Aula Grand Astra Ballroom malam itu disulap menjadi samudra kemewahan yang palsu. Kristal-kristal lampu gantung membiaskan cahaya kuning keemasan, memantul di atas gelas-gelas kristal yang berisi sampanye seharga ribuan dolar. Di tengah kerumunan pria-pria berjas formal dan wanita-wanita dengan perhiasan yang sanggup membeli satu desa, Daren Christ berdiri sebagai pusat gravitasi.
Daren merapikan jas putih gadingnya, tersenyum lebar pada setiap kamera yang memotretnya. Di sampingnya, Jennifer Lawrence—wanita yang dulu bersumpah mencintai Zevarian—tampak memukau dengan gaun sutra merah darah. Tangannya menggenggam jemari Daren erat, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah penguasa baru kota ini.
"Lihatlah mereka," gumam sebuah suara di dekat pintu masuk layanan. "Membangun istana di atas tumpukan mayat sahabat sendiri."
Zevarian Galdur berdiri di balik pilar besar. Ia mengenakan seragam sopir yang rapi—kemeja putih bersih dengan rompi hitam dan topi pet yang ditarik rendah. Kacamata berbingkai tipis menutupi sorot matanya yang tajam. Di tangannya, ia memegang tas belanja besar milik Guinevere. Statusnya malam ini adalah 'BeJo', sopir pribadi yang merangkap pesuruh.
"BeJo! Kau melamun lagi?" suara melengking itu memecah konsentrasi Zevarian.
Guinevere Rastafara berdiri di depannya, berkacak pinggang. Gaun emasnya menjuntai hingga ke lantai, memberikan kesan elegan yang langsung hancur begitu ia membuka mulutnya yang kasar. "Pegang tas ini baik-baik. Jangan sampai lecet. Isinya ada lipstik edisi terbatas. Kalau hilang, kau harus cicil dengan gajimu selama sepuluh tahun!"
"Tentu, Nona," jawab Zevarian datar, tanpa ekspresi.
"Ayo masuk. Papi sudah menunggu di meja utama. Dan ingat, tetap di belakangku. Jangan bicara kecuali ditanya, dan jangan membuatku malu dengan tingkah udikmu," perintah Guinevere sambil melangkah masuk dengan anggun, bertransformasi seketika menjadi putri konglomerat yang sempurna di depan publik.
Zevarian mengikuti dari belakang, menjaga jarak tiga langkah. Matanya menyapu aula, memetakan setiap wajah musuhnya. Melalui earpiece transparan yang tersembunyi, suara Marcus terdengar halus.
"Tuan, sistem keamanan hotel telah berada di bawah kendali kita. Saya juga telah menyisipkan 'hadiah' kecil di daftar putar musik dan layar monitor utama. Apakah kita akan memulai eksekusi?"
"Belum," bisik Zevarian hampir tak terdengar. "Biarkan mereka merasa di puncak dulu. Semakin tinggi mereka memanjat, semakin indah suaranya saat mereka jatuh menghantam tanah."
Di meja utama, Tuan Rastafara sedang berbincang serius dengan Daren. Begitu Guinevere tiba, suasana menjadi lebih cair.
"Ah, putriku. Kau terlambat lima menit," ujar Tuan Rastafara, namun matanya kemudian melirik ke arah Zevarian. "Dan kau membawa sopirmu masuk ke dalam?"
"Dia memegang tas kosmetikku, Pi. Lagipula, BeJo ini kuat. Kalau ada orang yang menyebalkan mendekatiku, dia bisa kusuruh mengusir mereka," sahut Guinevere asal sambil duduk dan mulai menyesap minumannya.
Daren tertawa kecil, suara tawa yang sangat dikenal Zevarian—suara yang dulu ia anggap sebagai tawa persaudaraan. "Guinevere memang selalu unik. Tapi tenang saja, Tuan Rastafara. Keamanan di sini sangat ketat. Tidak akan ada tikus got yang bisa masuk."
Zevarian yang berdiri di belakang kursi Guinevere hanya menunduk. Ia menatap tengkuk Daren. Tikus got itu sedang berdiri di belakangmu, Daren. Dan dia sedang menghitung sisa waktumu.
Jennifer, yang duduk di sebelah Daren, tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia melirik ke arah Zevarian berkali-kali. Ada sesuatu pada postur sopir itu—cara dia berdiri, cara bahunya tetap tegak—yang mengingatkannya pada seseorang yang seharusnya sudah membusuk di dasar laut.
"Ada apa, Jen?" tanya Daren pelan.
"Sopir itu… dia terus menunduk. Sangat aneh," bisik Jennifer gelisah.
"Hanya sopir bayaran, Sayang. Jangan biarkan dia merusak malam kita."
Daren kemudian berdiri, memegang gelas sampanyenya dan mengetuknya dengan sendok perak. Suara denting itu menarik perhatian seluruh aula.
"Hadirin sekalian," Daren memulai pidatonya. "Malam ini adalah perayaan satu tahun kebangkitan perusahaan kita. Kita semua tahu, kita melewati masa sulit setelah kepergian mendiang Zevarian Galdur. Tapi, seperti phoenix, kita bangkit dari abu. Malam ini, saya ingin mempersembahkan video perjalanan sukses kita."
Lampu aula meredup. Layar raksasa di belakang panggung mulai menyala. Zevarian menyentuh earpiece-nya. "Marcus. Sekarang."
Video yang tadinya menampilkan grafik keuntungan dan foto-foto proyek bangunan, tiba-tiba mengalami glitch. Gambar tersebut bergetar, lalu berubah menjadi layar hitam dengan satu tulisan merah menyala: APAKAH KAU SUDAH MEMBAYAR HUTANGMU PADA LAUT?
Suasana aula mendadak sunyi senyap. Jennifer tersedak minumannya, wajahnya berubah pucat pasi. Daren mematung, gelas sampanyenya gemetar di tangannya.
"Apa-apaan ini?! Operator! Ganti videonya!" teriak Daren panik.
Layar itu kembali berubah. Kali ini menampilkan foto rontgen paru-paru seseorang yang penuh dengan air garam, kemudian beralih ke rekaman suara yang terdistorsi namun jelas terdengar: "...dorong saja dia, Daren. Dia tidak akan pernah kembali."
Suara itu adalah suara Jennifer.
Aula meledak dalam bisikan liar. Para investor mulai saling pandang dengan penuh kecurigaan. Tuan Rastafara mengernyitkan dahi, menatap Daren dengan tatapan menghakimi.
"Ini… ini sabotase! AI! Ini rekayasa pesaing bisnis!" teriak Daren ke arah kerumunan.
Layar itu tiba-tiba mati total. Lampu aula kembali menyala terang benderang, meninggalkan Daren dan Jennifer di bawah sorotan lampu sorot yang kini terasa seperti lampu interogasi.
Di tengah kekacauan itu, Zevarian mendekati meja utama dengan tenang, berpura-pura ingin menuangkan air putih ke gelas Guinevere yang kosong. Saat ia berada di dekat Daren, ia sengaja menjatuhkan sebuah koin emas kuno tepat ke atas piring perak milik Daren.
Ting.
Daren melihat koin itu. Matanya membelalak. Itu adalah koin keberuntungan milik Zevarian, benda yang selalu dibawa Zevarian di saku jasnya sebagai jimat dari kakeknya. Daren tahu betul, koin itu seharusnya ikut tenggelam ke dasar laut bersama jasad sahabatnya.
Daren mendongak, menatap sopir di depannya. Zevarian sedikit mengangkat kepalanya, membiarkan kacamata hitamnya merosot tipis sehingga matanya yang dingin bertemu langsung dengan mata Daren yang ketakutan.
"Z… Zev?" bisik Daren, suaranya nyaris hilang.
"Airnya, Tuan? Anda tampak sangat haus. Seperti orang yang baru saja menelan banyak air garam," ucap Zevarian dengan nada datar yang mengerikan.
Daren bangkit berdiri dengan kasar, membuat kursinya terjatuh ke belakang. "KAU! SIAPA KAU SEBENARNYA?!"
Seluruh aula menoleh ke arah meja utama. Guinevere kaget hingga hampir menjatuhkan ponselnya. "Daren! Kau kenapa? Kau membentak sopirku?"
"Dia… dia…" Daren menunjuk Zevarian dengan jari gemetar.
Namun, Zevarian sudah kembali ke posisinya semula, menunduk dengan sopan seolah ia tidak melakukan apa-apa. "Maafkan saya jika kehadiran saya mengganggu Anda, Tuan CEO. Saya hanya seorang sopir yang menjalankan tugas."
Jennifer menarik lengan Daren. "Daren, kendalikan dirimu! Semua orang melihat kita!"
Tuan Rastafara berdiri, wajahnya terlihat sangat kecewa. "Daren, sepertinya manajemenmu bukan hanya berantakan di layar, tapi juga di kesehatan mentalmu. Guinevere, ayo pulang. Aku tidak ingin berada di acara yang penuh dengan drama murah ini."
"Tapi Pi, BeJo belum habis makan—"
"Sekarang, Guinevere!"
Zevarian segera bergerak maju, membukakan jalan bagi Tuan Rastafara dan Guinevere dengan sikap profesional yang sempurna. Sebelum keluar dari aula, ia menoleh sekilas ke arah Daren yang masih berdiri terpaku memegang koin emas itu.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Guinevere terus mengoceh. "BeJo! Tadi itu keren sekali! Kau apakan si Daren sampai dia kelihatan seperti melihat setan? Dia ketakutan setengah mati padamu!"
"Saya hanya menawarkan air, Nona. Mungkin Tuan Daren memiliki fobia pada sopir," jawab Zevarian tenang sambil mengemudikan mobil menembus kegelapan malam.
"Bohong! Kau pasti melakukan sesuatu. Dan video tadi… itu sangat gelap. Siapa yang berani melakukan itu di pesta mereka? Papi bilang D&J Empires bakal kena masalah besar besok di bursa saham."
Zevarian tersenyum tipis di balik kegelapan kabin mobil. "Dunia ini bundar, Nona. Terkadang apa yang kita buang ke laut, akan kembali dibawa ombak ke depan pintu rumah kita."
Guinevere mengernyit. "Kau kalau bicara suka sok puitis ya. Tapi jujur, malam ini menyenangkan. Meskipun kita tidak jadi pesta, melihat muka Jennifer yang seperti mayat tadi itu sangat memuaskan."
Zevarian tidak menjawab. Ia menyentuh earpiece-nya lagi. "Marcus, tahap pertama selesai. Besok pagi, jual sepuluh persen saham mereka secara mendadak di pasar terbuka. Buat mereka panik. Dan kirimkan bunga pemakaman ke kantor Jennifer besok jam delapan tepat."
"Dimengerti, Tuan. Bagaimana dengan Nona Guinevere?"
"Biarkan dia. Dia adalah tameng terbaikku untuk saat ini."
Zevarian menatap jalanan di depannya. Daren dan Jennifer baru saja merasakan getaran kecil dari gempa yang akan ia ciptakan. Ia tidak akan menghancurkan mereka dalam semalam. Ia akan membuat mereka kehilangan segalanya secara perlahan: reputasi, kekayaan, kewarasan, dan akhirnya… kebebasan mereka.
Malam itu, di bawah langit kota yang dingin, Zevarian Galdur bukan lagi seorang pria yang dikhianati. Ia adalah sang pemangsa yang sedang menikmati setiap detik penderitaan mangsanya.
"BeJo! Kau mendengarku tidak?! Besok antarkan aku ke butik jam sepuluh pagi!" teriak Guinevere.
"Siap, Nona," jawab Zevarian.
Pekerjaan sebagai sopir ternyata jauh lebih menghibur daripada yang ia bayangkan.