Pagi di kota metropolitan biasanya dimulai dengan aroma kopi dan kebisingan lalu lintas. Namun bagi Jennifer Lawrence, pagi ini dimulai dengan rasa mual yang hebat dan keringat dingin. Ia duduk di kursi kebesarannya di kantor D&J Empires, menatap layar komputer yang menampilkan grafik merah menyala. Saham perusahaan mereka terjun bebas sebesar tujuh persen hanya dalam tiga puluh menit setelah pasar dibuka.
"Bagaimana bisa?!" teriak Jennifer pada sekretarisnya. "Cari tahu siapa yang melepas saham dalam jumlah besar secara serentak!"
"Kami sedang melacaknya, Nyonya. Tapi akun-akun tersebut berasal dari perusahaan cangkang di luar negeri. Sangat sulit ditembus," jawab sekretaris itu dengan suara gemetar.
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Daren masuk dengan wajah kusut, dasinya miring, dan matanya merah karena kurang tidur. Di tangannya, ia menggenggam koin emas yang ditemukan di pesta semalam.
"Jen, koin ini… koin ini asli. Aku sudah membawanya ke ahli numismatik pagi tadi. Ini bukan replika. Ini koin milik Zevarian," bisik Daren dengan suara parau.
Jennifer berdiri, memukul meja. "Berhenti bersikap paranoid, Daren! Zevarian sudah mati! Kita melihatnya jatuh! Kau sendiri yang mendorongnya!"
"Lalu siapa pria di pesta itu? Sopir Guinevere itu… tatapannya, Jen. Dia menatapku seolah dia tahu segalanya."
Tok, tok, tok.
Pintu diketuk pelan. Seorang petugas pengantar bunga masuk membawa sebuah karangan bunga yang sangat besar. Namun, bukan bunga mawar merah yang melambangkan kesuksesan, melainkan rangkaian bunga lili putih dan krisan kuning—bunga yang biasanya hanya ditemukan di rumah duka.
Di tengah rangkaian itu, terselip sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan tulisan emas yang rapi:
“Untuk hutang yang belum lunas. Selamat merayakan awal dari akhir. – Z.”
Jennifer berteriak, menyapu vas bunga di mejanya hingga hancur berkeping-keping. "Keluar! Bawa bunga sialan itu keluar dari sini!"
Di tempat lain, di sebuah butik mewah yang hanya melayani pelanggan kelas atas, Zevarian Galdur sedang duduk dengan tenang di sofa beludru. Ia mengenakan topi pet dan jaket sopirnya, namun cara ia menyilangkan kaki dan membaca koran ekonomi memberikan kesan seorang bangsawan yang sedang menyamar.
"BeJo! Berhenti membaca koran sampah itu dan bantu aku memilih!" teriak Guinevere dari dalam kamar ganti.
Guinevere keluar dengan gaun sutra pendek berwarna biru elektrik. Ia berputar di depan cermin besar, mengabaikan tatapan sinis dari pelayan butik yang merasa sopir itu tidak pantas berada di sana. "Bagaimana? Apa aku kelihatan seperti calon istri triliuner?"
Zevarian mendongak sekilas. "Warna itu terlalu mencolok, Nona. Anda terlihat seperti lampu lalu lintas yang sedang rusak."
"Apa?! Kau ini benar-benar tidak punya selera!" Guinevere menghentakkan kaki. "Pelayan! Ambilkan yang warna hitam. Aku ingin terlihat misterius dan mahal!"
Zevarian tersenyum tipis di balik korannya. Ia menyentuh earpiece-nya. "Marcus, bagaimana perkembangannya?"
"Sangat lancar, Tuan. Daren Christ baru saja menghubungi tiga bank besar untuk meminta pinjaman likuiditas guna menstabilkan saham mereka. Namun, saya telah memastikan bahwa semua manajer risiko di bank-bank tersebut menerima 'laporan internal' mengenai kebangkrutan tersembunyi D&J Empires."
"Bagus. Biarkan mereka merasa tercekik," jawab Zevarian. "Oh, dan Marcus… belikan butik ini."
"Maaf, Tuan?"
"Butik tempat aku berada sekarang. Pelayan di sini menatapku seolah aku adalah sampah. Aku ingin mereka tahu siapa yang membayar gaji mereka bulan ini."
"Segera dilaksanakan, Tuan. Proses akuisisi selesai dalam lima menit."
Guinevere keluar lagi dengan gaun hitam yang sangat elegan. "Nah, kalau yang ini bagaimana, BeJo? Masih mau menghinaku?"
Zevarian melipat korannya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Guinevere. Untuk sesaat, suasana di butik itu berubah. Kehadiran Zevarian yang dominan membuat Guinevere terpaku. Pria ini, yang biasanya ia anggap sebagai sopir bodoh, tiba-tiba memancarkan aura yang begitu kuat hingga napasnya sedikit tertahan.
Zevarian merapikan sedikit kerah gaun Guinevere dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas. "Hitam cocok untuk Anda, Nona. Melambangkan kekuatan… dan awal dari sebuah badai."
Guinevere berkedip, wajahnya tiba-tiba memerah. "Kau… kau bicara apa sih? Tiba-tiba jadi aneh."
Tiba-tiba, manajer butik berlari keluar dari kantornya dengan wajah pucat pasi. Ia langsung menghampiri Zevarian, membungkuk sangat dalam hingga kepalanya hampir menyentuh lantai.
"Tuan… Tuan Pemilik! Maafkan kelancangan staf kami tadi! Kami tidak tahu bahwa Anda adalah pemilik baru butik ini!"
Guinevere melongo. Matanya membelalak menatap Zevarian. "Apa? BeJo? Kau membeli butik ini? Pakai uang dari mana? Kau merampok bank semalam?!"
Zevarian kembali ke mode 'BeJo'-nya yang polos. Ia mengangkat bahu. "Saya memenangkan lotre pagi tadi, Nona. Sangat beruntung, bukan?"
"Lotre?! Lotre macam apa yang bisa membelikan butik di kawasan elit ini?!" teriak Guinevere tidak percaya.
"Lotre internasional," jawab Zevarian asal. "Sekarang, pilihlah gaun mana pun yang Anda suka. Semuanya gratis… untuk Anda."
Guinevere menatap Zevarian dengan curiga, namun keinginan belanjanya lebih besar dari rasa penasarannya. "Benar ya? Gratis? Oke, aku ambil semua yang ada di rak ini!"
"Silakan, Nona."
Sore harinya, Zevarian mengantarkan Guinevere ke sebuah kafe untuk bertemu dengan teman-temannya. Ia menunggu di mobil, namun matanya tidak lepas dari sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Itu adalah mobil anak buah Daren.
Jennifer rupanya mulai bergerak. Ia tidak lagi percaya bahwa 'BeJo' hanyalah seorang sopir biasa.
Zevarian keluar dari mobil, sengaja berjalan menuju gang sempit di samping kafe tersebut. Benar saja, dua orang pria berbadan besar mengikutinya. Begitu sampai di area yang sepi, kedua pria itu menghadang Zevarian.
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan Zevarian Galdur?" tanya salah satu pria itu sambil mengeluarkan pisau lipat.
Zevarian melepaskan topi pet-nya. Ia meregangkan lehernya, suara tulang-tulangnya berderak pelan. "Kalian dikirim oleh Jennifer atau Daren?"
"Tidak perlu tahu. Jawab saja, atau kau akan berakhir di rumah sakit!"
Pria itu menerjang maju. Zevarian menghindar dengan gerakan yang sangat efisien—hasil latihan bertahun-tahun dengan instruktur bela diri elit The Vault. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar bunyi krak, lalu memberikan tendangan telak di ulu hati pria kedua yang mencoba menyerang dari belakang.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, kedua pria itu sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan.
Zevarian berlutut di samping salah satu dari mereka, menekan luka di tangannya dengan ujung sepatunya yang mengkilap. "Sampaikan pada Jennifer. Jika dia ingin mengirim orang, kirimlah seseorang yang setidaknya tahu cara memegang pisau. Dan katakan padanya… air laut itu sangat dingin, tapi neraka jauh lebih panas."
Zevarian kembali ke mobilnya, merapikan seragamnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tak lama kemudian, Guinevere keluar dari kafe dengan wajah kesal.
"BeJo! Kau dari mana saja?! Aku memanggilmu berkali-kali!"
"Maaf, Nona. Tadi ada sedikit gangguan teknis dengan 'tikus-tikus' di gang," jawab Zevarian sambil membukakan pintu.
"Tikus? Ih, menjijikkan! Kota ini makin kotor saja," keluh Guinevere sambil masuk ke mobil. "Ayo antar aku pulang. Papi bilang ada pertemuan mendesak malam ini. Katanya D&J Empires sedang dalam ambang kehancuran dan dia ingin memastikan kita tidak ikut tenggelam bersama mereka."
Zevarian menginjak pedal gas dengan lembut. "Keputusan yang sangat bijaksana dari Papi Anda, Nona."
"Kau tahu, BeJo… terkadang kau itu seperti hantu. Kau ada di mana-mana, kau tahu segalanya, tapi kau tidak punya asal-usul yang jelas," ucap Guinevere tiba-tiba, menatap Zevarian dari spion tengah dengan sorot mata yang berbeda.
Zevarian terdiam sejenak. "Setiap orang punya rahasia, Nona. Beberapa orang menyimpannya di dalam peti, dan beberapa orang menyimpannya di dasar laut."
"Tuh kan, puitis lagi! Dasar sopir aneh!"
Zevarian tersenyum tipis. Mobil Rolls-Royce itu meluncur menembus senja. Malam ini, ia akan memberikan serangan kedua. Jika pagi tadi adalah serangan pada saham, malam ini adalah serangan pada mental. Ia sudah menyiapkan rekaman CCTV dari malam pengkhianatan di tebing itu untuk dikirimkan secara anonim ke seluruh stasiun televisi nasional.
Daren dan Jennifer mengira mereka telah menghapus semua jejak. Mereka lupa bahwa di dunia yang dikuasai oleh uang, tidak ada rahasia yang benar-benar bisa terkubur selamanya.
"Bersiaplah, Jennifer," bisik Zevarian dalam hati. "Malam ini, dunia akan tahu siapa monster yang sebenarnya."