38

954 Words
           Zoe membeku mendengar suara itu. Tubuhnya berdiri dengan kaku di depan pintu yang baru saja ia tutup. Seharusnya ia lari, tetapi kakinya seolah telah di lem dengan kuat ke lantai. Ia mendengar suara langkah kaki di tengah kegelapan dan suara klik. Rumah menyala oleh lampu dan sosok itu berdiri di hadapannya.           “Marshall.” Suara Zoe hanya terdengar seperti bisikan angin.           Marshall tidak terlihat seperti yang ia ingat. Rambutnya hampir menyentuh tengkuk, berantakan, dan tidak terawat. Wajahnya dihiasi kumis tipis. Namun lebih daripada itu, Marshall tampak lebih mengancam daripada dulu karena tubuhnya yang besar.           Marshall mendekatinya dengan perlahan dan berhenti untuk mengamati Zoe selama sesaat. “Menikmati kesenanganmu tanpaku, Zoe?”           Napas Marshall bau alkohol dan Zoe memejamkan matanya. Perutnya terasa mual. Ia kembali teringat peristiwa malam itu.           Tangan Marshall terangkat dan pria itu menyentuh pipinya dengan ujung jari. “Kau pikir kau bisa lari dariku? Kau pikir aku akan membusuk di penjara?”           d**a Zoe naik turun. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menggerakkan kakinya tetapi semua itu terasa percuma. Kakinya benar-benar mati rasa karena takut. Ya Tuhan, siapa saja, tolong aku.           “Ingatlah, Zoe, kau payah dalam segalanya. Kau tidak cantik. Kau terlalu tinggi. Kau kerempeng dan sama sekali tidak menarik. Tidak akan ada pria yang mau denganmu.”           Kata-kata itu lagi! Kata-kata yang dulu Zoe yakini jika itu benar. Marshall membuatnya membenci dirinya sendiri. Marshall membuatnya merasa bahwa ia tidak bisa melakukan apapun. Bahwa ia payah.           Dulu, mungkin Zoe akan percaya itu. Akan tetapi, sekarang Marshall tidak bisa lagi mempengaruhinya. Ia tahu dirinya lebih baik daripada apa yang Marshall katakan.           Tangan Marshall kembali menyusuri kulit Zoe. Kali ini ia membelai lengan Zoe. “Kau memang sedikit lebih cantik. Sedikit. Dan aku masih mau mencoba dirimu. Aku harap pengalaman seksmu tidak sepayah dulu.”           “Diam!!” Akhirnya Zoe berhasil mendapatkan suaranya. Dan dengan itu pula ia berhasil menyingkir dari hadapan Marshall. Ia berbalik untuk membuka pintu, tetapi tangan Marshall lebih dulu mencekalnya.           “Kau pikir kau akan bisa kabur dariku, Jalang?!”           Zoe meronta saat Marshall mencekal tangannya. Tangan Marshall terasa lengket oleh keringat. Zoe merasa jijik disentuh oleh pria itu.           “Lepaskan aku, b******k!!” Sekuat tenaga ia mencoba menepiskan tangan Marshall yang mencengkeramnya.           Tangan Marshall yang lain meraih rambutnya dengan kasar hingga Zoe berteriak kesakitan. “Aku harus membalas perbuatanmu, wanita sialam! Kau membuatku mendekam di penjara!!”           “Kau memang seharusnya membusuk di sana!!” Zoe berteriak marah seraya menahan kesakitannya karena cengkeraman Marshall.           “Diaamm!!” Marshall menarik rambutnya lebih keras lagi. “Kau jalang kecil murahan! Gadis jelek, menjijikkan, dan dingin! Tidak akan pernah ada pria lain yang mau menyentuhmu!”           Zoe memang menahan air matanya sekuat mungkin. Namun sekarang, saat umpatan Marshall menjadi semakin tidak terkendali, ia tidak bisa menahan isakannya. Ia ketakutan dan sendirian. Sama seperti lima tahun lalu.           Kini Marshall mulai meraba-raba tubuhnya. Pria itu menempelkan tubuhnya tepat di punggung Zoe. Sekuat apapun Zoe meronta, tenaga Marshall jauh lebih kuat darinya. Tangan Marshall meremas payudaranya dan Zoe berteriak. Isakannya melolong. Berharap siapa saja bisa mendengarnya. Zoe bahkan bisa merasakan kejantanan Marshall yang membesar.           “Kau masih sepayah dulu. Payudaramu lembek.”           “Lepaskan aku!!!!” Zoe kembali meronta, tetapi semua sia-sia. Tangan Marshall menahannya dengan begitu kuat.           “Tetapi rambutmu sangat harum. Apa shampoo yang kau gunakan, Sayang?”           “Tolooonggg!! Siapapun tolong akuuu!!” Zoe memekik sekuat tenaga dan Marshall menempeleng kepalanya dari belakang hingga ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian belakang tengkoraknya.           “Aku bilang diam, Jalang!!”           Zoe menangis dan merintih. Marshall menyeretnya menjauhi pintu. Pria itu menjatuhkannya di sofa dan mulai menindihnya. Zoe meronta, menjerit, menendang, tetapi Marshall tidak tergoyahkan. Satu tangan Marshall menahannya dan tangan yang lain mengerayangi tubuhnya.           “Marshall, jangan!” Pintanya lirih saat tangan Marshall menyusup ke dalam kausnya.           Tentu saja pria itu tidak mendengarkannya. Ia menyentuh Zoe dari balik kaus dengan penuh nafsu. Zoe memejamkan matanya penuh kekalutan. Malam itu akan terulang lagi. Marshall akan memperkosanya lagi.           Lalu tiba-tiba saja tangan Marshall lenyap bersamaan ia mendengar sesuatu terbanting ke lantai. Ia membuka mata dan mendapati Byron menghajar Marshall dengan brutal. Marshall mungkin lebih besar daripada Byron, tetapi pria itu setengah mabuk. Byron mendudukinya dan memukul wajah Marshall berkali-kali. Marshall memekik dan menyumpah-nyumpah, tetapi Byron tampak belum puas. Setelah merasa tidak ada lagi bagian wajah Marshall yang luput dari pukulannya, Byron bangkit dan menyeret Marshall yang berlumuran darah. Di depan pintu, dia melempar Marshall keluar dan membanting pintu dengan keras.           Di sofa, Zoe terduduk dengan gemetar. Rambutnya berantakan. Wajahnya basah oleh air mata. Dirinya kacau. Baik secara fisik maupun psikis.           “Sayang,” Byron mendekat dan mencoba memeluknya, tetapi Zoe berteriak dengan panik. Zoe melompat ke sudut sofa dan menatap Byron dengan gemetar.           Mata Byron menatapnya sedih. “Zoe, ini aku, Byron. Kau baik-baik saja,” bisiknya dengan lembut.           Air mata Zoe tidak mau berhenti saat dirinya menatap Byron yang masih mengulurkan tangannya. Zoe ingin percaya ia baik-baik saja, tetapi ia tahu ia tidak baik-baik saja.           “Zoe?” Suara Byron sarat kesedihan saat memanggilnya. Byron mendekat satu langkah lagi dan Zoe berteriak.           “Jangan dekati aku!!” Pekiknya dengan ketakutan.           “Sayang, ini aku. b******n itu sudah pergi. Ini aku, Byron.”           Zoe tahu itu Byron dan itu malah membuatnya semakin tidak ingin didekati pria itu. Ia merasa kotor dan jijik pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin Byron menyentuhnya. Ia jelek dan payah seperti yang Marshall katakan. Tidak akan ada pria yang mau dengannya. Apalagi Byron. Ia kotor.           “Pergi.”           “Zoe ...”           Suara sedih itu merobek hatinya. Zoe sudah hancur, tetapi kini ia semakin hancur karena melihat Byron. Hatinya sakit melihat luka di mata pria itu.           Zoe bangkit dari sofa dan berjalan dengan gemetaran menuju kamarnya. Air matanya masih tidak mau berhenti. Ia bersyukur Byron tidak mengikutinya. Zoe menutup pintu kamarnya dan terjatuh luruh di lantai. Ia hancur lebur dan tidak akan bisa disatukan lagi. Ia telah menjadi debu dan akan terbang tertiup angin. Ia kotor. Sangat kotor. Dan setelah ini, Zoe tidak akan pernah sama lagi seperti kemarin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD