Pernikahan di sudut pandang Freya adalah dua insan yang bersatu atas dasar saling mencintai. Freya akui tidak munafik dan tidak menampik akan ketampanan Daxton, hanya saja untuk menikahi pria asing rasanya seperti sebuah mimpi. Namun, saat dia terbangun di sebuah kamar hotel tentulah bukan sebuah mimpi. Bahkan pakaiannya pun masih menggunakan gaun pengantin.
Freya ingat jelas saat pemberkatan selesai ketika bibirnya dipungut manis penuh damba oleh Daxton dia mengalami pandangan yang gelap gulita. Freya pingsan dicium suaminya sendiri.
Sial! Takut sekali menyebut Daxton suami meski aslinya mereka sudah menikah tadi pagi di salah satu hotel berbintang tanpa mengundang banyak orang hanya rekan bisnis dekat dan anggota keluarga pria itu beserta teman dekatnya. Freya? Hanya dihadiri mami Charlotte dan Jasmine sebagai perwakilan juga saksi dari pihak mempelai wanita.
"Aku menikahi pria asing demi membalas dendam serta meminta perlindungan dari keluarga orang tuaku. Kalian pasti bangga kan kalau aku berhasil membawa si tua bangka pada karmanya," gumam Freya menatap langit-langit atap kamar yang didominasi warna putih s**u. Freya memejamkan mata sesaat mendengar suara pintu yang terbuka.
Tak lama kemudian ranjang di sebelahnya bergoyang pertanda ada sosok lain yang menaiki. Bukan hanya itu saja karena tubuhnya langsung menegang dengan jantung berdegup kencang sekali saat pelukan diberikan Daxton. Ya, dari wangi parfumnya sudah bisa ditebak oleh Freya.
"Kamu tidak tidur, saya tahu." Pria itu berbisik di dekat daun telinganya, bahkan tak sengaja mencumbu leher jenjang Freya membuat si empunya tersentak kaget karena tindakan agresif tersebut. Freya belum terbiasa bahkan bisa dibilang tidak pernah sedekat ini dengan lawan jenis. Aksi tidur pura-pura tidak bisa dilanjutkan karena tubuhnya merasa geli, reaksinya sungguh membuat Daxton menyeringai menang.
"Bukan ciuman pertama kita, tapi yang tadi sungguh sangat menyebalkan. Kira-kira hukuman apa yang pantas diberikan kepada istri baru saya, hem?" Serak basah! Freya ingin membuka mata dengan sempurna akan tetapi, dia sedang berakting jadi berusaha senormal mungkin selayaknya orang baru bangun tidur.
"Tuan—"
"Panggil saya Daxton, Sayang. Saya bukan tuanmu!" potong Daxton dengan tegas. Bibirnya menghisap leher Freya kuat-kuat sampai menimbulkan bercak kemerahan yang besok akan berubah menjadi ungu.
"M-maaf."
"Coba panggil!" perintah Daxton memaksa. "Saya ingin mendengar suara seksimu."
"Daxton ...," panggil Freya lirih serupa cicitan andai posisi wajah Daxton tak berada di ceruk lehernya, mungkin pria itu tak akan mendengarnya.
"s**t," umpat Daxton. "Apa yang kamu berikan pada saya, hem? Racun apa yang kamu campurkan sampai membuat saya ingin menelanmu hidup-hidup!"
Persetan dengan perasaan karena tujuan awal pernikahan ini terjadi karena Daxton membutuhkan seorang boneka yang tunduk padanya. Poin penting dari pernikahan paksa ini dia menyalurkan hasrat birahinya tanpa takut terkena penyakit—walau dia bisa mendapatkan wanita higienis—tetap saja Daxton tak akan sembarangan memilih ibu untuk anaknya.
Dengan gerakan gesit segera memutar posisi sehingga tubuhnya sudah menindih wanita yang kini matanya melotot kaget dengan kulit wajah seputih mayat. Tak Daxton biarkan wanita itu memproses yang akan terjadi karena ciuman kasar Daxton layangkan sampai-sampai bibir wanita itu membengkak kemerahan.
Daxton tak peduli jika papi melihatnya sangat agresif pasti akan diejek mati-matian. Sudut pandang Daxton memandang Freya adalah wanita yang layak dia sentuh kapanpun dengan status yang jelas. Namun, pria itu tentu tak akan menjanjikan sebuah perasaan akan cinta.
"Daxton ...," lirih Freya mencengkeram bantal di sisi kepalanya saat merasakan pria itu meremas dadanya dengan kasar. Air mata Freya menetes karena merasa sakit juga bercampur dengan nikmat. Dia tidak bohong dengan mengakui sensasi asing yang membuatnya mabuk kepayang.
Tak memberi kesempatan wanita itu mengeluarkan kenikmatan karena Daxton sengaja memperlambat demi melihat buruannya tersiksa. "Saya tidak melarangmu untuk bersuara. Jangan gigit bibirmu, biarkan itu menjadi tugas saya!" tandas Daxton mengusap bibir bawah Freya yang digigit.
Pakaian sudah tanggal, tubuh Freya telanjang bulat tidak berbeda jauh dengan Daxton, sesuatu yang berkilau menggantung di leher suaminya menarik atensi Freya. Wanita itu menatapnya tidak berkedip. Sebuah kalung dengan cincin tanpa ukiran. Namun, Freya tersentak ketika sedang memikirkan kalung berbandul cincin saat kepala pria itu sudah berada di sela-sela pahanya. Freya tidak sadar sejak kapan Daxton meluncur ke bawah. Freya semakin merapatkan kakinya akan tetapi, Daxton mencegahnya. Kepalanya terbenam sempurna di sela-sela paha Freya membuat pekikan wanita itu terdengar nyaring.
Tak mau menunggu terlalu lama dia basahi miliknya dengan ludahnya sendiri lalu menempelkannya di pintu lembah hangat sang istri. Daxton sengaja menikmati sensasi sentuhan yang menggesek miliknya sampai-sampai Freya menarik paksa bahu tegap Daxton untuk kembali menaiki tubuhnya.
Bukan pelototan yang diberikan pria itu, melainkan seringai pada bibir tebalnya. Dia biarkan Daxton mencari celah sempit sampai ujung kepala milik sang suami berhasil masuk.
"Ah ...!" Keduanya sama-sama mendesah, sama-sama lega.
Malu sekali saat Daxton menatap tubuhnya dari atas. "M-maaf aku ... hemp!" Ucapan Freya tak dibiarkan karena Daxton sama sekali tidak marah, dia senang saat wanita itu turut andil.
Tubuhnya yang mulai rileks menerima milik Daxton sepenuhnya bersamaan dengan air matanya menetes titik-titik, rasanya sangat sakit. Terbelah paksa ditambah miliknya mencengkeram milik tegak pria itu. Mereka sama-sama tersiksa ingin mencoba gerak akan tetapi, Freya menggeleng meminta jeda waktu.
Jika biasanya Daxton tak akan peduli dengan rengekan buruannya akan tetapi, kali ini dia menurut. Mungkin kompensasi karena Freya adalah virgin pertama yang dia rasakan bahkan saat dengan mendiang kekasihnya mereka sudah sama-sama rusak.
"Rileks, Sayang. Saya tidak akan bersikap kasar. Untuk urusan ranjang, saya mau kita berdua sama-sama puas."
"Sungguhan?" tanya Freya tertegun dia sudah mengira akan dijadikan b***k s*x ketika dinikahi.
"Tentu, saya tidak akan egois untuk itu. Jadi, boleh kita mulai?" tanyanya terdengar lebih lembut lalu disambut dengan anggukan Freya.
Wanita yang awalnya menatap Daxton takut-takut kini di bawahnya sangat luluh. Mendesah, mengerang, memanggil namanya dengan manja. Tak salah karena keduanya adalah manusia normal. Dipicu oleh hormon tentu semua akan berubah total.
Lama permainan karena Daxton di awal mengimbangi Freya, tapi setelahnya pria itu melakukan dengan menggebu-gebu sampai membuat istri barunya pingsang bahkan saat sudah tidak sadarkan diri pria itu masih bernafsu untuk mengejar kenikmatan seorang diri.
***
Terbangun dengan kondisi tubuh yang remuk redam sampai Freya tak bisa mengangkat tangan barang sejengkal pun. Dia meringis dengan mata yang masih terpejam.
"Non, perlu saya bantu sesuatu?"
Tiba-tiba mendengar suara di dalam kamar hotelnya sontak membuat bola mata yang terasa sangat berat pun terpaksa terbuka lebar. Freya semakin kaget mendapati tiga wanita berseragam hitam putih yang waktu itu mendandaninya.
"Kalian sedang apa?" tanya Freya malu. Wanita itu hanya mampu menggerakkan dagu melirik selimut yang membungkus tubuh telanjangnya.
"Tuan meminta kami untuk membantu Anda selagi Tuan meeting di bawah," jawab salah satu di antara ketiganya.
Freya terdiam. Bahkan pria itu masih bisa meeting sedangkan dirinya seperti hancur berkeping-keping. Tubuhnya benar-benar sakit semua.
"Tolong bantu aku mandi," pinta Freya dengan pipi bersemu merah. Memangnya siapa yang nggak akan tahu apa yang dilakukan pasangan suami-istri di malam pertama selain pertempuran ranjang. Freya nggak mau sok malu karena dia benar-benar butuh bantuan orang lain saat ini. Badannya sakit, sepertinya butuh dipijat. Bahkan saat kakinya menapak ke lantai langsung kembali duduk di ranjang.
Rambut yang sudah acak-acakan semakin acak-acakan ketika melihat kakinya gemeteran nggak bisa berdiri.
Benar-benar kejam! Dia kesusahan di pagi pertama setelah pelepasan keperawanan sedangkan pria itu bebas berkeliaran tanpa merasakan efek apa pun. Freya malu mengakui hal ini, tapi dia tak bisa bohong karena rasanya sungguh mengganjal. "Kalau aku menginginkan sesuatu dulu, boleh?"