keluar dari bibir mungil milik Quintessa.