Malam di kediaman mewah Daren Christ dan Jennifer seharusnya menjadi tempat pelarian yang tenang dari kebisingan kota. Namun, di dalam mansion bergaya minimalis modern itu, udara terasa seberat timah. Meskipun sistem pendingin ruangan telah diatur pada suhu 18°C, keringat dingin terus merembes dari pori-pori kulit Daren. Ia duduk mematung di balik meja kerja mahogani yang luas, menatap koin emas burung phoenix yang tergeletak di bawah sorotan lampu meja yang remang-remang.
Di luar, hujan turun dalam ritme yang monoton—ketukan-ketukan kecil air pada kaca jendela besar yang terdengar seperti jemari seseorang yang sedang mencoba masuk. Setiap kali petir menyambar di kejauhan, bayangan pepohonan di taman bergoyang seperti sosok-sosok jangkung yang mengintai dari kegelapan.
"Dia hidup, Jen. Aku bisa merasakannya. Dia ada di ruangan ini," bisik Daren, suaranya parau dan bergetar, hampir menyerupai desis ular yang ketakutan.
Jennifer Lawrence berdiri di dekat jendela, memeluk tubuhnya sendiri dengan tangan gemetar. Gaun sutra hitamnya yang mahal—gaun yang seharusnya ia pamerkan di pesta malam sebelumnya—kini terasa mencekik, seolah-olah kain itu perlahan berubah menjadi jerat leher. Matanya yang sembap menatap kosong ke arah kegelapan taman.
"Berhenti mengatakan itu, Daren! Polisi sudah memeriksa semuanya," Jennifer berbalik, suaranya melengking karena frustrasi yang memuncak. "Mereka bilang video di pesta itu adalah sabotase siber. Deepfake. Seseorang sedang mengerjai kita menggunakan teknologi AI. Zevarian sudah mati! Kita melihatnya jatuh ke dasar laut yang gelap itu dengan mata kepala kita sendiri! Dia tidak mungkin selamat!"
"Lalu koin ini?!" Daren menyentuh koin emas itu dengan ujung jarinya, lalu segera menariknya kembali seolah benda itu baru saja membakarnya. "Koin ini bukan produk digital, Jen. Ini benda nyata. Dan sopir itu... sopir si anak manja Guinevere itu. Kau tidak lihat bagaimana dia menatapku? Dia tidak menatapku seperti seorang bawahan menatap majikan. Dia menatapku seolah dia adalah hakim yang sedang menunggu waktu untuk menjatuhkan vonis mati!"
Jennifer terdiam. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa membantah bahwa aura pria yang dipanggil 'BeJo' itu memang sangat mengusik jiwanya. Namun, mengakui bahwa Zevarian masih hidup berarti meruntuhkan seluruh fondasi kehidupan mewah yang mereka curi. Itu berarti mengakui bahwa mereka tidak pernah benar-benar menang.
Sementara itu, dua kilometer dari mansion tersebut, di puncak sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah kediaman Daren, sebuah Rolls-Royce hitam terparkir dalam kegelapan total. Zevarian Galdur duduk di kursi pengemudi, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah jendela ruang kerja Daren yang masih menyala terang di kejauhan.
Ia tidak menyalakan lampu kabin. Satu-satunya sumber cahaya adalah layar tablet di pangkuannya yang menampilkan denah rumah dan aliran data komunikasi dari dalam kediaman musuhnya. Di sampingnya, Guinevere Rastafara sedang tertidur lelap. Napasnya teratur, kontras dengan badai yang sedang terjadi di dalam batin Zevarian.
Zevarian melirik gadis itu sekilas. Wajah Guinevere saat tidur tampak jauh lebih muda dan rapuh, tanpa topeng kemanjaan dan keangkuhan yang biasa ia kenakan. Melihat Guinevere menggigil pelan karena suhu malam yang turun drastis, Zevarian melepaskan jas sopirnya yang hitam dan menyelimutkannya ke bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, hampir lembut.
"Tuan," suara Marcus terdengar melalui earpiece transparan, memecah keheningan. "Daren baru saja mencoba menghubungi tiga kontak keamanan swasta dalam sepuluh menit terakhir. Dia meminta penjagaan ganda, namun saya telah memastikan semua agensi tersebut menerima 'peringatan risiko' bahwa klien ini sedang dalam pengawasan otoritas pajak atas dugaan penggelapan aset. Mereka menolaknya."
Zevarian tersenyum tipis—sebuah senyum tanpa kehangatan. "Bagus. Biarkan dia merasa terkepung tanpa ada tangan yang bisa diraih. Keamanan terbaik di dunia pun tidak akan bisa melindunginya dari bayangannya sendiri."
"Langkah selanjutnya, Tuan? Apakah kita akan membocorkan rekaman lengkap dari tebing malam itu ke media?" tanya Marcus.
"Jangan. Belum saatnya," jawab Zevarian dingin. "Kejutan yang dilepaskan sekaligus akan berakhir terlalu cepat. Aku ingin mereka membusuk dalam paranoia. Kirimkan potongan gambar kaki Zevarian yang sedang berdiri di tepi tebing itu ke ponsel pribadi Jennifer. Kirimkan tepat setiap satu jam sekali. Pastikan dia tidak bisa memejamkan mata malam ini."
"Dimengerti, Tuan. Dan untuk Daren?"
"Kirimkan rekaman audio desiran angin laut ke sistem smart home di ruang kerjanya. Buat suaranya terdengar seperti bisikan pelan yang muncul dari dinding. Biarkan dia menebak-nebak apakah itu nyata atau hanya imajinasinya yang rusak."
Pukul 02:45 dini hari.
Jennifer terbangun di atas sofa ruang tengah karena getaran ponsel di tangannya. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia membuka pesan yang baru saja masuk dari nomor tak dikenal. Matanya membelalak. Itu adalah foto sebuah sepatu pantofel hitam yang berdiri di atas tanah berlumpur, tepat di bibir jurang, dengan latar belakang deburan ombak yang berbuih putih di bawah sinar bulan.
Itu adalah sepatu yang dikenakan Zevarian di malam ia didorong.
"Daren!" Jennifer berlari menuju ruang kerja suaminya dengan kaki telanjang.
Ia menemukan Daren sedang meringkuk di pojok ruangan, duduk di lantai sambil mendekap sebuah tongkat golf besi. Ruangan itu kacau balau; vas kristal pecah berserakan, dan kursi-kursi terguling.
"Daren, lihat ini! Dia mengirim foto lagi!" teriak Jennifer histeris.
Tepat saat itu, sistem pengeras suara tersembunyi di plafon ruangan mengeluarkan suara statis pelan, lalu berubah menjadi desiran angin kencang yang mengerikan. Di tengah suara angin itu, terdengar suara napas berat—napas seseorang yang seolah-olah baru saja keluar dari air dengan paru-paru yang tersedak.
"Dingin, Daren... di bawah sini... sangat dingin..."
Daren meraung seperti binatang liar. Ia mengayunkan tongkat golf-nya ke arah pengeras suara di sudut ruangan, menghancurkannya berkeping-keping. "KELUAR! SIAPA PUN KAU, KELUAR! JANGAN SEMBUNYI SEPERTI PENGECUT!"
Daren berbalik dan menatap Jennifer dengan mata merah dan liar. "Ini ulahmu, kan?! Kau bekerja sama dengan seseorang untuk menjatuhkanku! Kau ingin mengambil alih perusahaan ini sendirian dan membuangku seperti sampah!"
"Apa kau gila?! Aku sama ketakutannya dengannmu!" Jennifer mundur, menabrak meja. "Kau yang mendorongnya, Daren! Kau yang membunuhnya! Jangan limpahkan semua ini padaku!"
"Kita berdua yang melakukannya, Jen! Dan kalau aku jatuh, aku akan memastikan kau ikut bersamaku ke dasar laut itu!"
Di tengah kegelapan ruangan yang kini hanya diterangi kilatan petir, keduanya saling menatap dengan penuh kebencian dan ketakutan. Fondasi 'kesetiaan' mereka yang dibangun di atas darah kini mulai retak dan hancur, menyisakan dua orang pengkhianat yang saling memangsa dalam kegelapan.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya yang seolah mengejek kekacauan semalam.
Zevarian Galdur berdiri di depan gerbang kediaman Rastafara, mengenakan seragam sopir 'BeJo' yang sangat rapi dan wangi. Wajahnya tampak segar, seolah ia baru saja menikmati tidur paling nyenyak dalam hidupnya. Ia membukakan pintu mobil tepat saat Guinevere keluar dari rumah dengan langkah gontai.
Guinevere mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. "Ayo jalan, BeJo. Antar aku ke kantor Papi. Aku butuh kopi paling pahit yang pernah ada di kota ini."
"Anda tampak lelah, Nona. Apakah tidur Anda kurang nyenyak?" tanya Zevarian dengan nada yang sangat sopan saat ia mulai mengemudikan mobil.
"Entahlah. Aku merasa merinding sepanjang malam. Dan jasmu... kenapa jasmu masih ada di kamarku?" tanya Guinevere tiba-tiba, menatap Zevarian dari spion tengah.
Zevarian tetap tenang, fokus pada jalanan. "Saya meminjamkannya pada Anda semalam karena Anda tertidur di mobil dan suhu sedang dingin, Nona. Saya lupa mengambilnya kembali saat mengantar Anda masuk."
Guinevere terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. "Lain kali jangan lancang. Tapi... terima kasih."
"Sama-sama, Nona."
"Oh, dan BeJo... apa kau sudah dengar berita pagi ini? Saham D&J Empires anjlok lagi. Ada rumor bahwa Daren Christ mengalami serangan panik hebat semalam dan menghancurkan kantor rumahnya sendiri. Jennifer bahkan membatalkan semua pertemuan sosialnya hari ini," Guinevere terkekeh sinis. "Sepertinya 'hantu' yang mereka bicarakan semalam benar-benar bekerja lembur."
Zevarian menggenggam kemudi lebih erat, matanya menatap lurus ke arah gedung pencakar langit milik Daren di kejauhan yang kini tampak seperti menara gading yang mulai miring. "Hantu tidak pernah beristirahat sampai urusannya selesai, Nona."
"Kau kalau bicara suka bikin merinding ya," Guinevere mendengus, namun ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok 'BeJo' yang misterius ini. "Omong-omong, sore nanti antar aku ke kafe Le Noir. Jennifer memohon-mohon padaku untuk bertemu. Dia ingin meminta Papi untuk membantu menjaminkan beberapa aset mereka agar bank tidak menarik likuiditas. Dia terdengar sangat... hancur."
Zevarian tersenyum tipis—sebuah senyum yang tersembunyi dari pandangan Guinevere. "Akan saya antarkan, Nona. Saya juga ingin melihat bagaimana rupa seorang 'ratu' yang sedang kehilangan mahkotanya."
Zevarian tahu, sore ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah saat di mana ia akan berdiri tepat di hadapan Jennifer, menatap matanya dari balik kacamata sopir, dan menyaksikan wanita itu memohon pada gadis yang selalu ia rendahkan. Permainan ini belum berakhir, namun Zevarian sudah bisa mencium bau kemenangan yang bercampur dengan aroma ketakutan para pengkhianat.