Bab 4. Maunya Unjuk Diri Menggoda

1305 Words
Benar-benar nekat, tapi dia tak bisa mengelak karena sejujurnya Freya butuh tempat aman barangkali dengan Daxton dirinya aman dari teror keluarganya. Meskipun dengan cara yang sama bahayanya. Freya tak berani membuka suara mempertanyakan akan dibawa ke mana, dia cukup diam memandang ke luar jendela seakan sosok di sebelahnya tak ada siapapun. Freya masih takut, ingat itu! Namun, diamnya itu membuat Daxton jengkel sebagai pria yang tak suka diacuhkan dia merasa sikap Freya sangatlah lancang. "Lebih cepat!" titah Daxton pada asisten pribadinya yang dibalas decakan sebal. Mendadak tidak betah satu tempat dengan calon istrinya. Padahal maunya Daxton wanita itu menyanjung dirinya, memujinya seperti kebanyakan wanita di luaran sana atau dalam kata lain unjuk diri menggoda dirinya, dengan begitu Daxton merasa menarik. Sepertinya Daxton akan sering merasa jengkel karena sikap acuh Freya. Freya yang diam—diam-diam menyimpan trauma— menautkan kedua tangannya yang berada di atas paha. Seringai mematikan pria itu hadir saat dirasanya berhasil membuat Freya terusik. Dia tak suka dengan perangai santai wanita itu. Bisa dibilang Daxton ingin Freya menganggapnya seperti dewa penolong dari Charlotte akan tetapi, tanpa pria itu sadari dialah tak jauh berbeda seperti Charlotte bahkan lebih iblis. “Lo nggak ngabarin orang rumah dulu minimal tante, Dax. Gue harap sih nggak terjadi pertumpahan darah, jujur gue nggak mau ikut campur urusan lo sama opa,” ujar Irzal memecah keheningan. “Kalau bisa yang normal-normal sajalah nggak usah banyak drama. Kalau dipikir-pikir kayaknya yang dulu lebih menarik, cocok kalau digandeng ke kondangan. Lagipula tante Esme kebelet jadiin Nat mantu. Lo yakin sanggup ngelawan si tante?” “Sudah ngocehnya? Kamu sangat berisik! Saya tidak butuh saranmu, Irzal!” bentak Daxton menyorot tajam lewat spion tengah, dia sedang emosi dan semakin emosi karena ocehan Irzal yang terkesan menggurui. Dia tak suka ketika temannya banyak omong, dia membencinya. Namun, secara sadar pun membenarkan ucapan Irzal. Sialnya walau banyak yang sudah disodorkan padanya entah mengapa matanya terpaku pada wanita biasa-biasa saja yaitu Freya. Wanita lemah yang menjadi tolak ukur aibnya jika dijadikan istri. Sejak kapan ada anggota keluarga lemah di klan Maddison? “Ya-ya baiklah Yang Mulia silakan temui opa. Gue nggak urusan kalau kaki lo pincang.” Irzal berdecak, memutar setir dengan tenang seakan bentakan Daxton sudah biasa sehingga tidak berpengaruh baginya. Daxton tak peduli, keluar dengan langkah tegap. Matanya menyorot bangunan megah di depan mata seringai di bibirnya membuat Irzal yang berdiri di depannya pun menyingkir bergidik ngeri. Dia tahu otak teman yang juga bosnya kadangkala di luar akal sehatnya. Seperti saat ini contohnya ketika Daxton menginginkan Freya masuk ke dunianya di saat tetua Madison berencana menjodohkan demi memperluas jaringan bisnis. Namun, satu yang membuat Irzal semakin yakin temannya ini rada gila adalah fakta bahwa wanita yang menjadi buruannya merupakan rival besar Maddison. Sungguh, Irzal tak tahu setelah ini bagaimana kondisi tulang kering Daxton Maddison di tangan kakeknya sendiri. "Ingat jalan pulang rupanya," ujar seorang pria tua yang berjalan dengan ditopang tongkat. Di belakang pria itu juga disusul oleh wanita yang langsung menyerbu Daxton. Meneliti sosok yang dibawa putranya. “Mima—” “Ini nggak benar, Daxton. Siapa lagi yang kamu mainkan, hem? Bukan begini caramu memberontak,” ujar Esme—ibu kandungnya—wajahnya sangat syok memperhatikan sosok wanita lugu di sebelah putranya, bukan hanya itu saja dia jelas tahu wanita yang dinilai dari kalangan menengah tentu tidak sepadan dengan mereka. “Nak—” “Mima sendiri yang mengatakan tidak akan ikut campur dengan pilihan saya lantas mengapa sekarang menentang?” Itu karena Esme berpikir putranya hanya bicara omong kosong demi menolak perjodohan bisnis keluarga mereka. Berbeda dengan papinya yang tunduk pada tetua dan tidak benar-benar memaksa Daxton maka lain dengan Esme yang berada di pihak Renzo—kakeknya karena rasa takut berlebih; takut kehilangan kekuasaan. Jelas saja Esme tidak akan menyengsarakan hidupnya karena kegagalan menikahkan Daxton dengan pilihannya. Jika Dante hanya sekadar menghormati ayahnya maka lain dengan Esme yang berada di pihak Renzo dan Daxton tidak suka ketika ibunya menjadi b***k kakeknya, apalagi Dante benar-benar tidak ikut campur mengenai apa pun yang dilakukan istrinya. Dia tidak mendukung dan tidak melarang, berada di tengah-tengah selagi Esme senang. “Beri jalan, Menantu. Biarkan mereka masuk,” ujar Renzo yang sudah cukup muak melihat perdebatan sepasang anak dan ibu. Hal biasa yang terjadi di rumah ini. “Ayah, tapi Nat—” “Siapkan jamuan!” Sekali lagi ucapannya dipotong tanpa peduli dengan raut wajah menantunya yang kaget. Tak pernah Renzo mempersilakan orang asing masuk, bahkan biasanya buruan putranya hanyalah sebatas dikasih lihat tidak diperkenalkan. Namun, kini semua pelayan di rumah diberi titah untuk mempersiapkan jamuan seolah tamu agung. Esme semakin berang, raut tidak sukanya kentara jelas. “Mima tidak usah sekesal itu. Wanita saya memang rakyat jelata, tetapi dia tidak mata duitan. Pilihan Mima sebelum-sebelumnya menyusahkan keuangan keluarga kita.” Mata Esme terbelalak mendengar perkataan frontal putranya sedangkan di sisi lain Freya semakin menundukkan kepalanya. Mungkin jika tangannya tidak digandeng barangkali dia sudah luruh jatuh ke lantai saking lemasnya. Bagaimana ini? Dia tidak diinginkan di rumah ini lantas bagaimana mungkin pernikahan terjadi. Adegan di depan mata barusan sukses membungkam keberanian Freya, dia ingin membatalkan perjanjian andai bisa. “Ayah, aku sudah bicara dengan Nat, dia mengatakan mau menunggu jika diadakan pertemuan kedua sebagai ganti pertemuan hari ini yang gagal,” ucap Esme menghampiri mertuanya yang duduk di kursi paling ujung—kursi kepala yang hanya boleh diduduki oleh tetua Madison. “Omong-omong ke mana perginya papi kamu?” tanya Renzo mengabaikan Esme justru mengajukan pertanyaan pada cucunya yang kelihatan acuh akan tetapi, mata tajamnya menyorot Freya yang duduk gelisah tak nyaman. “Papi sudah pergi lebih dulu,” jawabnya. “Opa menakuti wanita saya,” lanjut pria itu secara terang-terangan menggenggam tangan Freya di atas meja. Daxton semakin berani, semakin pula menyulut emosi Esme hingga sang ibu berdeham beberapa kali. Terang saja Freya menoleh terkejut pada pria di sebelahnya, tak tahu harus merespon bagaimana karena di depannya sosok Esme menatapnya terang-terangan tidak suka. "Ayah, bagaimana dengan yang tadi? Aku harus memberi kabar segera pada Nat," tanya Esme segan karena mendapat lirikan datar mertuanya. "Cucuku memiliki pilihannya sendiri jadi aku tidak bisa memaksanya." Jawaban Renzo mendapat dua reaksi berbeda. Jika Daxton menyeringai menang diam-diam justru berbanding terbalik dengan Esme yang terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya. "Kenapa? Kamu keberatan?" "Sama sekali tidak, Ayah. Aku akan segera memberi kabar pada Nat sekeluarga," putus Esme pada akhirnya pergi melipir guna mengurus sisa kekacauan yang dilakukan oleh sang anak. Makian dia dapatkan karena membuat Marco berang lantaran anaknya ditolak secara tidak hormat. "Sebaiknya memang begitu aku tidak mau mendengar berita buruk apa pun soal gagalnya perjodohan. Ini menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya, Esme," ujar Renzo tegas setelah menantunya pergi lalu tatapannya jatuh pada sosok Daxton yang diam sedari tadi menyimak. "Jadi kapan kalian akan menikah?" tanyanya menuntut jelas. "Secepatnya, Opa. Opa tidak perlu khawatir. Segala persiapan akan saya lakukan dengan cepat. Irzal yang akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar." Kali ini matanya menyorot Irzal yang dibalas embusan napas lalu mengangguk pasrah. "Opa tidak usah khawatir, saya sudah biasa dikerjai sama Yang Mulia Daxton." Balasan sarkas tanpa merasa segan. Renzo menepuk bahu Irzal, terkekeh sejenak karena jawaban Irzal selalu nyeleneh. "Walaupun tidak masuk akal, di tanganmu akan terlihat masuk akal, Kacung." Irzal mesem menundukkan kepala sopan. "Cucuku tanpa kamu tidak ada apa-apanya. Dia itu anak manja!" Lalu Renzo mengetukkan tongkat ke lantai kemudian bangkit. "Siapapun pilihan cucuku asal bukan kamu, saya tidak masalah." "Berengsek banget aki-aki," maki Irzal ketika Renzo sudah pergi dari hadapan mereka. "Opa lo masih dendam karena gosip kita dikira gay!" Daxton langsung berdeham menegur Irzal. "Saya antar kamu ke atas," ujarnya kepada Freya yang membuntuti langkahnya dari belakang. Freya tidak banyak bicara, tidak bertanya, dia diam saja menyaksikan apa-apa yang ada di rumah ini. "Kedepannya kamu bisa minta Irzal jika membutuhkan sesuatu. Dia asisten saya, kami tidak memiliki hubungan spesial jika kamu curiga soal itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD