Nervous

1048 Words
Kereta kuda ini memang dilengkapi dengan atap yang menghindarkan calon pengantin dari teriknya sinar mentari. Begitu pun dengan sisi kanan dan kiri, mirip dengan kereta labu milik Cinderella. Tapi Quintessa tetap tidak mau mengambil risiko. Perlahan, dia mendekatkan wajah hingga berhenti sempurna di depan telinga Gallen. "Aku takut kalau orang-orang mengetahui kebenarannya," bisik Quintessa. Gallen tersenyum setelah gadis itu mengatakan sumber keresahan di dalam hatinya. Lelaki itu lantas membalas, "Meski mereka tahu, aku tidak akan membiarkanmu terkena hukuman. Aku akan menjadi orang pertama yang membelamu. Melindungimu sampai akhir." Quintessa terkesima dengan jawaban Gallen. Begitu manis, tapi lebih cocok bila lelaki itu utarakan pada kekasih yang dia cintai. Sedangkan dirinya ini hanya sampah tidak berguna yang kebetulan didaur ulang oleh seorang bernama Gallen Windemere. Menundukkan kepala agak dalam. Menatap pada rok gaun yang ternyata memiliki motif bunga mawar. Kesukaan Shareness dan ... Asquilla Verdana, sahabatnya yang pergi puluhan tahun silam. "Aku tidak suka lelaki yang mengobral janji," lirih Quintessa tanpa melepaskan pandangan dari gaun pengantin yang dia kenakan. Tidak ada sahutan berarti dari Gallen kecuali tawa kecil. Setelahnya, lelaki itu mengakhiri sesi konsultasi. Kembali menebar senyum pada rakyat Windemere yang sudah berderet antri. Ingin menyaksikan pewaris tahta kerajaan ini. Seorang yang kelak akan memimpin, menjabat sebagai Raja di tanah Windemere. *** Seperti yang Gallen katakan, pawai berlangsung dengan lancar. Begitu pun ketika mereka kembali ke kastil. Menemui pemuka agama untuk mengucapkan sumpah pernikahan. Tidak ada halangan yang terjadi. Namun tetap saja, Quintessa gemetar saat keduanya sudah berdiri di hadapan pemuka agama. Beliau terlihat memandangnya dengan tatapan mencurigakan. Seolah bertanya, "Kau siapa?" Cepat-cepat Quintessa menepis anggapan itu. Tapi tetap saja, dia merasa takut kedoknya terbongkar. Membuat Gallen berbisik, "Rileks, Sweetheart. Kita tidak sedang berhadapan dengan harimau." "Bagaimana kalau yang ada di depan kita adalah serigala berbulu domba?" balas Quintessa, berbisik pula. Meminjam peribahasa populer, memiliki arti seseorang yang memiliki niat terselubung. Gallen terdiam sebentar. Sejurus kemudian, dia mengedikkan bahu. Menurutnya sangat tidak mungkin kalau pemuka agama Louis memiliki niat tersembunyi. Gallen belum pernah mendengar rumor miring tentang Louis. Pembicaraan kedua calon pengantin terpotong karena deheman dari Bunda Ratu. Gallen dan Quintessa pun langsung kembali fokus pada acara selanjutnya. Pengucapan sumpah pernikahan yang sayangnya harus mereka langgar. "Saudara Gallen Windemere, apakah Anda dengan sadar dan tulus, menerima Shareness untuk menjadi pengantin Anda? Pendamping hidup yang akan selalu Anda jaga seumur hidup Anda?" tanya Louis setelah mengucap serangkaian doa. Suasana hening seketika. Gallen pun angkat bicara, "Ya, saya menerima Shareness sebagai pengantin saya. Saya akan menjaganya seumur hidup. Untuk dijadikan periksa, keputusan saya ini tidak berlandaskan paksaan dari pihak mana pun, melainkan atas dorongan ketulusan cinta." Setelah itu, Louis beralih menanyai Quintessa. Mengucapkan hal yang kurang lebih sama. Lantas memberi kesempatan bagi gadis itu untuk mengucapkan sumpahnya. "Ya, saya menerima Tuan Gallen Windemere sebagai pengantin saya. Saya berjanji untuk mengabdi padanya seumur hidup. Dasar keputusan saya ini tidak atas paksaan dari pihak mana pun. Murni atas dorongan cinta yang ... yang sebenarnya agak terlambat untuk saya sadari," balas Quintessa agak gugup. Terlihat sekali kalau keringat dingin mengalir dari dahinya. Bahkan tangan gadis itu meremas gaun. Mencoba menyalurkan rasa gugup di hatinya. Untung saja, Quintessa tidak diminta mengulangi pengucapan sumpah. Mereka kemudian menuju acara selanjutnya, yaitu menyematkan cincin. Gallen tidak terkejut saat tangan Quintessa begitu dingin. Gadis itu pasti super gugup. Ditambah dengan sedikit kesalahan saat pengucapan sumpah, dia pasti berpikir kalau semua tidak baik-baik saja. Gallen tersenyum lembut saat Quintessa balas memasangkan cincin pernikahan. Dengan tidak sabaran, lelaki itu menangkup wajah pengantinnya. Membuat Quintessa terkejut karena semua terjadi tiba-tiba. Suasana hening seketika. Ratusan, bahkan ribuan pasang mata menatap pada Gallen dan Quintessa di panggung sana. Saling menautkan bibir untuk melengkapi hari yang indah ini. Setelah selesai, Gallen menjauh. Namun sebelum benar-benar memperbesar jarak di antara mereka, Gallen menyempatkan diri untuk menyapukan jemari di atas bibir ranum Quintessa. Membersihkan sisa saliva yang tidak sengaja dia tinggalkan. Akibat perbuatan Gallen, degup jantung Quintessa tambah tidak kencang. Pipinya pun merona sempurna. Dia lantas menundukkan pandangan. Tidak berani menoleh pada kerumunan yang bersahutan memberi komentar. "Oh, mereka begitu manis!" "Aku jadi ingin menikah." *** Apa yang dimulai pasti akan diakhiri. Begitu pula dengan prosesi pernikahan. Sebagai penutup acara sakral ini, digelar sebuah pesta megah. Alunan musik terdengar jelas di telinga para tamu undangan yang sedang menikmati sajian. Quintessa dan Gallen sibuk menerima ucapan selamat dari para bangsawan. Salah satunya seorang perempuan cantik bergaun merah yang asetnya terlihat dari luar. Cara bicaranya pun agak manja. Quintessa merinding sendiri dibuatnya. "Selamat atas pernikahan Anda, Pangeran," ujarnya sambil tersenyum. Gallen menjawab apa kadarnya, sedangkan Quintessa berdehem. Ada rasa tidak nyaman ketika perempuan bergaun ketat tersebut berlama-lama menjabat tangan Gallen. Terlebih matanya melirik pada wajah Gallen, semakin membuat Quintessa curiga. Gadis bergaun merah paham dengan kode dari Quintessa. Dia permisi. Tapi sebelum itu, perempuan bergaun merah mengeringkan sebelah mata sambil meluncurkan kiss bye. "Perempuan sinting!" batin Quintessa dengan tangan mengepal sempurna. Gallen langsung menggenggam jemari pengantinnya. Berbisik pelan, "Abaikan saja. Shareness biasa memberinya tatapan dingin." Quintessa tidak mengatakan apa pun. Tapi di dalam hati, dia berpikir kalau Shareness terlalu menyembunyikan perasaannya. Harusnya dia menggertak atau apa. Jadi takkan ada perempuan lain yang berani mendekati Gallen. *** Usai pesta yang melelahkan, Gallen membawa istrinya ke sebuah ruangan. Letaknya terpisah dari bangunan utama. Suasana juga begitu sepi. Tak banyak orang yang berlalu lalang di sini. Terdengar suara burung hantu. Quintessa kaget, refleks memeluk Gallen yang ada di depannya. Membuat lelaki itu menghentikan langkah. "Ada apa?" tanya Gallen sambil menoleh. Gadis di belakangnya menjawab, "Takut." "Ha ha, ayolah. Kemana hilangnya keberanianmu?" ejek lelaki itu seraya berbalik. Matanya mengedar pandang ke belakang. Memindai bahaya yang mungkin datang meski kemungkinannya sangat kecil. Quintessa tidak menyahut. Gadis itu hanya melepaskan kedua tangan. Tapi pandangannya masih menunduk. Membuat Gallen tidak tega untuk memaksanya berjalan di belakang. "Mau jalan di depan, samping, atau aku gendong?" tawar pangeran tampan tersebut. "Depan," putusnya cepat seraya berjalan duluan. Gallen hanya bisa mengikuti kemauan Quintessa. Namun baru beberapa langkah, gadis itu melihat sesuatu yang merayap cepat dan menghilang di balik semak. "Ular!" jerit Quintessa panik seraya berbalik dan melompat. Pangeran Gallen yang tidak siap itu pun memejamkan mata saat merasakan aset milik Quintessa menyentuh d**a bidangnya. Ada pun kedua kaki Quintessa mengapit pinggang karena takut terjatuh, tapi membangkitkan sesuatu milik Gallen yang seharusnya tidak terbangun. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Gallen frustrasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD