39

1020 Words
          Rasa sakit karena pengusiran Zoe masih kalah oleh rasa sakit karena melihat kehancuran gadis yang ia cintai itu. Zoe duduk dengan gemetar dan ketakutan, menolak pelukannya, dan bahkan menolaknya untuk mendekat. Zoe hanya menatapnya dengan air mata bercucuran dan tubuh yang gemetar. Seluruh tubuh Byron terasa sakit karena ingin memeluk Zoe.           Byron tidak menyangka jika kebahagiaannya karena akan bertemu Zoe digantikan oleh hal menakutkan seperti ini. Rasa marahnya karena melihat b******n itu hampir memperkosa Zoe tidak sebanding dengan ketakutan yang ia rasakan. Byron tidak tahu apa yang akan terjadi pada Zoe seandainya ia terlambat satu detik saja. Hatinya perih membayangkan Zoe harus mengalami itu.           Dengan tubuh bergetar, Byron duduk di sofa. Sofa yang sama tempat pria b******n itu mengerayangi tubuh Zoe. Ya Tuhan, ia sungguh-sungguh ingin membunuh pria itu. Kondisi lingkungan yang sepi pasti membuat pria b******k itu leluasa untuk melakukan kejahatan. Byron bisa melihat Zoe sudah kepayahan berteriak tadi, ia yakin Zoe hampir menyerah untuk berteriak.           Mata Byron menatap pintu kamar Zoe yang tertutup. Gadis itu menyuruhnya pergi, tetapi tentu Byron tidak akan menurutinya. Ia tidak akan meninggalkan Zoe saat gadis itu masih merasa trauma seperti ini. Zoe hanya terlalu takut, pikir Byron untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun bagaimana jika gadis itu benar-benar tidak ingin melihatnya? Tidak. Itu tidak akan terjadi. Zoe gadis yang kuat. Gadis itu tidak akan trauma untuk jangka waktu lama.           Byron berbaring dan mencium aroma tubuh Zoe di bantal sofa. Ia memejamkan mata mengingat pemandangan mengerikan itu. Setelah ini, ia tidak akan pernah mengijinkan Zoe tinggal sendirian lagi. Entah Zoe suka atau tidak, ia akan membawa gadis itu tinggal di apartemennya atau bahkan membawa gadis itu pulang ke Sault. Akan selalu ada pria mabuk lainnya di kota ini.           Bayangan tentang kejadian mengerikan itu terulang lagi membuatnya bergidik. Kota ini tidak aman untuk gadis seperti Zoe. Harus ada seseorang yang menjaganya jika Zoe tetap ingin tinggal di sini.           Byron mengacak rambutnya dan mencoba memejamkan mata. Ia luar biasa kelelahan. Ia baru saja turun dari pesawat, menempuh perjalanan darat hampir tiga jam, dan masih harus menghajar pria mabuk yang mencoba memperkosa kekasihnya. Byron merasa seperti sedang berada dalam film yang sering ia mainkan. Hanya saja, ketakutannya tadi terasa sangat menyakitkan.           Menyerah mencoba untuk tidur, Byron bangkit dan berjalan pelan menuju kamar Zoe. Ia hanya berdiri di sana dan menatap pintu yang tertutup itu. Byron tahu Zoe tidak tidur. Tidak akan ada di antara mereka berdua yang bisa tidur. Kakinya melangkah lebih dekat ke pintu dan ia duduk bersandar di dinding sebelah pintu berwarna putih itu. Salah satu kakinya terjulur dan kaki yang lain menekuk. Byron menyandarkan kepalanya di dinding dan mendongak menatap langit-langit rumah yang gelap. Ia sudah mematikan lampu tadi karena ia sungguh ingin tidur walaupun akhirnya gagal.           “Aku masih di sini,” bisiknya kemudian.           Suara terkesiap terdengar dari balik pintu, tetapi Zoe tidak mengatakan apa-apa.           “Aku tidak akan pergi, Honey,” bisiknya lagi.           Byron kembali bisa mendengar isakan Zoe dari balik pintu kamar. Byron mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak mendobrak pintu dan memeluk Zoe. Ia tidak pernah suka melihat air mata mengalir dari mata seorang wanita. Apalagi dari wanita yang ia cintai.           “Sayang, jangan menangis. Dia sudah pergi. Ada aku di sini.” Tangan Byron terangkat untuk menyentuh pintu itu. “Dia tidak akan kembali lagi ke sini. Aku janji.”           Tangis Zoe terdengar semakin keras dan hal itu semakin mengoyak jantung Byron.           “Pergilah, Byron.”           “Aku tidak mau!” Jawabnya keras kepala. “Aku sudah bilang aku tidak akan ke mana-mana.”           Ini hanya percobaan pemerkosaan, tetapi kenapa Zoe menjadi setakut ini? Seharusnya Zoe tidak menghindar darinya seperti ini. Atau ... atau bisa jadi ini berhubungan dengan masa lalu Zoe yang Zac dan Ana coba jelaskan padanya kemarin?           “Zoe? Kau tidur?”           Sebagai jawabannya, Zoe memukul pintu hingga membuat Byron terkekeh.           “Aku merindukanmu, tahu. Kau menyiksaku dengan tidak mau menemuiku seperti ini. Aku ingin memelukmu.”           “Pulanglah, Byron. Aku tidak akan menemuimu.”           “Tetapi kenapa? Kau tidak merindukanku?”           Byron bisa mendengar Zoe menghela napas dengan frustasi lalu tiba-tiba pintu terbuka lebar. Gadis itu menunduk dan melotot padanya.           “Apa yang kau ingin lihat sekarang?? Kehancuranku?? Kerapuhanku?? Atau penghinaanmu?? Pergi sekarang juga dari rumahku!! Aku tidak ingin melihatmu lagi!!” Sembur Zoe seperti air bah.           Byron tersentak mendengar teriakan Zoe. Wajah gadis itu memerah, dadanya naik turun karena amarah. Ada apa sebenarnya?           “Zoe ...” Byron mengulurkan tangannya, tetapi Zoe mundur dengan cepat. “Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku hanya ingin memelukmu. Kau pasti ketakutan.”           Zoe menggeleng dan satu butir air mata tumpah lagi dari matanya. “Pergi, Byron. Kau bisa mencari gadis mana saja untuk kau kencani. Lagipula ada Domi Lively ‘kan yang diakui publik sebagai kekasihmu?”           “Aku tidak mau wanita lain, dan Domi ... Ya Tuhan, kau tidak mau menemuiku karena kau cemburu pada Domi??” Byron hampir saja tertawa, tetapi saat ia melihat wajah Zoe yang serius, Byron menelan kembali tawanya. “Sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Domi. Kau tahu bagaimana media selalu mencari sensasi dari berita-berita seperti itu.”           “Tetapi aku ingin kau mencari wanita lain.” Kali ini suaranya terdengar sarat kesedihan. “Wanita yang jauh lebih layak untukmu daripada aku.”           “Aku tidak mau wanita lain! Berhenti bicara berputar-putar seperti itu dan katakan yang sebenarnya padaku!”           Byron sudah lelah menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa. Jika memang malam ini mereka harus bicara sampai pagi, Byron akan melakukannya.           Zoe menunduk dan memainkan ujung kausnya. “Kau akan jijik padaku setelah ini.”           Byron melangkah maju dan menangkup pipi Zoe. Ia sedikit menunduk untuk menatap mata gadis itu. “Hei,” dia berbisik lembut, “kau tidak bisa bersembunyi dari ketakutanmu selamanya, Honey. Kau harus menghadapinya. Bagaimana kau bisa tahu aku akan lari atau tidak jika kau tidak mengatakan padaku yang sebenarnya?”           Zoe menatapnya dengan ragu. “Tetapi ini sudah malam. Kau pasti lelah.” Suaranya mulai melunak.           Byron tersenyum. “Ini malam yang berat untukmu. Lebih baik kau tidur. Apa aku boleh menginap?”           Zoe mengangguk. “Itu kamar Zac.” Zoe menunjuk pintu di seberang kamarnya.           “Istirahatlah.” Byron mencium kening Zoe dan mendorong gadis itu masuk kembali ke kamarnya.           Meski tidak yakin akan bisa tidur, Byron meraih kopernya yang masih ada di depan pintu dan menuju kamar Zac. Ia hanya ingin malam ini segera berlalu dan besok pagi segera datang hingga kebenaran itu akan terbuka. Besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD