Kacaunya Malam Pertama

1041 Words
Quintessa tertegun ketika mendengar ucapan Gallen. Gadis itu pikir, pangeran sedang marah. Oleh karenanya dia menjauhkan wajah. Menatap manik Gallen yang menyiratkan kekesalan. "Maaf," ujarnya sedih sambil turun. Gadis itu menunduk di hadapan Gallen. Mencoba menahan air mata yang hampir keluar. Dia takut kalau setelah marah-marah, Gallen akan membenci dirinya. Padahal dia hanya refleks melompat. Tidak ada tujuan lain. Gallen yang melihatnya pun mengembuskan napas kesal. Quintessa jadi makin merasa bersalah. Terutama karena Gallen tidak menerima permintaan maafnya. Merasa air matanya hampir jatuh, gadis bersurai pirang berbalik badan. Dia mulanya hanya mengambil satu langkah. Tapi lama kelamaan, jadi berlari. Quintessa mengikuti ke mana kakinya ingin. "Dia ... memang dia tahu jalan? Astaga!" gerutu Gallen sambil mengacak rambut coklat keemasannya. Sial sekali dia malam ini. Sudah miliknya dibangunkan, eh ditinggal kabur begitu saja. Gallen sebenarnya sedikit mengharapkan pertanggungjawaban Quintessa. Tapi dia terlalu ragu untuk mengungkapkannya secara langsung. Bisa-bisa, gadis itu kabur di malam pertama yang harusnya dihiasi ketenangan ini. "Tunggu aku, Sweetheart!" Quintessa terpaku di tempat. Entah bagaimana ceritanya, yang jelas sekarang dia berhenti sempurna di dekat sebuah pohon. Matanya yang berkaca-kaca itu masih saja meneteskan air mata. Daripada kata berhenti atau peringatan agar Quintessa tidak tersesat, Gallen memilih menggunakan kata tunggu. Nada bicara lelaki itu juga seperti orang bucin. "Kau ... berakting sejauh itu?" batin Quintessa dengan tatapan kosongnya. Tahu-tahu, Gallen sudah berada di belakang. Kedua tangan kekarnya melingkar, memerangkap Quintessa dalam pelukan hangat. Dari jarak sedekat ini, gadis bersurai pirang dapat merasakan embusan angin yang menyapu tengkuk. Kebetulan pula dia tidak menggerai rambutnya. "Jangan menyusahkanku," bisik Gallen. Quintessa meremas gaun malamnya. Gadis itu lantas menunduk sembari menjawab, "Maaf." "Hm. Apa yang membuatmu terkejut seperti tadi?" "Bu-bukan apa-apa," bohong Quintessa yang telanjur malas bercakap-cakap. Sudah begitu, tadi dia berteriak "ular" sebelum berbalik dan tak sengaja memeluk Gallen. Apa lelaki itu tidak mendengarnya? Pangeran tidak mau menerima jawaban istrinya begitu saja. Dengan segera, dia membalik tubuh mungil Quintessa. Memaksa wajah mereka untuk bertatapan. Saat itulah Gallen tertegun. Quintessa menangis, terlihat jelas bahwa ada bekas bulir kesedihan yang masih baru di sudut mata. Tapi, kenapa? "Aku hanya kelilipan," bohong Quintessa sambil mengedip-ngedipkan mata dengan cepat. Tenggorokan Gallen terasa tercekat mendengarnya. Dia menatap Quintessa dalam. Seolah ada sesuatu yang menarik untuk dipandang. "Kau tidak percaya padaku?" tanyanya kemudian. Quintessa menaikkan pandangan. "Maksudnya?" "Kau bohong karena ragu padaku, 'kan?" tutur Gallen sambil melepaskan kedua tangan yang semula melingkar di tubuh Quintessa. Istrinya itu tidak bisa menjawab. Ingin sekali Quintessa mengutarakan kalau dugaan Gallen salah besar. Dia berbohong bukan karena ragu. Hanya ... ah, sulit menjelaskannya. Semacam sakit hati. Gallen pun salah paham. Lelaki bersurai coklat keemasan tersebut menganggap kalau Quintessa masih belum bisa mempercayai dirinya seratus persen. "Ayo pulang," ajak Gallen tiba-tiba. Lelaki itu berjalan mendahului Quintessa. Bahkan ketika derap langkah tak kunjung terdengar, dia tidak peduli. Membuat Quintessa tambah merasa bersalah karena telah membuat Gallen marah. "Malam pertama saja sudah kacau begini, apalagi malam-malam lainnya," batinnya sambil menyeka sisa air mata di pipi. *** Quintessa berjalan agak jauh di belakang Gallen. Namun ketika lelaki itu membuka pintu, dia bisa melihat perabotan di dalamnya. Tidak kalah mewah dengan kamar lama Shareness. Quintessa merasa beruntung karena memiliki ruangan seperti ini. "Kau lebih suka lampunya dimatikan atau nyala?" tanya Gallen dingin saat melihat kelebat bayangan Quintessa memasuki kamar baru mereka. Istrinya langsung menjawab, "Dimatikan." "Pergilah ke tempat tidur. Aku akan mematikan lampu," perintah pangeran itu. Terlihat jelas kalau dia tidak mau dibantah. Quintessa pun langsung pergi. Duduk di tempat tidur dengan jantung yang berdegup kencang. Ada pun matanya tak lepas memandang punggung Gallen. Nampak begitu lebar dan nyaman jika digunakan sebagai tempat bersandar. Sayang sekali, hati suaminya itu milik orang lain. Quintessa jadi segan untuk bermanja-manja. Saat terlarut dalam khayalan sedihnya, lampu kamar dimatikan. Tidak terlihat apa pun, gelap di mana-mana. Menyadarkan Quintessa kalau sebentar lagi, Gallen akan kemari. Berbagi tempat tidur yang sama dengan dirinya. "Tenanglah jantungku. Tenang, ya," bisiknya di dalam hati sambil menarik napas panjang, lalu dadanya mengempis. Membuang napas dengan kencang. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tidak ada tanda-tanda kalau Gallen kemari. Jangankan kasurnya jadi bergoyang, derap langkah saja tidak ada. Quintessa pun penasaran. Mengapa Gallen begitu lama? "Apa dia tidak bisa melihat apa pun?" terka gadis itu sambil meremas seprai yang terasa begitu lembut. Quintessa pun memberanikan diri untuk bertanya, "Em ... kau ... apa kau tersesat?" "Tidak," sahut Gallen cepat. Menaikkan sebelah alis. "Bukankah seharusnya kita ti—" "Diamlah! Aku mau di sofa, tidak ada penolakan!" potong sang pangeran. Agak kesal dengan ucapan Quintessa. "Kenapa?" Tangan gadis bersurai pirang itu semakin erat menggenggam seprai. Ada pun hatinya terasa sakit. Berpikir bahwa Gallen begitu marah hingga tak mau berdekatan dengan dirinya. Hening, tidak ada sahutan. d**a Quintessa pun dibuat naik turun. Lalu isak tangis santer terdengar. Quintessa berusaha menahan dengan menutup bibirnya menggunakan sebelah tangan, tapi tidak bisa. Terkadang ada yang lolos dan sampai di telinga Gallen. Quintessa menyerah. Dia merebahkan diri dengan cepat. Membenamkan wajah di bantal untuk menyembunyikan suara tangisannya dari indra pendengaran Gallen. "Sial! Apa sih yang gadis itu inginkan? Membuat kepalaku pusing saja!" gerutu Gallen di dalam hati saat mendengar suara isak tangis yang tak sengaja lolos. Pangeran sudah berusaha menyingkirkan jauh-jauh pemikiran tentang Quintessa. Namun semakin dia mencoba, rasa penasaran dan khawatir juga semakin meningkat. Hingga Gallen merasa frustrasi dan bangkit dari dengan cepat. Tangannya meraih saklar untuk menyalakan lampu. Cahaya pun menerangi seisi ruangan. Membuat Gallen leluasa melihat Quintessa. Gadis itu sedang telungkup di atas tempat tidur sambil menyembunyikan wajah di balik bantal. "Apa yang kau lakukan? Kenapa lampunya dinyalakan lagi?" tanya Quintessa di sela isak tangisnya. Gallen tidak menyahut. Lelaki itu hanya berjalan mendekat. Dalam sekali sentakan, tubuh Quintessa yang semula telungkup berubah telentang. Mempertemukan tatapan mereka dalam waktu yang cukup lama. "Apa motivasimu?" tanya lelaki itu tanpa basa-basi. Quintessa tersenyum sinis. "Motivasi apa? Pertanyaanmu kurang jelas." Merotasikan bola matanya ke atas. Gallen kemudian memajukan wajah, membuat Quintessa memelototkan mata. Dia juga berusaha menghindar, tapi dicegah oleh Gallen. Pangeran tidak membiarkan istrinya pergi kemana-mana. "Kenapa kau mengajakku tidur bersama? Kau hanya pengantin pengganti. Bukankah lebih baik kalau kita tidur di tempat terpisah?" bisik Gallen, menjelaskan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di dalam kepalanya. Sekarang, pria itu menanti jawaban dari gadis berambut pirang yang tidak berkutik di bawah kendalinya. Seolah meminta untuk diterkam sekarang juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD