5

1482 Words
             Byron menggerutu sepanjang jalan sembari menarik koper gadis itu. Apa sih yang gadis sok tahu itu bawa hingga kopernya terasa seberat ini? Dia, siapa namanya tadi? Zoe?, berjalan bersama ayah dan ibunya dan berbincang dengan akrab. Ibunya selalu baik pada orang asing. Hal itu mungkin dilakukan oleh Ana karena teringat bagaimana dulu ia sendirian di tanah yang asing, jauh dari kampung halamannya di Brazil.           Gadis itu ternyata tidak pirang dan tidak bermata coklat saat Byron melihatnya di bawah sinar lampu di toko tadi. Rambutnya berwarna ... coklat terang mungkin? dan matanya -entahlah- Byron tidak terlalu menghiraukannya. Oke, gadis itu memang seksi dengan tubuhnya yang tinggi dan langsing. Dia pasti rajin berolahraga mengingat bagaimana dia menyantap kue coklat tadi. Akan tetapi, Byron sama sekali tidak tertarik padanya. Tidak.           Mereka bertiga berbicara dengan asyik tanpa menghiraukannya. Ana selalu menginginkan seorang anak perempuan. Dulu, Lena adalah 'anak gadis' Ana. Namun, semenjak hubungan Byron dengan gadis itu berakhir, Lena mulai menjaga jarak. Byron tahu, ibunya pasti kehilangan.           Beberapa saat kemudian, Byron berhenti di depan pagar batu di rumah milik keluarga Dupont. Dulu, rumah ini adalah tempat yang paling sering ia datangi. Tempat yang dulunya akrab dan tiba-tiba saja kini menjadi sesuatu yang sangat asing.           "Ini alamat yang kau cari. Mom, Dad, ayo kita pulang," katanya dengan suara datar.           "Terima ..."           "Byron!" Lena berseru saat gadis itu muncul dari balik pintu dan merangkul lengannya.           Byron melepaskan tangannya dari pegangan Lena, tetapi gadis itu kembali membelitnya seperti ular berbisa. Dia melirik Zoe yang menatap mereka kaget dan Frank yang tampak tidak suka. Sementara, Ana memilih untuk tidak melihat hal itu.           "Kau masuklah dulu. Kau harus mencoba tuxedomu. Aku harap kali ini ukurannya sesuai. Aku tidak menyangka badanmu menjadi sebesar ini."           "Lena, aku mengantarkan temanmu, bukannya mau mampir untuk mencoba tuxedo."           "Teman?"           Byron menunjuk Zoe dengan dagunya dan Lena melepas tangannya dengan sedikit kaget.           "Zoe! Kau sudah sampai. Paman, Bibi, ayo masuk!"           Dulu, Lena memanggil orangtuanya dengan panggilan ayah dan ibu. Setelah kini dia akan menjadi istri orang, tidak mungkin gadis itu akan tetap memanggil orangtuanya dengan panggilan ayah dan ibu.           Ana tersenyum lembut seperti biasanya. "Tidak usah, kami akan pulang saja, sudah malam. Nah, Zoe, selamat menikmati malam pertamamu di Sault ya."           Zoe tersenyum dan memeluk Ana. "Terima kasih, Ana. Aku akan mampir ke toko besok. Frank, terima kasih untuk makan malamku yang sangat lezat."           Frank tertawa dan menepuk bahu Zoe pelan. Mereka bertiga tampak akrab seperti seorang teman lama. Byron mendekat dan menyerahkan koper Zoe.           "Terima kasih, Lord By ..."           "Byron! Ayo, kau harus masuk dulu!" Lena cepat-cepat menariknya masuk tanpa menghiraukan orangtuanya maupun Zoe.           Gadis itu menariknya ke salah satu bangunan yang tidak terlalu ramai seperti bangunan induk.           "Lena ..."           "Kau harus mencoba tuxedomu, By. Aku tidak akan punya waktu lagi untuk memperbaikinya jika ini tidak sesuai dengan ukuranmu." Lena mendudukkannya di sofa dan berkacak pinggang di depannya. “Aku akan mengambil tuxedo-nya. Tunggu di sini.”           Byron menatap kepergian Lena dengan alis berkerut. Gadis ini selalu mendominasi semuanya, dan itu tidak pernah berubah meski sudah bertahun-tahun berlalu dan mereka (seharusnya) sudah semakin dewasa.           Zoe masuk dan menatapnya dengan datar. "Apa aku harus bertanya ada hubungan apa antara kau dan calon kakak iparku?"           "Tidak. Tidak ada apa-apa antara kami berdua."                    Gadis itu terus menatapnya dengan pandangan menuduh dan Byron tahu percuma saja dia berbohong.           "Zoe, dengar," Byron tersenyum dalam hati saat ia menyebut nama gadis itu untuk pertama kalinya, "aku dan Lena adalah teman. Tidak ada apa-apa di antara kami sekarang."           "Sekarang? Berarti dulu ..."           "Itu ..."           "By, cobalah!" Lena muncul dengan tuxedo berwarna abu-abu di tangannya.           "Panggil aku Byron, Lena," katanya sambil merebut tuxedo yang diacungkan Lena. Dia hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin dan pergi dari sini.           Lena berpaling menatap Zoe yang masih berdiri di sana. "Ah, Zoe, Zac ada di taman. Kau bisa menyusulnya ke sana. Dia sedang sibuk memanggang barbeque."           "Tidak. Aku menunggumu saja." Gadis itu duduk di kursi yang tadi Byron duduki dan menatap Byron masih dengan pandangan menuduh.           Byron mencoba tuxedonya tanpa mengalihkan pandangannya dari Zoe. Rasanya ia ingin mencongkel mata gadis itu agar berhenti menatapnya seperti itu. Dia tidak suka saat ada orang lain ikut campur urusannya. Zoe tidak tahu apa-apa dan tidak perlu tahu apa-apa. Setelah pernikahan Lena usai, mereka tidak akan bertemu lagi.           "Nah! Masih kurang besar kan. Astaga, By, kenapa badanmu sekarang besar sekali!" Lena memekik saat Byron tidak bisa mengancingkan tuxedo itu.           Byron melepas tuxedo itu dan menyerahkannya pada Lena. "Aku punya tuxedo sendiri, kau tidak perlu membawa baju ini lagi ke penjahit."           "Tapi ..."           "Berikan saja pada best man-mu yang lain. Aku akan memakai punyaku." Byron keluar dari ruangan itu tanpa menatap Zoe.           "By ..."           "Aku lelah, Lena. Aku ingin pulang."           .....           Pagi hari selama musim panas di Sault adalah harum bunga lavender yang tercium di mana-mana. Selain itu, hamparan padang lavender yang berwarna ungu, memanjakan mata siapa saja yang memandangnya.           Semenjak tinggal di New York, Byron terhitung jarang pulang ke Sault. Selain karena jauh, berakhirnya hubungannya dengan Lena juga menjadi satu alasan ia jarang pulang ke Sault. Ia lebih sering pulang ke Brazil saat mendapat waktu untuk libur.           Secara keseluruhan, sebenarnya Sault sangatlah indah. Kota kecil ini juga tenang dan jauh dari hiruk pikuk modernisasi seperti New York. Pantas saja jika Frank tidak pernah mau tinggal di negara lain dan Ana yang orang Brazil pun jatuh cinta dengan kota ini.           Sesudah mandi, Byron menemukan rumah sudah sepi. Orangtuanya pastilah sudah pergi ke toko. Mereka terbiasa pergi ke toko pagi-pagi sekali untuk membuat roti. Frank adalah boulanger  paling terkenal di Sault. Roti-roti yang dibuatnya luar biasa lezat dan banyak diminati oarng-orang.           Byron keluar dari rumahnya dan memilih jalan memutar untuk ke toko. Ia sengaja ingin menghindari Bonheur. Dirinya tidak ingin bertemu Lena ataupun Zoe. Mungkin Frank benar, Byron harus bersikap tegas pada Lena atau gadis itu akan terus seperti ini. Bersikap seolah-olah tidak pernah ada apa-apa di antara mereka.           Masa lalu mereka harus segera dikubur. Lena akan segera memulai hidupnya yang baru bersama Zac, dan dia akan segera kembali kepada kesibukannya di New York. Hidup mereka seharusnya tidak perlu bersinggungan lagi setelah ini. Mungkin, Byron juga bisa menemukan seorang gadis untuk dicintainya.           Byron terkekeh sendiri dengan pemikirannya. Wanita-wanita selalu datang silih berganti di tempat tidurnya, tetapi hanya sebatas itu. Semenjak hubungannya dengan Lena berakhir, Byron tidak pernah menggunakan perasaannya setiap berhubungan dengan seorang wanita. Dia tak ingin dikecewakan lagi.           Harum aroma roti yang baru saja keluar dari panggangan, menyambut Byron saat ia sampai di toko roti milik Frank. Pays des merveilles atau wonderland, begitu Frank menamai toko roti ini. Bagi Frank, toko ini adalah dunia ajaibnya. Tempat di mana Frank bisa menciptakan dunianya sendiri dengan roti-roti buatannya.           "Mom, aku ..." Byron terdiam saat mendapati gadis cantik itu duduk dengan santai di dapur, di dekat tempat Ana membuat roti.           Pagi ini, rambut Zoe berbeda warna dengan tadi malam. Brunette, Byron yakin itu warnanya. Dan entah bagaimana, warna rambut itu lebih cocok dengan warna kulit dan matanya. Apa gadis itu mengecat rambutnya?           "Good morning, Lord Byron," sapa Zoe dengan senyum manisnya. "Kau kalah pagi dariku. Aku sudah kenyang makan roti ayahmu."           Byron mencibir. "Kau suka sekali makan gratis ya?"           "Lord Byron!" Ana melotot padanya sementara Zoe malah tertawa.           Sial! Gadis itu seksi sekali saat sedang tertawa lepas seperti itu.           "Memang seperti itu kan, Mom. Dia datang pagi-pagi pasti ingin makan gratis seperti tadi malam." Byron meraih mesin pembuat kopi dan sudah menemukan kopi nan harum di sana.           "Zoe membantu Mom membuatkan kopi untuk para pelanggan. Termasuk kopi yang sekarang sedang kau minum itu."           Byron mengangkat bahunya dan meraih sepotong rye bread yang masih hangat. "Memang sudah sepantasnya dia membantu di sini, Mom. Bukankah dia sudah dapat makan gratis?"           "Kau yang seharusnya membantu di sini. Kau juga makan gratis setiap hari." Frank menjitak kepalanya dan terkekeh.           "Dad, aku kan anakmu," kata Byron dengan cemberut. Dia melotot pada Zoe yang semakin terbahak melihatnya. Sejak kapan orangtuanya lebih membela gadis ini daripada dirinya?           "Byron, kau mau antar aku jalan-jalan tidak hari ini?" Zoe bertanya padanya.           "Tidak. Aku sibuk."           "Oh, ya? Ibumu bilang kau sedang liburan."           "Ya, aku sibuk meliburkan diriku." Byron memakan rotinya tanpa memandang gadis itu. Sial, kue ini jadi kalah lezat dengan adanya Zoe di sini.           "Byron, kau ‘kan tidak punya kegiatan. Antarkan Zoe ke Avignon."           "Mom, kenapa harus aku? Di rumah Lena kan ada sopir, suruh saja mereka mengantarnya."           Ana tersenyum lembut seperti biasanya. "Nak, beberapa hari lagi kalian akan sibuk dengan pernikahan Lena. Kasihan Zoe sudah pergi sejauh ini dari Amerika dan tidak sempat berjalan-jalan."            Byron berdecak sebal dan mencuci cangkir kopinya. Meskipun berdebat selama apapun, Byron tahu dia tidak akan bisa menang melawan ibunya.            "Ana, tidak apa-apa kalau Byron tidak bisa mengantarku, aku bisa pergi sendiri. Aku tidak akan tersesat."           "Nah, Mom, dia bisa pergi sendiri ‘kan?" Byron tersenyum dan baru akan keluar dapur saat suara Frank terdengar.           "Kalau kau lelaki sejati, kau tidak akan membiarkan seorang wanita cantik berjalan sendirian di tempat yang asing untuknya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD