"M-maksudnya ...?" tanya Freya gagap. "Tolong jangan mempermainkan saya, Tuan."
Daxton terkekeh sinis, kedua tangannya bersedekap d**a. Tingkah pria itu sudah kembali ke setelan pabrik dan Freya cukup tahu diri supaya berjaga-jaga. “Sepertinya kurang seru kalau menyeret mereka ke jeruji besi, bagaimana kalau kita buat mereka menyerahkan dirinya sendiri dengan sukarela? Hem?”
“Tuan—”
“Menjadi pengantin saya,” potong Daxton cepat tidak terbantahkan saat terlihat tanda-tanda penolakan dari gadis itu. Pria itu mengulangnya entah sudah berapa kali dan rasa kesel mendera karena lawan bicaranya tak kunjung memberi jawaban. “Hanya dengan dua syarat.”
Kembali lagi ulasan itu disuarakan oleh Daxton berhasil membuat Freya bimbang. Bibirnya yang kering kembali dia basahi, arah tatapan matanya sangat sendu dan kelihatan bimbang karena didatangi secara tiba-tiba oleh pria asing. Ah ralat bukankah terdengar seperti sebuah lamaran pernikahan? Lamaran pernikahan penuh paksaan sepanjang sejarah.
Melihat lawan bicaranya yang memindai dirinya tidak yakin berhasil menyulut emosi Daxton, dia berdeham lalu dalam sekali tekan pada ponselnya pintu di belakang Freya terbuka. Sosok pria berkepala plontos masuk dan membawakan sebuah map berwarna cokelat lalu menyerahkannya pada Freya tanpa mengatakan apa pun.
Tatapan Freya jatuh pada sosok Daxton yang mengendikkan bahunya menyuruh membuka map tersebut. Awalnya ragu akan tetapi, Freya juga penasaran karena terlihat jelas bagaimana pria itu ngotot menjadikan dirinya pengantin.
“Ini …?” Freya tak mampu berkata-kata. Pandangannya buram lantaran menahan air mata yang hendak meluncur. “Bagaimana bisa?” tanyanya dengan air mata yang pada akhirnya jatuh. Latar belakang keluarganya dikulik habis-habisan di saat rahasia ini ditutup rapat-rapat oleh ayahnya. Bukan hanya potret kebersamaan Freya dan orangtuanya karena silsilah sanak keluarga mereka pun terpampang nyata.
“Sejauh ini apa pun yang saya inginkan tidak pernah gagal saya dapatkan,” ungkap Daxton seolah memberitahu Freya bahwa wanita itu tidak punya alasan untuk menolak.
Belum sempat memberikan sanggahan tiba-tiba sosok pria plontos kembali masuk, tapi kali ini tidak sendirian. Ada tiga wanita yang membuntuti lalu tiba-tiba berdiri di sebelah sisi kanan dan sisi kiri Freya.
"Sesuai yang saya inginkan. Hanya dua jam!" titah Daxton menyerahkan Freya kepada tiga wanita yang ditugaskan untuk mempercantik tahanannya. Lalu dirinya pergi tanpa berpamitan sama sekali.
***
"Kamu hanya perlu senyum, tidak usah buka suara. Jika diberi pertanyaan tidak usah dijawab. Sampai sini paham?" Kepala Freya mengangguk. Gestur wajah dan tubuhnya sangat berbanding terbalik, jika wajahnya berusaha rileks maka tidak dengan tubuhnya yang berusaha menjauh dari jangkauan Daxton.
Rengkuhan di pinggang rampingnya yang membuat Freya risih. Namun, saat hendak menjaga jarak tiba-tiba pintu di depan mereka terbuka. Freya mati kutu, kalau bisa mau kabur saja daripada menghadapi orang-orang di dalam ruangan itu. Dia tidak bisa mengelak karena sudah menumbalkan dirinya sendiri sebagai tawanan Daxton bahkan mereka belum membuat perjanjian apa pun karena Daxton yang memburui dirinya.
"Maaf kedatangan kami sedikit terlambat. Ada insiden kecil, calon istri saya sedang hamil muda dan dia banyak mau," tutur Daxton melirik Freya dengan senyum singkat kemudian kembali menghadap ke depan.
Sontak kepala Freya mendongak meminta penjelasan lantaran sangat terkejut, tapi alih-alih protesnya ditanggapi justru bibirnya dikecup di depan semua orang. Memang sangat buruk dan memalukan. Freya semakin ingin hengkang dari ruangan ini ... andai dia bisa.
"Ke sini, Sayang. Jangan berdiri terlalu lama nanti perutmu kram," ujar Daxton menggandeng tangan Freya, sikapnya yang memperlakukan Freya dengan sangat lembut tentu menuai kritik tajam dari semua orang, termasuk Freya. Dia ingin mengkritik bahwa sandiwara pria itu patut diacungi jempol.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Benar begitu, Dante?" tanya pria di depan Freya. Jika boleh jujur tangan wanita itu sangat dingin dihadapkan dengan sandiwara yang dia saja tidak tahu dengan jalan ceritanya, Daxton tidak memberikan rules apa pun terkait ini, dia hanya diminta untuk diam. Lain hal dengan Daxton yang terlihat santai, pria itu memanfaatkan momen dengan sangat baik seakan tidak memedulikan semua pasang mata yang mengarah pada mereka berdua karena Daxton benar-benar menyebalkan. Pria itu tak henti-henti menatap wajah memerah salah tingkahnya Freya. Senyum Daxton terlihat tulus untuk wanita bayaran seperti dirinya.
“Tidak ada kesalahpahaman, Om. Saya sudah terus-terang di awal, tapi Papi menolak sadar kalau sebentar lagi akan menjadi seorang kakek. Sebenarnya saya sangat merasa bersalah karena membuang waktu berharga Om dan Natshiya, tapi mau bagaimana lagi karena saya tidak mungkin melanjutkan perjodohan di saat Freya sedang hamil,” ujar Daxton tanpa mengalihkan fokus tatapannya pada Freya membuat wanita itu semakin salah tingkah. Sandiwara macam apa yang membuatnya terasa sangat nyata. "Saya mencintai Freya."
Freya cegukan. Alih-alih mengatakan: saya menginginkan Freya justru pria itu improvisasi atas nama cinta.
“Ayah—”
“Kita pulang, Nat! Kita tidak akan mengemis pada orang yang tidak tahu sopan santun. Saya kecewa karena persahabatan kita sebatas ini, Dante?” potong pria paruh baya yang langsung beranjak dan tidak lupa menggandeng tangan putrinya.
“See? Papi lihat sendiri, ‘kan?” Ucapannya terdengar seperti ledekan di telinga Dante karena dia selalu berhasil menggagalkan perjodohan dari kakeknya.
Pria yang dipanggil papi mengurut keningnya perlahan-lahan, kepalanya terangkat—mendongak menatap putra satu-satunya yang selalu berhasil membatalkan perjodohan yang dirancang oleh Renzo—kakeknya Daxton. “Mau sampai kapan, Son? Kembalikan wanita itu ke tempat asalnya!” perintah Dante tegas tak terbantahkan.
Namun, berbeda seperti sebelumnya saat Daxton tanpa segan mengusir wanita bayaran kali ini sang putra bergeming. Tentu hal itu memantik emosi Dante yang berusaha dia redam sejak awal kedatangan sang putra.
“Daxton,” panggil Dante memanggil nama putranya, jika sudah seperti ini tandanya tidak main-main lagi. “Jangan menyulut pertengkaran!”
“Saya serius. Kami akan menikah,” kata Daxton tersirat penuh makna.
“Dia beneran hamil?” Dante melotot kaget.
“Akan segera hamil,” ralat Daxton menyeringai menatap sang ayah yang hidungnya makin kembang-kempis.
“Papi tidak ikut campur. Hadapi opa sendirian!” Lalu pria itu pergi meninggalkan meja mereka, tersisa Daxton dan Freya saja. Namun, tidak berselang lama seseorang datang. Pria yang tadi membawakan map dan kali ini juga membawa map lalu seperti tadi kembali menyerahkan ke Freya yang kelihatan semakin bingung.
“Tuan, apa ini? Tugas saya sudah selesai, ‘kan? Sesuai yang Tuan minta saya menjadi pengantinmu,” kata Freya mencoba meminta penjelasan lebih.
"Apa yang sudah saya putuskan tidak akan main-main dibatalkan dengan begitu mudah, Freya. Karena kamu sudah mengiyakan maka tidak ada alasan kamu menolak saya nikahi. Segera tanda tangan berkas perjanjian itu!"
"A-apa?" Freya gagap. "Saya tidak mau, Tuan. Saya hanya sepakat membantu Tuan menjadi pengantin tidak dengan menjadi istri Anda," lanjut wanita itu bernegosiasi karena demi apa pun Freya tidak berharap dinikahi oleh Daxton, pria yang sejak kehadirannya menyulitkan Freya. Berharap Daxton tidak benar-benar dengan keputusan ini, lebih baik terjebak bersama Charlotte daripada bersama Daxton karena pria itu lebih berbahaya.
Daxton memperhatikan dengan tatapan tajam. Matanya menyorot tepat pada manik mata Freya. Badannya condong mendekati Freya lantas berbisik, "Saya yakin setelah ini namamu akan dicari oleh om Marco dan saya sangat yakin nyawamu juga dalam genggaman dia." Jeda sejenak menyandarkan punggung ke kursi. "Om Marco tidak akan tinggal diam dipermalukan begitu saja. Tentu kamu yang menjadi target utama."
Deg!
"Tuan ...," lirih Freya. "Saya hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang peneror. Saya hanya ingin membalaskan dendam atas kematian orang tua."
Mendengarnya Daxton menyeringai. "Baca dokumennya!"
Sial bagi Freya karena dia sudah terlanjur menyerahkan dirinya kepada pria berhati iblis. Walaupun pria itu bersikap lebih lembut akan tetapi, Freya tetap mengingat pertemuan pertama mereka benar-benar kacau. Dirinya dibuat ketakutan setengah mati bahkan barangkali ... trauma akan sikapnya. Namun, kini Freya menandatangani berkas sialan yang mengharuskan dirinya menikahi pria iblis tersebut.
"Jangan lupakan poin nomor satu."
Napas Freya tercekat. Meneguk salivanya dengan susah payah lantas mengangguk patah-patah. "Aku akan melahirkan keturunan untuk Tuan," jawabnya, lalu menundukkan kepala enggan bertatapan dengan mata Daxton yang selalu menyorot datar dan tajam.
"Bagus! Jadilah penurut." Setelahnya tangannya disambar dengan cengkraman kasar menuju ke mobil. Freya tak tahu akan dibawa ke mana, dia nurut seperti yang diinginkan oleh pria itu.