Bab 2. Kerjasama dengan Daxton Maddison

1338 Words
"Kenapa Mami menawari aku uang sebanyak ini dengan sangat mudah?" tanya Freya. Dia sedang menghadap Charlotte sepagi ini. Tentu wanita seksi di depannya sangat wellcome. Mencoba peruntungan dengan muncul di publik justru berpotensi setor nyawa kepada Henderson. Freya tahu hidupnya mendadak berubah genre horor usai ketahuan sebagai kunci saksi kematian kedua orangtuanya yang saat ini kabur untuk melindungi diri. Dia melihat ayah dan ibunya meregang nyawa dengan kesengajaan jadi saat berhadapan dengan sosok malaikat maut berbeda visual tentu Freya harus lebih berhati-hati. Dia sedang berhadapan dengan sosok Charlotte yang awalnya berperan sebagai malaikat penolongnya. "Kenapa mendadak tertarik karena sebelumnya kamu ingin lari dari sini, 'kan?" tanya Charlotte terdengar sarkas dan juga menyindirnya telak. "Sudah berubah pikiran dalam sekejap." Charlotte dengan bibir mengembuskan asap kelihatan sangat piawai. Freya juga tidak tahu kenapa mendadak tertarik padahal dia sangat paham Charlotte tak akan melakukan tindakan yang sia-sia. "Aku sedang mempertimbangkan, kalau benar yang dibilang Mami semalam ... aku tertarik," jawab Freya dengan suara nyaris tidak terdengar lantaran semakin lirih sebab keraguan melanda, tapi terpaksa harus mengambil keputusan secepatnya. Charlotte memperhatikan rupa fisik di depan matanya yang jernih tanpa minus. Bibir berpoles lipstik merah menyeringai lantas berdeham mengangguk-anggukkan kepala. "Diskusikan dengan kliennya langsung, dia yang menentukan pekerjaan kamu," jawab wanita itu sekenanya. Sikapnya begitu santai kendati hatinya bersorak karena setelah ini akan mengalir deras rekeningnya. Sangat santai karena setelahnya Freya dipersilakan keluar begitu Charlotte menghubungi seseorang dengan ponsel mahalnya. Freya tak ada alasan lain untuk tinggal lebih lama karena jam kerjanya sebentar lagi dimulai. Dia harus segera memakai seragam dan menata minuman untuk diantarkan ke setiap room pesanan. Saat baru saja menutup pintu ruangan mewah milik Charlotte dia dikagetkan dengan presensi Jasmine yang sudah rapi. Pakaiannya sangat terbuka dan Freya sudah tidak heran lagi. Dia tersenyum sebagai sapaan hangat pada teman dekatnya. “Sudah mau ON, ya? Kamar nomor berapa?” tanya Freya basa-basi. Jasmine berdecak. “Dance floor, sih. Gue cuma majang diri karena kalau pagi kan nganggur, kebanyakan bocah-bocah kuliah yang butuh belaian, tapi isi dompetnya pas-pasan.” Jasmine mengeluh. “Lo habis dimarahin sama mami, Frey?” tanyanya terdengar khawatir karena kemarin Charlotte menghampiri Freya. Bisik-bisik gosip antara pekerja di sini sudah terdengar oleh Jasmine. Dia pulalah yang menjadi garda terdepan Freya sampai menggeluti salah satu wanita rekan kerjanya juga. Kepala Freya menggeleng sebagai balasan, dia tidak bisa memberitahu. “Aku duluan, ya,” pamit wanita itu bergegas kembali ke kamar. Hari ini dibebaskan tidak full kerja mengantar minuman. Dia harus memulihkan kesehatannya untuk bertemu klien yang dimaksud oleh Charlotte. *** "Dia masih bersih, sesuai permintaan Tuan." Puntung rokok sisa setengah dibuang pria itu karena fokusnya jatuh pada sosok wanita yang sedang membawa nampan berisi minuman dan menawarkan ke beberapa orang. Terlihat lebih menarik padahal di sekelilingnya banyak yang berpakaian terbuka dan dengan suka rela membuka paha, tapi entah bagaimana bisa justru tertarik dengan wanita lugu yang menolaknya waktu pertama kali bertemu. Dia kembali ingat ketika menyakiti wanita itu. "Anda jelas tahu harus melakukan apa. Saya tidak mau basa-basi," ucap pria itu menyeringai tipis. "Bungkus malam ini!" Lalu setelahnya pergi mengibaskan jas mahalnya meninggalkan aroma parfum mahal yang menguar diikuti oleh Irzal yang selalu setiap membuntuti ke manapun perginya. "Anak itu memang polos sejak awal. Aku nggak sia-sia menolongnya yang hampir mati." Monolog Charlotte menenggak habis minuman di gelasnya lalu menghampiri Freya tanpa repot-repot memerintah orang untuk memanggilnya. Baginya aset penjualan bernilai fantastis tidak akan disia-siakan. Begitu tiba di belakang tubuh wanita itu Charlotte menepuk pundaknya pelan karena jika memanggil namanya tidak akan terdengar karena volume musik yang sangat keras. “Ikut Mami, Sayang,” ajak Charlotte selalu bertutur lembut, tapi menusuk dan tak mau ditentang, selalu tegas hingga lawan bicaranya tak ada kesempatan untuk menolak perintahnya. Freya yang kaget saat nampan di tangannya sudah berpindah tangan ke pria jangkung rekan kerjanya pun hanya bisa membisu. Freya berjalan lamban padahal di depan sana Charlotte sengaja memelankan langkah karena sepertinya gadis lugu nan polos seperti Freya harus dilembutin. “Jangan takut, Sayang. Klienmu sudah menunggu jadi jangan membuat dia semakin lama menunggu kita,” tutur Charlotte tanpa main-main. Deretan gigi rapinya sebagai sambutan Freya seolah menegaskan wanita itu tidak mau menerima bantahan dan karena hal itulah Freya tergesa-gesa. "Maaf," cicit gadis itu dengan kepala menunduk. Seharusnya dia tak terlalu keras mencari uang jika bukan demi keadilan kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Baginya melakukan transaksi dengan orang asing—background sehitam Charlotte—seharusnya Freya sadar diri untuk menjauh sejauh mungkin akan tetapi, dia terjebak entah sampai kapan. Dan seharusnya sebelum menemui wanita itu dia harus memikirkan matang-matang atau setidaknya mencari tahu terlebih dahulu. “Kita bertemu lagi.” Kepala Freya terangkat begitu suara familiar menyapa gendang telinganya. Mereka baru bertemu sekali, tetapi di benak Freya sudah menumbuhkan alarm berbahaya. Di depan sana—sosok iblis dengan seringai menantinya bersiap menelannya hidup-hidup—pria dengan paras tampan mengulurkan tangan kanannya. “Ke mari, Sayang. Mami perkenalkan kamu dengan Tuan Daxton,” ujar Charlotte melambaikan tangan dengan senyum keibuan; ibu tiri lebih tepatnya karena jika seorang ibu tentunya tidak melakukan transaksi jual beli manusia. Sial! Freya ingin kabur saja dari ruangan ini. Namun, di belakangnya berjaga pria berbadan kekar dengan kepala plontos yang siap menentengnya kalau dia nekat kabur. Kedua tangan yang menggenggam tampak basah saat menyadari pilihan yang diambil merupakan sebuah kesalahan besar. Bahkan tidak bisa menahan gemetar di badan dan tangannya yang saling bertautan, saking merasa takut. Masih ingat jelas bagaimana perlakuan kasar Daxton padanya di tengah kerumunan. “Tinggalkan kami berdua,” kata pria yang Freya ketahui bernama Daxton. Mendengar hal itu kedua tangan Freya kontan makin mengeratkan tautan. Dia belum buka suara sejak kedatangannya karena masih syok, apalagi terlihat Charlotte beranjak dari kursi menghampirinya. Awalnya Freya pikir bisa memohon pada Charlotte akan tetapi, wanita itu mengabaikan dirinya bahkan cekelan tangannya pun dilepaskan dengan mudah; tidak peduli. Ruangan yang sudah terasa dingin karena bantuan pendingin ruangan seketika semakin dingin saat pria itu beranjak dari kursi. Mereka hanya berdua dengan pintu tertutup rapat dan ya walaupun dua penjaga ikut keluar, tapi dia yakin bahwa mereka berjaga di depan pintu. “Kenapa kamu ketakutan? Sangat berbeda dengan pertemuan pertama kita, kamu kelihatan … berani.” Daxton menggoda. Mendekatkan bibirnya ke daun telinga Freya kemudian kembali menarik diri dengan seulas senyum lebar. Freya mundur satu langkah saat dagunya dicolek tanpa sopan. "M-maaf—" "Untuk apa meminta maaf?" potong laki-laki itu. "Ah sorry sepertinya pertemuan pertama kita memberikan kesan buruk makanya kamu ketakutan. Okay, dengarkan baik-baik, Sayang." Freya tersentak karena wajah pria itu kembali mendekat, terlihat seperti sedang mengendus. Dia mencoba memalingkan muka enggan dan ketakutan. Napasnya tertahan saat mendengar kekehan ledekan dari Daxton akan respon tubuhnya yang selalu tegang. "Saya akan membantu kamu," ucap Daxton. Mereka saling berhadapan, cukup menakutkan di mata Freya walaupun sosok di depannya sangat tampan, tapi jangan lupakan aura mematikannya sangat kuat. "Dengan syarat menjadi pengantin saya," lanjutnya tanpa ragu. "Bagaimana?" Freya megap-megap menatap pria di depannya dengan sorot bingung. Di matanya sangat berbeda sosok Daxton yang mirip iblis dengan Daxton yang menawari bantuan seolah-olah mereka layak bekerjasama. Masalahnya Freya tidak sebodoh itu dengan menyetujui ajakan tersebut. "Maaf, sepertinya Tuan salah orang. Saya—" "Henderson," potong Daxton bersedekap d**a. "Mudah bagi saya menyeret orang-orang itu, tapi tentu saja tidak gratis." Daxton kembali tersenyum lebar. Agaknya Freya dapat menyimpulkan bahwa pria itu jika menginginkan sesuatu selalu dengan senyum lebar. Mengapa berbeda dengan pertemuan kemarin? Apakah inilah trik tipu daya Daxton? Freya menggigit bibir bawahnya gelisah. Pria di depannya terlihat menyeramkan karena mengenal marga keluarga yang sengaja dihilangkan oleh kedua orangtuanya. Marga itu seolah seperti kutukan bagi mereka jadi mendengar dilafalkan oleh orang asing—seperti Daxton—sensasinya seperti ancaman. "A-apa saja yang Tuan ketahui soal itu?" "Kamu yakin ingin tahu semuanya?" Daxton menantang. Freya mengangguk patah-patah, bohong kalau dia tidak tertarik sejauh mana Daxton mengetahui perihal jati dirinya. "Menjadi pengantin saya." Namun, permintaan yang meluncur bebas seenaknya dari bibir pria itu sukses membuat bola mata Freya melotot terkejut. "Mami bilang Tuan merupakan klien saya, maksudnya pekerjaan saya itu ...?" Dengan entengnya Daxton mengangguk. "Masih kurang jelas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD