6

1449 Words
           Sebenarnya, Zoe tidak merasa perlu untuk ditemani oleh Byron. Dia bisa saja menuruti saran kakaknya dan membawa satu orang sopir atau saudara Lena bersamanya. Namun, Zoe tidak ingin ditemani oleh salah satu dari anggota keluarga Dupont. Ada banyak hal yang membuatnya merasa tidak nyaman dengan keluarga itu. Apalagi, tidak banyak teman Zac yang bisa hadir di sana.           Zac hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja dan itupun tidak semuanya Zoe kenal. Sedangkan untuk keluarga, mereka tidak memiliki saudara selain diri mereka berdua. Ayah dan ibunya sama-sama anak tunggal. Kedua orangtua mereka -yang kebetulan juga anak tunggal- sudah lama meninggal, sehingga praktis saat ayah dan ibu Zoe meninggal, tidak ada keluarga besar yang mereka tinggalkan untuk Zac dan Zoe.           Menjalani hidup berdua saja dengan Zac sejak masih remaja, membuat Zoe ingin memiliki satu keluarga besar nantinya. Dia tahu bagaimana sepinya rumah saat Zac pergi dan dia sendirian di rumah. Dia benci merasa kesepian. Terlebih saat dia berkunjung ke rumah salah seorang temannya yang kebetulan memiliki banyak saudara atau keluarga yang hangat. Kadang, dia merasa Tuhan tak adil padanya.           Namun itu dulu. Lama-kelamaan, dia terbiasa berteman dengan sunyi. Apalagi semenjak Zac pergi karena mendapat pekerjaan di Perancis. Kini, saat kesepian, dia akan mengambil laptopnya dan mulai menulis atau menari. Tidak peduli lagi dengan sunyi di sekitarnya.           Bertemu dengan Ana seakan membangkitkan kembali kenangannya bersama ibunya. Dulu, dia dan ibunya suka sekali memasak di dapur sementara Zac dan ayahnya bertanding catur atau menonton pertandingan. Ana benar-benar wanita yang lemah lembut dan penuh cinta kasih meskipun Zoe adalah orang asing. Ana pulalah yang mengusulkan padanya agar Byron menemaninya, meskipun Zoe tahu Byron tidak akan bersedia. Pria itu terlalu angkuh. Sama sekali bukan tipe yang Zoe sukai. Jika pada akhirnya Byron bersedia mengantarnya, itu pasti karena paksaan Ana dan Frank.           “Ayo! Aku tidak mau pergi terlalu siang.” Pria itu akhirnya bersuara dengan dingin.           “Byron, aku benar-benar tidak apa-apa pergi sendirian. Ini kota kecil, aku tidak akan tersesat.”           “Ck!” Byron meraih tangannya hingga Zoe berdiri. “Mom, Dad, aku pergi!” Teriaknya kemudian.           Zoe melambai pada Ana dengan tangannya yang lain dan wanita itu balas melambai dengan riang. Ana tadi bertanya padanya apa dia mengenal Byron sebelumnya, dan saat Zoe menjawab tidak, Ana terlihat begitu senang. Memangnya Byron itu orang penting hingga dirinya harus mengenalnya?           “Kau ingin ke Avignon?” Byron bertanya sembari menaikkan tudung jaketnya.           Zoe menggeleng. “Aku belum minta ijin pada Zac. Aku tidak ingin pulang terlambat. Sore ini aku harus mencoba gaun bridesmaid-ku.”           “Lalu kau ingin ke mana?”           Zoe mengangkat bahunya. “Ibumu bilang ada festival Lavender hari ini.”           “Kau ingin pergi karena kau ingin pergi atau karena ibuku?”           Lagi-lagi Zoe mengangkat bahunya. “Aku belum pernah melihat festival lavender. Kau sudah bosan ya menontonnya?”           Byron menggeleng. “Sudah lama aku tidak melihatnya, tetapi terlalu banyak orang di sana.”           Zoe berhenti melangkah dan menatap Byron. “Kau phobia keramaian?”           Byron ikut berhenti melangkah dan menyipit menatap Zoe. “Kau tidak mengenalku?”           Zoe menggeleng. Memangnya siapa sih Byron? Apa dia orang terkenal? Apa dia orang penting?           “Kau benar-benar berasal dari New York?”           “Ayah dan ibuku dari Houston, tetapi aku lahir dan tumbuh di New York.”           “Kau pernah menonton televisi?”           “Apa kau semacam artis terkenal di New York?”           Byron tertawa. Benar-benar tertawa. Dan ini pertama kalinya bagi Zoe, melihat pria itu tertawa. Kesan dingin dan angkuhnya lenyap saat bahu Byron bergetar karena tawanya. Dan jujur, pria itu sangat memikat dengan tawanya. Mungkin inilah yang menyebabkan Byron jarang tertawa. Semua wanita pasti jatuh pingsan saat melihat tawa Byron.           “Ayo! Kau belum pernah memanen lavender kan?” Pria itu meraih tangannya dan terlihat lebih bersemangat daripada tadi.           Sepertinya Zoe harus mulai mencari tahu tentang Byron ini. Apa hubungan Byron dengan televisi? Apa dia benar-benar seorang artis?           Zoe memang memiliki televisi di rumahnya. Satu televisi kecil peninggalan ayahnya di rumah. Namun, baik Zoe ataupun Zac, mereka sangat jarang menonton televisi semenjak orangtua mereka meninggal. Mereka memang sengaja menghindari ruang keluarga.           Pikiran Zoe tentang Byron teralihkan sepenuhnya saat ia melihat hamparan warna ungu terbentang luas di hadapannya. Orang tua, anak-anak, wanita muda, para pria, tampak asyik dengan kegiatan mereka memanen bunga lavender. Penduduk lokal dan para turis asing berbaur menjadi satu, melupakan dari mana mereka berasal.           “Boleh aku bergabung dengan mereka?” Mata Zoe berbinar menatap Byron yang juga tengah melihatnya.           Byron mengangguk dan tersenyum. Zoe menarik tangannya dari genggaman Byron dan berbaur dengan orang-orang itu. Meskipun beberapa penduduk lokal tidak bisa berbahasa Inggris, mereka tersenyum dengan ramah saat ada orang asing yang bergabung dengan mereka. Ini yang tidak Zoe dapatkan di New York. Keramahan khas penduduk Eropa pedesaan. Meski menurut beberapa sumber, orang Perancis tidak seramah orang Amerika, tetapi Zoe tidak menemukannya di sini. Mungkin memang tidak ada ruginya, Zoe menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kota New York dan pergi ke tempat ini.           Keasyikan Zoe memanen lavender terganggu saat ia mendengar teriakan heboh, agak jauh dari tempatnya berada. Dengan mata menyipit, ia menatap Byron yang tengah dikerubuti para wanita. Zoe menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Risiko Byron karena pria itu terlalu 'lezat'.           Zoe kembali asyik memanen lavendernya tanpa peduli pada Byron. Dia tidak terbiasa mencampuri urusan orang lain, meskipun mungkin seharusnya Zoe membantu Byron 'meloloskan diri'. Akan tetapi, toh Byron sudah dewasa, dan biasanya para pria justru bangga dikerubuti para wanita seperti itu.           “Zoe, kau sudah selesai?”           Zoe menoleh mendengar suara Byron yang terengah-engah. Pria itu kembali menaikkan tudung jaketnya meskipun hari sudah mulai panas.           “Ada apa?”           “Aku ... kita harus pergi dari sini sekarang.”           “Kenapa?”           Byron mengambil panenan lavendernya dan menyerahkan pada seorang wanita tua dan berbicara bahasa Perancis padanya. Tangannya meraih tangan Zoe, tepat saat segerombolan gadis muda mendekat ke arah mereka. Byron menoleh dengan panik dan mengajaknya berlari keluar dari kebun lavender.           Oke, lari memang bukan satu masalah untuk Zoe, tetapi berlari bersama Byron? Di tengah ladang lavender? Mereka sedang bermain drama atau apa sih?           Byron terus mengajaknya berlari meskipun gerombolan gadis-gadis muda itu sudah tidak terlihat lagi di belakang mereka.           “Byron! Byron! Berhenti!” Teriak Zoe dengan terengah-engah. Dia merasa hampir kehabisan napasnya.           Byron baru berhenti berlari saat mereka akhirnya sampai di jembatan tua tempat mereka bertemu kemarin malam. Zoe menyentakkan tangannya dari genggaman Byron dan duduk terengah-engah di tengah-tengah jembatan. Dia merasa seperti baru saja ikut lomba lari marathon.           “Kau ini kenapa sih??” Zoe melotot pada Byron. Pria itu tampak sama lelahnya dengan dirinya.            “Para gadis itu salah mengenaliku. Mereka kira aku artis terkenal.” Byron bercerita dengan cemberut hingga membuat Zoe tertawa.           “Jadi karena itu mereka mengerubungimu?”           Byron mengangguk dengan masam dan Zoe kembali tertawa.           “Jangan tertawa! Ini semua gara-gara kau!”           Zoe mencibir. “Seharusnya kau memakai kacamata hitam dan topi.”           “Kalau kau tidak minta pada ibuku untuk kutemani, aku tidak akan mengalami semua ini.”           Zoe terkekeh mendengar jawaban Byron yang tidak mau mengalah. Tumbuh sebagai anak tunggal pasti membuatnya tidak pernah mengalami apa itu yang disebut bertengkar. Bahkan mungkin, hanya Lena yang pernah menjadi ‘lawan’ bertengkar Byron.           “Byron, apa kau dan Lena benar-benar tidak ada hubungan apa-apa?” Zoe bertanya dengan hati-hati.           Melihat Lena dan Byron tadi malam, rasanya Zoe merasa aneh. Tidak mungkin mereka hanya sebatas teman. Meski cara memandang Lena pada Byron tidak seperti cara memandang Lena pada Zac, tetapi Zoe merasa ada yang tidak biasa antara mereka berdua. Zoe memang tidak terlalu mengenal Lena karena mereka baru bertemu dua kali. Yaitu saat Zac dan Lena bertunangan di Paris pada natal tahun lalu dan sekarang. Namun, Zoe cukup pintar untuk 'membaca' Lena. Gadis itu memiliki bibit medusa dalam dirinya.           “Apa itu penting untukmu? Bukankah dia akan segera menjadi kakak iparmu?”           Zoe menangkap nada sinis dari suara Byron. Dan hal itu hanya semakin menguatkan dugaan Zoe tentang masa lalu Byron dan Lena.           “Lena bilang kalian tumbuh bersama sejak kecil, dan kau sudah seperti seorang kakak baginya.” Itu jawaban Lena saat Zoe bertanya tadi malam tentang hubungan mereka. Oke, dia memang tidak peduli pada urusan orang lain, tetapi tentu lain persoalannya jika itu ada hubungannya dengan Zac.           “Nah, kau sudah mendapatkan jawabannya kan? Tidak usah bertanya lagi, oke?”           Zoe memandang Byron sekali lagi sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. “Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kakakku. Bahkan jika nanti Lena melakukannya, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengannya.”           “Jadi kakakmu itu semacam pria lemah yang berlindung di balik seorang wanita begitu?” Kembali Byron bertanya dengan nada sinisnya.            “Tidak. Asal kau tahu, kakakku memegang sabuk hitam karate.”           Byron menaikkan alisnya seakan tak percaya.           “Jika kau memiliki saudara dan orang itu satu-satunya orang yang kau miliki, kau akan mengerti, Byron.” Zoe berbalik dan berjalan pelan meninggalkan Byron. Berbicara tentang keluarga selalu membuat hatinya sakit.           “Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Lena!” Byron berteriak hingga membuat langkah Zoe terhenti.           Zoe berbalik dan tersenyum. “Kalau begitu, ada kemungkinan kita akan saling berhadapan nanti. Terima kasih untuk pagi ini, Byron. Selamat tinggal.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD