Bab 5. Terlanjur Menyerahkan Diri

1301 Words
“Tuan,” panggil Freya menatap sekeliling kamar. Matanya mengedar lalu berbalik badan menghadap Daxton sepenuhnya. “Kenapa saya tidak diperbolehkan pulang?” lanjutnya dengan raut wajah kaku lantaran ketakutan jika pertanyaannya tergolong salah, kelihatan juga tangannya gemeter. Daxton melihatnya akan tetapi, tak mau ambil pusing. Buruannya akan menjadi tawanan sampai batas waktu yang dia tentukan sendiri. “Tidak usah khawatir karena saya sudah menghubungi nyonya Charlotte. Beliau mengizinkan kamu tinggal di sini, saya tidak mau menanggung resiko calon pengantin kabur di saat-saat pengucapan janji di hadapan Tuhan.” Sarkas sekali perkataan Daxton. Seharusnya dia sudah menduga dan membiasakan diri menghadapi keangkuhan Daxton akan tetapi, Freya tetap kaget, takut, dan ingin kabur andai bisa. Namun, sekali lagi dia tak bisa kabur karena terlanjur menyerahkan diri. Lalu tanpa mengatakan apa pun Daxton pergi dari kamar tamu yang diperuntukkan untuk calon istrinya. Pria itu menemui sosok tua renta yang duduk menopang dengan tongkat saktinya. “Datang juga cucuku yang bandel,” ujar Renzo menyeringai. “Jadi kunci apa yang kamu berikan pada Opa sampai berani membatalkan perjodohan dengan Nat. Kamu harus tahu Opa menanggung resiko sangat besar kalau niatmu berniat main-main saja,” ancam Renzo dengan mata elang tuanya yang tak sanggup meruntuhkan Daxton. Hanya Daxton yang berani menentang tetua Madison. “Saya sudah minta Irzal datang, lima menit lagi … masuk!” seru Daxton sangat yakin temannya yang juga merangkap asisten pribadinya benar-benar tepat waktu. Sosok Irzal benar menyambangi ruangan pribadi Renzo yang haram dimasuki sembarangan orang. Pria itu membungkuk merendahkan tubuhnya sebagai salam pada Renzo yang berdeham kecil mengetuk tongkat ke lantai sebagai sambutan. “Kabar apa yang kamu bawa dari cucuku, Kacung?” Sial! Irzal tersenyum kecut karena yang dibilang Renzo bener adanya dia menjadi kacung Daxton selama bertahun-tahun lamannya bahkan orang-orang sempat menyangka keduanya memiliki hubungan khusus dan itu membuat Renzo mengirimkan wanita-wanita dari anak rekan bisnisnya untuk dijodohkan dengan Daxton. Singkat cerita Daxton secara pribadi menghubungi Renzo dan mengatakan membawa buruan yang akan membawa mereka pada jalur kemenangan. Saat Irzal ngoceh dan banyak mencampuri sejujurnya Daxton sudah membuat plan ganda yaitu melobi sang kakek. Si tua bangka yang sialnya tidak mati-mati. Pria tua yang keputusannya mutlak dan susah dibantah, tetapi di tangannya semudah itu Daxton membuat Renzo setuju dengan keinginannya . “Dari hasil temuan yang saya kumpulkan—” “Kamu apa anak buahmu?” potong Renzo sinis, sepertinya masih kurang suka dengan hubungan pertemanan sang cucu dengan Irzal. Renzo seolah masih ingat gosip gay berhasil menurunkan saham perusahaan dan nyaris membuat investor kabur. Masalah yang sudah kelar, tapi tidak selesai di ingatan Renzo. “Maksud saya mereka menemui sebuah fakta yang menguntungkan Maddison. Wanita yang dibawa oleh Daxton adalah cucu Handerson yang sedang dijadikan buruan,” jelas Irzal dengan tenang, dia yakin Renzo puas dengan info tersebut. “Menarik. Dia berasal dari klan musuh kita lalu masuk dengan mudahnya. Kerja bagus cucuku yang bangor, kali ini Opa mendukungmu,” puji Renzo tak tanggung-tanggung, bukan pencitraan semata dia benar-benar memuji otak licik Daxton padahal ada sebagian otak Irzal yang tentunya tidak pernah terlihat dan mendapat penghargaan. Diam-diam Irzal memalingkan mukanya. Renzo menyeringai mengetahui bahwa cucunya licik, tapi tak tahu alasan di balik kelicikannya itu. *** “Dasar cucu biadab berani sekali memanfaatkan momen demi bebas dari jeratan wanita bisnis.” Makian Irzal mendapat seringai Daxton, terlihat pria itu tak ambil pusing baginya rencananya sudah sangat matang. "Opa menginginkan kejayaan bisnis raksanya dengan senang hati saya kabulkan. Yang ini lebih menguntungkan Maddison." Daxton menjawab santai. Irzal menggeleng tidak habis pikir jika otak licik Renzo berada di level 50% maka cucunya ada di tahap 75%, sungguh sebagai seseorang yang dibawa Daxton ke mana-mana sukses membuat Irzal bergidik ngeri. Kalaupun dia seorang wanita sepertinya lebih memilih kabur pontang-panting daripada terlibat transaksi dengan pria itu. "Kurang waras," desis Irzal. "Gue rasa lo butuh berobat, Dax. Ngeri kalau selama hidup lo bakalan sekaku ini." Daxton mendengus tak suka melirik temannya dengan tajam. “Urus saja pekerjaanmu! Tak usah repot-repot memikirkan masa depan saya, Irzal. Kurang bermutu,” balas sinis Daxton melenggang meninggalkan Irzal yang menatapnya tercengang. Kepergian Daxton tentu ke sebuah kamar tamu yang ditempati Freya. Dia hanya memastikan penghuninya maka setelah pintu terbuka yang terlihat wanita itu terlelap. Daxton melihatnya dari depan pintu tanpa masuk. Sejujurnya Daxton tak tahu dengan perasaannya sendiri, di satu sisi memanfaatkan momentum ini untuk lepas dari jeratan Renzo dengan segala upaya perjodohannya. Namun, di sisi lain dia merasa sedikit iba kepada Freya. Wanita itu terlihat menyedihkan. Apa boleh buat rasa kemanusiaan tidak dibutuhkan Maddison, dia mengikuti logika bukan naluri. "Apa kamu merasa kasihan dengannya, Son?" tanya seseorang menepuk bahunya dari belakang. Sosok Dante datang seorang diri, pria paruh baya itu baru pulang padahal perginya lebih dulu. "Tidak ada kaitannya dengan belas kasihan, Papi. Sebenarnya apa maksud Papi?" tanya balik Daxton menahan geraman. Giginya bergemeletuk melirik sang ayah melalui ekor mata. "Mima mencari Papi." Basa-basi Daxton karena dia bahkan belum bertemu lagi dengan ibunya setelah sang ibu menelepon Marco. “Mengalihkan pembicaraan cih! Papi tahu kamu tertarik dengan wanita itu. Sejujurnya Papi yakin kalau yang satu ini bukan sekadar tawanan.” Setelahnya Dante pergi begitu saja meninggalkan sang putra yang mengepalkan kedua tangannya. Daxton paling tidak suka jika ayahnya berkelakar. Tak akan pernah! Daxton hidup dalam kurungan dendam kekasihnya yang dibunuh dengan sengaja. Tak akan biarkan orang lain mengganti pemilik hatinya. Tak akan! Tangannya menempel ke d**a, ada gemuruh jika mengingat mendiang sang kekasih. Tangannya semakin turun menyentuh cincin yang menjadi bandul kalungnya. “Catherine ….” *** Pagi menjelang terbangun di tempat asing langsung membuat Freya menarik selimut sebatas d**a. Dia trauma, pernah terbangun di sebuah ranjang dengan pakaian atasnya yang acak-acakan maka dari itu, dia langsung bergegas turun. Masuk ke kamar mandi untuk cuci muka lalu kembali duduk di tepi ranjang. Freya tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Ingin keluar pun ada rasa takut karena di tempat asing lagi pula Freya tidak hafal jalan keluarnya. "Bodoh," umpat Freya memaki dirinya sendiri berulang kali memukul kepala walau pelan, tapi tetap terasa sakitnya. "Demi ayah dan ibu aku rela menyerahkan nyawaku kepada mereka. Aku ingin ikut bersama kalian." Saat sedang melamun tiba-tiba pintu kamar terbuka. Freya kaget, yang membuka lebih kaget karena si penghuni kamar sudah bangun. "Maafkan kami mengejutkan Anda, Nona. Saya pikir sudah pelan membukanya, rupanya Anda sudah bangun," ucap wanita paruh baya mendorong troli. "Pakaian untuk Anda. Semua orang sudah menunggu di meja makan, Nona. Mari kami bantu bersiap-siap." Semakin kikuk saja karena setelahnya ada empat wanita yang masuk. Sepertinya kejadian hari kemarin terulang lagi? Freya memasrahkan lagi dirinya dirias oleh orang asing. Sejatinya Freya terbiasa melakukan segalanya sendiri, ibu dan ayahnya mengajarkan dia untuk mandiri, mungkin mereka tahu bahwa tidak selamanya mereka akan tetap ada di sisinya. Jadi, ketika aktivitas dan kebutuhan disiapkan oleh orang lain membuat Freya merasa tidak enak, tetapi tidak bisa melarang karena segalanya atas perintah calon suami. Calon suami, Freya menipiskan bibirnya menghela napas ketika sadar bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari pria yang tidak dikenalnya. "Non Freya." Panggilannya membuat Freya tersadar dari lamunan. Dia berdeham, dia tidak sadar bahwa sedari tadi pikirannya melayang jauh, kosong, dan melamun sampai tidak sadar bahwa asisten rumah tangga yang ditugaskan mempersiapkannya sudah kembali membawa handuk yang diserahkan padanya. "Terima kasih. Maaf merepotkan." Wanita yang mengenakan seragam pelayan mengangguk sopan. "Tidak merepotkan kami, Non. Mari saya bantu." Freya langsung mendongak. "Maksudnya dibantu mandi?" tanyanya, untung masih duduk di tepi ranjang jadi kagetnya tidak berujung jatuh. "Tentu, Non. Saya akan memastikan Non Freya rileks tanpa kesusahan, mari ...." "Apa perlu?" Negosiasi Freya. "Maksudnya ... aku mandi sendiri saja, kamu bisa tunggu di sini sampai aku selesai mandi." Namun, temannya yang satu lagi menatap Freya dengan tegas kemudian menggeleng yang membuat Freya menghela napas sehingga membiarkan dua orang membuntuti ke kamar mandi, tiga orang lainnya menyiapkan pakaiannya di kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD